LOGINBerita kematian tragis Jenderal Ma meledak layaknya mesiu di seluruh penjuru barak Garda Pertahanan Kota. Dua puluh ribu prajurit elit yang bertugas menjaga ibu kota mendadak kehilangan kepala naga mereka. Kepanikan dan kebingungan melanda, menciptakan celah emas yang sama sekali tidak dibiarkan terbuang percuma oleh otak iblis Putri Liying."Perdana Menteri-lah yang melakukannya!" bisik seorang perwira menengah di sudut barak, yang sebenarnya adalah agen bayangan loyalis Zixiao di bawah komando Shao. "Jenderal Ma menolak menyerahkan buku emas logistik militer kepada rubah tua itu! Perdana Menteri membunuhnya di tengah malam untuk membungkam korupsi emas tentara kita!"Rumor beracun itu menyebar lebih cepat dari api yang melahap padang rumput kering. Ketidakpuasan yang selama ini terpendam di antara faksi militer terhadap kerakusan Perdana Menteri meledak menjadi kemarahan tak terkendali. Para prajurit yang loyal pada mendiang Jenderal Ma menolak menerima perintah dari utusan Perda
Kabut pagi yang tebal dan dingin masih menyelimuti jalanan batu Ibu Kota Longjing. Hujan badai semalam telah menyisakan genangan air di setiap sudut kota, mencuci bersih jejak-jejak kematian yang terjadi dalam kegelapan. Di pusat distrik bangsawan, kediaman Perdana Menteri Zixiao berdiri megah layaknya sebuah istana kecil, dikelilingi oleh tembok setinggi enam meter yang melambangkan kekuasaan absolut faksi pemberontak.KREAAAK!Pintu gerbang kayu mahoni raksasa yang berlapis tembaga itu didorong terbuka oleh dua orang penjaga bersenjata tombak. Mereka bersiap untuk pergantian sif jaga pagi. Namun, saat tatapan salah satu penjaga terangkat ke arah pilar utama gerbang, napas pria itu tercekat hebat."AAARGHHH!"Sebuah jeritan melengking yang dipenuhi teror murni membelah kesunyian fajar, menggelegar ke seluruh penjuru halaman kediaman. Penjaga itu jatuh terduduk, tombaknya terlepas dan berdenting keras menghantam lantai batu. Tangannya yang gemetar menunjuk ke atas dengan wajah sep
Kamar tidur utama Jenderal Ma dilapisi oleh permadani tebal dari Persia dan diterangi oleh cahaya temaram dari lentera minyak beraroma cendana. Suara hujan di luar terdengar samar, teredam oleh ketebalan dinding batu dan pintu kayu berlapis baja.KREK...Salah satu panel jendela kayu di sudut ruangan terbuka perlahan tanpa menimbulkan derit engsel. Sebuah bayangan besar menyelinap masuk dengan keanggunan yang sangat mematikan, tidak sepadan dengan postur tubuhnya yang gagah. Air hujan menetes dari rambut dan ujung jubah kulit Chu Renshu, membasahi permadani mahal di bawah kakinya.Sang Pangeran mencabut pedang bajanya dari sarungnya secara perlahan. Bunyi gesekan logam yang nyaris tak terdengar itu mengudara di dalam ruangan yang hening.Namun, Jenderal Ma bukanlah seorang bangsawan korup yang hanya tahu cara menikmati kemewahan. Ia adalah komandan militer tertinggi yang posisinya dibangun di atas tumpukan mayat musuh. Meski sedang tertidur lelap, insting militernya yang tajam mer
Gema dari deklarasi berdarah Chu Renshu masih menggantung di udara ruang komando yang dingin. Para loyalis Zixiao yang masih berlutut menatap pangeran mereka dengan kobaran fanatisme yang baru saja tersulut. Namun, di tengah gelombang euforia pemberontakan itu, Liying memecah suasana dengan sebuah ketukan keras di atas meja perunggu."Simpan sorak-sorai kalian untuk hari penobatan," potong Liying tajam, mengalihkan perhatian seluruh ruangan kembali pada peta topografi ibu kota. Sang Putri menunjuk ke arah sebuah kompleks bangunan besar yang terletak tepat di jantung distrik militer Longjing. "Ini adalah kediaman Jenderal Ma, Komandan Garda Pertahanan Kota. Pria ini memegang kendali atas dua puluh ribu prajurit elit yang menjaga gerbang ibu kota dan tembok istana."Shao melangkah maju, wajahnya menegang. "Kediaman Jenderal Ma dijaga sangat ketat, Nona. Terdapat rotasi patroli setiap lima belas menit dan tiga menara pengawas yang dijaga oleh penembak jitu. Jika Yang Mulia Pangeran mem
Hujan badai telah berlalu, menyisakan kabut tebal yang menyelimuti punggung Pegunungan Obsidian. Tiga hari setelah pelarian berdarah dari Kota Xingluo, kelompok kecil itu tiba di sebuah benteng persembunyian rahasia yang tertanam di lereng tebing terjal, hanya beberapa puluh li dari Ibu Kota Zixiao (Longjing).Di dalam ruang komando utama benteng batu tersebut, puluhan pria berpakaian serba hitam dengan lambang Naga Langit tersembunyi di kerah mereka telah berkumpul. Mereka adalah sisa-sisa loyalis Permaisuri dan Panglima Chu yang selama dua dekade bergerak di bawah tanah, bertahan dari pembersihan faksi Perdana Menteri.Begitu Renshu melangkah masuk ke dalam ruangan besar itu bersama Liying di sisinya, suasana mendadak sunyi senyap.BRUK!Puluhan loyalis itu menjatuhkan diri dengan satu lutut ke lantai batu secara serempak. Suara zirah mereka yang berbenturan menggema penuh takzim. Tidak ada yang meragukan identitas pria tangguh di hadapan mereka. Wajah Renshu, dengan rahang kera
Hawa panas yang menguar dari penyatuan brutal di sudut gudang arak itu perlahan mereda, digantikan oleh embusan angin malam yang menyusup dari celah dinding kayu lapuk. Renshu berdiri bersandar pada tong raksasa, dadanya yang bidang dan penuh keringat naik-turun secara teratur. Ia telah mengenakan kembali jubah kulitnya, sementara Liying berdiri di hadapannya, merapikan ikatan sabuk jubahnya yang sempat terkoyak dengan gerakan tenang, seolah badai gairah barusan hanyalah sebuah rutinitas biasa di tengah medan perang.Udara di dalam ruangan itu masih terasa berat oleh sisa-sisa napas memburu dan adrenalin, namun kewarasan Renshu telah kembali seutuhnya. Sentuhan Liying selalu menjadi jangkar yang menariknya kembali dari jurang kegilaan.KREEEEK!Pintu kayu gudang bergeser terbuka, menghasilkan decitan engsel berkarat yang memecah keheningan.Shao, sang mata-mata Zixiao, melangkah masuk dengan tubuh basah kuyup dan napas tertahan. Pria berpakaian ungu kusam itu meneteskan air hujan
Matahari siang bersinar terik, memanggang atap-atap genteng emas ibu kota kekaisaran. Di depan gerbang ganda Paviliun Kaca Kusam, Chu Renshu berdiri tegap bagaikan patung batu penjaga kuil. Zirah kulitnya memantulkan cahaya, sementara wajah kerasnya tak menunjukkan emosi apa pun.Namun, di balik t
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah ukiran jendela Paviliun Kaca Kusam, jatuh menyinari wajah Yan Liying.Sang Putri perlahan membuka matanya. Seketika, rasa pegal dan nyeri menghantam sekujur otot lengannya. Liying bangun dengan tubuh yang terasa luar biasa kaku akibat latihan fisik
Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesop
Malam ujian itu akhirnya tiba. Udara di taman bambu terasa jauh lebih pekat dari biasanya, seolah ikut menahan napas menyaksikan pertarungan yang akan menentukan nasib sang Putri.Yan Liying berdiri dengan napas tertahan. Ia mengenakan setelan katun gelapnya, menggeser kaki kanannya ke belakang un







