Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 85. Hadiah Fajar untuk Perdana Menteri

Share

85. Hadiah Fajar untuk Perdana Menteri

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-07-03 06:54:54

Kabut pagi yang tebal dan dingin masih menyelimuti jalanan batu Ibu Kota Longjing. Hujan badai semalam telah menyisakan genangan air di setiap sudut kota, mencuci bersih jejak-jejak kematian yang terjadi dalam kegelapan. Di pusat distrik bangsawan, kediaman Perdana Menteri Zixiao berdiri megah layaknya sebuah istana kecil, dikelilingi oleh tembok setinggi enam meter yang melambangkan kekuasaan absolut faksi pemberontak.

​KREAAAK!

​Pintu gerbang kayu mahoni raksasa yang berlapis tembaga itu dido
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Renshu!   91. Mahkota Darah untuk Sang Putri

    Ruang Takhta Istana Zixiao yang beberapa jam lalu menjadi arena pembantaian, kini telah dibersihkan secara kilat oleh pasukan bayangan. Mayat Perdana Menteri dan para prajurit elitnya telah diseret keluar. Karpet merah yang baru dibentangkan menutupi sisa-sisa genangan darah di lantai.​Di dalam aula yang luar biasa luas dan megah itu, ratusan pejabat tinggi, jenderal tua, dan menteri istana telah dikumpulkan secara paksa oleh loyalis Zixiao. Mereka berdiri berdesakan dengan wajah pucat, ketakutan, dan keringat dingin membasahi jubah sutra mereka. Berita tentang kematian Perdana Menteri dan jebolnya Gerbang Emas telah menghancurkan seluruh sisa perlawanan di ibu kota.​Saat Chu Renshu melangkah masuk ke dalam Ruang Takhta dari arah sayap belakang istana, udara di dalam aula itu seketika terasa seakan dibekukan oleh hawa musim dingin.​Langkah kaki Renshu yang berat dan menggema di lantai membuat bulu kuduk para bangsawan itu merinding. Zirah hitamnya yang masih menyisakan bercak darah

  • Sentuh Aku, Renshu!   90. Takhta yang Sekarat

    ​Di balik Ruang Takhta yang megah, terdapat sayap barat istana yang dikhususkan sebagai tempat peristirahatan Kaisar. Namun, tempat itu sama sekali tidak memancarkan kemegahan. Udara di lorong menuju kamar tersebut terasa luar biasa pengap, dipenuhi oleh bau campuran antara ekstrak obat herbal yang sangat pahit dan aroma anyir dari daging yang perlahan membusuk.​Dua orang pelayan istana yang berjaga di depan pintu kamar langsung jatuh berlutut, tubuh mereka gemetar hebat hingga gigi mereka bergemeretak saat melihat Chu Renshu melangkah mendekat. Renshu mengabaikan mereka. Ia menendang pintu kayu ukir itu hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan tempat penguasa Zixiao meregang nyawa.​Suasana di dalam kamar tidur Kaisar sangat suram. Tirai sutra hitam dan emas ditutup rapat, menghalangi cahaya matahari masuk. Di tengah ruangan, sebuah ranjang naga raksasa berdiri bagaikan sebuah altar pengorbanan. Di atas ranjang tersebut, berbaring sosok yang jauh dari kata agung.

  • Sentuh Aku, Renshu!   89. Monster yang Diciptakan oleh Tiran

    ​Ruang Takhta Istana Kekaisaran Zixiao adalah sebuah monumen kesombongan yang dibangun dari giok putih dan emas murni. Pilar-pilar raksasa berukir naga melilit menopang langit-langit yang menjulang tinggi, sementara lantai marmernya memantulkan cahaya dari ratusan lilin raksasa yang menyala abadi. Namun, kemegahan yang seharusnya mengintimidasi itu kini terasa hampa. Sepi yang mencekam menguasai ruangan, hanya dipecahkan oleh suara langkah kaki yang berat dan basah.​TAP... TAP... TAP...​Chu Renshu melangkah masuk. Zirah hitamnya bersimbah darah segar yang terus menetes, menodai karpet sutra merah yang membentang dari pintu masuk hingga ke anak tangga singgasana. Di tangannya, pedang bajanya masih telanjang, menyiarkan hawa kematian yang luar biasa pekat.​Di ujung karpet tersebut, tepat di bawah singgasana naga yang terbuat dari emas murni, duduk seorang pria tua. Perdana Menteri Zixiao tidak melarikan diri, tidak bersembunyi, dan tidak juga menghunus senjata. Ia mengenakan jubah ke

  • Sentuh Aku, Renshu!   88. Mendobrak Gerbang Emas

    Pawai berdarah itu akhirnya tiba di ujung Jalur Perak. Di hadapan mereka, berdiri megah kompleks Istana Kekaisaran Longjing. Gerbang Emas raksasa setinggi sepuluh meter menjulang tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari Ruang Takhta.​Di pelataran batu granit yang luas tepat di depan gerbang tersebut, lima ratus Prajurit Elit Istana, pasukan pribadi Perdana Menteri yang paling mematikan, telah menunggu. Mereka membentuk formasi kura-kura, menyusun perisai baja berat mereka menjadi sebuah dinding raksasa yang tak tertembus, dengan ribuan ujung tombak menyembul dari sela-sela perisai. Di atas tembok istana, ratusan pemanah telah merentangkan tali busur mereka, siap menghujani kelompok Renshu dengan panah besi.​Liying mengangkat tangannya ke udara, memerintahkan pasukan bayangan untuk berhenti di batas jarak tembak musuh. Sang Ratu Selatan menatap dinding baja di hadapannya dengan senyum miring yang luar biasa dingin. Liying, yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi wanita t

  • Sentuh Aku, Renshu!   87. Pawai Sang Kematian di Siang Bolong

    Matahari bersinar terik tepat di atas ubun-ubun Ibu Kota Longjing, namun hawa dingin mencekam justru menyelimuti seluruh jalanan batu kota tersebut. Asap hitam mengepul tebal dari arah barak Garda Pertahanan Kota di sayap timur, menandakan bahwa kerusuhan internal berdarah yang dipicu oleh rumor Liying tengah mencapai puncaknya. Ribuan prajurit elit Zixiao sibuk menebas leher rekan mereka sendiri, meninggalkan jalan raya utama ibu kota dalam keadaan kosong tanpa penjagaan militer yang berarti.​Memanfaatkan jendela waktu emas ini, Chu Renshu tidak menyelinap melalui lorong tikus layaknya seorang buronan.​Sang Pangeran melangkah keluar dari bayang-bayang gang, berjalan lurus membelah jalan raya utama (Jalur Perak) yang membentang langsung menuju Istana Kekaisaran. Renshu kini tidak lagi mengenakan jubah kulit hitam polosnya. Ia mengenakan zirah baja ringan berwarna hitam pekat, dengan jubah sutra panjang berkibar di punggungnya. Di bagian dada zirahnya, terukir lambang Naga Langit yan

  • Sentuh Aku, Renshu!   86. Kekosongan Komando dan Pembersihan Tangan

    ​Berita kematian tragis Jenderal Ma meledak layaknya mesiu di seluruh penjuru barak Garda Pertahanan Kota. Dua puluh ribu prajurit elit yang bertugas menjaga ibu kota mendadak kehilangan kepala naga mereka. Kepanikan dan kebingungan melanda, menciptakan celah emas yang sama sekali tidak dibiarkan terbuang percuma oleh otak iblis Putri Liying.​"Perdana Menteri-lah yang melakukannya!" bisik seorang perwira menengah di sudut barak, yang sebenarnya adalah agen bayangan loyalis Zixiao di bawah komando Shao. "Jenderal Ma menolak menyerahkan buku emas logistik militer kepada rubah tua itu! Perdana Menteri membunuhnya di tengah malam untuk membungkam korupsi emas tentara kita!"​Rumor beracun itu menyebar lebih cepat dari api yang melahap padang rumput kering. Ketidakpuasan yang selama ini terpendam di antara faksi militer terhadap kerakusan Perdana Menteri meledak menjadi kemarahan tak terkendali. Para prajurit yang loyal pada mendiang Jenderal Ma menolak menerima perintah dari utusan Perda

  • Sentuh Aku, Renshu!   18. Kunjungan Musuh dalam Selimut

    Matahari menjelang siang bersinar terik, memantulkan cahaya keemasan di atap Paviliun Kaca Kusam. Di beranda yang menghadap ke taman teratai, teh melati kualitas terbaik telah diseduh, mengepulkan aroma wangi yang seharusnya menenangkan.​Namun bagi Yan Liying, aroma itu tidak mampu menutupi bau ke

  • Sentuh Aku, Renshu!   14. Penolakan Sang Putri

    Matahari siang menyengat atap Paviliun Kaca Kusam, namun di dalam kamar tidurnya, Liying merasa sekujur tubuhnya seperti baru saja digilas roda kereta kuda.Setiap kali ia menggeser posisinya di atas kursi rias, ringisan tertahan lolos dari bibirnya. Sabetan ranting bambu Renshu semalam benar-benar

  • Sentuh Aku, Renshu!   11. Air Hangat dan Runtuhnya Tembok Es

    Ujung pedang kayu yang berlumuran darah itu bergetar di depan dada Renshu. Liying masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, napasnya tersengal, menolak untuk menundukkan pandangannya.​Keheningan yang pekat mengambil alih taman bambu. Angin malam seolah menahan napasnya. Hawa membunuh d

  • Sentuh Aku, Renshu!   10. Air Mata Darah Sang Teratai

    ​Hitungan ke-seratus akhirnya terlampaui. Napas Liying memburu, terdengar kasar dan menyakitkan memecah kesunyian malam. Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, membuat helaian rambutnya menempel berantakan di wajah pucatnya.​Kedua lengannya terasa seperti terbuat dari timah panas. Pedang kayu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status