تسجيل الدخولGeza masih terduduk di ruang kerjanya.Sejak Tala pergi, ia bahkan tak ingat sudah berapa lama hanya menatap kosong ke arah pintu yang tadi dibanting keras. Ketukan pelan akhirnya memecah keheningan."Om...boleh gue masuk?"Geza mengedip pelan, seolah baru sadar dari lamunannya, "Iya."Hanum mengintip dari balik pintu sebelum akhirnya masuk dan duduk di seberang Geza."Sansa mana?" tanya Geza."Lagi mandi sama Sus Lia."Geza mengangguk singkat.Hanum menggigit bibir bawahnya sesaat sebelum kembali membuka suara. "Om...""Tante Tala nggak ada di kamar. Tadi Sansa nyariin.""Iya, dia pergi."Ruangan kembali hening.Hanum mengamati wajah Geza beberapa saat. Ia sebenarnya sudah menduga akan ada pertengkaran sejak perjalanan pulang dari acara tadi. Tala terlalu diam, terlalu banyak menahan sesuatu. Hanya saja, Hanum tak menyangka semuanya akan meledak secepat ini."Kalian berantem?"Geza hanya mengangguk singkat.Hanum mengembuskan napas pelan. "Jujur aja ya, Om..."Ia berhenti sejenak, se
"Tante, aku keluar bentar, ya. Mau beli kopi sekalian ajak Sansa beli es krim. Pinjem mobil."Hanum mengucapkannya sambil bangkit, seolah memberi mereka ruang tanpa perlu menjelaskan apa pun.Tala hanya mengangguk pelan.Geza sempat menatap Hanum sekilas, lalu berbalik menuju ruang kerjanya. Tala mengikuti beberapa langkah di belakang.Klik.Pintu kayu itu menutup pelan.Riuh tawa Sansa, suara televisi, dan percakapan di ruang keluarga seketika teredam, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih menyesakkan.Geza memutar badan menghadap Tala. "Sekarang bilang."Tatapannya masih dipenuhi kebingungan."Ada apa?" ia mengembuskan napas pelan. "Kenapa tiba-tiba nggak jadi pergi?"Nada suaranya masih sama seperti beberapa menit lalu. Seolah yang paling penting saat itu hanyalah makan malam yang sudah ia siapkan.Sementara bagi Tala...Makan malam itu bahkan sudah tidak lagi ada di kepalanya. Yang tersisa hanya satu pertanyaan yang sejak tadi menggerogoti dadanya.Tala menatap Geza lama. "
Tala pikir ia sudah selesai dengan masa lalu itu. Ternyata tidak.Pemecatan dari firma dulu bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Itu adalah masa ketika Tala benar-benar kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Berbulan-bulan ia meyakini bahwa dirinya memang tidak cukup baik dan layak.Namun satu yang paling ia sesali—keberaniannya waktu itu.Ia terus menyalahkan diri karena pernah mempertahankan desainnya, karena berani menyanggah keputusan seniornya, dan karena memilih mengungkap kejanggalan di proyek Bhuwana. Berkali-kali ia berpikir, seandainya dulu ia tidak seidealis itu. Tidak seimpulsif itu saat membela apa yang menurutnya benar. Mungkin ia tidak akan kehilangan pekerjaannya.Dan sekarang, setelah sekian lama...Ia baru tahu ada nama lain di balik keputusan itu.Geza.Tala masih diam menatap keluar jendela. Hanum yang duduk di sebelahnya akhirnya membuka suara."Tan..."Tala menoleh pelan."Tante gak apa-apa?"Pertanyaan sederhana itu justru membuat Tala terdiam.Hanum bukan
Tenant kopi di area festival semakin ramai menjelang jeda makan siang. Peserta yang baru keluar dari berbagai sesi diskusi memenuhi antrean kasir, sementara obrolan tentang desain, material, dan proyek terdengar bersahutan dari hampir setiap meja."Tala?"Tala refleks menoleh.Seorang perempuan berusia awal empat puluhan berdiri tak jauh dari meja mereka sambil tersenyum hangat."Mbak Mega?""Lama nggak ketemu. Boleh gabung? Mejanya pada penuh semua nih.""Oh, tentu, Mbak." jawab Tala.Mega pun menarik kursi kosong di sisi meja mereka."Udah pindah firma mbak?" tanya Tala ketika melihat nama firma di lanyard Mega berbeda dari tempat mereka dulu.Mega mengangguk sambil tersenyum. "Hampir setahun."Tala pun memperkenalkan teman-temannya."Ini Amika, teman kuliah aku."Amika mengangguk sopan."Dan ini Hanum." Tala mengusap pelan bahu gadis di sampingnya. "Keponakan aku.""Senang kenal kalian." Mega tersenyum ramah.Tak lama kemudian, barista mengantarkan pesanan mereka. Di tengah aroma ko
Dua hari setelah perdebatan malam itu, pembicaraan mereka benar-benar berhenti di sana. Geza menepati ucapannya. Ia tak lagi mengungkit keputusan Tala, tak lagi memaksa penjelasan, seolah memilih memberi jarak yang diminta perempuan itu. Sikapnya kembali formal seperti sediakala—tenang, sopan, dan menjaga batas. Seakan pertengkaran di dalam mobil malam itu tak pernah benar-benar terjadi, meski keduanya sama-sama tahu belum ada satu pun yang selesai.Pagi ini mereka kembali duduk di meja makan.Tala sedang menuang susu ke gelas Sansa ketika suara bocah itu memecah keheningan."Om Eja..." panggilnya sambil mengunyah pelan. "Yaya bentar lagi ulang tahun."Tangan Tala terhenti sesaat.Benar juga.Tak terasa tinggal satu setengah bulan lagi Sansa genap berusia empat tahun. Itu berarti... kontrak pernikahannya dengan Geza pun tinggal menyisakan satu tahun."Oh ya?" Geza tersenyum. "Yaya maunya ulang tahun kayak gimana?"Mata Sansa langsung berbinar."Mau tiup lilin!""Terus?""Pakai baju pri
Sepanjang perjalanan pulang, hanya suara hujan yang sesekali menghantam kaca depan menemani mereka. Tak ada percakapan. Tak ada musik. Hanya keheningan yang terasa semakin berat setiap menitnya.Tala masih mengenakan windbreaker hitam itu. Geza sudah beberapa kali minta maaf atas sikapnya di Janitra tadi, tetapi perempuan di sampingnya hanya merespon seperlunya.Geza akhirnya menyerah pada sunyi. "Ta..."Tala tidak menoleh."Mau makan apa?""Apa aja." Jawabannya datar. Pandangannya tak pernah lepas dari deretan lampu jalan di balik jendela.Geza melirik sekilas. "Mau mampir ke tendaan Jepang di Jalan Kusuma?""Boleh."Jawaban singkat lagi.Dari sudut matanya, Tala sempat melihat Geza mengembuskan napas pelan sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan.Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya pria itu kembali membuka suara."Tala..."Tak ada respons."Belakangan kamu lagi menghindari saya?"Tala tetap memandang keluar. Jalanan malam yang padat dan gerimis tipis yang masih turun terasa
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k







