MasukSalsa kembali duduk di atas sofa, memangku tasnya. Matanya terus mengekor ke arah Nathan yang baru saja kembali ke dalam kamar hotel dan masih berbicara dengan orang di seberang telepon. Bibir Salsa komat-kamit menahan jengkel, memutar ulang tiap kata mesra yang sempat didengarnya tadi dari mulut Nathan.“Iya, sayang. Sebelum jam tujuh pasti sudah sampai kok,” ucap Nathan saat ia kembali melangkah mendekat. Pria itu langsung duduk tepat di samping Salsa. Tangan Nathan terulur, merebut tas dari pangkuan Salsa lalu melemparnya asal ke ujung sofa lain. Jelas sekali Nathan tidak berniat membiarkan wanita itu keluar dari kamar ini sebelum urusan mereka selesai.“Oke, sayang. Jangan lupa makan dulu ya,” lanjut Nathan lagi dengan suara yang sangat lembut. Dalam hati Salsa berpikir kalau Clara sangat beruntung mendapatkan sisi baik seorang Nathan Abimanyu. Pria ini benar-benar memperlakukan tunangannya dengan sangat baik.Salsa mendengus, membuang muka ke arah lain. Sok mesra banget. Dia pik
Jantung keduanya berdebar sangat kencang. Salsa bisa mendengar detak jantung Nathan, pun dengan pria itu. Jelas mereka sama-sama gugup dalam situasi ini. Lima tahun berpisah membuat keduanya menjadi canggung, apalagi Salsa yang sekarang bukan lagi wanita lemah. Kehidupannya terlampau pahit membuat Salsa tak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak. Demi apapun dia ingin melepaskan diri dari Nathan, ingin pergi yang jauh. Tapi tubuhnya menolak. Tubuhnya terlampau nyaman berada dalam dekapan pria itu. Tatapan mata mereka saling mengunci, sebelum akhirnya Nathan menatap bibir Salsa yang sedikit terbuka membuatnya ingin buru-buru mencium bibir wanita yang sangat ia rindukan ini. Tanpa menunggu waktu Nathan langsung mendaratkan ciumannya di bibir ranum milik Salsa. Harusnya Salsa menghindar dan bangkit dari tubuh Nathan. Harusnya dia bisa melepaskan diri dari pria ini, tapi nyatanya dia malah membiarkan dirinya larut dalam sentuhan panas bibir Nathan. Mata keduanya saling terpejam sem
Salsa membanting kertas surat perjanjian konyol itu tepat di atas meja kaca. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia melotot menatap penuh amarah ke arah Nathan.“Ini namanya tidak adil!” teriak Salsa dengan napas memburu. “Pilihan satu dan dua semuanya cuma menguntungkan kamu dan bikin aku rugi! Bayangkan saja, kalau aku pilih opsi pertama, aku harus tidur sama kamu seumur hidup. Padahal sebentar lagi kamu mau nikah dan punya keluarga sendiri. Berarti kamu nyuruh aku jadi selingkuhanmu, dong?!” amuk Salsa, emosinya benar-benar sudah sampai di ubun-ubun.Salsa menarik napas sebentar sebelum kembali menyemprot pria di hadapannya. “Terus kalau aku pilih pilihan kedua, kamu cuma kasih waktu satu tahun buat bayar sepuluh miliar? Kamu kira aku punya pohon uang di rumah?!”Melihat mantan kekasihnya ngamuk dan marah-marah karena surat perjanjian yang ia buat, Nathan malah santai. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum miring yang sangat menyebalkan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke so
“Kamu tahu gak sih, ternyata aku bukan anak kandung Papa. Ternyata Papa belum pernah menikah,” adunya sendu. Tapi ajaibnya, sudah tidak ada air mata lagi saat Alea menceritakan tentang jati dirinya yang sebenarnya.Namun, respon Salsa yang sangat tenang tanpa ekspresi terkejut malah membuat Alea curiga.“Meski begitu, Papamu sangat menyayangimu, Al. Lagian bukan salah Papamu juga kenapa kecelakaan itu terjadi,” sahut Salsa menenangkan.Mata Alea membelalak. “Huh? Jadi kamu sudah tahu dari dulu dan kamu memilih untuk tidak bilang apapun padaku?” tuntut Alea tak percaya.“Bukan begitu, Al. Aku merasa masalah itu sangat sensitif dan harus disampaikan langsung oleh Papamu sendiri. Salah banget kalau kamu sampai tahu masalah securcial itu dari mulutku,” tutur Salsa lembut.“Tapi Clara secara terang-terangan menyampaikan itu di depan banyak orang, Sa! Awalnya Papa gak ngaku, tapi akhirnya Papa terpaksa ngaku,” sahut Alea dengan jengkel mengingat kelakuan wanita itu.“Loh? Kok dia bisa tahu?
“Kenapa anak kecil jam segini belum bobo?” tanya Alea heran. Beberapa detik berikutnya dia baru sadar kalau sudah bertamu tengah malam dan pastinya mengganggu jam tidur si kembar. “Jangan-jangan gara-gara Kak Al datang, kalian kebangun ya?” tebak Alea lagi. Tapi detik berikutnya Alea langsung dibuat bungkam.“Sok tahu!” seru Kenzi dan Kenzo kompak.Raka langsung menyemburkan tawa ngakak, sementara Salsa sibuk mengomeli kedua anak kembarnya karena dianggap tidak sopan dan menyuruh mereka minta maaf pada Alea.Setelah memarahi si kembar, barulah Salsa menjelaskan pada sang sahabat kenapa kedua buntalnya itu masih melek jam segini.“Kata Ayah, mereka tidurnya kesorean. Soalnya seharian aku ajak mereka keliling untuk mencari sekolah baru karena minggu depan mereka harus sudah mulai masuk. Sebelum aku pulang kerja tadi ternyata mereka sudah kebangun,” jelas Salsa.“Udah dapat sekolahnya?” tanya Alea penasaran.Salsa mengangguk. “Sudah, tapi agak jauh. Kasihan mereka kalau aku sekolahin di
Salsa memijat kepalanya yang mendadak berdenyut akibat wajah si kembar berhasil membuat Alea dan Raka syok bukan main. Ini pasti anak Papa, pikir Alea. Sebelum Alea sempat menuntut penjelasan dari Salsa, tiba-tiba Salsa berlutut di depan Raka. “Ja–jadi-” Alea terbata, tatapannya terkunci pada dua bocah yang wajahnya mirip sembilan puluh persen seperti sang papa.“Kumohon tolong sembunyikan ini dari atasan anda, pak. Tolong jangan sampai hidup kami susah lagi. Saya mohon berpura-puralah untuk tidak mengetahui soal ini, sama seperti saat anda tetap memilih untuk pura-pura tidak tahu menahu soal kepergian saya,” ujar Salsa, berhasil membuat Raka membeku karena dihantam rasa bersalah begitu hebatnya pada sosok di depannya ini. Anak-anak itu berlarian ke dalam rumah sebelum Alea berhasil menyentuh keduanya. “Saya mohon. Jangan ganggu hidup saya, lima tahun ke belakang hidup saya tak mudah untuk saya lalui. Saya hampir kehilangan nyawa saat melahirkan mereka. Saya butuh pekerjaan untuk m
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Di sisi lain, layar ponsel di genggaman Zara mendadak terasa panas saat sebuah unggahan video di media sosial menampilkan sosok Aditya. Di dalam rekaman video itu, Aditya berjalan menunduk dengan tangan terborgol, dikelilingi beberapa petugas kepolisian yang menggiringnya masuk ke mobil tahanan. T







