Share

Bab 76

Author: D.N.A
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-27 12:10:25

Agnira menjadi orang pertama yang tersadar setelah kejadian panjang yang mereka lewati. Wanita itu menggeliat pelan di dalam dekapan Sambara, tubuhnya terasa pegal karena tertidur dalam posisi duduk di ruang sempit mobil.

Kelopak matanya mengerjap perlahan saat merasakan sesuatu yang keras dan hangat berada dalam pelukannya. Agnira mendongak pelan, matanya langsung membulat sempurna saat menyadari Sambara tertidur tepat di sampingnya.

Napas Agnira tercekat. Terlebih saat ia sadar tidak ada sehe
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
astagaaaaa ada ya istri kaya gitu sok lucu tp ternyata otaknya sangat liar dia yg travelling kemana mana eh dia pula yg nyalahin suaminya terlaaaluuu
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 214

    Jejak air mata di atas kertas diary Kenan telah mengering, tetapi kalimat itu justru semakin tertanam dalam kepala Nayara. Ia menutup buku tebal tersebut dengan tangan gemetar, lalu mendekapnya erat di dada.Nayara memiliki berjalan pelan ke arah tempat tidur Kenan. Ia merebahkan tubuh di atas kasur empuk itu, dan memeluk guling dengan jejak aroma milik kekasihnya yang masih menempel di sana.​​Rasa bersalah kembali datang memenuhi rongga hatinya, menghantamnya hingga terasa sesak. Selama ini, Kenan menyimpan luka itu sendirian di balik senyumnya. Dan Robi, pria itu mengubur perasaannya begitu dalam demi menjaga profesionalisme dan menghormati keputusan yang Nayara ambil.​Nayara memejamkan mata erat-erat. Bagaimana mungkin ia tidak sadar, jika Robi menyimpan perasaan terhadapnya selama ini? Fajar menyingsing perlahan, hangat mentari mulai terasa saat Nayara membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk dengan kepala yang terasa sakit karena terlalu banyak menangis.Suara derap langkah kak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 213

    Asap hitam membumbung perlahan dari balik deretan gudang tua di kawasan pelabuhan. Api belum terlihat besar, tetapi bau gosong yang menyengat telah memenuhi udara malam. Beberapa pria berbaju hitam berdiri berjajar mengelilingi lokasi. Tak seorang pun berani mendekat tanpa perintah."Sudah dipastikan?" tanya seorang pria dengan suara rendah."Sudah. Semua dokumen di dalam hangus, tidak ada jejak bukti apapun lagi." Pria itu mengembuskan asap rokoknya perlahan. Tatapannya tetap tertuju pada bangunan yang masih mengepulkan asap."Dan mayatnya?" tanyanya penuh selidik, berharap akan ada bukti lain di tempat ini."Tidak ada apapun di dalam sana, Bos." Rahangnya mengeras menahan kesal. "Berarti dia masih hidup.Kalimat itu membuat beberapa anak buahnya saling berpandangan. Pria bertubuh tinggi itu meraih sebuah foto dari saku jasnya. Di dalam foto terlihat wajah Leonard dengan topeng khas yang membungkus wajahnya. Robi kembali menyimpan selembar foto itu dan menatap anak buahnya lagi."

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 212

    Pintu kamar terbuka perlahan. Hal pertama yang dilihat Sambara adalah Agnira yang sedang berdiri di balkon kamar.Malam telah turun sempurna. Cahaya bulan menyelinap di sela-sela pepohonan, menerpa lembut sosok wanita yang memeluk kedua lengannya sendiri. Rambut panjangnya bergoyang pelan diterpa angin malam, sementara gaun hamil berwarna krem yang dikenakannya ikut berkibar lembut.Sambara berhenti melangkah. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi punggung istrinya tanpa bersuara."Kenapa di luar?" tanya Sambara pada akhirnya. Pria itu berjalan ke sisi nakas dan mulai melepas jam tangannya, lalu menaruhnya di atas meja.Agnira menoleh sekilas. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Ingin saja, di sini sejuk." Sambara berjalan mendekat. Begitu tiba di belakang Agnira, ia langsung memeluk wanita itu dengan lembut."Udara malam dingin, sayang. Nanti kamu masuk angin," ujar pria itu sambil mendekap sang istri begitu erat."Tidak ko, kan ada kamu yang menghangatkan," gurau Agnira sambil ter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 211

    Byurr!Air kolam memercik tinggi ke segala arah ketika tubuh Arsen terhempas masuk ke dalamnya. Pria itu terlihat gelagapan saat air masuk melewati hidungnya. Beberapa kali ia terbatuk sebelum akhirnya muncul ke permukaan, sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah basah kuyup."Uhuk! Uhuk! Astaga ...!" keluhnya dengan napas tersengal. "Kau mau membunuhku? Hah!" Ia berenang tergesa menuju bibir kolam, lalu berpegangan di tepian sambil terus batuk-batuk. Air menetes dari wajah dan pakaiannya, membuat penampilannya yang biasanya santai kini tampak berantakan.Di tepi kolam, Sambara berdiri tanpa sedikit pun merubah ekspresi. Kedua tangannya masih tersimpan di saku celana, seolah yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan."Itu hukuman karena bertindak tanpa berpikir," ucap pria itu tenang.Arsen mendongak dengan wajah kesal. "Kan aku sudah minta maaf!""Kepada saya." Tunjuknya pada diri sendiri. Sambara berjalan ke arah kursi yang berada di sana, dan memilih dud

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 210

    Pada akhirnya, Aurelie harus dilarikan ke rumah sakit. Diare yang tak kunjung berhenti membuat tubuhnya kehilangan banyak cairan. Wajahnya pucat, bibirnya mengering, diare membuat wanita itu kehilangan tenaga. Bahkan sekedar untuk berdiri.Ratih terus menggenggam tangan putrinya selama perjalanan. Ia benar-benar khawatir melihat kondisi Aurelie yang terlihat parah, putrinya tidak pernah mengalami sakit seperti ini."Dokter, tolong anak saya," ucapnya panik saat ranjang pasien membawa Aurelie memasuki ruang IGD.Beberapa perawat segera memasang infus dan melakukan pemeriksaan awal. Sementara Surya berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah penuh kekhawatiran. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar sambil membuka hasil pemeriksaan."Siapa keluarga pasien?" tanya dokter terlihat tenang."Saya ayahnya," jawab Surya cepat.Dokter mengangguk. "Kondisinya stabil, tetapi pasien mengalami dehidrasi akibat diare akut. Untuk sementara kami akan memberikan cairan infus dan obat-obatan. Malam ini

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 209

    "Paman yakin itu bakal berhasil?" bisik Nana pelan di telinga Arsen.​Saat ini, mereka sedang menaiki tangga menuju lantai dua. Karena Nana yang sudah selesai makan malam dan ingin cepat masuk kamar, begitupun dengan Arsen. Padahal mereka hanya ingin memantau dari lantai dua, bagaimana tersiksanya Aurelie beberapa menit lagi.​"Yakin! Sebentar lagi si ulat bulu itu pasti bakal lari ke kamar mandi," ujar Arsen seraya tertawa kecil.​Nana mengerutkan dahi. Wajah polosnya dipenuhi rasa penasaran."Kalau ternyata nggak berhasil gimana, Paman?" tanyanya lagi dengan suara lirih, khawatir ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.Arsen menyeringai jahil. "Berhasil, tenang aja. Perut manusia itu nggak pernah bohong."Tentu saja akan berhasil. Hampir separuh isinya Arsen tumpahkan ke dalam minuman Aurelie. Nana menutup mulutnya, berusaha menahan tawa."Paman nakal sekali." "Belajar dari ahlinya." Arsen menepuk dada merasa bangga dengan apa yang sudah ia perbuat."Kata Ka Agnira, orang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status