LOGINBagi Hunter, mencintai Savana terasa begitu mudah. Yang sulit adalah membuat perempuan itu percaya bahwa cintanya bukan sekadar fase yang akan berlalu. Savana sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan luka. Sebagai seorang ibu tunggal, seluruh dunianya hanya berpusat pada sang anak. Dia tak lagi percaya pada cinta, apalagi pada seorang mahasiswa yang usianya jauh lebih muda darinya. Namun saat usia, status, dan pandangan orang-orang menjadi tembok di antara mereka, Hunter memutuskan untuk tidak lagi mempertanyakan apakah mereka pantas bersama. Dia hanya ingin membuktikan bahwa cinta yang tulus tak mengenal waktu, dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.
View MoreAda dua hal yang kupelajari selama tiga bulan pertama merantau di kota ini. Pertama, harga kontrakan hampir selalu lebih mahal daripada yang tertulis di papan pengumuman. Kedua, suara derak pintu Kafe Sunrise tepat pukul delapan pagi adalah pertanda bahaya.
"Hunter! Baki nomor empat, cepat sedikit!" Suara melengking itu nyaris membuatku menjatuhkan dua cangkir minuman yang baru selesai dibuat barista. Aku buru-buru membetulkan letaknya, lalu melempar tatapan panik ke arah Rose yang sedang menyapu sudut ruangan. Rose memutar mata pelan. Senyum penuh rasa kasihan tersungging di bibirnya saat dia membentuk dua kata tanpa suara. "Nyonya Besar." Aku langsung tahu siapa yang baru datang. Istri pemilik kafe—wanita paruh baya dengan sanggul yang entah bagaimana selalu tampak terlalu tinggi dan tatapan setajam elang yang seolah curiga semua orang ingin mencuri isi kafe—baru saja melangkah masuk. Seketika suasana yang semula hangat dengan aroma kopi sangrai berubah tegang. Di belakangnya, Tuan Gerald menyusul sambil menenteng tas belanja. Wajahnya yang biasanya ramah kini hanya menyisakan senyum tipis penuh kepasrahan. Begitu melewati pintu, beliau langsung menghilang ke ruang belakang. "Hunter," tegur Nyonya Margaret saat aku melintas membawa baki. "Kenapa susunan piring pajangan di etalase depan miring satu sentimeter? Kau ini melayani pelanggan atau sekadar berjalan-jalan di sini?” Aku yakin susunan piring itu tidak benar-benar miring satu sentimeter. Kalau iya, berarti mata Nyonya Margaret lebih akurat daripada penggaris. "Maaf, Nyonya. Tadi pagi saya merapikannya terburu-buru sebelum kafe buka." "Pantas saja. Anak muda zaman sekarang diberi pekerjaan paruh waktu bukannya bersyukur, malah bekerja asal-asalan. Kalau memang tidak berniat bekerja, katakan saja! Masih banyak mahasiswa lain yang membutuhkan pekerjaan.” "Saya rapikan setelah mengantar pesanan ini, Nyonya." Kalimat itu keluar setenang mungkin. Padahal dalam hati aku cuma berharap bisa kabur dari ceramah pagi ini. Saat Nyonya Margaret berkacak pinggang, jelas bersiap menambah daftar kesalahanku, Rose tiba-tiba menghampiri sambil membawa buku catatan pesanan. "Nyonya, maaf mengganggu. Tuan Gerald meminta Anda mengecek stok susu di ruang belakang. Katanya ada yang kurang.” Nyonya Margaret berdecak. "Astaga. Hal sekecil itu saja harus aku yang urus.” Tatapannya bergantian menyapu aku dan Rose sebelum akhirnya berbalik menuju ruang belakang, masih mengomel tentang betapa lambannya suaminya bekerja. "Rose," kataku begitu sosok Nyonya Margaret menghilang, "kau benar-benar menyelamatkanku. Tanpamu, mungkin aku sudah dipecat sejak minggu pertama.” Rose terkekeh sambil mengibaskan tangan. "Tentu saja. Utang budimu kepadaku terus bertambah. Mulai dari mencarikan tempat tinggal, merekomendasikanmu bekerja di sini, sampai menyelamatkanmu dari Nyonya Besar.” Aku ikut tertawa. "Baiklah. Malam ini biar aku yang mengerjakan bagianmu mencuci piring.” "Deal." Rose mendorong bahuku pelan. "Sekarang cepat antar pesanan itu. Kasihan para pelanggan sudah menunggu.” Aku mengangguk, lalu membawa baki menuju meja di sudut paling ujung kafe, dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalanan kota yang sibuk. Tempat itu hampir selalu ditempati satu orang—seseorang yang, tanpa kusadari, belakangan ini terus menyita perhatianku. Savana. Dia sudah duduk di sana. Laptopnya menyala, menampilkan deretan draf artikel yang tengah dikerjakannya. Jemarinya yang ramping bergerak lincah di atas kibor, seolah telah menghafal setiap kata sebelum sempat dipikirkannya. Rambut yang dikucir kuda tampak sedikit berantakan, tetapi justru membingkai wajahnya yang tegas dengan cara yang sulit kujelaskan. Sebagai mahasiswa seni yang terbiasa memandang dunia melalui garis, cahaya, dan komposisi, aku sering merasa Savana menyerupai sebuah lukisan yang hidup. Ada ketenangan dalam setiap geraknya, sesuatu yang tetap tenang di tengah hiruk-pikuk jalanan di balik jendela. "Satu americano dan croissant mentega," kataku pelan seraya meletakkan pesanannya di atas meja. Savana menghentikan ketikannya. Dia mendongak, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh ke dahinya, lalu menghadiahiku senyum tipis. Entah mengapa, senyum sederhana itu selalu berhasil menghapus sisa-sisa kekesalanku terhadap Nyonya Margaret. "Terima kasih, Hunter," ujarnya. Suaranya lembut, tetapi menyimpan ketegasan yang khas. "Kau tampak lebih tegang daripada biasanya. Istri pemilik kafe datang lagi, ya?" Aku terkekeh pelan sambil merapikan letak cangkir dan piring kecil di hadapannya. "Jangan kau masukkan ke hati," ujar Savana ramah seraya kembali mengetik. "Orang yang mudah marah biasanya hanya belum menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan keinginannya." Aku terdiam beberapa saat. Entah bagaimana, Savana selalu mampu mengucapkan sesuatu yang sederhana dengan cara yang membuatku ingin memercayainya. Mungkin karena pembawaannya yang tenang. Mungkin karena sorot matanya yang teduh. Atau mungkin karena, sebagai mahasiswa seni, aku memang terlalu mudah terpikat pada hal-hal yang terasa indah. Bagiku, Savana bukan sekadar pelanggan tetap. Ada sesuatu pada dirinya yang membuatku selalu menoleh setiap kali dia datang, seolah kehadirannya sanggup meredam hiruk-pikuk kafe hanya dengan duduk diam di sudut ruangan. "Terima kasih atas nasihatnya," kataku, tersenyum kecil. "Aku akan mengingatnya." Savana membalas dengan anggukan ringan sebelum kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Aku membawa baki kosong itu kembali ke arah kasir. Saat melintas, kulihat Rose menatapku dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Apa?" tanyaku heran. Rose hanya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa.” *** Pukul lima sore. Shift kerjaku akhirnya usai. Aku melepaskan apron hitam, menggantungkannya di loker karyawan, lalu meregangkan leher yang terasa kaku. Perkuliahan teknik sipil kemarin, ditambah shift yang padat hari ini dan ceramah mendadak dari Nyonya Margaret, sudah lebih dari cukup untuk menguras tenagaku. "Mau langsung pulang?" Aku menoleh. Rose bersandar di ambang pintu. Jaket denim sudah dikenakannya, sementara tas ranselnya tersampir di satu bahu. "Kau pulanglah lebih dulu," jawabku. "Aku ingin membereskan beberapa cangkir di area luar. Sekalian menghirup udara segar." Rose menyipitkan mata. Senyum jahil perlahan menghiasi wajahnya. "Membereskan cangkir, atau mencari alasan supaya bisa berdiri lebih lama di dekat meja sudut?" Aku terkekeh kecil. Tangan refleks mengusap tengkuk sendiri. "Mungkin keduanya." "Sudah kuduga." Rose menggeleng pelan, senyumnya tak memudar. "Jangan pulang terlalu malam. Tugas analisis struktur yang harus dikumpulkan besok belum kau selesaikan, bukan?" "Baik, Bu Dosen." Rose tertawa pelan. "Rose ..." Dia menoleh sebelum sempat melangkah pergi. "Terima kasih. Karena sudah menyelamatkanku dari Nyonya Besar tadi." Senyumnya melebar. "Kalau begitu, kau berutang satu gelas kopi padaku,” ucapnya, melambaikan tangan sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan. Aku hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Setelah menyambar kain lap bersih, aku kembali melangkah ke area utama kafe. Suasana sore itu jauh lebih tenang. Lampu-lampu pendant berpendar hangat, memantulkan cahaya lembut pada dinding dan kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke jalan utama Astraea City. Di meja sudut favoritnya, Savana masih ada. Sinar matahari sore yang menembus dinding kaca menyelimutinya dengan cahaya keemasan. Jemarinya yang semula menari di atas kibor perlahan terhenti. Dia menyandarkan tubuh ke kursi, lalu memijat pelipis dengan mata terpejam. Kelelahan tergambar jelas di wajahnya. Namun, entah bagaimana, justru dalam momen-momen seperti itulah dia tampak paling nyata di mataku.Aku duduk dengan canggung bersama Rose di salah satu meja. Semua orang di sekeliling kami berpakaian formal layaknya memiliki integritas tinggi. Tidak berbeda dengan apa yang menempel di tubuhku. Namun, dibandingkan hal itu, aku tertarik pada para tamu yang hadir di restoran yang mana duduk secara berpasang-pasangan. Didukung oleh ruangan yang didesain seolah menjadi latar tempat kencan.Menu makanan dihidangkan tanpa kami pesan terlebih dahulu. Berbeda dengan Rose yang tampak santai-santai saja, justru otakku dipenuhi oleh tanda tanya besar. Sampai saat ini belum ada jawaban yang aku dapatkan dari Rose mengenai keberadaan kami. Hingga para pegawai yang menghidangkan makanan pergi, baru aku memiliki kesempatan untuk berbicara dengan tenang."Apa—""Wah, semua terlihat sangat menggiurkan! Aku tidak sabar untuk memakan semua hidangan ini!"Aku menghentikan tangan yang akan bergerak mengambil sepotong daging, lalu berk
Aku memang masih bergantung pada orang tua, akan tetapi bukan berarti aku tidak berusaha memeras keringat. Sebisa mungkin aku ingin meringankan beban kedua orang tua dengan bekerja sambil menempuh pendidikan. Tidak seharusnya tingkatakanku begitu buruk.Namun, sudah sulit seperti itu, bukan berarti aku mendekati Savana karena ingin mencukupi kebutuhan. Tujuanku murni karena perasaan yang aku punya padanya. Bahkan, satu persen pun tidak pernah terpikirkan untuk mengambil keuntungan dari hubungan kami.Kini berganti aku yang menekan-nekan dada Jacob. "Kau memang menang dalam segi materi. Sayangnya materi bukan satu-satunya hal yang paling dibutuhkan dalam sebuah hubungan. Aku memang kerikil kecil dan kerikil kecil ini juga bisa membuatmu terpeleset."Tatapan Jacob semakin marah, ditambah dia menyingkirkan tanganku dengan kasar dan membuat kemarahan semakin jelas terlihat. Sepertinya kemarahan yang Jacob punya sudah terbakar, tetapi
Aku melebarkan kedua mata sambil menatap ke arah Savana yang terlihat sama terkejutnya denganku. Jika begitu, aku tidak mungkin salah dengar. Sunny benar-benar memanggilku dengan sebutan yang menurutku mustahil. Selama ini aku berpikir akan sulit membuat Sunny menerima kehadiranku, tetapi nyatanya tidak seburuk itu."Pa-paman Papa?""Sunny, sekarang sudah waktunya untuk istirahat. Ayo, kita sikat gigimu lebih dulu," ajak Savana tiba-tiba. Aku merasa kalau dia sengaja mengalihkan perhatian.Aku duduk saja memperhatikan mereka berlalu pergi membawa permen kapas kuda menuju kamar. Entah aku harus senang karena anak dari wanita yang aku sukai menerimaku atau aku harus sedih karena tidak terlihat kata 'setuju' di ekspresi wajah Savana. Meskipun begitu aku cukup senang karena Sunny tidak lagi bersedih di hari ulang tahunnya.Lama menunggu akhirnya Savana muncul dan menutup pintu kamar lambat-lambat. Dari gerakannya tampak
Sunny masih tersedu, tetapi perhatiannya sudah teralih. Perlahan tangisan mulai memudar dan tangannya tidak lagi sering mengusap air mata."Dari permen kapas itu, kita bisa mendapatkan kuda yang sangat besar," sambungku memperagakan kata 'besar' menggunakan kedua tangan."Apakah yang paman ... katakan ... itu benar?" ucap Sunny masih sedikit tersedu."Tentu saja!" Aku menunjuk salah satu stan yang mana menjual permen kapas. "Kita bisa mendapatkannya di sana. Apa kau menginginkannya?"Sunny menganggukkan kepala, lalu aku menggenggam tangannya untuk pergi. Hanya saja langkah anak kecil yang ingin aku bawa memberat dan membuatku segera menolehkan kepala. Saat ini aku melihat Sunny yang kini melihat ke satu titik. Di sana ada Savana yang sedang menelepon."Ada apa?""Sunny tidak boleh makan permen," ucapnya dengan tampang sedih.Tidak lama kemudian tampak Savana mengham
Savana yang menghubungiku saja sudah bisa menghangatkan hati. Apalagi saat aku melihat huruf demi huruf yang terpampang di pesan masuk. Aku tidak bisa menyembunyikan kalau aku tersipu malu saat ini.[Savana: Terima kasih sudah menemaniku sampai Jacob datang. Oh, jaketmu ada padak
Aku memperhatikan Sunny yang masih tidur pulas meski sudah berpindah tangan. Anak perempuan ini sangat lucu dan juga cantik seperti ibunya. Hanya melihat seperti ini saja sudah membuatku merasa senang.
Aku mendapatkan sif siang hari ini. Sepanjang perjalanan menuju tempat bekerja, pikiranku tidak berhenti mencemaskan kejadian kemarin. Savana enggan menjawab pertanyaanku yang menginginkan agar kami semakin dekat.
Aku tidak beranjak dari posisiku. Lebih memilih untuk menyerahkan kantong kertas mini cantik pada Savana di depan pintu rumah saja.Melangkah jauh sampai ke dalam, bukan tindakan yang baik ketik












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore