Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 37- Family Time

Share

37- Family Time

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-06-12 23:12:56

“Ta, kamu mencintai Geza?” tanya Bude Sinta tiba-tiba.

“Iya dong, Bude.” Tala mencolek es krim di dalam cup, pura-pura sibuk agar kebohongannya tak terlalu kentara.

“Memangnya kenapa Bude tanya begitu?” tanyanya hati-hati. “Aku ada salah? Kurang baik sama Mas Geza?”

Sejak Dharma mengaku memiliki bukti tentang pernikahan kontrak mereka, Tala menjadi jauh lebih paranoid. Ia merasa terus diawasi. Takut setiap percakapannya dengan Geza direkam, takut setiap gerak-geriknya diperhatikan dan ketahuan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
jumenah rahma
udh hampir part 40 bahkan tala gatau lebih dalam tentang geza dan rencananyaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   67- Singa Capek

    "Tan, pusing nggak sih ngurusin Janitra?" tanya Hanum sambil memasukkan keripik ke mulutnya.Tala mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke sofa. "Banget, Num."Hanum terkekeh kecil."Kebayang, sih. Dulu aku sering denger Papa sama Om Arka ngobrol. Tiap pulang ke Jogja pasti yang dibahas Janitra lagi, Janitra lagi."Tala hanya mengangguk pelan.Janitra memang bukan pengembang papan atas yang rutin masuk berita bisnis. Hampir empat puluh tahun berdiri. Namanya cukup dikenal di industri, tapi laju perusahaan itu seperti tertahan bertahun-tahun. Bukan karena kurang proyek, melainkan menghadapi rapat yang lebih mirip acara kumpul keluarga.Belum sempat percakapan mereka berlanjut, lengan Sansa yang duduk di sebelah Tala tiba-tiba menggoyang-goyangkan bahu Tala."Tata...""Hm?""Singanya loncat." Bocah itu menunjuk layar televisi yang sedang menayangkan dokumenter satwa. Seekor singa tampak menerkam mangsanya di padang savana."Siapa namanya?"Tala bahkan tak sempat melihat

  • Sebelum Tiga Tahun   66- Amunisi Tempur

    "Om Eja... Yaya mau dianterin Om Eja sekolah." Suara riang Sansa memenuhi ruang makan.Geza mengusap pelan kepala keponakannya. "Siap, Tuan Putri."Setelah hampir dua minggu tak pernah muncul di meja makan saat sarapan, pagi itu akhirnya Geza kembali duduk di sana. Hari pertama mereka sarapan bertiga kembali."Kamu berangkat jam berapa, Ta?" tanya Geza sambil menyeruput kopinya. "Mau bareng?"Tala menggeleng pelan. "Agak siang. Kamu duluan aja."Tidak boleh. Tidak untuk sekarang.Berada dalam satu mobil dengan Geza terasa terlalu berbahaya. Kejadian yang kebablasan belasan hari lalu masih terlalu jelas membekas di kepalanya. Ditambah lagi, wajah Geza yang terlihat menggemaskan itu... entah kenapa masih berhasil mengacaukan kewarasan Tala."Oke.""Oh ya," ujarnya seolah baru teringat. "Nanti sore Hanum mau ke sini. Kayaknya dia bakal nginep."Tangan Tala yang sedang mengoleskan selai ke roti terhenti."Nginep?""Iya." Geza mengangguk. "Dia lagi ada proyek di daerah sini.""Berapa hari?"

  • Sebelum Tiga Tahun   65- Klausul Kontrak

    Kepala itu masih bersandar di perut Tala. Seharusnya ia mendorong Geza menjauh, bukan?Namun tubuhnya justru membeku. Tak ada satu otot pun yang bergerak menolak.Perlahan, Geza memiringkan kepala. Kini telinga kirinya menempel pada perut Tala. Salah satu tangannya terulur, meraih jemari Tala yang masih kaku, lalu meletakkannya di atas rambutnya sendiri."Dan gini..." pelan-pelan, ia menuntun jemari Tala menyusuri rambutnya.Seperti orang bodoh, Tala menurut dengan usapan yang terasa canggung, nyaris kikuk. Aroma sampo yang masih melekat di rambut Geza menguar pelan, bercampur dengan wangi sabun yang begitu bersih dan akrab. Jarak yang terlalu dekat, aroma sesudah mandi dan Geza yang anteng adalah kombinasi paling mematikan bagi kewarasan Tala.”Lima menit aja Ta, saya lagi capek.” ujarnya.Tala merasakan jantungnya berdetak semakin tak beraturan.Ia harus mengakhiri ini. "Za... udah malem.""Iya."Namun alih-alih melepaskan pelukannya, Geza justru mengeratkannya sedikit."Tala...""H

  • Sebelum Tiga Tahun   64- Si Badai Kecil

    Sepuluh hari adalah waktu yang cukup untuk mendinginkan kepala, dan mengembalikan semua akal sehat Tala. Geza selalu berangkat saat matahari baru terbit, pulang saat Tala dan Sansa sudah terlelap, dan menghabiskan akhir pekan di apartemennya sendiri. Komunikasi mereka hanya tersisa via video call saat Geza ingin melihat Sansa, atau obrolan kaku soal operasional Janitra.Tala bersyukur ia tidak perlu berhadapan langsung dengan pria itu setiap saat—ia tidak harus repot menyembunyikan tatapannya—tapi ada rasa tak nyaman yang mengganjal di dadanya. Pria itu seakan menghindari topik malam itu seolah itu adalah kesalahan fatal yang tak boleh terulang.Memang sebuah kesalahan, bukan?Lalu kenapa justru Tala yang terus mengingatnya?Malam ini, di ruang kerja Geza yang sunyi itu, mereka kembali duduk berhadapan lagi dalam sesi mentoring Janitra. Berkas-berkas memenuhi meja di antara mereka, sementara laptop Geza terus menyala, menampilkan laporan yang silih berganti.Dengan kacamata baca berte

  • Sebelum Tiga Tahun   63- Jejak Merah

    Ini adalah hari pertama dalam hidup Tala tidur sepanjang dan selama itu. Semalam apa pun ia biasanya begadang, ia tidak pernah sekacau ini. Hari ini ia terbangun hampir pukul sembilan pagi dengan tubuh yang terasa remuk redam, seakan baru saja menyelesaikan kerja rodi di proyek semalaman suntuk.Saat ia menyibakkan selimut, Tala meringis. Tanda kemerahan samar hingga kontras memenuhi beberapa bagian tubuhnya—jejak-jejak dari kehadiran Geza yang tanpa ampun semalam.Sansa jelas sudah berangkat bersama Sus Lia. Tak ada satu orang pun yang membangunkannya. Hari ini harusnya Tala ada jadwal ke Janitra, namun beruntung Sania mengirim pesan singkat yang mengabarkan bahwa tidak ada urusan mendesak yang memerlukan kehadirannya.Setelah membersihkan diri. Dengan langkah yang masih sedikit kaku di bagian pangkal paha, Tala turun ke lantai bawah. Aroma masakan pagi yang gurih langsung menyambutnya, begitu pula dengan senyum lebar Bi Yuni di balik meja makan."Pagi, Mbak! Ayo, sarapan dulu. Tadi

  • Sebelum Tiga Tahun   62- Sisa Malam

    Semua klaim itu dengan mudah Tala iyakan. Prinsip yang selama ini didekapnya erat, luruh tanpa sisa. Ada bagian dari dirinya yang merasa salah karena menyerah secepat ini pada gairah. Tapi di sisi lain, secuil pikirannya juga tak bisa membantah kenyataan kalau pria di atasnya ini adalah suaminya sendiri.Sentuhan Geza di tubuhnya serupa candu, menjinakkan Tala hingga ia patuh tanpa syarat. Begitu telapak tangan pria itu bergerak makin turun tanpa ampun, meraba kulit halus bagian bawah tubuhnya—sebelum akhirnya menyelinap ke area paling sensitif di antara kedua pahanya. Saat itulah lapisan terakhir dalam dirinya runtuh.Punggungnya melengkung saat jari-jari itu mulai menuntut dan bermain di sana dengan ritme yang memabukkan. Setiap usapan, tekanan, dan gesekan yang diberikan Geza terasa begitu presisi. Napas Tala terengah-engah, jemarinya meremas sprei dengan erat, dan matanya terpejam erat saat gelombang itu siap meledak kapan saja.Tepat ketika Tala sudah tak mampu menahan gelenyar d

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status