Share

bab 28

Author: UmiPutri
last update publish date: 2026-01-13 20:27:06

Empat bulan telah berlalu sejak hari ketika koper itu ditutup dan Tuan Alex melangkah keluar dari kamar pernikahannya bersama Anisa.

Waktu berjalan, tapi tidak bagi semua orang dengan cara yang sama.

Di rumah Nyonya Ambarwati, pagi itu terasa berbeda. Udara dipenuhi aroma masakan tradisional—opor, sayur lodeh, tumpeng kuning yang menjulang rapi di tengah meja panjang. Beberapa kerabat dekat dan tetangga pilihan tampak sibuk membantu, wajah-wajah mereka cerah oleh senyum dan doa.

Hari itu adalah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 63

    Rahasia yang TerkuburMatahari belum sepenuhnya terbit ketika Naira terbangun. Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Bayangan tatapan Arka di ruang kerja terus menghantuinya. Meski suaminya mengatakan percaya, Naira tahu ada sesuatu yang mengusik pikirannya.Di meja makan, Arka sudah duduk lebih dulu. Secangkir kopi di depannya mulai mendingin."Mas, semalam tidur?" tanya Naira pelan.Arka mengangguk singkat."Cuma sebentar."Naira ingin bertanya lebih jauh, tetapi mengurungkan niatnya. Wajah Arka tampak lebih dingin dari biasanya.Tiba-tiba ponsel Arka berdering."Pak Arka, rapat dengan para pemegang saham dimajukan satu jam," suara sekretarisnya terdengar dari seberang."Aku segera berangkat."Arka berdiri sambil meraih tongkatnya.Sebelum melangkah pergi, ia menoleh kepada Naira."Kalau ada apa-apa, jangan keluar rumah sendirian."Naira mengernyit."Memangnya ada apa?"Arka hanya tersenyum tipis."Anggap saja firasat."Kalimat itu justru membuat hati Naira semakin tidak

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 63

    Selena lalu mengirimkan foto itu ke sebuah nomor tak dikenal dengan pesan singkat.'Sebarkan ke seluruh media sosial. Buat semua orang percaya bahwa istri Arka berselingkuh.'Beberapa detik kemudian, ponsel Arka bergetar.Saat layar dibuka, wajahnya langsung menegang.Foto Naira dan Riko memenuhi layar, disertai tulisan yang membuat darahnya mendidih."Baru sehari menikah, istri Direktur Utama sudah bermain hati dengan pria lain."Arka menatap keluar jendela.Di kejauhan, Naira masih berbicara dengan Riko tanpa mengetahui badai besar sedang mengintainya.Sementara itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang perusahaan.Seorang pria tua turun dengan wajah penuh amarah."Aku tidak akan membiarkan putriku menghancurkan nama keluarga hanya karena menikah dengan pria cacat!"Langkahnya semakin cepat menuju lobi perusahaan.Tak seorang pun menyadari bahwa dalam hitungan menit, rahasia, fitnah, dan amarah akan bertabrakan dalam satu ledakan yang mengubah kehidupan mereka untuk selamany

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 62

    Sentuhan Panas Suami CacatMalam itu hujan turun begitu deras. Di bawah temaram lampu rumah sakit, Naira memandangi sosok pria yang kini resmi menjadi suaminya. Arka bukan pria sempurna. Sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu membuat kaki kirinya lumpuh dan ia harus berjalan dengan tongkat.Pernikahan itu bukan karena cinta. Naira menikah demi menyelamatkan usaha ayahnya yang hampir bangkrut, sementara Arka menerima perjodohan demi memenuhi permintaan terakhir ibunya yang sedang sakit."Aku tahu kamu tidak mencintaiku," ucap Arka pelan. "Aku hanya berharap kita bisa saling menghormati."Naira mengangguk tanpa berani menatap mata suaminya.Hari-hari pertama pernikahan dipenuhi keheningan. Arka dikenal dingin dan tegas di perusahaan, tetapi diam-diam ia selalu memastikan istrinya merasa nyaman. Ia menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja, memesan sopir untuk mengantar Naira ke mana pun, bahkan tak pernah memaksakan perasaan.Suatu hari, Naira tanpa sengaja melihat bekas luka panjang

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 62

    “Alice… tunggu dulu.”Langkah wanita itu terhenti di bawah rintik hujan sore. Ia memejamkan mata sebentar sebelum perlahan membalikkan badan. Di hadapannya, Rendra berdiri dengan napas sedikit memburu, jas mahalnya basah terkena hujan yang turun sejak tadi.“Kamu sengaja menghindariku?” tanya Rendra pelan, namun jelas terdengar kecewa.Alice menunduk. Jemarinya mencengkeram tali tas kain lusuh yang ia bawa. “Aku cuma… sibuk.”“Kamu bohong.”Suasana mendadak hening. Hanya suara hujan dan kendaraan yang sesekali melintas di jalan kota.Rendra melangkah mendekat. “Sudah dua minggu kamu berubah. Telepon jarang diangkat. Pesan dibalas seperlunya. Kalau aku salah, bilang.”Alice menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, cepat atau lambat percakapan ini akan terjadi.“Aku tidak marah sama kamu,” katanya lirih.“Lalu kenapa?”Alice mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca. “Karena aku sadar… dunia kita berbeda.”Rendra langsung menggeleng. “Kita sudah bahas ini

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 61

    Waktu berjalan pelan di rumah sederhana itu, namun membawa perubahan yang begitu besar. Wanita yang dulu ditemukan tergeletak di pinggir sungai, kini hidup sebagai bagian dari keluarga kecil Pak Joko dan Bu Hayati. Mereka memberinya nama—Anisa. Nama yang terdengar lembut, penuh harapan, seolah menjadi doa agar hidupnya kembali utuh meski masa lalunya hilang.“Mulai sekarang kamu Anisa ya, Nak,” ucap Bu Hayati suatu pagi, sambil menyisir rambut panjang wanita itu dengan penuh kasih.Wanita itu hanya mengangguk pelan. “Iya, Bu,” jawabnya lirih.Tak ada penolakan. Tak ada pertanyaan. Seolah ia menerima nama itu seperti menerima takdir barunya.Hari-hari berlalu, luka-luka di tubuh Anisa perlahan sembuh. Bekas goresan di lengannya mulai memudar, lebam di pelipisnya menghilang. Wajahnya yang dulu pucat kini mulai berwarna. Bahkan, kecantikannya semakin terlihat jelas—kulitnya halus, matanya jernih, dan ada aura tenang yang terpancar dari dirinya.Namun ada satu hal yang tak berubah—Anisa m

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 60

    Si wanita itu terbaring lemah di atas dipan bambu sejak hari pertama mereka menemukannya. Pak Joko dan Bu Hayati merawatnya dengan penuh kehati-hatian, seolah merawat keluarga sendiri. Setiap beberapa jam, Bu Hayati mengganti kompres di dahi wanita itu, membersihkan lukanya dengan air hangat dan ramuan sederhana dari daun-daunan yang ia kenal sejak kecil. Bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma tanah basah dari luar rumah, menenangkan sekaligus menambah harap.Sudah hampir dua hari berlalu. Namun wanita itu belum juga siuman sepenuhnya. Sesekali tubuhnya bergerak, alisnya berkerut, bibirnya bergetar seperti ingin berkata sesuatu, lalu kembali diam. Napasnya naik turun, masih berat, tapi teratur. Itu satu-satunya tanda yang membuat Pak Joko dan Bu Hayati bertahan—tanda bahwa ia masih berjuang.“Masih belum sadar juga, Pak,” kata Bu Hayati lirih sambil mengusap tangan wanita itu. “Tapi panasnya sudah turun.”Pak Joko mengangguk pelan. “Syukurlah. Berarti Tuhan masih beri jalan.”Pa

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 34

    Tangis itu akhirnya terdengar.Bukan tangis kesakitan, bukan jerit pilu, melainkan suara paling indah yang pernah singgah di telinga siapa pun di ruangan itu. Tangis bayi—nyaring, kuat, seolah menjadi penanda bahwa perjuangan panjang akhirnya berbuah keselamatan.“Alhamdulillah… bayinya laki-laki.”

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 33

    Rasa nyeri itu datang tiba-tiba, tanpa aba-aba, seperti gelombang besar yang menghantam pantai rapuh di dalam tubuh Amara. Pagi itu seharusnya berjalan biasa saja. Matahari baru naik, sinarnya lembut menembus tirai kamar. Amara baru saja selesai salat Subuh ketika perutnya terasa mengeras, lalu sak

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 32

    Kabar itu datang di saat Tuan Alex sedang menatap layar laptopnya tanpa benar-benar fokus. Sejak kecelakaan dan perubahan besar dalam hidupnya, kepekaannya justru semakin tajam. Ia bisa merasakan bila ada sesuatu yang tidak beres, bahkan sebelum fakta itu benar-benar sampai ke telinganya. Dan pagi

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 30

    Malam itu, hujan turun rintik-rintik.Lampu kota berpendar samar di balik jendela apartemen yang disewa Anisa secara diam-diam. Danu berdiri di dekat balkon, menyalakan rokok dengan tangan sedikit gemetar. Asap tipis membumbung, bercampur dengan udara dingin yang masuk dari celah pintu kaca.Anisa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status