LOGIN"You can hate me all you want, Cameron," Brandon murmured, lips brushing his ear. "But by the end of this marriage, you'll crave me." Cameron Aston is straight. Or so he thought—until his father forces him into an engagement with Brandon Deville, the arrogant, maddeningly attractive heir to a rival empire. What should have been a cold business deal turns into a dangerous game of tension, temptation, and blurred lines. Because the more Cameron fights Brandon, the harder he falls. And in this marriage, losing might mean wanting something he swore he never would.
View MoreFlora tidak dapat menahan kegundahan hatinya , Reno sudah melamarnya di depan keluarganya. Hari pernikahannya tinggal menghitung hari. Setelah menyerahkan dokumen untuk ditandatangani, Flora masih tetap berdiri di depan meja kerja bosnya. Sesuai etika dia tidak akan duduk jika tidak dipersilahkan bos.
"Duduk, silahkan lapor apa kegiatan kita hari ini." kata ibu Megawati.
Flora lalu melaporkan rencana kerja hari ini. Suasana di ruang kerja ibu Megawati Dirga Susanto, CEO PT Puspita Dara yang seluruh dinding ruangannya berbalut kaca, dari luar tidak bisa melihat aktivitas di dalam ruang kerja milik CEO yang berkuasa penuh atas perusahaan yang dipimpinnya, tapi bos bisa melihat seluruh aktivitas di luar ruang kerjanya, terutama siapa yang akan masuk ke ruang kerjanya. Sekarang sedang berhadapan dengan Personal Asistant, Flora Santi Wijaya. Mata yang berbalut bingkai kacamata mahal Channel seharga enam juta bertengger di atas hidungnya yang agak pesek sehingga terlihat menggantung, menatap tajam ke arah Flora.
"Kalau sudah, silahkan teruskan pekerjaanmu."
Flora masih tetap duduk menatap ibu Megawati dengan perasaan was-was.
“Kau mau minta izin lagi? Siapa yang meninggal atau siapa yang menikah?” tanya ibu Megawati.
“Saya bu.” Jawab Flora was-was.
“Hum, kamu yang meninggal? Kok masih duduk di depanku. Apakah yang duduk di depanku roh gentayangan?” Tanya ibu Megawati dengan senyum mengejek di bibirnya.
“Saya minta izin akan menikah.”
“Wow. Akhirnya kamu menikah juga, saya kira kamu akan masuk jajaran perawan tua yang ada di kantor ini.”
Flora menatap bosnya dengan tatapan tidak suka.
“Mengapa menatapku dengan tatapan itu. Tidak suka? “
“Maaf ibu,tanggal 15 Desember saya akan menikah.”
Terjadi ketegangan di ruang kerja ibu Megawati yang dingin, bukan karena AC tapi wajah ibu Megawati yang memasang wajah dingin membuat Flora was-was.Flora mengibaskan rambutnya untuk membuat dirinya lebih santai menghadapi ibu Megawati yang tidak menjawab permohonannya, sibuk membaca dokumen di depannya kemudian menandatanganinya, membiarkan Flora menunggu jawabannya.
Kearoganan seorang pemimpin, yang merasa dibutuhkan serta berkuasa membuat Flora menunggu dengan hati berdebar , diliputi kepercayaan bahwa ibu Megawati menyetujui permohonannya, karena ibu Megawati terkenal kikir memberikan ijin maupun cuti, meskipun dalam peraturan kepegawaian setiap karyawan berhak setahun menikmati cuti tahunan dan izin .
Flora masih duduk di depan ibu Megawati berbalut kecemasan. Beberapa hari yang lalu Reno telah melamarnya di depan keluarganya, Setelah ada ketetapan tanggal pernikahan Flora menghadap ibu Megawati sekaligus meminta izin menikah sekaligus minta hak cutinya.
Sejak menjadi CEO , mbak Megawati melakukan banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi Flora. Flora kira dengan pimpinan seorang perempuan ada angin sejuk keibuan dalam perusahaan membawa perubahan buat masa depan perusahaan, tentunya kesejahteraan karyawan. Gaya memimpin perusahaan ibu Megawati malah lebih gila dari ayahnya. Sifat ambisius, dominan, memiliki rasa percaya diri tinggi, egois , keras kepala serta tidak segan mempermalukan orang lain , membuat banyak karyawan bekerja dengan penuh kecemasan dan takut berbuat kesalahan.
Sudah setengah jam Flora duduk di depan ibu Megawati yang sibuk membaca dokumen kemudian menandatanganinya. Wanita berusia empat puluh tahun itu kemudian beralih dari dokumen ke wajah Flora yang menatapnya penuh harap.
“ Ohhh…. Saya dengar dari staf, kamu baru saja dilamar. Beraninya cowok itu melamar kamu di kantorku tanpa ijin?” seru ibu Megawati mengulasnya dengan senyum mengejek.
“ Katanya pria blasteran?” tanyanya lagi sambil menurunkan kaca matanyanya agar bisa melihat Flora lebih jelas.
“ Iya… bu.”
“ Apa pekerjaannya?” tanyanya lagi.
“ Dia … dia… kerja di RB & J Buildings” jawab Flora. Flora tidak berani mengatakan bahwa Reno adalah CEO RB & J Bulidings.
“Apa ? Itu perusahaan kontraktor yang besar dan terkenal di Singapura , ada cabangnya di Jakarta! Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?” gerutu ibu Megawati.
“ Mmm… saya kira itu perusahaan kontraktor yang biasa-biasa saja.” bohong Flora.
“Apa !? Kamu ini tolol atau dungu! Itu perusahaan konstruksi yang terkemuka, kau bilang biasa-biasa saja?!” sungut ibu Megawati.
“Katamu dia pegawai biasa? tapi hemm… tidak mungkin, menurut Shanti dia melamarmu dengan bunga dan cincin berlian.” nerocos ibu Megawati.
Flora memandang bosnya dengan perasaan tidak enak karena telah berbohong. Dia ingin meralatnya, tapi takut nanti bosnya akan mengindoktrinasinya.
“Apa posisinya di RB & J Bulidings?” tanyanya menatap tajam Flora.
“Saya tidak tahu…” lirih Flora.
“Hei…kok kamu tidak tahu ? Harusnya kamu tahu siapa dia, apa latar belakangnya. Hmm.. dimana kau kenalan?” tanyanya lagi.
“Di Jakarta, waktu saya ikut ibu mengikuti seminar bulan Februari lalu,” kata Flora.
“Apakah dia peserta seminar”” tanya ibu Megawati.
“Saya tidak melihatnya sewaktu di seminar, mungkin karena banyak orang saya tidak lihat.” Kata Flora.
“Siapa nama calon suamimu?”
Flora agak ragu menyebut nama, agak lama dia termenung, menatap lantai di bawahnya seolah lantai di bawahnya bergerak karena merasakan kakinya bergetar beriringan dengan jantungnya berdetak tajam.
“Flora?”
“ Namanya Reno…..”
“Reno Baskara Jatmiko?” tanya ibu Megawati , langsung berdiri, mendekati Flora.
“Iyaahh…” jawab Flora dengan kaki bergetar.
“Apa ? Pria yang digandrungi para wanita sosialita kau katakan biasa-biasa saja? Kamu tahu siapa dia? Dia owner of RB & J Buildings , kontraktor terkenal di Singapura.” Ucap ibu Megawati sambil menekankan kata owner.
“Dia tidak memperkenalkan jabatannya, saya hanya tahu dia kerja di di RB & J Bulidings waktu kami pertama kali bertemu.” Elak Flora ingin melepaskan diri dari integorasi ibu Mega.
Ada ketegangan di ruang kerja ibu Megawati yang sibuk hilir mudik di depan Flora, kemudian berhenti menatap Flora dengan tatapan dengki, “Kurang Ajar !Kau mengambil dia dariku. Aku sudah lama mengincarnya ,kau dengan seenaknya merebut seluruh khayalanku ! " Ujar ibu Megawati kemudian melempar vas bunga yang ada di mejanya ke arah Flora.
Untung Flora cukup gesit menjauhkan tubuhnya dari vas berisi bunga segar yang melewati tubuhnya disusul suara prank terdengar sampai keluar ruang kerja ibu Megawati. Terdengar pintu diketuk , beberapa staf berebutan masuk ke ruang kerja ibu Megawati.
“Kamu memang brengsek !!” jeritnya.
“Keluar !! “ teriak ibu Megawati.
Mendengarnya , para staf langsung keluar, termasuk Flora.
“Flora ! Kamu tetap disini !”
“Saya tidak memberikan cuti kepadamu ! Kalau saya beri cuti, berarti kau jadi menikah dengan Reno yang sudah lama saya incar. Setiap ada seminar tentang konstruksi bertajuk Internasional aku selalu hadir agar bisa bertemu dengannya. Waktu ada seminar di Singapura, aku pernah bertemu dengannya . Oh…. Dia pria tampan, cerdas, memiliki kekuasaan dan kekayaan yang tak terhitung. Tatapan matanya, wow.. buat aku tidak bisa tidur semalaman.” Cicit ibu Mega.
Flora menatap bosnya , Dia sudah tergila-gila pada Reno, kenapa aku tidak tahu bahwa dia terobsesi pada Reno, batin Flora.
“Tidak !! Saya tidak setuju kau menikah dengannya !” katanya lagi sambil mengepalkan tangannya wajahnya berubah kemerahan karena menahan amarah.
“Tapi… Reno… “
“Apa ?Reno ? Kau sudah panggil dia dengan Reno bukan pak?” tanyanya dengan nadamarah.
Tak ada sepatah katapun terucap dari mulut Flora yang berusaha untuk menahan kemarahannya.
“Kau tahu waktu di Singapura aku mengejar-ngejarnya ketika dia menuruni tanggal berjalan, kakiku sampai terkilir. Kami sempat bertatapan mata, dia tersenyum padaku ,mempermainkan matanya, betul-betul lelaki jantan.”
“Saya tidak tahu kalau itu Reno yang membuat ibu terobsesi memilikinya.”
“Iya ! Aku sangat ingin memilikinya. Berikan nomor ponselnya Reno Baskara Jatmiko !" kata ibu Megawati .
“Tapi ibu...pak Reno tidak suka nomor ponselnya diberikan kepada orang yang tidak dikenalnya.” Kata Flora.
“Berikan nomor ponselnya ! Cepat !” teriaknya.
Dengan tangan gemetar Flora menyebut nomor ponsel Reno. Setelah mendapat nomor telepon Reno, ibu Megawati menatap Flora, ada sinar ancaman di matanya, “Jangan kau beberkan apa yang saya katakan kepada Reno ! Kamu tahu siapa saya bukan ?! Saya bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, jangan menghalangi keinginanku ! “ katanya sambil meninggalkan ruangan kerjanya.
Telapak tangan Flora mengepal erat, Flora langsung terhenyak tak berdaya di sofa. Tak terasa air matanya menetes ke pipinya yang mulus .Saat-saat yang dinantikannya telah di depan mata. Mengapa ibu Megawati terobsesi pada Reno Baskara Jatmiko.
"Aku baru tahu bahwa Reno menjadi incaran wanita sosialita yang senang berpakaian modis, menampilkan gaya hidup mewah pada acara-acara sosial yang kemudian diunggah di jejaring sosial." bisik Flora lirih.
Flora berdiri menuju ruang kerjanya, perkataan ibu Megawati telah menampar hatinya. Rupanya rencana untuk meraih kebahagiaan tidak semulus dengan apa yang ada diangan-angan Flora yang telah berusia tiga puluh tahun, sudah siap menikah lahir batin.
" Apakah aku harus mengalah untuk ibu Megawati? Membatalkan pernikahanku demi bos gila yang terobsesi pada Reno?" bisiknya.
Epilogue Brandon’s POV(The Wedding)The sun had never looked this soft before. It wasn’t harsh or blinding — just golden, like it knew today wasn’t meant for anything loud. The breeze carried the scent of roses and vanilla, and somewhere behind me, Erica was quietly tearing up even though she’d sworn she wouldn’t.I stood there at the altar, palms damp, heart hammering like it was trying to break free from my chest.Cameron was late. Not by much, but just enough to make my nerves short-circuit.Hilda leaned in from her seat, grinning. “Relax, pretty boy. He’s coming. You know he wouldn’t miss this.”I tried to smile, but my voice came out shaky. “If he doesn’t show, I’m marrying you instead.”Erica snorted, resting her head on Hilda’s shoulder. “Sorry, babe. She’s taken.”And right then, I saw him.Cameron walked out from the garden path, wearing a light gray suit that fit him perfectly. His hair was a little messy, like he’d tried to fix it and gave up halfway, and the sunlight cau
Cameron’s POVIt had been two weeks since everything went down. Two weeks since Drake was finally locked up and life started to feel… breathable again.The world had quieted. Brandon was smiling more, laughing again, though I could still see the shadow behind his eyes sometimes — the kind you only get after surviving something too heavy for your heart.But tonight, I wanted to change that.I’d spent the entire day planning. Nothing fancy, nothing dramatic — just something us. Because the first time I’d proposed… everything around it got poisoned. Drake had twisted it, used it. This time, I wanted it to be ours again.No cameras. No manipulation. Just me and him.The sky was painted in warm orange streaks when I parked outside the old lakeside park. Brandon loved this place. It was where we’d had our first fight and our first real “I love you.” The water shimmered like melted gold, the air calm except for the rustle of the trees.He climbed out of the car, squinting at the sunset. “You
Brandon POVIt’s crazy how fast things can change.One week ago, our lives were chaos — flashing sirens, screaming, and Drake’s twisted smirk burned into my memory. Now? The house was quiet again. Peaceful, even. My parents were back to drinking morning coffee on the porch, pretending like their son hadn’t just been caught in a nightmare.And Cameron… he was still healing.Every morning he’d walk into class wearing that same navy hoodie, the one with the tiny tear on the sleeve. He’d pretend he was fine, answer questions like nothing happened, but I could tell. The way his fingers tapped against his notebook. The way he sometimes zoned out mid-conversation. The way he looked at the window like he was waiting for something bad to happen again.I got it.Because I was waiting too.But life didn’t stop. Exams were back. Assignments stacked up again. Everyone else had already moved on — except us.Friday came, and I found Cameron sitting at the bleachers behind the school gym. His hoodie
Cameron POVEverything was noise and motion.The alarm screamed through the house, echoing off the walls and into my skull. My pulse hammered in time with it. Brandon was still grappling with Drake, both of them sliding across the floor, the rain slamming harder against the windows like it was trying to drown out the chaos inside.“Bran—get back!” I shouted, but he didn’t. He never did when it came to protecting me.The blinking light under the table flashed faster. Red. Urgent.I dropped to my knees, ripping away the tablecloth, and froze. A crudely wired device sat on the floor, timer flickering in uneven numbers. My stomach twisted. “He set a bomb.”Drake laughed from across the room, voice hoarse but still mocking. “Told you I’d make you choose.”Brandon slammed him into the ground again, pinning his arm. “You’re done, Drake! You hear me?”Drake grinned through split lips. “Not yet.”My hands shook as I studied the wires. I didn’t know how to defuse bombs—I wasn’t some movie hero—
DrakePatience. That was the key. Always had been.The cops thought they were circling me, like vultures waiting for me to stumble. Cute. They didn’t get it—I wanted them close. I wanted them watching. Because when it all went down, when Cameron finally snapped, they’d see what I’d seen all along.
DrakePatience. That was the key. Always had been.The cops thought they were circling me, like vultures waiting for me to stumble. Cute. They didn’t get it—I wanted them close. I wanted them watching. Because when it all went down, when Cameron finally snapped, they’d see what I’d seen all along.
Cameron POVThe car ride was the kind of quiet that wasn’t really quiet.Like, the air was thick, buzzing, even though neither of us said much. Streetlights blurred past the windows, smearing into streaks of yellow, and every bump in the road made Brandon flinch a little. I had both hands tight on
The house was too quiet when I pushed the door open.Not the normal kind of quiet—no TV hum, no clinking dishes. Just… heavy. Like the silence had weight, pressing down on my chest.I kicked off my shoes, every nerve in my body buzzing. Brandon had begged me to come back with him to his place, but






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore