LOGIN“Apa?”
“Iya! Om ajarin aku gimana berhubungan intim yang baik itu! Jadi, aku bisa bilang ke Satrio biar dia bisa baik-baik juga!”
“Tunggu-tunggu,” Jefri menggelengkan kepala, “Daripada kamu berusaha nyadarin dia, mending kamu putusin dia aja,”
“Nggak bisa, om!” Rara berteriak frustasi, “Aku udah coba selama dua tahun ini, tapi tiap kali minta, Satrio pasti bakal lebih gila lagi! Aku udah nggak sanggup hadapinnya lagi!”
Rara meremas pergelangan tangan Jefri erat-erat, “Jadi om bantuin aku, ya? Jelasin ke aku semuanya langsung biar aku bisa ajarin Satrio juga!”
“Kamu mabuk, Ra,” Jefri mengibaskan tangannya yang digenggam Rara kemudian beranjak berdiri sambil mengeluarkan ponselnya.
“Saya telepon Hani,”
“Om! Please, om!”
Rara ikut berdiri dan mengekori langkah Jefri yang terburu-buru, “Aku cuma minta ini doang, om. Setelah itu, aku bakal menghilang dari hidup om beneran, deh! Aku sembunyiin semuanya jadi nama om tetep baik terus kalau ketahuan aku siap tanggung–”
DUK! Kepala Rara terantuk kencang pintu bar yang ditutup Jefri. Rara meringis sambil menyentuh jidatnya yang nyeri. Kepalanya semakin bertambah pening sehingga Rara segera berjongkok di depan pintu.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Rara mengambil ponselnya dari tas tangannya dan melihat layar ponselnya yang menunjukkan notifikasi pesan.
Air matanya seketika jatuh ketika menyadari pesan tersebut dari Satrio yang berbunyi: “Kamar 301 Hotel Amerson. Aku udah di dalem.”
***
“Kemarin kenapa kamu nggak ada di bar Hotel, Ra? Padahal ayah bilang kamu di situ,”
Rara tersenyum tipis mendengar pertanyaan Hani. Mereka baru saja menyelesaikan mengerjakan skripsi bersama di perpustakaan dan sekarang sedang duduk di kantin untuk makan siang.
“Habis om Jefri pergi, aku ke kamar mandi, Han. Muntah-muntah, kebanyakan minum!” sangkal Rara. Padahal sebenarnya, ia menghabiskan malam bersama karena Satrio “meminta”nya.
Hani menatap Rara lamat-lamat yang berusaha tidak ia pedulikan. Meski begitu, jantungnya berdegup cemas ketika menyadari kemungkinan kalau Hani sudah mengetahui masalahnya.
“Semalem ada yang booking kamar atas nama Satrio di hotel Amerson,”
Rara seketika menegang. Ia meremas celana jeansnya.
“Ra, gak usah disembunyiin lagi,” Hani menepuk bahunya dan kembali berkata dengan suara serak, “Udah berapa lama kamu nanggung masalah Satrio ini, Ra?”
Mata Rara seketika berkaca-kaca mendengar ucapan Hani. Perasaan sesak memenuhi dadanya. Setelah menarik napas sejenak, Rara akhirnya berkata dengan lirih, “Aku mau putus, Han. Tapi, aku takut ..”
“Kan ada aku, Ra,” Hani meremas bahu Rara. Tanpa melirik pun, Rara tahu mata Hani juga sudah berkaca-kaca sekarang.
“Kamu nggak lupa, kan, aku bakal selalu bantu kamu?”
Rara menggeleng-geleng. Ia mulai terisak. Sejak dulu, Hani memang selalu jadi pelindung nomor satunya. Ia tak akan lupa saat Hani berani melawan ayah Rara ketika pria itu memukuli Rara ketika sahabatnya datang bermain. Padahal, mereka saat itu masih sama-sama kecil, tapi Hani tidak gentar di hadapan ayahnya.
Bahkan, ia tidak lupa menyelipkan ancaman ke ayah Rara kalau ia akan mengadukan perbuatannya ke om Jefri dan meminta ayahnya itu untuk menyebarluaskannya apabila sang pria tidak menghentikan perbuatannya.
Ancaman itu terbukti ampuh karena setelahnya, ayah Rara tidak lagi menyiksanya secara fisik.
“Kamu panggil aku aja kalau mau putusin dia. Nggak usah segan! Pokoknya, kapan pun itu, aku pasti bakal nemenin, oke?”
Rara mengangguk-angguk dengan perasaan haru. “Rencanaku weekend nanti, Han, karena dia minta begituan lagi,” ucap Rara sambil mengusap air matanya.
“Sebelum weekend ini nggak lagi?”
Rara menggeleng, “Semalem dia bilang lagi sibuk organisasi, jadi cuma bisa weekend,”
“Organisasi bukannya sibuk ampe weekend, ya?” cemooh Hani, “Amit-amit dah tuh cowok!”
Rara tertawa. Hani memang paling bisa kalau merendahkan lawannya!
Mereka menghabiskan makan siang sambil bercakap-cakap penuh ejekan tentang Satrio. Sesekali, mereka membayangkan reaksi Satrio ketika menjalankan rencana mereka nanti yang membuat Rara tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat pikirannya yang dari semalam kalut mulai tersisihkan.
Usai makan siang, mereka berpisah. Rara menuju tempat parkir, sementara Hani pergi menuju dosen pembimbingnya untuk konsul skripsi.
“Ra!”
Rara menoleh ke sumber suara. Baru saja ia mau masuk ke tempat parkir. Raut wajahnya pucat seketika ketika melihat Satrio melambai-lambaikan tangan di seberangnya.
Rara buru-buru masuk tapi terlambat karena Satrio sudah mencekal tangannya.
“Kamu ngapain di sini?!” seru Rara masih sambil menjaga nada suaranya. Ia tidak ingin membuat kehebohan, jaga-jaga agar Satrio tidak menjadikan hal itu sebagai hukuman untuknya.
“Lagi kosong aku nih. Ayo, yuk,” ajak Satrio dengan cengiran lebar.
Rara bergidik. Tubuhnya gemetar ketakutan.
“Bukannya kamu sibuk organisasi?!”
“Iya. Main bentar bisalah,”
“Nggak!” Rara mengibaskan tangan Satrio, “Sana pergi!”
Wajah Satrio seketika menggelap. “Kamu sekarang jadi banyak bantah, ya?” Geram pria itu.
“Ini karena kamu makin gila!”
PLAK!
Rara menggigit bibirnya ketika merasakan panas di pipinya. Lagi-lagi seperti ini! Tiap Rara menolak, pria itu akan menyakitinya!
“Udah aku bilang, kan, kalau aku mau ya harus dilaksanain!” Satrio membungkukkan badannya dan menjambak rambut Hani, “Kamu diiyain sekali kemarin langsung ngelunjak, ya?!”
“Mana ada aku iyain?! Kan kamu malemnya ngajak lagi!”
Satrio menggeram. Ia mengangkat tangannya tinggi dan meluncurkannya ke wajah Rara. Rara memejamkan mata erat.
TIIIN!
Gerakan Satrio seketika terhenti. Ia melirik ke belakang dan melihat mobil hitam mewah ada di belakangnya.
“Sialan!”
Satrio buru-buru berlari pergi, meninggalkan Rara yang masih memegangi pipinya. Gadis itu menoleh ke depan, melihat mobil yang terasa familiar baginya.
Kaca mobil perlahan turun dan menampilkan sosok Jefri dengan sorot mata tajam. Rara tersentak.
“Om–”
“Masuk ke mobil,” titah Jefri sebelum menutup kembali kaca mobilnya.
“Hani!” Hani yang daritadi melamun di atas kasur, menoleh ke arah pintu. Matanya melebar melihat Rara berlari ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. Sebelum ia sempat bereaksi, Rara sudah menubruknya cepat. Memeluknya erat-erat hingga Hani merasa sedikit sesak. Ia meringis. “Ra, pelukanmu terlalu kencang–” “Aku benar-benar khawatir!” potong Rara. Ia melonggarkan pelukannya. Matanya sudah bersimbah air mata. “Tuan Merphilus tiba-tiba saja datang dan bilang Michael hampir memperkosamu! Bagaimana bisa aku tidak cemas?!” seru Rara dengan suara serak. Hani menelan ludah. Ia memang sudah menduga Merphilus melakukannya. Meski ia tidak melihat ketika pria itu pergi ke aula karena sudah lebih dulu ke kamar ini bersama staf hotel. “Untung saja Tuan Merphilus sudah membuat bajingan itu babak belur sebelumnya! Kalau tidak, aku akan—” “Tunggu, kamu bilang apa tadi?” Hani mengernyitkan alisnya, “Michael babak belur? Benarkah? Dan bagaimana kamu bisa tahu?” Rara menghela napas pelan.
“Hani masih belum kembali?”Leo menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jefri. Hal itu membuat wajah Jefri seketika mengerut.“Ini sudah hampir 20 menit. Apa dia kabur lagi?” sungutnya. “Saya tidak yakin soal itu,” balas Leo. Kalau Merphilus ada di sini, ada kemungkinan Hani memang kabur. Mengingat selama ini kaburnya Hani ada sangkut pautnya dengan pria itu. Tapi, Merphilus tidak ada di sini sekarang. Leo juga sangsi pria itu akan muncul mengingat ini adalah acara keluarga Nickelson. Dengan kata lain, Hani mungkin hanya tengah berkeliaran atau mampir di bar lantai atas. ‘Atau pria itu memang tiba-tiba datang dan membawa Hani?’ duga Leo dalam hati yang buru-buru ditepisnya.Dia sudah bertekad untuk tidak memedulikan mereka lagi. Rahasia hubungannya sudah digenggam Merphilus sehingga ia harus berhati-hati agar tidak menyinggung pria itu lagi.Karena jika Leo melakukannya, hubungannya dengan Grace bisa terancam bubar. Ia tidak menginginkannya.“Mungkin ada sesuatu terjadi?” tebak Rara
“Aku tidak menyangka paman di sini juga,” Hani beranjak mendekat. Berdiri di sebelah Michael. “Jenuh dengan pesta juga?” kekehnya.Michael tertawa. Ia menyelipkan sebatang rokok ke mulutnya lalu menyalakannya menggunakan api dari pemantik. Pria itu menghisapnya sejenak sebelum menghembuskannya.“Yah, begitulah. Sepertinya paman sudah terlalu tua untuk mengikuti acara seperti ini,” keluh MIchael membuat Hani tertawa. Ia kemudian menoleh ke perempuan di sebelahnya.“Kamu sendiri kenapa keluar? Anak seumuranmu harusnya sedang senang menghadiri pesta seperti ini,” tanya Michael membalikkan pertanyaan Hani.“Tidak juga. Om dapat ide itu darimana?”Michael hanya mengendikkan bahunya ringan. Memasang wajah ‘bukankah memang begitu?’ yang membuat Hani mendengus.Ia bersandar dan menghela napas panjang. “Aku cuma lelah saja dan ingin mencari udara segar,” ucapnya beralasan.Hani tidak mungkin bilang alasan utamanya karen
Hani tersenyum kecil mendengar sapaan Michael. Ia mengangguk.“Iya, paman. Mungkin setahun yang lalu kita terakhir bertemu,” balas Hani sambil mengingat-ingat, “Bagaimana kabar tante dan anak paman? Mereka tidak datang?”Michael menggeleng, “Mereka berdua sedang ada urusan, jadi tidak bisa datang.”Hani mengangguk-angguk. Sementara Michael memerhatikan Hani dari atas sampai bawah. Sorot matanya terlihat lebih menyala. “Kamu cantik sekali malam ini, Hani. Om tidak menyangka gadis yang dulu urakan sudah semenawan ini,” ucap Michael sambil terkekeh.Alexander mendengus, “Apa gunanya penampilannya kalau tidak mampu membuatnya mendapatkan pasangan?”Tiara menyenggol cepat Alexander saat Jefri kembali mendelik. Sorot matanya was-was, seolah memberikan peringatan agar Alexander diam. Pria tua itu berdecak pelan. Hani tersenyum penuh kemenangan melihatnya. Pengaruh Jefri masih sangat kuat di keluarga ini. Bahkan meski mereka t
Hari berlalu dengan cepat. Hingga akhirnya, tibalah hari pesta keluarga Nickelson diadakan.Hani sudah duduk di mobil menuju hotel tempat pesta diadakan. Ia mengenakan gaun berwarna merah muda-putih tanpa lengan, yang panjangnya hanya mencapai mata kaki dengan bagian selangkanya ditutupi kain transparan. Memperlihatkan kulit putih mulusnya. Berbeda dengan biasanya, ia kali ini tidak mengeritingkan rambutnya. Tapi, mengepangnya dan menyampirkannya ke pundak. Perempuan itu terlihat sangat cantik. Rara bahkan memujinya berkali-kali tadi.“Jadi, apakah kamu mengajak Tuan Merphilus ke pesta ini?” celetuk Jefri tiba-tiba.Hani yang sedang minum, seketika tersedak. Ia terbatuk-batuk dan Rara buru-buru memberikan sapu tangan untuk mengelap air yang tumpah ke gaunnya. Wanita itu menyikut pelan Jefri yang hanya memasang gestur wajah tak berdosa.Hani menerimanya dan menatap Jefri kesal. “Kenapa tiba-tiba ungkit itu?” sungut Hani. Jefri menaikkan bahunya ringan. “Ayah hanya penasaran. Siapa ta
Perkataan Merphilus itu terus terngiang di kepala Hani sampai besok paginya. Ia bahkan masih mengingatnya saat sedang diinterogasi Jefri dan Rara sekarang.Semalam Hani tak bertemu mereka ketika pulang karena keduanya sudah tidur. Tapi, pagi ini mereka langsung menyeret Hani ke meja makan dan memaksanya duduk berhadapan dengan mereka.Hani merasa seperti tahanan di meja pengadilan. Apalagi pasutri itu sama-sama memberikan tatapan tajam padanya.“Jadi, teman ekskulmu yang datang kemarin, tiba-tiba mengabari ingin balik semalam makanya kamu pergi dari pesta untuk menemuinya?” ucap Jefri yang segera diangguki Hani.Ya, tadi ia menggunakan alasan teman ekskulnya itu lagi. Dalam hati, Hani meminta
Rara memejamkan matanya ketika bibir Jefri kembali menempel. Sama seperti sebelumnya, lidah Jefri kembali menyapu bibir Rara, meminta perizinan untuk masuk ke dalamnya. Rara membuka mulutnya ragu-ragu. Lidah Jefri seketika masuk ke dalam. Ia menyapu seisi mulut Rara, mulai dari langit-langitnya, d
Hembusan napas hangat Jefri yang menggelitik telinga Rara membuat tubuh perempuan itu bergetar. Ada gejolak aneh yang ia rasakan di perutnya. Terasa seperti mulas tapi tidak juga. Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. “Om, jangan aneh-aneh,” ucap Rara pelan set
“Ra?” “Om Jefri?” Rara menggeleng dan buru-buru mengoreksi ucapannya, “Pak direktur, selamat malam,” Rara membungkukkan badan sopan yang dibalas anggukan Jefri. Meski sebelum bekerja Jefri telah mewanti-wantinya untuk bebas memanggil dia dengan sebutan apa pun kalau mereka bertemu di hotel, tapi
Rasanya semua ini salah, batin Rara ketika teringat perbuatannya bersama Jefri selama beberapa hari terakhir.Sudah hampir seminggu berlalu sejak insiden di kamar mandi. Dan selama itu pula, Rara rut







