LOGINUjung laras pistol rakitan itu berjarak kurang dari satu meter dari dada Leo.Jari telunjuk Bardi bertengger di pelatuk besi yang berkarat.Warga desa menjerit ketakutan dan mundur serentak.Lilis menahan napas di belakang punggung Leo, mencengkeram erat ujung kemejanya."Mundur atau peluru ini menembus jantungmu!" ancam Bardi serak.Napas juragan tambak itu memburu cepat, dadanya naik turun.Leo tidak mengubah posisi berdirinya.Matanya menatap lurus ke laras baja tersebut."Tarik pelatuk itu jika lenganmu tidak bergetar," tantang Leo datar.Bardi menggeram marah mendengar tantangan itu.Dia menghirup udara dari mulutnya dalam-dalam.Tarikan napas kasar itu membawa petaka.Serbuk putih pestisida di kerah baju kargonya ikut terhirup masuk.Mata Bardi membelalak lebar.Pria besar itu terbatuk keras menyemburkan cairan ludahnya.Pistol rakitan di tangannya jatuh membentur paving block.Bardi jatuh berlutut sambil mencengkeram lehernya sendiri."Uhuk! Tolong!" rintih Bardi dengan wajah m
"Aku tidak bisa melakukan itu, Dokter," tolak Lilis melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu."Bardi memiliki banyak anak buah di seluruh desa. Suamiku akan menguliti tubuhku hidup-hidup di depan warga jika aku berkhianat."Leo berhenti di ambang pintu gubuk.Dia menoleh menatap Lilis dengan sorot mata datar."Kau sudah berkhianat sejak menyerahkan buku itu ke tanganku."Lilis menelan ludahnya yang terasa kering."Aku bisa menghancurkan kerajaan suamimu dalam hitungan jam," ucap Leo mengancingkan kembali kerah kemejanya."Pilihanmu hanya dua. Tetap menjadi samsak hidup Bardi, atau menjadi informanku dengan jaminan perlindungan mutlak."Lilis menatap ujung sepatunya sendiri.Sensasi sentuhan Leo di bawah dipan tadi masih berbekas jelas di sekujur sarafnya.Logika dan ketakutannya pada Bardi kalah telak oleh dominasi sang dokter."Aku bersaksi siang ini," putus Lilis mengangkat wajahnya. "Pastikan nyawaku aman, Dokter Leo."Leo mengangguk sekali tanpa memberikan janji v
Pintu gubuk digedor dari luar dengan kepalan tangan."Lilis! Keluar kau perempuan pemalas!" teriak suara serak pria dari balik papan kayu.Tubuh Lilis tersentak keras mendengar suara suaminya.Buku catatan di pelukannya nyaris terjatuh akibat tremor di kedua tangannya yang semakin menjadi-jadi.Leo menarik kembali jari telunjuknya dari leher wanita itu.Dia memperhatikan postur bahu Lilis yang membungkuk tidak wajar saat ketakutan melanda."Tulang belakangmu melengkung menekan saraf servikal," diagnosis Leo cepat.Pria itu menunjuk area pundak kiri Lilis."Itu alasan kenapa tanganmu terus gemetar dan kesulitan bernapas setiap kali mendengar bentakan.""Pergi dari sini, Dokter," usir Lilis menahan air matanya."Bardi akan membunuh kita berdua jika melihat ada pria asing di gubuk ini.""Buka pintunya, Lilis!" bentakan Bardi terdengar semakin dekat bersamaan dengan suara tendangan ke dinding gubuk.Leo tidak mempedulikan ancaman di luar.Tangannya dengan cepat menyambar pinggang Lilis."
Kayu rotan itu meluncur deras menuju pelipis kiri Leo.Tepat sebelum benturan terjadi, tangan kiri Leo bergerak menyamping.Dua jarinya mencengkeram pergelangan tangan sang preman dengan sangat presisi.Ujung ibu jari Leo menekan kuat simpul saraf radialis pria tersebut.Preman berambut cepak itu menjerit parau.Kayu rotan terlepas dari genggamannya dan jatuh membentur tanah berbatu.Leo menarik lengan preman itu ke depan.Dia memutar tubuhnya, lalu menendang bagian belakang lutut pria tersebut.Pria itu ambruk berlutut memegangi kakinya yang lumpuh mendadak."Keparat kau!" maki preman bertubuh gemuk melihat rekannya tumbang.Preman kedua, ketiga, dan keempat membuang tongkat rotan mereka ke tanah.Ketiga pria itu menarik celurit baja dari balik pinggang celana mereka.Mata pisau melengkung itu memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai terik.Sebuah truk boks logistik berhenti mendadak di jalan tanah tepi bendungan.Pintu kemudi truk itu terbuka dengan kasar.Jaya melompat turun dar
Pintu kayu ruang tamu ditarik terbuka dari dalam sebelum sepatu lars para petugas itu sempat mendobrak.Leo berdiri menyamping menutupi akses masuk.Tangan kanannya menyodorkan map plastik merah tepat ke dada pria berseragam khaki di depannya."Baca stempel pengesahan dari inspektur tata ruang provinsi di pojok kanan bawah," perintah Leo tanpa menaikkan nada suaranya.Pria berseragam itu menyorotkan senternya ke arah dokumen tersebut.Matanya melebar melihat tanda tangan asli atasannya.Tangan petugas itu gemetar mengembalikan map tersebut."Tarik mundur pasukanmu dalam waktu sepuluh detik," usir Leo.Tanpa banyak bicara, rombongan mobil dinas itu memutar balik meninggalkan pekarangan puskesmas dengan tergesa-gesa.Nida menghela napas lega dari balik punggung Leo.Wanita itu segera pamit pulang, menyisakan rutinitas malam yang kembali berjalan normal.Ketukan keras di meja pendaftaran puskesmas mengawali rutinitas jam delapan pagi.Maya berlari masuk dengan daster basah kuyup.Janda k
Ujung sekop baja menancap kuat menembus tanah cokelat lapangan SD Inpres.Leo menginjak pinggiran logam sekop itu menggunakan sepatu pantofelnya. Ia membalikkan bongkahan tanah basah ke permukaan dengan satu dorongan tenaga.Suara tepuk tangan serentak memecah rutinitas pagi dari puluhan warga yang berdiri melingkar."Dana tahap pertama sebesar tiga miliar rupiah sudah ditransfer dari rekening perusahaanku," ucap Leo menyerahkan sekop itu pada mandor bangunan di sebelahnya."Gunakan material baja dan semen kualitas paling tinggi," instruksi Leo menepuk debu dari kemeja linennya. "Gedung pendidikan ini tidak boleh memiliki satu pun celah kerusakan struktural."Mandor mengangguk hormat menerima arahan tersebut. Pria bertopi proyek itu segera berlari menuju deretan truk material yang terparkir rapi di pinggir jalan aspal.Leo memutar tubuhnya menghadap deretan tenda terpal biru yang kini sudah dikosongkan.Nida berdiri mematung hanya dua meter dari posisi sang dokter bedah. Guru honorer
Tangan besar Leonardo bergerak secepat kilat. Dengan kecekatan seorang ahli bedah yang tak membiarkan satu milimeter pun kesalahan, ia menarik selimut tebal dari ujung ranjang dan menutupi tubuh Sekar yang setengah telanjang.“Sembunyi di bawah selimut, meringkuk ke arah dinding. Jangan bernapas te
Tangan mandor bertubuh gempal itu yang semula mengepal siap memukul, kini perlahan mengendur. Matanya menatap Leo dengan kilat kewaspadaan yang bercampur dengan ketakutan.Leo melangkah maju satu langkah. Sepatunya berderit pelan di atas tanah berkerikil, memangkas jarak di antara mereka. Sebagai s
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta






