INICIAR SESIÓNSepulang dari Janitra, Tala langsung meluncur ke apartemen Amika.Satu mug cokelat hangat membersamai sesi curhat mereka, setidaknya malam itu ia berhasil menukar kebiasaan menenggak kopi dengan sesuatu yang lebih ramah untuk lambungnya."Tala, lo gila?"Amika sampai menepuk meja kopi begitu mendengar seluruh cerita Tala. Mulai dari hubungannya dengan Geza yang semakin renggang, sampai bagaimana ia tanpa sadar membocorkan soal pernikahan kontraknya kepada Adrian.Tala menatap Amika datar."Iya. Gue udah gila sejak nerima tawaran FWB sialan itu, tahu nggak?"Amika memutar bola mata gemas."Please deh, Ta. Gue serius."“Gue apalagi.”Amika mendecak ”Maksud gue kenapa lo bisa sekeceplosan itu?””Ya mulut gue lebih cepet dari otak gue dan gue...ya gitu cerita yang sejujurnya.""Kok bisa? Nggak dialihin topiknya?"Tala menggeleng pelan."Refleks, Mik. Dia tuh... masih enak banget diajak ngobrol. Bahkan soal pemecatan itu, dia beneran kasih sudut pandang dari semua sisi."Amika mendecak. "I
Tala memiringkan kepala. "Ngejar Kak Sara? Karena Kak Sara karier di sini?"Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Tala. Baginya, nama Ansara selalu menjadi jawaban paling masuk akal setiap kali Adrian terlihat begitu bersungguh-sungguh terhadap sesuatu.Adrian menggeleng pelan. "Bukan."Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat."Sejak malam perpisahan sama anak-anak dulu, hubungan kami emang mulai renggang. Mungkin karena jarak, mungkin juga karena sama-sama sibuk... ya akhirnya selesai gitu aja."Tala masih mengingat malam itu.Saat Adrian memutuskan menerima tawaran kerja di Singapura, Sara menjadi orang yang paling keras menentangnya. Pertengkaran kecil mereka bahkan sempat terjadi di tengah acara makan malam perpisahan. Circle kuliah Adrian masih lengkap malam itu, dan Tala—yang cukup akrab dengan lingkaran itu—juga ikut bergabung.Malam itu pula Tala memilih mengubur perasaannya sendiri. Ia berhenti mengejar Adrian. Berhenti mengagumi pria yang sejak awal kuliah diam-diam memenu
Tala segera kembali ke ruangannya.Begitu membuka pintu, aroma makanan langsung menyambutnya. Di atas meja dekat sofa sudah tersusun beberapa makanan jepang lengkap dengan minuman.Kening Tala langsung berkerut. Ia bahkan belum sempat memesan makan siang."Itu siapa yang pesan, San?"Sania menyeringai lebar. "Suami mbak Tala dong. Lengkap. Semua makanan favorit mbak.”Belum sempat ia berkata apa-apa, sosok pria itu muncul di ambang pintu."Kopi saya ada, San?"Pertanyaannya ditujukan pada Sania.Namun matanya sama sekali tidak lepas dari Tala."Aman, Pak. Sesuai pesanan.”"Oke, thanks."Tanpa merasa canggung, Geza melangkah masuk lalu duduk di sofa kecil di depan meja kerja Tala, seolah ruangan itu juga miliknya.Sania memandang keduanya bergantian sebelum menyeringai."Ini vibesnya kayak lagi ada di zona perang gitu gak sih pak?”Geza menoleh.”Perlu saya kunciin gak pak? Janji deh kali ini gak asal nyelonong masuk. Nggak bakal ada drama live streaming lagi." Sania menyeringai lebar.
Tala baru kembali menjelang tengah malam.Setelah membersihkan diri dan memastikan Sansa sudah tertidur pulas, ia turun ke dapur untuk mengambil segelas air. Saat tiba di rumah tadi, ia tidak melihat mobil Geza di garasi, begitu pula sosok pria itu di dalam rumah. Entah sedang ke mana, tetapi ketidakhadirannya justru membuat dada Tala sedikit lebih ringan. Malam ini ia benar-benar tidak sanggup menghadapi Geza lagi.Sejak keluar dari rumah sore tadi, Tala hanya ingin menjauh dari semuanya—dari pertengkaran itu, dari Geza, juga dari isi kepalanya sendiri yang tak berhenti berputar. Karena itulah ia pergi ke satu-satunya tempat yang selalu berhasil membuat kepalanya sedikit lebih tenang. Tempat sembunyinya, yang hanya diketahui Amika.Namun, begitu memasuki area dapur, Tala justru dibuat terkejut saat melihat Geza keluar dari ruang kerja dengan segelas wine di tangan. Refleks ia mempercepat langkah, mengambil gelas, menuangkan air, lalu berniat segera kembali ke kamar tanpa menoleh sedik
Geza masih terduduk di ruang kerjanya.Sejak Tala pergi, ia bahkan tak ingat sudah berapa lama hanya menatap kosong ke arah pintu yang tadi dibanting keras. Ketukan pelan akhirnya memecah keheningan."Om...boleh gue masuk?"Geza mengedip pelan, seolah baru sadar dari lamunannya, "Iya."Hanum mengintip dari balik pintu sebelum akhirnya masuk dan duduk di seberang Geza."Sansa mana?" tanya Geza."Lagi mandi sama Sus Lia."Geza mengangguk singkat.Hanum menggigit bibir bawahnya sesaat sebelum kembali membuka suara. "Om...""Tante Tala nggak ada di kamar. Tadi Sansa nyariin.""Iya, dia pergi."Ruangan kembali hening.Hanum mengamati wajah Geza beberapa saat. Ia sebenarnya sudah menduga akan ada pertengkaran sejak perjalanan pulang dari acara tadi. Tala terlalu diam, terlalu banyak menahan sesuatu. Hanya saja, Hanum tak menyangka semuanya akan meledak secepat ini."Kalian berantem?"Geza hanya mengangguk singkat.Hanum mengembuskan napas pelan. "Jujur aja ya, Om..."Ia berhenti sejenak, se
"Tante, aku keluar bentar, ya. Mau beli kopi sekalian ajak Sansa beli es krim. Pinjem mobil."Hanum mengucapkannya sambil bangkit, seolah memberi mereka ruang tanpa perlu menjelaskan apa pun.Tala hanya mengangguk pelan.Geza sempat menatap Hanum sekilas, lalu berbalik menuju ruang kerjanya. Tala mengikuti beberapa langkah di belakang.Klik.Pintu kayu itu menutup pelan.Riuh tawa Sansa, suara televisi, dan percakapan di ruang keluarga seketika teredam, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih menyesakkan.Geza memutar badan menghadap Tala. "Sekarang bilang."Tatapannya masih dipenuhi kebingungan."Ada apa?" ia mengembuskan napas pelan. "Kenapa tiba-tiba nggak jadi pergi?"Nada suaranya masih sama seperti beberapa menit lalu. Seolah yang paling penting saat itu hanyalah makan malam yang sudah ia siapkan.Sementara bagi Tala...Makan malam itu bahkan sudah tidak lagi ada di kepalanya. Yang tersisa hanya satu pertanyaan yang sejak tadi menggerogoti dadanya.Tala menatap Geza lama. "
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b







