Satu minggu berlalu sejak Paviliun Kaca Kusam mengunci diri dari dunia luar. Di bawah pengawasan ketat dari luar tembok, kehidupan Liying di dalam kamar utama berubah menjadi rutinitas neraka yang menyiksa fisik sekaligus mentalnya.Setiap pagi, ia menelan dosis racun yang perlahan ditingkatkan oleh Tabib Meilin, menahan rasa panas yang membakar lambung dan kram otot yang membuat tubuhnya kejang. Sore harinya, ia harus berlatih fisik dengan Chu Renshu, memaksakan otot-ototnya yang tidak pernah dilatih untuk bergerak lebih cepat dan lebih efisien.Namun, ada satu kenyataan pahit yang harus Liying hadapi. Seberapa keras pun ia mengayunkan pedang kayu, tenaga dalamnya nyaris nol. Tangannya yang mungil dan pucat sudah penuh dengan lecet baru, bahkan beberapa lepuhannya pecah dan mengeluarkan darah akibat terus-menerus bergesekan dengan gagang pedang.Sore itu, suara pedang kayu yang jatuh membentur lantai memecah keheningan. Liying terengah-engah, memegangi pergelangan tangan kanannya
Magbasa pa