Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh baya itu menyorot tajam, memindai pakaian katun kasar berwarna abu-abu kusam yang kini membalut tubuh putrinya."Jawab aku, Liying!" desis Selir Lan. Ia melangkah maju, gemerincing tusuk konde emasnya bergetar liar mengikuti amarahnya. "Kau menghilang semalaman di tengah badai, membolos dari jamuan minum teh keluarga Feng, dan kini pulang dengan pakaian gembel bau asap ini? Apa kau sudah gila?!"Liying mengangkat dagunya. Jika ini adalah Liying kemarin pagi, ia pasti sudah jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu, dan memohon ampun. Namun, dekapan posesif Chu Renshu semalam telah menanamkan secercah keberanian atau mungkin keputusasaan yang memberontak di dalam dadanya."Jamuan teh itu tidak per
Magbasa pa