LOGINAkankah pelarian mereka berhasil? Nantikan di bab selanjutnya... 🤣
Belasan anak panah melesat menembus kabut, mengarah tepat ke kabin kereta kuda tempat Liying berada.TRAAANG! TRANG!Renshu mencabut pedangnya dalam satu tarikan napas. Sang prajurit bergerak dengan kecepatan kilat, menciptakan dinding baja dari sabetan pedangnya yang mematahkan setiap anak panah di udara sebelum benda tajam itu sempat menyentuh kayu kereta.Dari balik pepohonan, dua puluh pria berwajah beringas muncul, memblokir jalan maju dan mundur. Mereka mengenakan pakaian lusuh layaknya bandit gunung, namun mata elang Renshu langsung menyadari satu detail mematikan: cara mereka menggenggam pedang sangat seragam, dan postur kuda-kuda mereka adalah postur militer standar pasukan pembunuh elit Yanze. Mereka adalah anjing suruhan Bojing yang menyamar."Serahkan wanita di dalam kereta itu!" teriak pemimpin bandit jadi-jadian tersebut. "Kalian boleh pergi membawa nyawa kalian!"Renshu tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya, menghela napas panjang hingga uap putih keluar dari bi
Angin malam berembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang di gerbang utara Benteng Nanzhou. Di bawah temaram obor, sebuah kereta kuda kayu oak sederhana yang biasa digunakan oleh pedagang sutra telah disiapkan.Putri Liying berdiri di samping kereta, mengenakan jubah katun tebal berwarna abu-abu kusam yang menyembunyikan identitas aslinya. Di hadapannya, Xiaoxiao dan Meilin menundukkan kepala. "Aku meninggalkan Nanzhou di tangan kalian berdua," ucap Liying dengan nada datar, namun penuh penekanan absolut. "Meilin, terus produksi panah beracun itu. Xiaoxiao, gunakan memori fotografimu untuk menghafal seluruh pembukuan emas yang kita rampas dari pasar budak. Jika Gubernur Wei menunjukkan satu saja gelagat pengkhianatan selama aku pergi..." "Hamba akan menancapkan jarum perak tepat di saraf tulang belakangnya, Yang Mulia," potong Xiaoxiao dengan senyum manis yang sangat bertolak belakang dengan aura membunuhnya.Liying mengangguk puas. Ia menoleh ke arah Chu Renshu. Pria itu k
Tamparan keras Liying masih menyisakan rona merah di rahang kokoh Chu Renshu. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan hantaman telak dari kata-kata sang Putri yang merobek kabut keputusasaan di benaknya. Di tengah halaman dalam yang dingin, di bawah rintik gerimis yang membasuh sisa darah musuh, Renshu menatap mata Liying yang menyala penuh amarah dan kepemilikan mutlak.Gadis yang berdiri di hadapannya ini bukan lagi Putri manja yang cengeng, melainkan wanita tangguh yang pandai berpolitik dan siap membantai siapa pun yang merendahkan lelakinya. Renshu memejamkan mata, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya yang sesak. Kesombongannya akan memori masa lalu hancur, namun esensi dirinya kembali utuh. Sang prajurit itu mengulurkan kedua tangannya, merengkuh pinggang Liying dan menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan yang luar biasa erat, nyaris meremukkan tulang. Ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher Liying, menghirup aroma teratai dan asap per
Udara di lorong batu sayap barat itu terasa membeku. Renshu masih berdiri mematung, dadanya naik turun dengan tempo yang tidak beraturan. Kata-kata pria berpakaian ungu itu berdengung di telinganya, menyerang akal sehatnya lebih brutal dari sabetan pedang mana pun di medan perang.Pangeran Zixiao?Sebuah geraman rendah yang dipenuhi kemarahan murni keluar dari tenggorokan Renshu. Ia tidak menurunkan pedangnya. Sebaliknya, tangan kiri prajurit raksasa itu melesat secepat kilat, mencengkeram leher pria berpakaian ungu tersebut dan mengangkatnya hingga kakinya melayang dari lantai.BRAAAK!Renshu membanting tubuh mata-mata itu ke dinding batu dengan tenaga hewani, membuat debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit. Pria berlabel intelijen Zixiao itu terbatuk keras, namun anehnya, tidak ada sedikit pun perlawanan dari tangannya."Tutup mulut kotor dan penuh kebohonganmu itu!" raung Renshu di depan wajah sang mata-mata. Urat-urat di leher dan rahang sang prajurit menonjol ekstrem.
BRUK! KLONTANG!Suara pedang dan tombak yang dijatuhkan ke atas lantai batu bergema bersahut-sahutan. Barisan infanteri Teratai Merah yang tersisa di halaman utama Nanzhou menatap ngeri pada gumpalan daging dan organ dalam jenderal mereka yang kini terbelah dua. Semangat tempur mereka yang tadinya berkobar angkuh, kini hancur lebur ditelan teror absolut."Mundur! Jenderal telah tewas!" jerit seorang perwira Yanze dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi. "Iblis itu membelahnya! Lari! Tinggalkan benteng ini!"Kepanikan menyebar layaknya wabah penyakit mematikan. Ribuan prajurit elit yang tersisa berbalik arah, berdesakan memperebutkan jalan keluar melewati puing-puing gerbang selatan. Mereka saling dorong, saling injak, melupakan formasi dan kebanggaan kekaisaran demi menyelamatkan nyawa dari sabetan pedang sang prajurit raksasa. Pasukan Yanze hancur dan mundur. Dari atas menara komando yang tinggi, Liying menatap pemandangan memalukan itu dengan senyum sinis. Asap pertempuran
KRAAAT! BOOOM!Suara kayu oak setebal setengah meter yang patah dan hancur berkeping-keping terdengar layaknya petir yang menyambar tepat di telinga. Badai debu dan serpihan batu bata menyembur ke udara. Gerbang selatan jebol. Pertahanan lapis pertama Nanzhou yang selama berjam-jam dibombardir oleh mesin pelontar batu raksasa akhirnya runtuh sepenuhnya. Pasukan Yanze merangsek masuk. "Hancurkan pertahanan mereka!" raung seorang komandan Yanze, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Bantai semua pria dan seret Putri Liying hidup-hidup ke hadapan Putra Mahkota!""Maju! Nanzhou sudah takluk di bawah Teratai Merah!" sorak ribuan infanteri lapis baja yang berdesakan masuk seperti air bah ke halaman dalam benteng. Mereka mengira kemenangan sudah berada di dalam genggaman.Namun, Liying telah memperhitungkan jatuhnya gerbang selatan tersebut sejak malam sebelumnya. Begitu musuh masuk, mereka dipaksa memecah formasi untuk menyusuri lorong-lorong batu sempit di dalam markas.Di bagian
Hitungan ke-seratus akhirnya terlampaui. Napas Liying memburu, terdengar kasar dan menyakitkan memecah kesunyian malam. Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, membuat helaian rambutnya menempel berantakan di wajah pucatnya.Kedua lengannya terasa seperti terbuat dari timah panas. Pedang kayu
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra
Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dingin
Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b







