ログインAkhirnya kamu datang juga, Satrio? Dua hari ini rasanya kantor ini sepi sekali tanpa kehadiranmu," rajuk Adirah begitu pintu ruang kerja Satrio tertutup rapat pagi itu. Adirah, sekretaris boss besar dengan seragam kerja yang ketat, langsung melangkah mendekat tanpa memedulikan jarak profesional mereka. Sepasang matanya menatap Satrio dengan binar kerinduan yang mendalam. Ia meletakkan sebuah map kerja di atas meja, namun gerak tubuhnya justru condong ke arah Satrio, menguapkan aroma parfum vanila yang manis dan memikat ke seluruh ruangan. Satrio mengulas senyum tipis, senyuman khas yang selalu berhasil menundukkan hati wanita. Ia menanggalkan jas hitam mewahnya, menyampirkannya di sandaran kursi empuknya, lalu menduduki kursi tersebut dengan wibawa seorang pria yang memegang kendali penuh. "Ada beberapa urusan kampus yang harus kuselesaikan, Mbak Adirah. Urusan penting terkait kelulusanku," jawab Satrio, suaranya berat, tenang, dan sarat akan karisma yang menghanyutkan. "Aku benar-
Jalanan ibu kota sudah sangat sepi ketika sedan mewah hitam metalik milik Satrio membelah keheningan malam menuju ke area perumahan padat. Jarum jam di dasbor mobil menunjukkan pukul dua dini hari saat Satrio akhirnya mengunci mobilnya dan melangkah masuk ke dalam kamar kosannya. Tubuhnya terasa letih setelah melalui pesta gairah yang menguras energi di penthouse Ayunda, namun pikirannya masih terjaga penuh oleh ambisi dan kepuasan atas penaklukan malam itu.Satrio menutup pintu kayu kamarnya rapat-rapat. Baru saja ia mengunci slot pintu dari dalam, udara di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu mendadak berubah drastis. Udara yang semula pengap seketika berganti menjadi sejuk, dan aroma harum kelopak mawar merah yang sangat pekat kembali meledak, memenuhi seluruh penjuru kamar. Bau mistis itu begitu kuat, menembus indra penciuman Satrio dan memberikan getaran familier yang mendebarkan di dadanya.Merasakan tanda-tanda kehadiran sang dewi pelindung, Satrio tidak membuan
Penyatuan tubuh yang membara di atas balkon terbuka itu akhirnya mencapai puncaknya yang dahsyat. Di bawah siraman sinar bulan, baik Satrio maupun Ayunda sama-sama mereguk kenikmatan tertinggi yang menghentak seluruh kesadaran mereka. Napas keduanya memburu, bersahut-sahutan dengan deru angin malam yang berembus kencang di ketinggian lantai tiga puluh. Ayunda terkulai lemas di dalam pelukan Satrio, tubuh seksinya yang berkeringat tampak gemetar, sepenuhnya kehabisan tenaga setelah dihantam gelombang kepuasan yang luar biasa."Sama nikmatkah seperti di kamar mandi tadi, Satrio?" tanya Ayunda sekadar memastikan sambil menatap wajah Satrio yang masih memangku dirinya. "Aku lebih menikmati di dalam air tadi," jawab Satrio singkat.Setelah beberapa saat menenangkan diri dan merapikan kembali jubah mandi mereka, Satrio melangkah kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap pulang. Meskipun tubuhnya masih dilingkupi rasa lelah yang teramat sangat, Ayunda dengan berat hati merelakan Satrio perg
Tidak hanya berhenti di atas ranjang master bedroom, pesta gairah itu berlanjut ke dalam bathroom. Di bawah guyuran air hangat shower dan di dalam rendaman bathtub yang bertabur bunga, keduanya kembali menyatu dalam lingkaran nafsu yang kian memuncak.Di dalam air yang dipenuhi kelopak bunga aneka warna, Ayunda merayap di atas tubuh Satrio yang bersandar di tepi bathtub. Keduanya kemudian mengawali saling memagut bibir, sementara tangan Ayunda menyentuh milik Satrio di dalam air yang sudah menegang penuh. Perlahan tapi pasti, milik Satrio dibimbing menuju kehangatan miliknya. Satrio sampai memejamkan mata merasakan sensasi miliknya perlahan memasuki gerbang kewanitaan Ayunda di dalam air."Nikmat sekali rasanya..." gumam Satrio hingga mulutnya terbuka.Ayunda mulai duduk di atas milik Satrio sambil bergerak seirama dengan kecipak suara air di dalam bathtub. Detik berikutnya, Satrio memegang pinggul Ayunda, lalu menggerakkan tubuh ramping wanita itu ke atas ke bawah dengan gerakan yan
Satrio merebahkan tubuh seksi Ayunda di atas hamparan kelopak mawar merah. Di bawah temaram lampu kamar yang diatur remang-remang, Ayunda kini telah terbaring sepenuhnya di atas ranjang tanpa mengenakan selembar benang pun. Kulitnya yang mulus dan dirawat mewah tampak berkilau indah, sangat kontras dengan merahnya kelopak mawar yang mengelilingi lekuk tubuhnya. Sepasang matanya yang sayu menatap lurus ke arah Satrio, memancarkan binar pemujaan yang teramat dalam dari seorang wanita yang seluruh jiwa dan raganya telah tak berdaya ditaklukkan.Satrio Berdiri kokoh di sisi ranjang master bed yang megah itu, Satrio membalas tatapan Ayunda dengan sorot mata yang penuh kendali dingin. Perlahan dan tanpa sedikit pun melepaskan pandangannya dari sepasang mata Ayunda yang menatapnya penuh harap, Satrio mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu untuk menyambut malam panjang mereka.Pertama, ia menanggalkan jas hitam mewahnya dengan gerakan yang tenang dan penuh wibawa. Kain jas mahal itu ia
Malam telah larut ketika sedan mewah hitam metalik milik Satrio memasuki area parkir khusus sebuah gedung apartemen pencakar langit di kawasan elite di tengah kota. Satrio keluar dari mobil, melangkah mantap menuju lobi privat yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Tangannya meraba saku jas, mengeluarkan sebuah kartu nama tipis berwarna emas yang berkilau di bawah sinar lampu. Di atas kartu mewah itu, tertera nama Ayunda beserta nomor unit penthouse teratas yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang kaya raya.Satrio melangkah masuk ke dalam lift. Jemarinya menekan tombol menuju lantai paling atas. Selama lift bergerak naik dengan cepat tanpa suara, Satrio meraba dada di balik kemejanya. Liontin giok pemikat itu terasa menghangat, berdenyut pelan seolah ikut merasakan gelombang hasrat dan kepasrahan dari jiwa wanita yang sedang menunggunya di atas sana.Ting!Pintu lift terbuka langsung menghadap pintu masuk penthouse milik Ayunda. Saat pintu besar itu terbuka, Satrio disambut ol
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me