Bau amis darah segar menguar kental, memenuhi setiap sudut Aula Utama Markas Militer Nanzhou. Mayat tanpa kepala milik Wakil Jenderal Zheng masih terkapar di lantai batu, darahnya menggenang merendam ujung sepatu Gubernur Wei yang kini berlutut gemetar. Seluruh perwira tinggi di ruangan itu menahan napas, tak ada satu pun yang berani mengangkat wajah menatap prajurit pembawa maut di sisi meja, maupun sang Putri Kekaisaran yang berdiri dengan aura dominasi absolut.Liying menatap Gubernur Wei dengan sorot mata sedingin es abadi. Tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan palsu. Liying butuh kendali mutlak, malam ini juga."Serahkan stempel militer Nanzhou, Gubernur Wei," titah Liying, suaranya memotong keheningan layaknya pedang baja.Gubernur Wei tidak memiliki pilihan. Tangan pria paruh baya itu gemetar saat ia merogoh kerah zirahnya, menarik sebuah stempel perunggu berbentuk kepala harimau, lalu menyerahkannya dengan kepala tertunduk. Stempel itu adalah nyawa seluruh pasukan per
Magbasa pa