Beranda / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 106- Panggilan Pagi Buta

Share

106- Panggilan Pagi Buta

Penulis: Sora Carita
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 18:18:37

Malam ini Geza kembali datang ke kamarnya dan Tala dengan sukarela memberikan tempat. Tekad mengakhiri hubungan tak jelas ini sudah menguap begitu saja.

Sejak mereka menghabiskan malam di apartemen itu, Geza memang lebih sering tidur di kamarnya. Benar-benar hanya tidur. Kadang mereka hanya berbagi beberapa kecupan singkat sebelum akhirnya terlelap. Kadang, ketika batas yang mereka sepakati perlahan memudar, malam berakhir dengan mereka saling menemukan satu sama lain.

Malam ini Tala tak tahu G
Sora Carita

Thank you yang udah setia mantengin. Siap ketemu badai? Tebak-tebakan yok ngapain mereka telponan subuh-subuh?

| 3
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
taqiyyanaura47
lanjut Thor...bikin penasaran kan jadinya ngapain coba Kinan pagi2 telepon
goodnovel comment avatar
Teteng Yeni
jahat kamu Thor...udah bikin pusing ninggalin teka teki....
goodnovel comment avatar
evi erfika
Jangan sampai tala kecewaa, soalnya kinan ini masih teka teki, gezaa msh ada rasa atau hanyaa sekedar pekerjaan ? Lanjut thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sebelum Tiga Tahun   107- Hasil Keputusan

    Sejak tahu Kinan pernah menelepon Geza menjelang subuh, Tala tak lagi bisa benar-benar tenang.Berkali-kali ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah urusan pekerjaan. Toh, Kinan dan Geza memang berada di industri yang sama. Sangat mungkin mereka hanya membahas proyek atau bisnis.Namun semakin ia berusaha menepis pikiran itu, semakin sulit pula ia mengabaikannya. Lucunya, ia bahkan tidak punya keberanian untuk bertanya langsung.Pertama, ia merasa tak punya hak.Kedua, itu jelas ranah pribadi Geza.Dan ketiga—yang paling menyebalkan—setiap kali nama Kinan muncul, jawaban Geza selalu menggantung. Tidak pernah berbohong, tapi juga tidak pernah cukup jelas untuk membuat Tala berhenti bertanya-tanya.Akhirnya Tala memilih diam. Diam yang berubah menjadi rasa penasaran. Tanpa sadar ia mulai mencuri dengar setiap Geza menerima panggilan. Hampir semuanya memang soal pekerjaan, sampai suatu hari ia menangkap satu potong kalimat yang terdengar terlalu personal."Kalau kamu udah balik, kab

  • Sebelum Tiga Tahun   106- Panggilan Pagi Buta

    Malam ini Geza kembali datang ke kamarnya dan Tala dengan sukarela memberikan tempat. Tekad mengakhiri hubungan tak jelas ini sudah menguap begitu saja.Sejak mereka menghabiskan malam di apartemen itu, Geza memang lebih sering tidur di kamarnya. Benar-benar hanya tidur. Kadang mereka hanya berbagi beberapa kecupan singkat sebelum akhirnya terlelap. Kadang, ketika batas yang mereka sepakati perlahan memudar, malam berakhir dengan mereka saling menemukan satu sama lain.Malam ini Tala tak tahu Geza menginginkan yang mana.Pria itu hanya mendekat hingga dada mereka nyaris berhimpitan. Kepalanya kembali menemukan tempat di ceruk leher Tala, sementara sebelah lengannya melingkari pinggang perempuan itu dengan santai. Jemarinya bergerak pelan, mengusap sisi pinggang Tala, turun sebentar ke panggul, lalu kembali lagi dengan pijatan ringan yang membuat Tala tanpa sadar mengembuskan napas panjang. Efek baru selesai menstruasi benar-benar membuat hormonnya berada di titik puncak; sensasi yang

  • Sebelum Tiga Tahun   105- Gadai Logika

    Mengakhiri kesepakatan FWB ini ternyata tak semudah yang ia ucapkan pada Amika kemarin sore. Saat Geza menatapnya, mendekatinya, lalu menyentuhnya dengan lembut, Tala selalu kehilangan akal. Kesepakatan itu sebenarnya belum berubah. Yang berubah adalah dirinya.Seperti malam ini.Tala bahkan tidak ingat sejak kapan ia membalas ciuman Geza di depan wastafel. Padahal beberapa menit sebelumnya ia hanya berniat membereskan piring bekas makan malam, lalu membuat secangkir cokelat panas. Setelah itu ia masih harus meninjau rekomendasi akhir dari tim konsultan sebelum proyek revitalisasi memasuki tahap redesign.Tidak ada dalam rencananya menghabiskan beberapa menit terjebak di antara tubuh Geza dan meja dapur.Bibir Geza terangkat tipis ketika ia menjauh sesaat. "I like this taste," gumamnya pelan di sela napas mereka.Tala mengerjap, masih mencoba mengatur napas. "Cokelat oleh-oleh dari Hanum.""Boleh saya coba lebih banyak?"Tala bahkan belum sempat menjawab.Geza kembali mendekat, mengec

  • Sebelum Tiga Tahun   104- Fakta Baru

    Begitu hidangan tersaji di atas meja, Geza langsung membuka kotak makan tanpa banyak bicara. Suapan pertamanya bahkan belum benar-benar habis ketika ia mengambil suapan berikutnya."Masakan kamu enak." Ujarnya tiba-tiba.Tala berkedip. "Makasih... tumben amat muji langsung. Nggak pake sarkas."Geza mengusap sudut bibirnya dengan tisu. ”Gak boleh?”"Boleh.""Kalau gitu..." Geza menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bisa masakin saya tiap hari?"Tala menyuap makanannya dengan santai. "Nggak bisa.""Kenapa?""Nggak ada di kontrak."Geza mendengkus pelan. "Kontrak lagi.”Tala hanya terkekeh kecil.Setelah itu, obrolan mereka mengalir ringan. Dari menu makan siang, pekerjaan Tala di Janitra, sampai Sansa yang belakangan mulai hobi menggambar tembok rumah dengan krayon.Tanpa terasa, kotak-kotak makan di hadapan mereka pun kosong. Tala segera merapikan kotak makan beserta peralatan makannya. Ia berniat menitipkannya kepada Rena sebelum berangkat meeting.Hari ini ia tak boleh berlama-lama di

  • Sebelum Tiga Tahun   103- Kunjungan Kedua

    Entah dapat ilham dari mana, hari itu Tala memasak sendiri menu kesukaan Geza. Lalu, tanpa diminta, ia rela mengantarkannya ke Bhuwana. Kebetulan selepas makan siang ia memang ada agenda meeting di kawasan sekitar kantor Geza.Tapi... harusnya ia tidak se-effort ini, bukan?Pagi-pagi sekali Tala sudah mengabari Geza bahwa ia akan mampir membawa makan siang. Balasan pria itu datang singkat.Oke.Tak lama kemudian muncul pesan baru.Kesini jam berapa? Jangan terlalu siang.I need energy.Beberapa detik setelah terkirim, pesan terakhir itu dihapus kembali oleh Geza. Tala tak kuasa menahan tawa kecil.Setelahnya, Geza kembali menghilang. Mungkin sibuk dengan rapatnya. Menjelang tengah hari, barulah ponselnya kembali bergetar.Kalau udah berangkat kabarin saya.Tala baru saja menyalakan mesin mobil ketika pesan berikutnya masuk.Udah jalan?Disusul satu lagi.Hati-hati.Sekitar dua puluh menit kemudian...Sampai mana?Tala tak kuasa menahan tawa. Baru kali ini Geza terdengar setidak sabara

  • Sebelum Tiga Tahun   102- Pengaruh Besar

    Geza menunjukkan layar ponselnya ke arah Tala. "Mau yang ini?"Tala hanya melirik sekilas sebelum menggeleng. "Bosen. Sansa keseringan makan itu.""Dia yang suka.""Suka bukan berarti tiap minggu harus ke situ kan Za?" Tala kembali fokus memperhatikan Sansa yang baru saja masuk ke dalam kolam."Fine. Kamu aja yang cari lah." Geza menyimpan ponselnya. Pandangannya kemudian jatuh pada baju renang Sansa yang dipenuhi ruffle kecil di bagian bahu."Ta.""Hm?""Bisa nggak sih lain kali baju renang Sansa jangan yang ribet-ribet begitu?"Tala menoleh sekilas. "Lucu, tahu.""Lucunya lima menit. Makenya dua puluh menit." Geza menunjuk pelampung di pinggir kolam. "Coachnya juga tadi nungguin kamu beresin pita itu."Les renang Sansa dijadwalkan setiap Rabu sore dan Sabtu pagi. Jika pekerjaan di Janitra sedang tidak terlalu padat, Tala akan mengantarnya sendiri di hari kerja. Sementara setiap akhir pekan, Geza hampir selalu ikut menemani.Tala terkekeh pelan."Terus kenapa sih hobi banget beliin d

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status