Mag-log in**
Kayla bersumpah, ia seperti melihat sosok berbeda saat Kaivan mengatakan itu.
Perempuan itu reflek bergerak tak nyaman di atas kursinya.
“Yah, emm … aku juga beruntung kok punya suami yang baik seperti Mas Laskar.”
Bersamaan dengan mengatakan itu, Kayla tersenyum kaku sembari mengusap tengkuknya.
“Oh, ya? Mas Laskar sebaik itu kah?”
Kayla tidak tahu apakah itu adalah pertanyaan sungguhan atau hanya retorik. Ia memutuskan tidak menjawab.
Terlebih lagi, terdengar suara deru mobil lain yang berhenti di halaman rumah.
Kayla bergegas ke depan untuk membukakan pintu, dan benar, itu adalah Laskar yang asli.
Pria itu mengerutkan dahi kala melihat sang istri menyambut dengan senyum di depan pintu.
“Kan aku udah bilang, nggak usah nungguin kalau aku pulang malam,” katanya dingin. “Nanti kalau pusing karena kurang tidur atau apa, nyalahin aku.”
Senyum Kayla lenyap seketika.
“Nggak kok Mas. Ah iya, ada Kaivan di dalam, Dia baru aja datang.”
“Aku udah lihat.” Laskar mengedikkan dagu ke arah mobil hitam jenis SUV yang terparkir di depan sedan putih miliknya. “Kayak yang punya banyak duit aja, pakai sewa mobil premium segala.”
Kayla hanya memandang sekilas mobil hitam itu. Ia menunggu sampai suaminya masuk ke dalam, sebelum menutup pintu.
Kayla pikir, setidaknya akan ada sedikit adegan mengharukan saat Laskar bertemu lagi dengan Kaivan setelah tiga tahun berpisah. Bagaimanapun, keduanya adalah saudara kandung.
Namun ternyata anggapan itu salah.
Kaivan yang berada di meja makan segera berdiri kala melihat sang kakak datang. Tapi Laskar justru melengos, sama sekali tidak berusaha beramah tamah.
“Mas, temuin dulu Kaivan. Dia nunggu kamu, lho,” tegur Kayla tak enak. “Aku bikinin kopi, ya?”
“Ini udah tengah malam dan kamu malah tawarin aku kopi? Maksudmu nggak mau aku cepet istirahat?”
Salah bicara lagi.
Kayla menghela napas diam-diam. “Ya udah, aku bikinin susu aja, gimana? Kamu nggak kangen kah sama adikmu? Kalian udah lama banget lho nggak ketemu. Ngobrol dulu gih, sebentar.”
“Aku capek, udah kerja seharian sampai tengah malam begini! Lagian manusia mana yang nggak tahu diri banget, udah tahu jam segini malah datang ke rumah orang. Kamu aja yang ngobrol sendiri, sana!”
Pria itu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, tanpa sedikitpun menoleh kepada sang adik yang masih berada di meja makan.
Kayla sungguh tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia melangkah pelan menuju meja makan, bingung sendiri harus menjelaskan bagaimana kepada Kaivan perihal sikap kakaknya.
“Maaf ya, Van. Mas Laskar pasti lagi capek banget. Tahu sendiri lah, kerjaannya berat. Aku harap kamu maklum, ya. Besok pagi, dia pasti udah baik-baik aja, kok.”
Tanpa diduga, Kaivan hanya tersenyum dan mengangguk. Wajahnya sangat tenang, sama sekali tidak menyiratkan tanya atau keingintahuan atas sesuatu.
Apakah ia pura-pura tidak melihat sikap Laskar yang tidak seperti suami pada umumnya?
“Mbak Kay, istirahat aja. Aku mau habiskan tehnya dulu. Sayang, ini enak banget soalnya.”
Tak punya alasan lagi, akhirnya Kayla mengangguk. Dengan langkah gontai perempuan itu menaiki tangga, menyusul suaminya yang sudah berada di dalam kamar.
Begitu Kayla membuka pintu, ternyata Laskar sudah berbaring membelakanginya.
Jika sudah demikian, Kayla tahu ia akan diabaikan sampai pagi datang.
…
Dan pagi itu, kelabu seperti warna langit di luar sana.
Laskar memang duduk bersama Kaivan di meja makan. Namun atmosfer ruangan itu sama sekali tidak menyiratkan pertemuan dua saudara yang sudah lama berpisah.
“Mau sampai kapan di sini?” tanya Laskar pendek, dengan fokus masih kepada layar ponselnya.
“Satu atau dua minggu, Mas,” jawab Kaivan. “Sampai aku ketemu tempat tinggal yang sesuai.”
“Loh, kamu nggak mau balik ke Jepang? Emang udah dapet apa aja di sana? Aku nggak mau ya, kalau kamu minta bantu modalin usaha. Aku aja apa-apa sendiri, kok.”
Senyum tipis menghiasi bibir Kaivan. “Memangnya selama ini aku pernah minta yang seperti itu sama kamu? Aku apa-apa juga sendiri, kalau kamu lupa.”
Seketika, Laskar meletakkan cangkir kopi yang baru saja ia seruput, lalu memandang Kaivan dengan wajah tersinggung.
“Serius, kalau ada apa-apa, aku nggak bakal sudi nolongin. Urusin sendiri!”
“Mas, sudah. Kok malah berantem pagi-pagi begini. Kalian kan udah lama nggak ketemu.” Kayla berusaha menengahi, namun sang suami terlanjur naik pitam. Ia melanjutkan omelannya kepada Kaivan.
“Memang bener ya kata Ibu. Kamu tuh bisanya cuma ngerepotin. Oh ya, lain kali nggak usah maksa pengen kelihatan keren lah, sampai nyewa mobil bagus segala. Percuma kalau mau pamer sama aku. Dari awal aja kamu udah kalah.”
“Mas!” Kayla terpaksa memotong dengan suara agak keras. “Kaivan baru satu hari loh di sini. Tolong lah jangan bersikap seperti itu. Dia itu adikmu.”
“Nah, cocok memang kamu sama dia. Sama-sama beban. Nggak guna. Bisanya cuma habisin uang aku aja.”
Laskar memang tidak mengatakan semua itu dengan nada tinggi. Namun sungguh, caranya bicara membuat Kayla merasa menjadi orang paling payah sedunia.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Laskar melangkah meninggalkan meja makan. Menyisakan kopi dalam cangkir yang masih tersisa separuh.
Kayla memandang kepergiannya dengan sendu. Hatinya nyeri sebab kata-kata itu. Air bening sudah menggenang di sudut mata. Namun sebelum sempat jatuh, Kayla buru-buru menyeka dengan ujung tangan. Berpura-pura sedang kelilipan.
“Eh, Van, lanjutin sarapannya. Itu roti bakarnya masih banyak. Kamu makan aja. Aku beresin ini dulu.”
“Duduk sama aku sini, Mbak Kay.”
“Ah, nggak usah. Kamu sarapan aja, ini piring kotornya masih harus dicuci.”
“Nanti biar aku aja yang bantu cuciin. Sekarang kita sarapan sama-sama dulu aja, yuk. Mbak Kay dari pagi juga belum makan apa-apa, kan?”
Kaivan berdiri dari kursinya, lalu menarik tangan Kayla dan membawanya duduk di kursi sampingnya.
Senyum manis merekah saat ia menuangkan teh hangat dalam teko ke cangkir, lalu mendekatkannya ke depan Kayla.
“Van, nggak usah ….”
Suara deru mesin mobil terdengar dari arah halaman rumah. Pertanda bahwa Laskar sudah pergi.
Kayla sempat menengok ke arah depan, meski tak terlihat apapun.
Ia lalu kembali memandang cangkir teh di hadapannya dengan murung.
“Mbak Kay?” panggil Kaivan pelan.
Kayla mendongak.
“Mau cerita? Atau mau menangis dulu?”
***
**Kaivan termangu sesaat ketika ia berada di koridor yang bercabang dekat tangga. Sebelah kanan adalah kamar Kayla dan Laskar, sementara sebelah kiri adalah kamar yang ditempatinya sementara ini.“Aku nggak akan berpura-pura jadi suamimu dan menggunakan ranjang yang sama dengan dia.” Pria itu menyeringai. Ia memandang sekali lagi wajah Kayla yang kini bersandar di dada bidangnya. Sepasang pipi perempuan itu merona merah seperti kue mochi. Kelopak matanya yang tertutup kadang bergerak-gerak, membuat bulu mata lentik di tepiannya bergetar.Kaivan menggigit bibir bawah. Ia mengayun langkah lebar dan dengan tergesa mendorong terbuka pintu kamarnya. Lantas membaringkan tubuh lemas Kayla di atas ranjang yang dingin.“Mas Laskar ….” Suara parau itu kembali merintih pelan. “Mas Laskar, kamu jahat … kamu nggak pernah benar-benar cinta sama aku, kan ….”Matanya terbuka, berurai air mata dan menatap sayu kepada Kaivan yang menunduk di atas tubuhnya.Kaivan mengangkat tangan. Jemari besarnya me
**Kayla menggeleng keras. Air mata jatuh tanpa sadar, berlinangan di kedua pipi sementara ia dengan panik berusaha terus menghubungi sang suami.Dua tiga kali dengung nada sambung terdengar, lalu ditolak. Bahkan pada panggilan yang terakhir, sudah tidak bisa lagi tersambung. Nomor Kayla diblokir.“Mas, tolong angkat teleponnya. Bilang sama aku kalau ini nggak benar. Bukan kamu yang ada di dalam foto dan video itu ….”Percuma saja. Tangis keras Kayla hanya bergema di dinding rumah yang kala itu kosong. Tidak ada yang mendengar, pun peduli kepadanya.Udara dingin angin malam berhembus pelan memasuki balkon, membuat nyala lilin bergoyang-goyang, lalu padam.Asap tipis di puncaknya menari pelan sebelum lindap.“Mas, bilang sama aku itu bukan kamu … itu bukan kamu, kan ….”Dalam keadaan kalut dan putus asa, Kayla membuka sendiri botol wine yang sudah ia siapkan untuk acara ulang tahun pernikahan yang kini hancur itu.Ia menuangnya ke dalam gelas, lalu meneguknya banyak-banyak.Rasa pahit
**Kayla terhenyak. Tanpa sadar ia menarik dirinya mundur, agak menjauh dari Kaivan.“Ap-apa maksudnya, Van? Siapa yang mau menangis memangnya?”Tapi tatapan teduh itu seperti mengunci Kayla. Senyum tipis Kaivan kembali merekah.“Nggak perlu terus ditutup-tutupi, Mbak. Perlakuan buruk kakakku kepada kamu itu terlihat sangat jelas. Percuma kamu terus belain dia. Dia-nya aja kelakuannya seperti itu.”Untuk sesaat, Kayla hampir membenarkan kata-kata itu.Tapi kemudian ia ingat, bagaimanapun buruknya, Laskar adalah suaminya. Ia tidak boleh lebih memihak kepada orang lain ketimbang suaminya sendiri.Lebih daripada itu, Kaivan terhitung orang baru. Meski ada ikatan keluarga dan sudah sering bertemu sebelumnya, ia tidak bisa serta merta mempercayainya begitu saja.“Ah, nggak begitu, Van.” Kayla tersenyum, mencoba bersikap biasa saja. “Biasanya Mas Laskar nggak pernah seperti ini, kok. Dia biasanya selalu baik dan perhatian sama aku. Dia agak badmood ya karena itu tadi, belakangan kerjaannya
**Kayla bersumpah, ia seperti melihat sosok berbeda saat Kaivan mengatakan itu.Perempuan itu reflek bergerak tak nyaman di atas kursinya.“Yah, emm … aku juga beruntung kok punya suami yang baik seperti Mas Laskar.”Bersamaan dengan mengatakan itu, Kayla tersenyum kaku sembari mengusap tengkuknya.“Oh, ya? Mas Laskar sebaik itu kah?”Kayla tidak tahu apakah itu adalah pertanyaan sungguhan atau hanya retorik. Ia memutuskan tidak menjawab.Terlebih lagi, terdengar suara deru mobil lain yang berhenti di halaman rumah.Kayla bergegas ke depan untuk membukakan pintu, dan benar, itu adalah Laskar yang asli.Pria itu mengerutkan dahi kala melihat sang istri menyambut dengan senyum di depan pintu.“Kan aku udah bilang, nggak usah nungguin kalau aku pulang malam,” katanya dingin. “Nanti kalau pusing karena kurang tidur atau apa, nyalahin aku.”Senyum Kayla lenyap seketika.“Nggak kok Mas. Ah iya, ada Kaivan di dalam, Dia baru aja datang.”“Aku udah lihat.” Laskar mengedikkan dagu ke arah mob
**“Astaga! Maaf! Maaf nggak sengaja, saya pikir anda suami saya ….”Kayla panik. Ia segera menjauh dari orang asing yang masih berdiri mematung di depan pintu itu.“Nggak apa-apa, Mbak.”Mbak?Kayla mengerutkan dahi saat memandang pria muda bertubuh jangkung di hadapannya. Ia merasa tidak mengenal orang ini.“Maaf, tapi anda siapa, ya? Kalau mencari Mas Laskar, beliau sedang nggak ada di rumah sekarang. Sebaiknya besok pagi saja datang ke sini lagi.”Pria itu masih diam mematung, dan memandangi Kayla tanpa berkedip. Pada saat itu, barulah Kayla sadar satu hal.Ia masih mengenakan baju tidur seksi sepanjang paha dengan tali pundak kecil!Demi Tuhan, Kayla terperanjat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berlari pergi. Ia tutup pintu rumah dengan keras, lalu naik ke lantai atas dengan wajah merah padam.Sementara tanpa Kayla sadari, pria muda di depan pintu itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Tersenyum tipis.“Bodoh banget, kok bisa sampai lupa kalau bajuku begini?” rutuk Kayla kepada
**“Memang penampilanku sepayah itu, kah? Kok Ibu sampai ngomong begitu?”Kayla memandang pantulan bayangan dirinya sendiri dalam cermin, pagi ini. Sesosok perempuan muda yang murung memandang balik dari sana.Perempuan itu menyentuh rambutnya yang sudah mencapai punggung. Lurus jatuh alami, namun warna kemerahan agak kentara pada ujung-ujungnya. Bukan sengaja diwarnai, melainkan sebab kering kurang terawat.Selain itu, lingkaran hitam samar tampak pada bagian bawah mata. Akibat kerap kurang tidur karena menunggu Laskar pulang kantor yang seringkali sudah larut malam.“Kayaknya aku memang harus lebih ngerawat diri. Siapa tahu Mas Laskar memang lagi kurang tertarik sama aku yang sekarang ini.”Kayla menunduk dengan raut mendung. Masih memperhatikan ujung rambutnya yang pecah-pecah.Akhirnya, ia meraih ponsel untuk mencari referensi gaya rambut yang cocok untuknya, sementara menunggu sang suami keluar dari kamar mandi.“Kalau dipendekin begini, Mas Laskar kasih izin nggak, ya?” Ia meman







