LOGIN"Pak... saya udah ajuin cuti buat awal bulan nanti. Di-ACC nggak, Pak?" tanya Rena hati-hati.Geza masih menunduk menelaah berkas yang baru saja disodorkan Rena. Setelah membubuhkan tanda tangan di halaman terakhir, ia membuka laptop dan mengetik beberapa hal tanpa mengangkat kepala.Rena melirik Bastian sebentar, lalu kembali mencoba."Kalau nggak bisa empat hari... satu hari juga nggak apa-apa, Pak."Tetap tidak ada jawaban.Bastian yang sedang bersandar di sofa sambil menyeruput kopi akhirnya ikut menimpali, "Emang lo ngajuin berapa hari, Ren?""Empat."Bastian langsung mendengus. "Anjir, ngimpi. Sengaja ngepasin libur nasional, kan? Biar total seminggu."Rena nyengir tanpa rasa bersalah. "Nah."Baru setelah itu Geza menutup laptopnya, menyerahkan map yang sudah selesai ditinjau, lalu mengangkat pandangan ke arah Rena."Udah saya approve. Kamu bisa cuti," ujar Geza santai.Bastian nyaris menyemburkan kopi yang baru saja diteguknya.Rena pun terpaku beberapa detik. Matanya membulat
Jam dinding telah melewati pukul satu dini hari ketika riak itu akhirnya benar-benar reda, menyisakan keheningan yang begitu damai.Mereka masih terjaga.Berbalut selimut tebal yang menyelimuti tubuh keduanya, Geza menarik Tala semakin dekat ke dalam peluknya. Dagu pria itu bertumpu ringan di atas kepala Tala, sementara kedua lengannya melingkar erat di pinggang perempuan itu, enggan memberi ruang sekecil apa pun.Tala membiarkan dirinya bersandar sepenuhnya pada dada bidang Geza. Detak jantung pria itu berdetak pelan dan teratur di bawah telinganya, menghadirkan rasa yang tak pernah ia bayangkan bisa ditemukan pada pria itu. Tenang.Di hadapan mereka, jendela besar membingkai Jakarta yang masih terjaga. Cahaya gedung-gedung tinggi berpendar di kejauhan, berkilau seperti taburan bintang yang turun ke bumi. Tirai tipis bergoyang perlahan diterpa embusan pendingin ruangan, sementara apartemen itu tenggelam dalam sunyi yang untuk pertama kalinya tidak lagi terasa hampa."Kamu selalu sewan
Pertanyaan itu Tala jawab bukan dengan kata-kata. Ia hanya berjinjit sedikit, lalu mengecup bibir Geza dengan begitu pelan.Begitu lembut.Begitu hati-hati.Persis seperti kecupan yang pernah Geza bagi di depan pintu rumah saat mereka pulang naik busway dua bulan lalu.Astaga.Sudah dua bulan ternyata. Dua bulan tanpa saling menyentuh. Tanpa cumbu. Tanpa kecupan. Tak ada interaksi fisik sama sekali, yang perlahan tumbuh justru kebiasaan-kebiasaan kecil.Hampir setiap malam setelah Sansa tidur, Tala dan Geza akan duduk sejenak di kitchen island. Tala membereskan dapur, sementara Geza menemaninya dengan segelas kopi atau air putih sambil menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Mereka saling bertukar cerita tentang hari yang baru saja berlalu.Kalau Tala membawa pekerjaan Janitra ke rumah, Geza akan ikut bergabung begitu saja. Kadang mengoreksi, kadang menawarkan sudut pandang lain, meski sebenarnya semua itu sudah berkali-kali ia ajarkan sejak Tala pertama kali duduk di jajaran komisaris J
Apartemen Geza berada di kawasan Senopati, hanya beberapa menit dari SCBD. Terletak di lantai tiga puluh dua sebuah gedung eksklusif, tempat itu menawarkan pemandangan kota Jakarta dari balik jendela kaca tinggi.Begitu masuk, Tala langsung tahu satu hal. Apartemen itu lebih mirip kantor pribadi daripada tempat tinggal. Meja kerja besar dipenuhi dokumen proyek yang tersusun rapi, laptop, dan catatan dengan label yang bahkan masih tertata sempurna. Rak di dinding berisi buku tentang konstruksi, bisnis, dan manajemen.Tempat itu luas, full furnitur. Tidak ada barang yang diletakkan tanpa alasan. Semuanya punya tempat. Elegan, mahal, tapi terasa seperti ruang kerja yang kebetulan memiliki sofa dan tempat tidur. Tala bisa membayangkan Geza yang dulu pulang hanya untuk berganti suasana sebelum kembali membuka laptop."Za, workaholic kamu tuh bener-bener gila. Sesuai reputasinya," komentar Tala sambil menjatuhkan diri ke salah satu kursi.Geza terkekeh pelan.Ia melepaskan jasnya, lalu meng
Begitu memasuki ballroom tempat resepsi berlangsung, beberapa pria dan seorang wanita yang tengah berbincang di dekat meja cocktail spontan menoleh."Geza?" Salah satu dari mereka langsung tertawa lebar. "Anjir... akhirnya nongol juga!"Geza menyambut uluran tangan mereka satu per satu."Lama nggak ketemu.""Parah, Bro." Pria berkacamata menepuk bahunya. "Masih aja sibuk.""Lama banget ngilang.""Masih kerja terus?"Komentar-komentar itu saling tumpang tindih.Geza hanya mengangkat bahu. "Masih hidup juga, kan." Jawaban sedatar itu ternyata bisa menyulut gelak tawa teman-temannya.Baru kemudian perhatian mereka beralih pada Tala yang berdiri setengah langkah di belakang Geza. Malam itu, dengan gaun satinnya dan sanggul rendah yang rapi, Tala memang sulit luput dari perhatian.Salah seorang pria berjas abu tersenyum ramah pada Tala. ”Hai.”Tala hanya mengangguk dan membalas dengan senyum."Wah, Za..." pria lain di sebelah pra berjas abu melirik teman-temannya sebentar sebelum kembali
Tala sedang memulas lipstik merah gelap di bibirnya ketika terdengar ketukan di pintu kamar."Bentar.""Boleh saya masuk?" tanya Geza dari balik pintu."Iya, masuk aja."Tala buru-buru merapikan polesan terakhirnya. Karena terlalu tergesa, sedikit warna lipstik justru melewati garis bibirnya.Saat ia menoleh, Geza sudah berdiri di ambang pintu. Sebuah paper bag eksklusif dengan logo brand perhiasan ternama menggantung di tangannya."Bentar lagi selesai," ujar Tala sambil kembali menghadap cermin.Malam ini mereka akan menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman Geza semasa kuliah magister.Tak ada jawaban.Tala menangkap bayangan Geza di cermin. Pria itu hanya berdiri beberapa langkah di belakangnya, diam tanpa sepatah kata. Tatapannya tertahan lama pada pantulan Tala di cermin full body. Gaun deep emerald yang menjuntai anggun hingga menyapu lantai membingkai siluet tubuhnya dengan elegan. Keheningan itu justru membuat Tala ikut salah tingkah."Kenapa?" tanyanya pelan.Geza tidak
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men







