LOGIN"Apa? Menikah dengan Azahra?" Suara itu terdengar cukup lirih, tapi aku yang berada tak jauh dari mereka bisa mendengar apa yang diucapakan mas Risam. Ku lihat mas Risam melepas paksa genggaman tangan mbak Aiza dari bahunya, "Apa yang kamu pikirkan hingga bisa memutuskan hal seperti ini?"
"Sudah berkali-kali aku berpikir untuk membuat keputusan ini, Sayang. Ini aku lakuin demi kebaikan kita, kebaikan kamu juga." Mbak Aiza mengelah. Ku cengkram kuat nampan berisi suguhan yang ku bawa. Aku tak bisa mendevinisikan rasa yang sedang menyerbuku kini, entah marah atau apa. Tapi jujur, rasanya au seperti di permainkan. Mengetahui pernyataan dari mas Risam pada mbak Aiza aku merasa kehilangan harga diri, aku seperti barang yang di lempar kemanapun dan sesukanya. "Ini salah, Aiza. Aku enggak akan menikah lagi, apalagi dengan Azahra, aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Bagaimana bisa aku menikahinya? Dan kamu sendiri, bagaimana bisa kamu memikir hal sejauh ini?" "Mas, percaya sama aku..." "Enggak, untuk kali ini enggak." Mas Abrisam beranjak dari kursi, kemudian menuju keluar. Dia katakan jika ingin pulang malam ini juga. Sama seperti mas Risam yang ingin mempertahankan pendiriannya, mbak Aiza juga demikian, dia tidak ingin menerima keputusan mas Risam begitu saja. Di luar rumah ku lahat mereka melanjutkan perdebatan itu, lamat-lamat suaranya bisa ku dengar. Aku dan ibu tidaK berani untuk mendekat ataupun masuk di antara mereka. Hingga selalng beberapa waktu, mas Risam meminta tolong kepada kami karena mba Aiza pingsan. Kami panik dan membawa mbak Aiza ke rumah sakit terdekat. Dan kini kami hanya bisa pasrah di lorong rumah sakit yang sepi. Mas Risam duduk di ujung bangku, wajahnya disembunyikan di balik kedua telapak tangannya. Jaketnya yang tadi rapi kini tampak kusut, persis seperti raut wajahnya saat Mbak Aiza ambruk di depan rumah tadi. Aku bisa melihat bahunya sedikit berguncang, bukan karena tangis yang meledak, tapi karena beban rasa bersalah yang sepertinya sedang menghimpitnya. Dokter keluar dengan membawa beberapa hasil pemeriksaan, dokter mengatakan jika mbak Aiza sudah sadarkan diri. Dokter juga berpesan untuk tidak menekannya untuk saat ini sebelum mengajak Mas Risam ke ruangannya. Aku dan ibu masuk untuk menemui mbak Aiza. Pintu berderit pelan saat aku mendorongnya. Di atas ranjang putih itu, Mbak Aiza terbaring lemah. Wajahnya yang biasa cerah kini sepucat kain sprei yang membungkus tubuhnya. Matanya terbuka sayu, menatap kosong ke arah langit-langit kamar, seolah jiwanya masih tertinggal di kejadian menyakitkan tadi siang. Ibu langsung menghampiri sisi ranjang, menggenggam jemari Mbak Aiza yang terasa dingin. "Mbak Aiza..." bisik Ibu lirih. Suara Ibu bergetar, menahan tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Aku berdiri di kaki ranjang, hanya bisa mematung. Tapi mbak Aiza menoleh pelan. Saat matanya bertemu dengan mataku, setetes air mata jatuh melewati pelipisnya. Ia tidak bersuara, namun sorot matanya bicara lebih banyak dari pada ribuan kata. Tangannya bergetar menggapaiku seolah menginginkanku untuk mendekat. Akupun mendekat dan menggenggam erat tangan dinginnya, "Azahra... Ibu... tolong maafkan saya." Bagaimana caraku menjelaskan kepada mbak Aiza jika ada rasa sakit yang tak bisa kujelaskan sedemikian mungkin di dalam sini. Decitan pintu memecah kesunyian. Aku melihat Mas Risam memasuki ruangan dengan langkah gontai. Dengan beban yang bisa kulihat dari tatapan kosongnya. Ibu segera mengajakku bangkit, memberikan ruang bagi Mbak Aiza dan suaminya untuk berbicara empat mata. Kami pun beranjak menuju lorong rumah sakit. Sekitar setengah jam kami menunggu di sini. Keheningan yang panjang membuat Ibu akhirnya terlelap, menyandarkan kepalanya yang tampak lelah di pundakku. Tak lama kemudian, Mas Risam keluar. Wajahnya kusut, menyiratkan beban emosional yang sulit kudeskripsikan. Barangkali lelah, sedih, atau bimbang yang amat sangat. "Bagaimana keadaan Mbak Aiza, Mas?" tanyaku lirih, takut membangunkan Ibu. "Sudah lebih baik, jauh lebih baik," jawabnya singkat. Ia terdiam sejenak, menatapku lurus. "Emm... Azahra, saya ingin bicara dengan kamu. Bisa kita ke taman sebentar?" Aku mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Mas Risam menuju taman rumah sakit yang sepi dan dingin. "Azahra, saya tidak tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di pikiran istri saya sekarang," Mas Risam memulai pembicaraan, suaranya parau tertiup angin malam. "Yang saya tahu, dia sangat menyayangi saya dan keluarga ini. Dia merasa... keputusan yang dia ambil adalah satu-satunya cara untuk membuat kami semua bahagia." Mas Risam mengembuskan napas berat, seolah mencoba melepaskan sesak yang menghimpit dadanya. "Saya... saya benar-benar bingung, Azahra. Selama ini saya sudah menganggap kamu seperti adik saya sendiri. Tapi permintaan Aiza, dan melihat keadaannya yang seperti sekarang..." Ia menjeda ucapannya, menatap kosong ke arah deretan tanaman yang temaram. "Awalnya, saya ingin menegaskan bahwa saya menolak permintaan itu. Saya ingin menolak keinginan Mbak Aiza mentah-mentah. Tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, melihat kerapuhannya... saya merasa iba. Saya merasa memiliki utang budi yang begitu besar atas segala kebaikan yang diberikan Mbak Aiza selama ini." Ku beranikan diri untuk menatap Mas Risam, "dan mungkin... ini cara saya membayarnya." Mas Risam menatapku, ada kilat keterkejutan di matanya. "Menikah dengan tatacara yang demikian akan sangat menyakitkan untuk kita berdua. Tapi, melihat Mbak Aiza seolah kehilangan nyawanya karena ketakutan akan masa depan kita... itu jauh lebih menyakitkan buat saya." Aku menarik napas panjang, mencoba melapangkan dada yang sesak. "Aku setuju karena aku ingin menjaga apa yang paling dia cintai yaitu Mas Risam dan Keluarganya." Mas Risam melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan. Wajahnya yang tegang perlahan melunak menjadi raut penuh haru dan hormat. "Azahra," bisiknya pelan. "Saya berjanji, jika pernikahan ini benar-benar terjadi, saya tidak akan memintamu menjadi orang lain. Tetaplah menjadi Azahra. Kita akan menjaga Aiza bersama-sama. Saya akan menghormatimu, bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai penyelamat kami berdua." Di bawah langit rumah sakit yang kelabu, sebuah kesepakatan pahit ini tercapai. Kami memutuskan untuk saling menggenggam, bukan karena jatuh cinta, tapi karena kami mencintai orang yang sama, dan kami tidak sanggup melihatnya hancur lebih jauh lagi.Thanks sudah sejauh ini teman-teman... Aku bakal seneng banget kalo kalian mau ninggalin jejak buat support aku, love u all.
Sejak siang, Mbak Aiza tampak beberapa kali memeriksa ponselnya. Senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali layar itu menyala. Aku yang sedang membantu Bu Siti menyusun bunga di ruang tamu hanya memperhatikannya sekilas, hingga akhirnya beliau menghampiriku. "Mas Risam baru saja mengabari Azahra," ujarnya sambil mengangkat ponselnya. "Beliau sudah selesai menangani persidangan dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Insyaallah sebelum Magrib sudah sampai." Aku mengangguk pelan. Entah mengapa, ada rasa gugup yang tiba-tiba memenuhi dada. Sudah beberapa hari Mas Risam berada di luar kota, dan selama itu pula kami hanya sesekali bertukar kabar melalui telepon. Melihat reaksiku, Mbak Aiza terkekeh pelan. "Em... Tapi mbak harus pergi, Azahra." Aku mengernyit. "Pergi?" "Iya. Ada beberapa perlengkapan klinik yang harus Mbak beli. Dan ini kesempatan yang tepat untuk memberi kalian waktu berdua." Aku langsung menggeleng. "Azara ikut saja, Mbak." Beliau justru meraih ked
Keesokan paginya, saat aku sedang merapikan lemari pakaian, terdengar ketukan pelan di pintu kamar. "Azara, Mbak boleh masuk?" Aku segera membukakan pintu. Mbak Aiza berdiri sambil membawa sebuah kotak penyimpanan, sebuah album foto keluarga, dan beberapa map tipis. Senyumnya masih sama hangatnya seperti biasa, tetapi kali ini ada keseriusan yang tersirat di wajahnya. "Kalau kamu tidak sibuk, Mbak ingin mengajakmu mengobrol." "Tentu, Mbak." Kami duduk berdampingan di sofa dekat jendela. Untuk beberapa saat, Mbak Aiza hanya memandang kedua tangannya sendiri sebelum akhirnya membuka pembicaraan. "Semalam... kamu tidak melakukan kesalahan apa pun." Aku menoleh heran. "Bahkan menurut Mbak, kamu sudah sangat baik." "Lalu kenapa Mbak terlihat kepikiran?" Beliau tersenyum tipis. "Karena semalam Mbak sadar ada satu hal yang belum sempat Mbak ajarkan." Aku mengernyit pelan. "Apa itu?" Mbak Aiza mengembuskan napas sebelum berkata dengan suara yang tenang. "Keluarga kami." Aku mas
Minggu pagi itu aku terbangun sedikit lebih awal dari biasanya. Setelah merapikan tempat tidur dan menyelesaikan salat Dhuha, aku duduk di tepi ranjang sambil membaca beberapa lembar Al-Qur'an. Rumah masih terasa tenang. Mas Risam belum juga kembali dari perjalanan dinasnya, sementara Mbak Aiza sejak pagi sudah sibuk menerima beberapa panggilan dari klinik. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk pelan. "Azara, sudah bangun?" suara Mbak Aiza terdengar dari balik pintu. Aku segera membukanya. Mbak Aiza berdiri dengan senyum yang begitu cerah. Beliau mengenakan batik merah marun yang dipadukan dengan hijab berwarna krem. Penampilannya tampak anggun, tetapi raut wajahnya jauh lebih menarik perhatianku karena terlihat begitu bersemangat. "Mbak masuk, ya?" Aku mengangguk sambil mempersilahkannya. Mbak Aiza langsung duduk di sampingku sebelum meraih kedua tanganku. "Hari ini Mama mengundang keluarga besar untuk makan malam di rumah. Sekalian mengenalkan kamu sebagai istri Mas Risam."
Suara azan Subuh dari masjid desa membangunkanku lebih awal. Aku segera mengambil air wudu, lalu kembali ke kamar dengan mengenakan mukena putih yang kubawa dari rumah. Mas Risam sudah menungguku dengan sarung dan baju koko sederhana. Tanpa banyak bicara, beliau hanya mempersilakanku berdiri di belakangnya untuk salat berjemaah. Aku mengangguk pelan. Menjadi makmum bagi suamiku untuk pertama kalinya menghadirkan perasaan yang sulit kujelaskan. Ada rasa asing, gugup, sekaligus haru yang berbaur menjadi satu. Mas Risam mengimami salat dengan bacaan yang tenang dan tartil. Aku mengikuti setiap gerakannya sambil berusaha mengosongkan pikiran dari segala kegelisahan yang sejak kemarin memenuhi hati. Dalam sujud terakhir, aku memanjatkan doa lebih lama dari biasanya. Aku memohon agar Allah melembutkan hatiku untuk menerima kehidupan baru ini, membimbingku menjadi istri yang mampu menjalankan amanah dengan baik, serta menjadikan Mas Risam sebagai imam yang selalu diberi keberkahan dalam seti
Mobil melaju pelan di jalan raya yang mulai terjal saat menjauh dari kota. Aku duduk di kursi belakang, menyimpan kalung bintang dari Mbak Aiza dengan hati-hati ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Mas Abrisam diam di kursi depan bersama sopirnya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia sering melihat ke arahku melalui cermin spion. Lanskap berubah dari pemukiman padat menjadi hamparan sawah hijau yang luas, dengan pepohonan kelapa yang berdiri tegak di sekelilingnya, pemandangan yang dulu kubayangkan sebagai tempat tinggal yang damai, tapi kini rasanya seperti dunia yang benar-benar baru dan asing bagiku. Kita tidak bicara banyak selama perjalanan. Setelah hampir dua jam perjalanan, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan tembok berwarna putih pucat. Taman depan tidak terlalu luas, tapi ditanami berbagai jenis tanaman sayuran dan bunga kamboja kuning yang sedang mekar indah. Di dekat pintu utama, ada sebuah gazebo kecil dengan kursi kayu yang sudah dipoles rapi. “Ini rumah kita
Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la
Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di ata
Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Ekskl
Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, mata
Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih ter







