Share

BAB 92

last update publish date: 2026-03-22 20:52:01

Satria masih duduk santai di atas kursi kayu usang itu. Tangannya mengetuk-ngetuk pelan sandaran kursi, sama sekali tidak peduli dengan kilatan logam dari belasan moncong senjata api yang mengepungnya.

"Gue kadang heran sama jalan pikiran orang kaya macam lu, Bas," ucap Satria memecah keheningan gudang. Nada suaranya dibuat sangat meremehkan, persis seperti orang tua yang sedang menasihati anak kecil yang nakal.

"Muka lu lumayan. Duit lu banyak, ya walaupun itu juga hasil ngerampok harta bapak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 341

    Keesokan paginya, suasana di ruang tunggu Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mendadak riuh. Para wartawan media hiburan dan bisnis berkumpul setelah mendapat bocoran bahwa sidang sengketa lahan proyek mal Hadiwinata Group akan memasuki agenda mediasi awal.Vera datang didampingi oleh tim hukum perusahaan dan Satria yang berdiri tegap di belakangnya. Wajah direktur muda itu tampak tenang, meski ada sedikit rasa penasaran tentang hasil temuan Satria kemarin sore.Di sisi seberang ruangan, pengacara kepercayaan keluarga Aryatama—Hendrawan—duduk bersama klien mereka, Mardani. Hendrawan tampak sangat percaya diri. Sambil merapikan jas mahalnya, dia tersenyum sinis ke arah Vera, seolah sudah di atas angin.Pintu ruang sidang utama terbuka. Hakim ketua memanggil kedua belah pihak untuk masuk dan duduk di kursi pesakitan."Baiklah, agenda hari ini adalah mendengarkan pokok perkara dan tanggapan awal dari pihak penggugat terkait sengketa lahan di tapak proyek Hadiwinata," buka hakim ketua dengan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 340

    Siang itu, matahari ibu kota bersinar terik. Satria memacu motor sportnya menuju sebuah kawasan perkampungan tua di pinggiran kota. Tempat itu dulunya adalah area perkebunan sebelum berubah menjadi zona pemukiman padat. Berdasarkan data singkat yang berhasil dilacak Bima, Mardani—pria yang mengaku sebagai ahli waris sah tanah proyek mal—pernah tinggal di wilayah tersebut sebelum merantau puluhan tahun lalu.Satria memarkir motornya di sebuah warung kopi kecil dekat balai warga. Dia memesan segelas es teh manis sambil mengobrol santai dengan pemilik warung, seorang pria paruh baya yang tampak sudah lama tinggal di sana."Permisi Pak, kalau kenal sama Pak Mardani yang rumahnya dekat bekas perkebunan dulu, kira-kira beliau sekarang tinggal di sebelah mana ya?" tanya Satria ramah sambil menyodorkan sebatang rokok kretek.Pria paruh baya itu menerima rokok tersebut, menyalakannya, lalu menghela napas panjang. "Mardani? Oh, si Dardan maksudnya? Wah, anak itu sudah lama sekali tidak kelihata

  • Satria Idaman Wanita   BAB 339

    Dua hari berlalu dengan tenang. Proyek pembangunan mal Hadiwinata Group kembali berjalan normal tanpa ada gangguan apa pun. Satria bahkan sempat mengendurkan sedikit pengawasannya karena mengira kubu Aryatama sudah benar-benar mundur setelah tentara bayaran mereka kabur.Namun, ketenangan itu mendadak pecah pada Kamis pagi.Vera baru saja tiba di ruang kerjanya ketika Laras masuk dengan langkah terburu-buru dan napas tersengal-sengal. Wajah asisten pribadinya itu terlihat sangat pucat."Nona Vera... gawat Non!" seru Laras sambil meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja kerja Vera.Vera mengerutkan kening, merasa tidak suka dengan nada panik di pagi hari. "Ada apa lagi Ras? Jangan bilang ada demo LSM palsu lagi.""Bukan demo Non. Ini jauh lebih buruk," jawab Laras dengan suara bergetar. "Petugas juru sita dari Pengadilan Negeri baru saja datang ke gerbang depan. Mereka menyerahkan surat panggilan resmi dan gugatan perdata untuk perusahaan kita."Kening Vera berkerut semakin

  • Satria Idaman Wanita   BAB 338

    Berikut adalah Bab 381, menceritakan ketenangan palsu di kantor dan langkah tak terduga yang diambil oleh Surya Aryatama.Bab 381: Langkah Licik Sang KonglomeratHari itu, suasana di kantor Hadiwinata Group berjalan sangat produktif. Dua rapat penting bersama calon investor luar kota berhasil ditutup dengan kesepakatan kerja sama yang memuaskan. Vera tampak tersenyum lebar saat melangkah keluar dari ruang rapat bersama Laras."Wah, hari ini bener-bener hari keberuntungan kita Non! Semua investor setuju buat suntik dana tambahan," kata Laras antusias sambil merapikan dokumen di tangannya.Vera mengangguk setuju. "Iya Ras. Semuanya berkat kerja keras tim, dan tentu saja karena kita bisa melewati badai fitnah kemarin dengan bersih."Satria berdiri di sudut lorong dekat jendela kaca, mengawasi keadaan sekitar dengan tenang. Ponsel di sakunya sempat bergetar beberapa kali. Itu pesan singkat dari Bima yang mengabarkan kalau tim pembunuh bayaran Igor terlihat memesan tiket penerbangan pagi k

  • Satria Idaman Wanita   BAb 337

    Kamar 1204 itu berantakan. Igor meringis menahan sakit di dadanya. Dia berjalan pelan mendekati Ivan yang masih terbaring di lantai sambil memegangi bahu kanannya."Sialan," umpat Ivan pelan. "Tenaga orang itu tidak masuk akal."Igor berjongkok. Dia memegang lengan Ivan dan menariknya dengan satu sentakan keras. Terdengar bunyi tulang kembali ke posisinya. Ivan menjerit tertahan sambil menggigit bibir bawahnya.Di sudut lain, Boris sudah berhasil duduk di pinggir kasur. Dia masih terbatuk-batuk memegangi perutnya."Kita salah perhitungan," kata Igor dengan wajah serius. "Orang itu bukan pengawal biasa. Cara bergeraknya di ruang gelap tadi murni insting seorang pembunuh. Dia bisa saja menghabisi kita bertiga dengan mudah kalau dia mau."Boris menatap bosnya. "Terus kita harus bagaimana Bos? Lanjut menjalankan misi?"Igor menggeleng. "Kita tidak dibayar untuk mati konyol tanpa persiapan. Saya harus laporan ke Surya Aryatama sekarang."Malam itu juga di tempat yang berbeda, Surya Aryatam

  • Satria Idaman Wanita   BAB 336

    Berikut adalah Bab 379, menceritakan aksi penyusupan Satria ke markas tim pembunuh bayaran untuk memberikan teror mental sebelum mereka sempat menyerang.Bab 379: Harimau Masuk KandangMalam menunjukkan pukul sebelas lewat. Hujan rintik-rintik mulai membasahi jalanan ibu kota. Di rumah Vera, lampu lantai bawah sudah banyak yang dimatikan.Satria memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat. Setelah yakin Vera sudah tidur di kamarnya, dia mengambil jaket hitam, topi, dan sebuah belati lipat militer dari dalam tas ranselnya."Bim, lo udah siap?" bisik Satria ke mikrofon kecil di kerah jaketnya."Siap Komandan. CCTV lorong lantai dua belas Hotel Grand Batavia udah gue putar ulang. Rekamannya bakal berulang terus selama lima belas menit ke depan. Petugas keamanan hotel cuma bakal lihat lorong kosong," lapor Bima cepat."Bagus. Beri gue akses lift barang dari basement."Satria keluar dari rumah Vera lewat pintu samping dengan sangat tenang. Dia memacu motor sport pinjaman dari salah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status