Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 81. Kebenaran yang Pahit

Share

81. Kebenaran yang Pahit

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-07-01 07:18:30

Hawa panas yang menguar dari penyatuan brutal di sudut gudang arak itu perlahan mereda, digantikan oleh embusan angin malam yang menyusup dari celah dinding kayu lapuk. Renshu berdiri bersandar pada tong raksasa, dadanya yang bidang dan penuh keringat naik-turun secara teratur. Ia telah mengenakan kembali jubah kulitnya, sementara Liying berdiri di hadapannya, merapikan ikatan sabuk jubahnya yang sempat terkoyak dengan gerakan tenang, seolah badai gairah barusan hanyalah sebuah rutinitas biasa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Renshu!   82. Deklarasi Perang Bayangan

    Hujan badai telah berlalu, menyisakan kabut tebal yang menyelimuti punggung Pegunungan Obsidian. Tiga hari setelah pelarian berdarah dari Kota Xingluo, kelompok kecil itu tiba di sebuah benteng persembunyian rahasia yang tertanam di lereng tebing terjal, hanya beberapa puluh li dari Ibu Kota Zixiao (Longjing).​Di dalam ruang komando utama benteng batu tersebut, puluhan pria berpakaian serba hitam dengan lambang Naga Langit tersembunyi di kerah mereka telah berkumpul. Mereka adalah sisa-sisa loyalis Permaisuri dan Panglima Chu yang selama dua dekade bergerak di bawah tanah, bertahan dari pembersihan faksi Perdana Menteri.​Begitu Renshu melangkah masuk ke dalam ruangan besar itu bersama Liying di sisinya, suasana mendadak sunyi senyap.​BRUK!​Puluhan loyalis itu menjatuhkan diri dengan satu lutut ke lantai batu secara serempak. Suara zirah mereka yang berbenturan menggema penuh takzim. Tidak ada yang meragukan identitas pria tangguh di hadapan mereka. Wajah Renshu, dengan rahang kera

  • Sentuh Aku, Renshu!   81. Kebenaran yang Pahit

    Hawa panas yang menguar dari penyatuan brutal di sudut gudang arak itu perlahan mereda, digantikan oleh embusan angin malam yang menyusup dari celah dinding kayu lapuk. Renshu berdiri bersandar pada tong raksasa, dadanya yang bidang dan penuh keringat naik-turun secara teratur. Ia telah mengenakan kembali jubah kulitnya, sementara Liying berdiri di hadapannya, merapikan ikatan sabuk jubahnya yang sempat terkoyak dengan gerakan tenang, seolah badai gairah barusan hanyalah sebuah rutinitas biasa di tengah medan perang.​Udara di dalam ruangan itu masih terasa berat oleh sisa-sisa napas memburu dan adrenalin, namun kewarasan Renshu telah kembali seutuhnya. Sentuhan Liying selalu menjadi jangkar yang menariknya kembali dari jurang kegilaan.​KREEEEK!​Pintu kayu gudang bergeser terbuka, menghasilkan decitan engsel berkarat yang memecah keheningan.​Shao, sang mata-mata Zixiao, melangkah masuk dengan tubuh basah kuyup dan napas tertahan. Pria berpakaian ungu kusam itu meneteskan air hujan

  • Sentuh Aku, Renshu!   80. Pelarian dan Ruang Sempit

    Hujan turun semakin deras, mengubah gang-gang sempit Kota Xingluo menjadi sungai lumpur yang kotor dan licin. Renshu menarik Liying melewati lorong-lorong gelap yang berliku, menghindari rute patroli pembunuh bayaran yang kini menyisir seluruh sudut kota dengan panik. Napas mereka memburu, memecah keheningan di bawah guyuran hujan badai yang mendinginkan kulit.​Di ujung sebuah gang buntu, Shao sang mata-mata menunjuk ke arah sebuah pintu kayu lapuk yang sebagian engselnya telah berkarat. "Itu gudang penyimpanan arak yang sudah puluhan tahun terbengkalai. Hamba akan berjaga di ujung gang ini untuk mengalihkan perhatian anjing-anjing Perdana Menteri itu. Masuklah, Yang Mulia!"​Renshu tidak menunggu aba-aba kedua. Ia menendang pintu kayu itu hingga jebol, menarik Liying masuk ke dalam kegelapan pekat, lalu mendorong kembali pintu tersebut hingga tertutup rapat.​Suasana di dalam gudang itu sangat lembap dan pengap, dipenuhi aroma tajam dari kayu yang membusuk dan sisa fermentasi arak b

  • Sentuh Aku, Renshu!   79. Jebakan di Gerbang Zixiao

    Hujan rintik-rintik turun bagaikan jarum es saat kereta kuda kayu oak mereka melewati gerbang batu Kota Xingluo, wilayah terluar dari Kekaisaran Zixiao. Berbeda dengan ibu kota Yanze yang gemerlap oleh lampion merah, Zixiao memiliki arsitektur kokoh yang didominasi oleh batu obsidian hitam dan panji-panji berlambang Naga Langit yang berkibar angkuh di setiap sudut jalan.​Di dalam kabin kereta, Putri Liying duduk dengan ketenangan yang mematikan. Matanya yang tajam menatap hiruk-pikuk pasar kota dari balik celah tirai bambu. Di sebelahnya, Chu Renshu duduk dalam diam, auranya yang dingin dan tenang secara sempurna menutupi insting predatornya yang bersiaga penuh. Mata-mata berbaju ungu yang kini dipanggil Shao, bertindak sebagai kusir dengan jubah penyamaran kusam.​"Kota ini dikendalikan oleh faksi Perdana Menteri Tua," bisik Shao dari celah jendela kabin di depannya, suaranya dipenuhi ketegangan. "Mereka adalah pihak yang paling tidak menginginkan kembalinya pewaris sah takhta. Jika

  • Sentuh Aku, Renshu!   78. Serangan

    Belasan anak panah melesat menembus kabut, mengarah tepat ke kabin kereta kuda tempat Liying berada.​TRAAANG! TRANG!​Renshu mencabut pedangnya dalam satu tarikan napas. Sang prajurit bergerak dengan kecepatan kilat, menciptakan dinding baja dari sabetan pedangnya yang mematahkan setiap anak panah di udara sebelum benda tajam itu sempat menyentuh kayu kereta.​Dari balik pepohonan, dua puluh pria berwajah beringas muncul, memblokir jalan maju dan mundur. Mereka mengenakan pakaian lusuh layaknya bandit gunung, namun mata elang Renshu langsung menyadari satu detail mematikan: cara mereka menggenggam pedang sangat seragam, dan postur kuda-kuda mereka adalah postur militer standar pasukan pembunuh elit Yanze. Mereka adalah anjing suruhan Bojing yang menyamar.​"Serahkan wanita di dalam kereta itu!" teriak pemimpin bandit jadi-jadian tersebut. "Kalian boleh pergi membawa nyawa kalian!"​Renshu tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya, menghela napas panjang hingga uap putih keluar dari bi

  • Sentuh Aku, Renshu!   77. Perjalanan Menembus Batas

    Angin malam berembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang di gerbang utara Benteng Nanzhou. Di bawah temaram obor, sebuah kereta kuda kayu oak sederhana yang biasa digunakan oleh pedagang sutra telah disiapkan.​Putri Liying berdiri di samping kereta, mengenakan jubah katun tebal berwarna abu-abu kusam yang menyembunyikan identitas aslinya. Di hadapannya, Xiaoxiao dan Meilin menundukkan kepala. ​"Aku meninggalkan Nanzhou di tangan kalian berdua," ucap Liying dengan nada datar, namun penuh penekanan absolut. "Meilin, terus produksi panah beracun itu. Xiaoxiao, gunakan memori fotografimu untuk menghafal seluruh pembukuan emas yang kita rampas dari pasar budak. Jika Gubernur Wei menunjukkan satu saja gelagat pengkhianatan selama aku pergi..." ​"Hamba akan menancapkan jarum perak tepat di saraf tulang belakangnya, Yang Mulia," potong Xiaoxiao dengan senyum manis yang sangat bertolak belakang dengan aura membunuhnya.​Liying mengangguk puas. Ia menoleh ke arah Chu Renshu. Pria itu k

  • Sentuh Aku, Renshu!   52. Sentuhan kasar

    Tangan kiri Liying yang dikunci Renshu di atas kepala ternyata telah melepaskan belati kayunya sejak awal bantingan. Dan kini, tangan kanannya, yang sengaja dibiarkan terbebas saat Renshu terdistraksi menangkap belati kayu yang jatuh, telah menarik sebuah jepit rambut perak berlapis tembaga dari ba

  • Sentuh Aku, Renshu!   49. Tarian Jarum dan Titik Meridian

    ​Satu minggu berlalu sejak Paviliun Kaca Kusam mengunci diri dari dunia luar. Di bawah pengawasan ketat dari luar tembok, kehidupan Liying di dalam kamar utama berubah menjadi rutinitas neraka yang menyiksa fisik sekaligus mentalnya.​Setiap pagi, ia menelan dosis racun yang perlahan ditingkatkan o

  • Sentuh Aku, Renshu!   48. Kedok kematian

    Ketegangan seketika mengambil alih ruangan. Liying menatap Meilin.​"Berapa lama aku punya waktu?" tanya Liying.​"Hanya tiga menit sebelum mereka memaksa mendobrak masuk," jawab Meilin tergesa-gesa. Tabib itu langsung menyingkirkan cawan-cawan racun ke kolong meja tersembunyi, lalu mengeluarkan se

  • Sentuh Aku, Renshu!   46. Memutus Rantai Sang Pengendali

    Mendengar nama Bojing disebut, wajah Selir Lan berubah seputih kertas. Bibirnya bergetar tanpa bisa mengeluarkan suara.​Liying tersenyum miring. Senyum yang penuh dengan racun kebencian. "Kau pikir aku buta, Ibu? Kau pikir aku tidak tahu mengapa kau selalu mengunci pintu kamarku setiap kali Putra M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status