Share

Bab 190

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-07-13 21:53:50

Setibanya di kamar hotel, Sambara menurunkan tubuh Agnira dengan hati-hati ke atas ranjang. Sorot matanya dipenuhi kecemasan, tak mampu menyembunyikan kekhawatiran yang sejak tadi menggelayuti benaknya.

"Pak, air putihnya," ucap Kenan seraya menyodorkan sebotol air mineral dari belakang.

Sambara segera mengambil botol itu, lalu membukanya dengan tergesa. Ia menopang bahu Agnira dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyodorkan botol tersebut ke bibir sang istri.

"Minum pelan-pelan," ujar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
D.N.A
nggak akan seru kalau diem ajh Ka
goodnovel comment avatar
Clover
Agnira lagi hamil tp emang cari mati
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 208

    Sambara terdiam beberapa saat, lalu menggeleng pelan."Tidak," ujarnya tenang. "Saya sudah memiliki koki terbaik. Salah satu dari mereka memang bertugas menyiapkan makanan khusus untuk Agnira."Suasana meja makan mendadak hening. Ratih yang semula tersenyum tipis perlahan mengatupkan bibirnya. Tawaran yang ia sampaikan ditolak begitu saja tanpa sedikit pun pertimbangan."Selain itu," lanjut Sambara sambil meletakkan sendoknya, "Agnira sedang hamil. Semua makanan yang dikonsumsi harus sesuai dengan anjuran dokter dan ahli gizi. Saya tidak ingin mengambil risiko."Ratih berusaha mempertahankan senyumnya. "Tante hanya ingin membantu. Tante juga merasa bosan tidak melakukan apapun di rumah ini, setidaknya ada kegiatan untuk melemaskan otot-otot yang kaku." "Saya menghargai niat baik, Tante" balas Sambara datar. "Tapi bantuan itu tidak diperlukan."Kalimat singkat tersebut menjadi penutup yang sulit dibantah. Agnira yang sejak tadi hanya memperhatikan percakapan mereka, diam-diam menunduk

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 207

    Malam merambat perlahan. Langit telah menggelap sempurna, sementara cahaya lampu-lampu taman menerangi halaman luas kediaman Lakeswara. Angin malam berembus lembut, menggoyangkan dedaunan dan bunga-bunga yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju rumah utama.Di ruang makan, meja panjang dari kayu jati telah tertata rapi. Berbagai hidangan hangat tersaji, mulai dari sup, ikan bakar, tumisan sayur, hingga beberapa menu khusus yang disiapkan untuk Agnira sesuai anjuran dokter.Para pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan dengan kepala sedikit tertunduk, menunggu seluruh penghuni rumah berkumpul.Tak lama kemudian, Sambara memasuki ruang makan lebih dulu. Jas kerjanya telah berganti dengan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku. Tatapannya langsung mencari sosok sang istri.Beberapa detik kemudian, Agnira datang dari arah kamar tidur utama. Wanita itu mengenakan gaun rumah berwarna krem dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Meski wajahnya masih menyimpan sis

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 206

    Aurelie melempar barang-barang di kamarnya ke sembarang arah, dia kesal. Ingin sekali menjambak rambut Agnira detik itu juga. Wanita itu benar-benar mengibarkan bendera perang dengannya.Aurelie membanting vas bunga ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang sejak tadi berusaha ia redam.Prang!Sebuah bantal kembali melayang menghantam dinding, disusul kotak tisu dan beberapa buku yang berada di atas meja rias. Wanita itu terus membanting barang karena kesal yang masih mengendap di dalam dirinya."Kurang ajar!" geramnya.Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri. "Berani sekali dia mempermalukanku di depan semua orang."Bayangan wajah Agnira saat menyindirnya kembali terlintas di benaknya. Belum lagi sikap Sambara yang tanpa ragu membelanya di hadapan seluruh pelayan. Semakin dipikirkan, semakin besar api cemburu yang membakar hatinya."Aku datang ke rumah ini bukan untuk dipermalukan." Aur

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 205

    Ketegangan terjadi di kediaman Lakeswara. Di tengah ruang tamu, Sambara berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Namun, justru ekspresi itulah yang paling menakutkan. Bagi mereka melihat Sambara bersikap acuh lebih baik, daripada melihat pria itu tanpa ekspresi seperti ini.Tatapannya menyapu satu per satu orang yang berada di hadapannya. "Siapa?" tanyanya singkat.Tak ada jawaban. Keheningan semakin menyesakkan, sedangkan tatapan Sambara semakin tajam. "Saya ulangi sekali lagi." Suaranya tetap datar, tetapi mengandung tekanan yang membuat tengkuk setiap orang meremang. "Siapa yang berdiri di depan ruang kerja saya tadi siang?"Beberapa pelayan saling melirik sekilas, lalu kembali menundukkan kepala. "Maaf, Tuan ... kami tidak tahu," jawab salah seorang pelayan dengan suara gemetar.Brak!Sebuah vas bunga di atas meja dihantam Sambara hingga pecah berkeping-keping. Suara pecahannya membuat beberapa pelayan refleks bergetar."Jangan berbohong di depan saya." Rahang Sambara mengeras. "Rum

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 204

    Hangat dan basah. Dua hal yang Sambara rasakan setelah hampir satu bulan tidak merasakannya, kepala pria itu mendongak, menikmati sensasi hangat yang Agnira berikan.Sementara di bawah sana, sang istri terlihat sangat lihai memainkan perannya. Menjilat perlahan dari bagian depan ke arah pangkal. Celana Sambara sudah tertanggal, kakinya mengejang saat Agnira menjilat bagian 'kepalanya'."Ah ...." Desah halus itu terdengar seiring dengan kuluman yang semakin intens. Tidak berselang lama, Sambara menggenggam tangan Agnira, lalu dengan lembut mengangkat tubuh istrinya hingga duduk di atas meja kerjanya. Agnira menumpukan salah satu kakinya di sisi tubuh Sambara untuk menjaga keseimbangan, membuat posisi mereka kini saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat."Kamu cantik sekali," bisik Sambara pelan. Kepalanya menunduk, mengecup kaki Agnira yang berada di dadanya.Agnira mendekat perlahan, telunjuknya menyentuh dagu Sambara dan membuat pria itu menatap ke arahnya. "Apa kau mau aku,

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 203

    Pintu terbanting kuat, bunyinya begitu kencang dan membuat Sambara yang sedang fokus bekerja sedikit terkejut. Pria itu menatap wajah sang istri dengan kernyitan heran."Ada apa?" tanyanya heran, menatap sang istri lekat-lekat. "Kamu kelihatan kesal sekali."Agnira berjalan masuk dengan langkah lebar. Wajahnya masih menyiratkan kekesalan. Tanpa menjawab pertanyaan Sambara, ia langsung mengambil botol air di atas meja kerja suaminya, lalu meneguknya beberapa kali.Sambara memutar kursinya menghadap Agnira sepenuhnya. "Jadi, ada cerita apa pagi ini?" Agnira menutup botol air itu sedikit keras, kemudian mengembuskannya napas panjang. "Mas, tamu mu begitu menyebalkan, aku nggak suka!" Sambara meraih pergelangan tangan Agnira dengan lembut, lalu menariknya hingga wanita itu terduduk di atas pangkuannya. Tanpa tergesa, ia mengecup singkat pipi sang istri sebelum mengusapnya perlahan dengan telapak tangan. Sentuhannya begitu lembut, seolah berusaha meredakan seluruh amarah yang mengobar di

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status