Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 23. Kelicikan Sang Rubah

Share

23. Kelicikan Sang Rubah

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-05-28 15:35:07

Melihat perubahan kuda-kuda Liying yang mendadak terbuka, alis tebal Renshu sedikit bertaut. Di matanya, sang Putri tampak seperti sudah mencapai batas kelelahan fisik. Napas gadis itu tersengal berat, dan cengkeramannya pada pedang terlihat mengendur.

​Bagi seorang prajurit, menunjukkan kelemahan di hadapan musuh adalah undangan menuju kematian.

​"Kau menyerah?" ejek Renshu pelan. Ia memutuskan untuk mengakhiri siksaan malam ini. Dengan gerakan santai yang mematikan, Renshu melangkah maju dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Renshu!   91. Mahkota Darah untuk Sang Putri

    Ruang Takhta Istana Zixiao yang beberapa jam lalu menjadi arena pembantaian, kini telah dibersihkan secara kilat oleh pasukan bayangan. Mayat Perdana Menteri dan para prajurit elitnya telah diseret keluar. Karpet merah yang baru dibentangkan menutupi sisa-sisa genangan darah di lantai.​Di dalam aula yang luar biasa luas dan megah itu, ratusan pejabat tinggi, jenderal tua, dan menteri istana telah dikumpulkan secara paksa oleh loyalis Zixiao. Mereka berdiri berdesakan dengan wajah pucat, ketakutan, dan keringat dingin membasahi jubah sutra mereka. Berita tentang kematian Perdana Menteri dan jebolnya Gerbang Emas telah menghancurkan seluruh sisa perlawanan di ibu kota.​Saat Chu Renshu melangkah masuk ke dalam Ruang Takhta dari arah sayap belakang istana, udara di dalam aula itu seketika terasa seakan dibekukan oleh hawa musim dingin.​Langkah kaki Renshu yang berat dan menggema di lantai membuat bulu kuduk para bangsawan itu merinding. Zirah hitamnya yang masih menyisakan bercak darah

  • Sentuh Aku, Renshu!   90. Takhta yang Sekarat

    ​Di balik Ruang Takhta yang megah, terdapat sayap barat istana yang dikhususkan sebagai tempat peristirahatan Kaisar. Namun, tempat itu sama sekali tidak memancarkan kemegahan. Udara di lorong menuju kamar tersebut terasa luar biasa pengap, dipenuhi oleh bau campuran antara ekstrak obat herbal yang sangat pahit dan aroma anyir dari daging yang perlahan membusuk.​Dua orang pelayan istana yang berjaga di depan pintu kamar langsung jatuh berlutut, tubuh mereka gemetar hebat hingga gigi mereka bergemeretak saat melihat Chu Renshu melangkah mendekat. Renshu mengabaikan mereka. Ia menendang pintu kayu ukir itu hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan tempat penguasa Zixiao meregang nyawa.​Suasana di dalam kamar tidur Kaisar sangat suram. Tirai sutra hitam dan emas ditutup rapat, menghalangi cahaya matahari masuk. Di tengah ruangan, sebuah ranjang naga raksasa berdiri bagaikan sebuah altar pengorbanan. Di atas ranjang tersebut, berbaring sosok yang jauh dari kata agung.

  • Sentuh Aku, Renshu!   89. Monster yang Diciptakan oleh Tiran

    ​Ruang Takhta Istana Kekaisaran Zixiao adalah sebuah monumen kesombongan yang dibangun dari giok putih dan emas murni. Pilar-pilar raksasa berukir naga melilit menopang langit-langit yang menjulang tinggi, sementara lantai marmernya memantulkan cahaya dari ratusan lilin raksasa yang menyala abadi. Namun, kemegahan yang seharusnya mengintimidasi itu kini terasa hampa. Sepi yang mencekam menguasai ruangan, hanya dipecahkan oleh suara langkah kaki yang berat dan basah.​TAP... TAP... TAP...​Chu Renshu melangkah masuk. Zirah hitamnya bersimbah darah segar yang terus menetes, menodai karpet sutra merah yang membentang dari pintu masuk hingga ke anak tangga singgasana. Di tangannya, pedang bajanya masih telanjang, menyiarkan hawa kematian yang luar biasa pekat.​Di ujung karpet tersebut, tepat di bawah singgasana naga yang terbuat dari emas murni, duduk seorang pria tua. Perdana Menteri Zixiao tidak melarikan diri, tidak bersembunyi, dan tidak juga menghunus senjata. Ia mengenakan jubah ke

  • Sentuh Aku, Renshu!   88. Mendobrak Gerbang Emas

    Pawai berdarah itu akhirnya tiba di ujung Jalur Perak. Di hadapan mereka, berdiri megah kompleks Istana Kekaisaran Longjing. Gerbang Emas raksasa setinggi sepuluh meter menjulang tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari Ruang Takhta.​Di pelataran batu granit yang luas tepat di depan gerbang tersebut, lima ratus Prajurit Elit Istana, pasukan pribadi Perdana Menteri yang paling mematikan, telah menunggu. Mereka membentuk formasi kura-kura, menyusun perisai baja berat mereka menjadi sebuah dinding raksasa yang tak tertembus, dengan ribuan ujung tombak menyembul dari sela-sela perisai. Di atas tembok istana, ratusan pemanah telah merentangkan tali busur mereka, siap menghujani kelompok Renshu dengan panah besi.​Liying mengangkat tangannya ke udara, memerintahkan pasukan bayangan untuk berhenti di batas jarak tembak musuh. Sang Ratu Selatan menatap dinding baja di hadapannya dengan senyum miring yang luar biasa dingin. Liying, yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi wanita t

  • Sentuh Aku, Renshu!   87. Pawai Sang Kematian di Siang Bolong

    Matahari bersinar terik tepat di atas ubun-ubun Ibu Kota Longjing, namun hawa dingin mencekam justru menyelimuti seluruh jalanan batu kota tersebut. Asap hitam mengepul tebal dari arah barak Garda Pertahanan Kota di sayap timur, menandakan bahwa kerusuhan internal berdarah yang dipicu oleh rumor Liying tengah mencapai puncaknya. Ribuan prajurit elit Zixiao sibuk menebas leher rekan mereka sendiri, meninggalkan jalan raya utama ibu kota dalam keadaan kosong tanpa penjagaan militer yang berarti.​Memanfaatkan jendela waktu emas ini, Chu Renshu tidak menyelinap melalui lorong tikus layaknya seorang buronan.​Sang Pangeran melangkah keluar dari bayang-bayang gang, berjalan lurus membelah jalan raya utama (Jalur Perak) yang membentang langsung menuju Istana Kekaisaran. Renshu kini tidak lagi mengenakan jubah kulit hitam polosnya. Ia mengenakan zirah baja ringan berwarna hitam pekat, dengan jubah sutra panjang berkibar di punggungnya. Di bagian dada zirahnya, terukir lambang Naga Langit yan

  • Sentuh Aku, Renshu!   86. Kekosongan Komando dan Pembersihan Tangan

    ​Berita kematian tragis Jenderal Ma meledak layaknya mesiu di seluruh penjuru barak Garda Pertahanan Kota. Dua puluh ribu prajurit elit yang bertugas menjaga ibu kota mendadak kehilangan kepala naga mereka. Kepanikan dan kebingungan melanda, menciptakan celah emas yang sama sekali tidak dibiarkan terbuang percuma oleh otak iblis Putri Liying.​"Perdana Menteri-lah yang melakukannya!" bisik seorang perwira menengah di sudut barak, yang sebenarnya adalah agen bayangan loyalis Zixiao di bawah komando Shao. "Jenderal Ma menolak menyerahkan buku emas logistik militer kepada rubah tua itu! Perdana Menteri membunuhnya di tengah malam untuk membungkam korupsi emas tentara kita!"​Rumor beracun itu menyebar lebih cepat dari api yang melahap padang rumput kering. Ketidakpuasan yang selama ini terpendam di antara faksi militer terhadap kerakusan Perdana Menteri meledak menjadi kemarahan tak terkendali. Para prajurit yang loyal pada mendiang Jenderal Ma menolak menerima perintah dari utusan Perda

  • Sentuh Aku, Renshu!   4. Suaka di balik gubuk reot

    "Ssst! Pelankan suaramu, Xiaoxiao! Kau mau tetangga dengar dan melaporkan kita ke prajurit patroli?!" desis Meilin panik. Ia segera berlari menembus keremangan, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menggeser palang besinya dengan tangan gemetar.Di tengah kepanikan luar biasa kedua adiknya, Chu

  • Sentuh Aku, Renshu!   3. Tanda kepemilikan sang prajurit

    Guruh yang tadinya mengamuk buas kini menyusut menjadi rintik gerimis panjang. Badai di luar sana telah menjadi saksi bisu bagaimana batas suci antara langit dan bumi dihancurkan tanpa sisa di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu.Udara dingin sisa hujan mulai menyusup melalui celah jendela kayu,

  • Sentuh Aku, Renshu!   2. Runtuhnya sang predator

    Guruh menggelegar buas di langit Yanze, menyamarkan deru napas memburu di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu. Cahaya dari satu-satunya lentera minyak yang bergoyang tertiup angin dari celah jendela menyorot wajah tegang Chu Renshu.Prajurit kelas tembaga itu menegang bagai bongkahan es di nerak

  • Sentuh Aku, Renshu!   1. Hati yang hancur di bawah badai

    "Liying terlalu kaku dan membosankan, Ruolan. Menyentuhnya sama saja dengan menyentuh patung pualam yang dingin. Kau jauh lebih liar dan tahu cara memuaskan seorang pria."Rentetan kalimat menjijikkan itu terdengar jelas di sela-sela gemuruh guruh.Di balik kisi-kisi jendela Paviliun Bambu keluarga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status