Share

Hampir Berani

Author: aquarian
last update publish date: 2026-05-26 21:47:01

Sejak hari itu, pikiran Rian tidak pernah benar-benar utuh di kelas. Suara guru terdengar seperti latar belakang yang samar. Yang lebih jelas justru satu potongan kalimat yang terus berulang di kepalanya.

Jangan sok keren. Jadi diri sendiri. Coba aja dulu.

Rian bersandar di kursinya, menatap langit-langit. Niat itu sudah ada, tapi niat ternyata tidak otomatis berubah jadi keberanian.

Bel istirahat berbunyi. Kursi bergeser, suara langkah memenuhi kelas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Romantic Purple   Janji di Atas Kota

    Jam lima tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Lidya yang baru selesai bersiap menoleh ke jendela. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya udah dateng,” gumam Kak Fitri dari ruang tengah sambil menyeringai.Lidya memutar mata kecil, tapi senyumnya sulit disembunyikan. Tak lama, Rian masuk dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya. Lidya yang baru keluar dari kamar otomatis memperlambat langkahnya saat melihatnya.“Udah lama?” Tanyanya pelan“Baru aja.”Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama berpaling seolah tak ingin terlihat terlalu jelas menyimpan gugup.Rian kembali menoleh ke arah orang tua Lidya.“Om, Tante... kami pergi dulu.”“Ya udah, sana,” ujar Ibunya. “Hati-hati di jalan.”“Iya, Tante.”Rian menatap Lidya. “Yuk?”Lidya mengangguk.Sebelum keluar, ia sempat memeluk Ibunya sebentar, lalu menoleh ke Ayahnya. “Aku pergi dulu ya.”Ayahnya hanya mengangguk.Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Saat udara sore menyambut dari luar

  • Romantic Purple   Hari yang Akan Dirindukan

    Pagi itu terasa berbeda. Langit membentang cerah di atas halaman sekolah, seakan ikut merayakan hari yang telah lama dinanti. Barisan kursi tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga sederhana yang melambangkan perpisahan sekaligus awal yang baru.Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan penuh haru berpadu menjadi satu, memenuhi udara dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Hari kelulusan.Di antara kerumunan siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka, Lidya berdiri tenang. Kebaya sederhana yang dikenakannya jatuh anggun, mempertegas perubahan dirinya... bukan lagi gadis dingin yang menjaga jarak, melainkan sosok yang telah belajar membuka hati.Ia menarik napas pelan.Gak kerasa... semuanya sampai di titik ini.Matanya menyapu sekeliling. Bangunan sekolah yang dulu terasa biasa kini menyimpan begitu banyak cerita––tentang perjuangan, air mata, tawa, dan pertemuan yang diam-diam mengubah hidupnya.Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.“Lidya!”Suara Laras memecah lamunannya. Gadis i

  • Romantic Purple   Ungu yang Tetap Sama

    Waktu berjalan tanpa terasa. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa baru, kini mulai akrab di tubuh Lidya. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam sambil menatap potongan rambut barunya.Gak kerasa udah kelas tiga lagi.Tahap terakhir sebelum meninggalkan masa sekolah.Ia memandangi bayangannya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering muncul yang tersisa kini hanya ketenangan yang tumbuh perlahan. Dari atas meja, HP-nya bergetar pelan.Satu pesan masuk.“Ciee... yang udah kelas tiga.” SMS dari Rian.Lidya tersenyum tipis.“Iya dong.” Ketiknya singkat.Baru saja SMS itu terkirim, HP-nya berdering. Nama Rian kembali muncul di layar.“Halo?”“Masih betah di kamar? Mau berangkat jam berapa?”Lidya mengernyit kecil. “Udah mau berangkat, tapi kok––”Kalimatnya terhenti. Ia buru-buru menutup telepon dan memasukkan HP-nya ke dalam tas.Ia bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Rian duduk santai sambil menatapnya dengan sen

  • Romantic Purple   Tempat Pulang

    Beberapa bulan sejak mereka tak lagi berada di tempat yang sama, banyak hal mulai berubah. Ritme hari-hari tak lagi seperti dulu. Jarak, kesibukan, dan dunia baru perlahan mengambil ruang masing-masing.Namun, di antara semua perubahan itu, ada kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh. Rian, sebisa mungkin, akan menjemput Lidya sepulang sekolah. Tidak setiap hari tapi cukup sering untuk menjadi sesuatu yang ditunggu.Pagi ini, Lidya duduk di bangkunya dengan buku terbuka di atas meja. Matanya menghadap halaman yang sama sejak tadi, tanpa benar-benar membaca satu kata pun.Tangannya memegang HP, layar SMS dengan nama Rian masih terbuka.“Lagi apa?”Pesan itu sudah hampir sepuluh menit terkirim, tapi belum dibalas. Ia sempat ragu, lalu mengetik lagi.“Cie... yang lagi fokus belajar.”Pesan kedua terkirim.Lidya menghela napas kecil, lalu mengunci layar HP-nya.“Kenapa?”Suara Laras terdengar dari bangku sebelah.Lidya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”Beberapa detik kemudian, tangannya kemb

  • Romantic Purple   Selama Kamu Mau

    “Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam,”Pintu terbuka. Ibu Lidya berdiri di ambang dengan senyum hangat. ”Eh, Rian. Masuk Nak.”“Maaf Tante, pagi-pagi udah main ke sini.”“Gak apa-apa.” Ia membuka pintu lebih lebar.“Tapi Lidya kayaknya masih tidur, belum keluar kamar soalnya. Duduk aja dulu.”“Iya, Tante.”Rian melangkah masuk ke ruang tamu. Rumah itu terasa tenang, masih menyimpan suasana pagi. Dari arah dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan.Belum lama ia duduk, suara langkah tergesa terdengar dari dalam.“Mah... Mamah.”Lidya muncul dengan piyama tidur, rambut pendek sebahunya masih berantakan. Matanya setengah terbuka, wajahnya masih menyisakan kantuk.Ia belum sadar ada Rian di ruang tamu.“Mah, hari ini aku mau jalan sama Rian, ya...” katanya sambil menguap kecil.Ibunya menoleh sambil menahan senyum.“Kamu tuh, udah kelas dua juga masih bangun siang. Malu loh kalau dilihat Rian.”“Gak akan lah mah, masih pagi juga.”“Nih, tolong bawa ke ruang tamu.”Ibunya menyera

  • Romantic Purple   Yang Akhirnya Terucap

    Sabtu pagi, panggung, tenda, dan deretan kursi menghiasi lapangan sekolah. Kali ini semuanya terasa lebih “nyata”. Siswa putra memakai kemeja beserta jas, sedangkan siswa putri mengenakan kebaya.“Yan, foto dulu sini!” teriak Diki.Rian mendekat saling merangkul, tertawa tanpa alasan yang jelas.“Gila ya... tiga tahun gak kerasa,” gumam Hany.“Iya.”Acara berjalan khidmat. Selepas itu semua, suasana berubah menjadi lebih emosional.Rian melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Ia berdiri menatap kelasnya. Tempat yang dulu terasa biasa... sekarang terasa berbeda.Ini terakhir...“Rian.”Rian menoleh.Lidya berdiri di sana. Seragamnya tertutup sweater putih biru, rambutnya terikat rapi dengan poni menyamping. Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Rian diam beberapa detik.Mereka berdiri berhadapan, hening hanya saling menatap“Datang jam berapa?” Kata Rian memecah keheningan.“Setengah jam yang lalu. Tadi liat kamu jalan ke sini, jadi aku susul.”Rian tersenyum.“Duduk di sana yuk?

  • Romantic Purple   Langkah yang Tertinggal

    ­Tahun terakhir di SMA dimulai dengan hal yang tidak menyenangkan: Rian datang terlambat ke sekolah. Ia melewati gerbang sambil mengangguk kecil pada satpam yang sudah hafal wajahnya, lalu melangkah masuk ke halaman yang terasa lebih sepi dari biasanya. Sebagian besar siswa sudah berada di dalam ke

  • Romantic Purple   Yang Tak Ingin Kulepas

    Rian duduk di atas motornya yang terparkir di depan gerbang rumah Lidya. Sejak tadi ia hanya diam, sesekali melirik ke arah pintu. Ia memilih menunggu di luar... daripada harus mengetuk rumahnya.Tak lama, pintu terbuka. Lidya keluar dengan tas di bahunya, sambil membetulkan sepatu. Begitu mengangk

  • Romantic Purple   Percakapan yang Terlalu Biasa

    Udara pagi terasa segar, menyisakan dingin dari hujan semalam. Sinar matahari menembus celah awan tipis, jatuh di rerumputan yang masih basah. Lorong sekolah dipenuhi suara langkah kaki, tawa yang bersahutan, dan aroma kertas lembap yang bercampur dengan tanah dari taman belakang.Semuanya tampak s

  • Romantic Purple   Nama yang Mulai Diingat

    Motor melaju pelan, di antara kendaraan lain mengikuti arus pagi yang mulai padat. Di belakangnya, Hendoko terus berbicara tentang hal-hal acak—kadang soal kelas satu, kadang soal musik, bahkan tentang jalan yang semakin macet menjelang jam tujuh. Rian mengangguk sesekali, menjawab seperlunya. Teta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status