LOGINKiran merenung dengan kepala tertunduk. Ingatan saat dia menampar Raka tadi, kembali melintas di benaknya, membuatnya merasa bersalah. Jika benar bukan pria itu yang melakukanya, jadi siapa pelakunya? Apa itu murni kecelakaan? Atau jangan-jangan .... "Ma, apa mungkin orang yang menabrak Papa itu orang suruhan Pak Hutomo?" "Kita tidak memiliki bukti, jadi tidak bisa menuduhnya sembarangan." Meski tidak memiliki bukti, tapi Yulia sangat yakin kalau memang Hutomolah yang ada dibalik semua teror dan kejadian yang menimpa keluarganya. Kalaupun mereka memiliki bukti, dengan latar belakang keluarga Pak Hutomo, mereka tetap tidak akan bisa menang melawannya. "Lalu, bagaimana keluarga kita menjadi miskin, apa itu ulah Pak Hutomo juga?" Yulia mengangguk dengan wajah lesu. "Iya." Selain gugatan pidana, ayah Mia juga melakukan gugatan perdata pada keluarga Kiran. Dia meminta ganti rugi yang sangat besar hingga menghabiskan seluruh harta keluarga Kiran. Saat itu, ayah Kiran menyanggupi memb
"Bagaimana dengan Raka? Kamu mau meninggalkannya?" Jika tidak terpaksa, dia juga tidak akan meninggalkan pria itu sebelum selesai menebus kesalahannya. Namun, keselamatan orang tuanya lebih penting. "Ma, sebenarnya aku berencana untuk bercerai dengan Raka. Aku tidak sanggup hidup bersamanya lagi." "Kenapa?" tanya Yulia heran. Selama ini, dia tidak pernah mendengar dari mulut putrinya kalau mereka memiliki masalah atau sedang bertengkar. Itu sebabnya dia merasa terkejut usai mendengar ucapan sang putri. "Apa Raka tidak memperlakukanmu dengan baik?" tebaknya. Kiran menggeleng lemah. "Tidak, Ma." Meski dia sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan semenjak keluar dari penjara, tapi Kiran memilih untuk merahasiakan dari sang ibu agar ibunya tidak khawatir. "Hanya saja, aku curiga kalau Raka yang sudah menyuruh orang untuk mencelakai Papa dan meneror keluarga kita." Dia masih ingat dengan jelas, Raka sering kali mengatakan kalau pria itu tidak segan menargetkan keluarganya
Pukul 1 siang, pesawat yang ditumpangi Raka dan Kiran akhirnya lepas landas. Mereka melakukan perjalanan udara kurang lebih 1.5 jam. Pukul 3 sore, mereka akhirnya keluar dari pintu kedatangan. Keduanya langsung menaiki taksi begitu tiba di luar. Saat taksi yang mereka tumpangi berhenti di sebuah hotel ternama di kota itu, Kiran mengernyitkan dahi. "Kenapa kita ke sini?" Padahal, dia sudah bilang pada Raka sebelumnya kalau dia ingin langsung menemui orang tuanya yang sedang berada di rumah sakit. "Kita akan menginap di sini. Letakkan barang dulu, baru ke rumah sakit." Kiran segera menggeleng. Dia tidak mau menginap di sana. Tujuannya datang ke kota itu adalah menemui orang tuanya. Kalau mereka menginap di sana, itu artinya dia tidak bisa bertemu dengan orangtuanya setiap saat. "Aku ingin menginap di rumah orang tuaku." "Rumah orang tuamu jauh dari sini. Mereka tinggal di pinggir kota. Lebih dekat ke rumah sakit jika kita menginap di sini." Setelah menimang selama beberap
"Raka, tunggu." Kiran memegang ujung lengan baju pria itu untuk menghentikan langkahnya menuju kamar mandi. Baru saja mereka tiba di rumah beberapa menit yang lalu. Begitu turun dari mobil, Raka langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kiran yang baru membuka pintu mobil. Sejak dalam perjalanan dari kantor sampai rumah, Raka hanya diam. Kiran juga tidak berani mengeluarkan suara, takut Raka akan marah dan kehilangan konsentrasi saat menyetir dan itu bisa membahayakan mereka berdua. "Aku ingin menjelaskan sesuatu," lanjut Kiran lagi usai Raka menoleh padanya. "Tadi itu, aku—" "Nanti saja jika ingin bicara, aku mau mandi." Melihat raut wajah Raka yang sedang tidak ingin diganggu, Kiran pun segera menarik tangannya, kemudian mengangguk. Setelah Raka masuk ke kamar mandi, Kiran pergi menyiapkan pakaian ganti untuk pria itu. Sambil menunggunya selesai mandi, Kiran memainkan ponselnya, kemudian kembali mencari lowongan pekerjaan untuknya. Kurang dari 15 menit, Raka keluar
Ternyata, Raka pernah sebahagia itu. Pantas saja pria itu begitu membencinya, ternyata dia sangat mencintai Mia. Merasakan bola matanya tiba-tiba memanas, Kiran pun segera mengalihkan pandangannya ke arah komputer. Namun, dia kembali melihat foto Raka dan Mia yang sedang saling menatap penuh cinta. Tiba-tiba saja dia merasakan emosi tidak jelas bergejolak dalam dirinya. Tidak ingin melihat foto itu lebih lama, Kiran segera menarik pandangannya dan berjalan menuju sofa dengan langkah kaki pincang. Oh, ya, mengenai cidera kaki Kiran, kondisinya sudah mulai membaik dan tidak perlu melakukan terapi. Hanya perlu melakukan latihan di rumah, dikompres jika sakit serta minum obat. Meski sudah membaik, tapi Kiran masih berjalan dengan pincang. Setelah duduk di sofa, Kiran memutuskan untuk menelpon ibunya sambil menunggu Raka selesai rapat. "Kiran, kapan kamu dan Raka akan ke sini?" tanya Ibu Kiran dalam sela-sela obrolan mereka. "Kemungkinan besok, Bu. Nanti aku tanyakan
"Masuk." Tidak ingin membuat Raka marah, dengan patuh Kiran masuk ke dalam mobil usai dibukakan pintu oleh pria itu. Setelah menutup pintu di samping kemudi, Raka memutar tubuhnya ke sisi mobil yang lain. Sepanjang perjalanan, Raka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Kiran pun yang merasakan suasana hati pria itu sedang tidak bagus, memilih diam juga. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya ketika melihat raut wajah serius Raka. Sejujurnya, dia masih terkejut dengan kedatangan Raka yang tiba-tiba ke cafe itu saat dia sedang menunggu taksi. Dia merasa heran, bagaimana bisa pria itu datang tahu dirinya sedang berada di sana? Beruntung, tidak terjadi keributan antara Alfan dan Raka ketika keduanya bertemu di cafe tadi. "Turun." Kiran menatap ke gedung yang ada di depannya sejenak, kemudian turun dengan wajah ragu. Saat ini, mereka baru saja tiba di gedung perkantoran Raka. "Ikut aku." Meksi Kiran merasa heran kenapa Raka membawanya ke kantor dan buk
Raka terbangun pukul 5 pagi. Hal yang pertama dia lakukan adalah kembali ke kamarnya untuk mengecek kondisi Kiran. Setelah memastikan demamnya sudah turun, Raka masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Karena Kiran masih tidur, Raka turun ke bawah setelah berganti pakaian. Dia pergi menemui
"Penjara seumur hidup," jawab Raka tegas. "Jika ingin setimpal, hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa." Kiran menunduk sambil tersenyum getir. 'Jadi, yang dia inginkan sebenarnya adalah nyawaku.' Setelah menghilang senyuman di wajahnya, Kiran mengangkat kepala, lalu menatap pria di depannya
"Cerai?" ulang Raka. "Mimpi. Dia sudah membunuh calon istriku, jadi dia harus menggantikan posisi Mia selamanya." Padahal, Raka sudah berjanji akan melepaskan Kiran setelah selesai menebus kesalahannya dan paling lama itu satu tahun setelah mereka menikah. "Raka, apa kau yakin alasanmu menahan
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menantang Alfan dengan wajah arogan. "Maka, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan membawanya," jawab Alfan tak kalah arogan. Kiran menjadi panik sekaligus bingung ketika melihat ketegangan di antara keduanya. Dia ing







