LOGINMemergoki kekasihnya di dalam kamar hotel tempatnya bekerja bersama pria lain yang ternyata sahabatnya sendiri, membuat Rayhan sakit hati. Apalagi kekasihnya tidak menyesal dan menyalahkan Rayhan yang miskin dan tak berguna. Sahabatnya sendiri juga menghinanya, membuat Rayhan merasa putus asa. Melamun saat menyeberang jalan, membuat tubuh Rayhan ditabrak truk pengangkut barang hingga terpental beberapa meter dari tempat kejadian. Saat darahnya menetes ke cincin safir biru warisan keluarganya, mendadak tubuh Rayhan yang sudah patah tulang dan tak terselamatkan menjadi pulih seketika. Bahkan tubuhnya menjadi berotot seperti pria yang rajin ke gym. Rayhan Halim, juga memiliki kemampuan khusus mata tembus pandang untuk melihat barang antik yang berharga, menebak nomor undian dan semacamnya, serta menganalisa saham. Namun kemampuan unik lainnya, Rayhan bisa merasakan wanita-wanita yang kesepian dan memerlukan kasih sayang. Rayhan yang kembali dari kematian dengan tubuh sempurna ini tidak sulit untuk mendekati wanita-wanita kesepian tersebut. Namun, bara dendam membuatnya merancang strategi untuk memiskinkan sahabatnya dan juga membuat kekasihnya sengsara. Bagaimana cara Rayhan melakukannya? Ikuti ceritanya ya...
View MoreRayhan berhenti tepat di anak tangga pertama.Sepatu hitamnya berderit pelan di permukaan marmer yang dingin. Tangannya masih menyentuh pegangan tangga, tapi langkahnya tertahan—seolah ada sesuatu yang belum selesai.Ia menoleh.Gerakannya lambat. Tenang. Tidak terburu-buru.“Oh ya.”Suaranya ringan. Hampir seperti seseorang yang baru teringat hal sepele.Jessica yang berdiri di bawah langsung menyipitkan mata. Alisnya terangkat, ekspresinya penuh curiga.“Apa?”Rayhan menatap mereka bertiga. Satu per satu. Seolah sedang menilai… atau mungkin meremehkan.Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.“Kalian ini hanya sekumpulan pecundang tak berguna.”Hening.Kalimat itu jatuh begitu saja—dingin, tajam, tanpa emosi. Seperti pisau yang tidak perlu diayunkan keras untuk melukai.Rendra mengernyit, wajahnya langsung menegang.“Apa katamu?”Rayhan hanya mengangkat bahu, seolah ucapan barusan tidak ada artinya sama sekali.“Tidak apa-apa.”Dan tanpa memberi kesempatan balasan, ia berbalik.Langkahn
Lampu-lampu kota mulai menipis ketika Rayhan akhirnya membelokkan coupe merah itu keluar dari jalan utama.Mesin mobil Alicia masih mendengkur halus—suara mahal yang terlalu elegan untuk lingkungan yang akan ia tuju.Beberapa menit kemudian, gedung-gedung tinggi Bellavista mulai tergantikan oleh rumah-rumah lama.Jalan menjadi lebih sempit.Lampu jalan lebih jarang.Cat pagar banyak yang sudah pudar.Rayhan memperlambat mobil.Ia melihat deretan rumah dua lantai yang sangat ia kenal.Kompleks lama tempat ia tumbuh.Ia menghela napas pendek.“Aku coba tinggal beberapa hari lagi sambil mencari cuan…”Mobil coupe merah itu jelas terlalu mencolok untuk lingkungan seperti ini.Anak-anak yang masih nongkrong di warung ujung jalan bahkan langsung berhenti mengobrol.Salah satu dari mereka bersiul.“Woi… Ferrari mini!”Rayhan tersenyum kecil.“Kalau mereka tahu ini bukan mobilku,” gumamnya.Ia tidak langsung berhenti di depan rumah.Sebaliknya, ia memarkir mobil itu sekitar lima puluh meter d
Rayhan membuka pintu mobil.Klik.Pintu coupe merah itu terayun pelan, dan ia melangkah keluar dengan gerakan santai seolah baru saja berhenti untuk membeli kopi, bukan karena sebuah SUV hitam memblokir jalan di tengah malam.Angin laut langsung menerpa wajahnya.Udara asin yang dingin mengusap kulitnya, membuat ujung rambutnya bergerak halus. Lampu jalan memercikkan cahaya kuning redup di aspal pesisir yang kosong.Kondisi jalanan sunyi.Hanya suara ombak jauh dan mesin mobil yang masih menyala pelan.Di depan sana, empat pria berdiri di sekitar SUV hitam.Tubuh mereka besar. Bahu lebar. Tangan kasar seperti orang yang lebih sering memukul daripada berjabat tangan.Salah satu dari mereka memutar bahunya sampai berbunyi.Krek.Ia menatap Rayhan dengan mata menyipit.“Rayhan?”Rayhan mengangkat satu tangan kecil, seperti murid yang hendak bertanya di kelas.“Kalau aku bilang bukan…” katanya santai. “kalian percaya dan pulang?”Beberapa detik hening.Kemudian—Preman itu tertawa.Tawa ka
Mesin coupe merah itu masih menyimpan sisa panas ketika Rayhan akhirnya memutar kunci lagi.Suara mesin menyala halus dan rendah. Lampu dashboard memercikkan cahaya biru lembut ke wajah Rayhan, menerangi garis rahangnya dan bayangan samar di matanya.Ia menatap ke depan beberapa detik.Sunyi.Kemudian matanya melirik ke arah kaca spion.Gerbang villa Alicia perlahan menutup dengan suara mekanis yang halus.Pintu besi tinggi itu akhirnya bertemu di tengah, memutus pandangan Rayhan dari halaman rumah besar yang tadi baru saja ditinggalkan Alicia.Wanita itu sudah masuk.Lampu taman villa menyala hangat di balik pagar.Rayhan menghela napas panjang, menyandarkan kepala sebentar ke kursi.“Alicia tidak akan keberatan mobilnya aku pinjam sebentar,” gumamnya pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri daripada siapa pun.Tangannya mengetuk ringan setir mobil.Keputusan diambil.Ia akan meminjam mobil ini sebentar dan kembali ke rumah barunya untuk beristirahat.Setelah malam panjang sepert






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore