MasukAya tidak pernah membayangkan bahwa janji "seumur hidup" akan menjadi kalimat terpanjang dan paling menyakitkan dalam hidupnya. Setelah mengorbankan kariernya demi mengurus bayi kembar, Alif dan Arif, Aya hanya berharap Tama—suaminya—akan menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Namun, harapan itu hancur saat tekanan finansial datang, diperparah oleh mertua yang menuntut dan suami yang memilih lari dari masalah dengan berselingkuh. Mampukah Aya, yang hancur dan kelelahan, melawan suaminya yang berselingkuh, mertua yang kejam, dan janji kemewahan Maharani, demi mendapatkan kehidupan baru yang tenang dan bermartabat?
Lihat lebih banyakBau mie ayam langganan yang biasanya menggugah selera, kini terasa memuakkan hingga ke ulu hati. Aya buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat, berlari kecil menuju toilet kantor. Perutnya terasa diaduk-aduk, mulas, lalu kosong lagi setelah ia mengeluarkan isi perut yang tidak seberapa. Sudah empat hari ini ia merasakan mual parah di pagi hari—sensasi yang aneh, yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Malam harinya pun sama, ia sulit tidur nyenyak karena perutnya melilit dan pikirannya melayang entah ke mana.
Aya melirik kalender kecil yang ia tempel di bilik kerjanya. Jantungnya langsung berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan. Tanggal yang seharusnya ditandai dengan lingkaran merah sudah terlewat lebih dari seminggu.
Awalnya ia berpikir mungkin hanya kelelahan biasa, karena akhir-akhir ini jam kerjanya cukup padat, ditambah intensitas hubungannya dengan Tama yang semakin meningkat. Namun, mual yang menyerang setiap pagi seperti alarm yang membunyikan lonceng bahaya.
Ia mencoba fokus pada draft pekerjaannya di layar komputer, tapi bayangan malam itu di rumahnya terus berputar dalam benaknya. Malam di mana ia menyerahkan keperawanannya pada Tama, didorong oleh cinta yang tulus dan keyakinan bahwa Tama adalah pria yang ditakdirkan untuknya. Mereka terlalu sering terbuai hasrat belakangan ini, baik di kost Aya, maupun di rumah Tama saat Ajeng dan adik-adiknya pergi. Mereka sama-sama lalai.
Saat jam istirahat tiba, Aya memilih menyingkir ke pantry kantor yang sepi. Tangannya gemetar saat ia mencari kontak Tama. Ia menggesek layar ponselnya dan menekan tombol panggil.
"Halo, Sayangku. Tumben nelpon, biasanya cuma chat," sapa Tama dengan nada riang khasnya, terdengar suara bising mesin dari balik telepon.
Aya tak mampu membalas dengan nada yang sama. Suaranya tercekat, ia harus berjuang agar kata-katanya keluar. "Ta ... Tama, aku butuh bicara. Ada yang penting banget."
"Oh? Ada apa? Kamu baik-baik saja? Suara kamu kenapa lemas begitu?" tanya Tama, kekhawatiran yang tulus mulai terdengar jelas. "Kamu sakit? Kamu sudah makan?"
Aya menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sebelum berbicara. "Aku nggak sakit, Tam. Tapi ... aku telat datang bulan. Sudah lebih dari seminggu. Dan ... mual ini, Tam. Aku mual terus. Tadi pagi aku sampai muntah di toilet kantor."
Keheningan sesaat melanda. Keheningan yang terasa memanjang dan menyesakkan bagi Aya. Ia bisa merasakan Tama sedang mencerna implikasi dari kata-katanya.
"Kamu yakin, Sayang?" Suara Tama kali ini berubah, tidak lagi riang, tapi mengandung gurat kecemasan yang tertahan. Suara bising di latar belakangnya meredup. "Kamu ... kamu sudah coba test pack?"
"Aku nggak tahu harus yakin atau nggak. Tapi semua tanda-tanda itu ada. Aku belum berani tes. Aku takut, Tam," bisik Aya, air matanya mulai menggenang. Rasa takut kini jauh lebih besar daripada rasa mualnya—takut akan kehamilan, dan yang terburuk, takut akan reaksi penolakan dari pria yang ia cintai.
"Oke, oke, tenang, Sayang. Jangan panik. Kita hadapi ini berdua, ya," kata Tama, berusaha menenangkan, meski jelas ia juga sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Pulang kerja nanti, aku jemput kamu. Jangan ke mana-mana dulu, jangan terlalu dipikirkan, itu bisa memicu mualmu lagi."
"Tapi, bagaimana kalau—"
"Sstt. Sebelum itu, tolong, Sayang, sekarang juga kamu belikan test pack." Suara Tama terdengar memerintah, namun lembut. "Kamu beli di apotek yang jauh dari kantor dan kost kamu, biar nggak ada yang curiga lihat kamu beli. Jangan buka dulu hasilnya. Kamu simpan, tunggu aku. Kita lihat bersama. Janji?"
"Sekarang?"
"Iya. Sekarang. Biar kamu nggak penasaran dan kepikiran sepanjang sore. Aku akan usahakan pulang kerja lebih cepat. Aku harus menyelesaikan sedikit urusan di kantor. Kamu janji ya, Sayang?"
Aya mengangguk lemah, meski Tama tak bisa melihatnya. "Iya, aku janji."
Telepon terputus. Aya meletakkan ponselnya di dada. Rasa takut itu besar, namun janji Tama untuk menghadapi ini berdua memberinya sedikit pegangan. Ia menyeka air matanya, menarik napas lagi, dan memaksa kakinya melangkah keluar dari pantry. Ia harus kuat, demi apa pun hasilnya nanti.
***
Sore itu, Taman menjemput Aya di depan gerbang kantor. Wajahnya terlihat tegang, gurat cemasnya tidak bisa disembunyikan. Ia memakaikan helm di kepala Aya dengan gerakan hati-hati, seolah takut menyentuh benda rapuh. Selama perjalanan, tak ada obrolan hangat seperti biasanya, hanya keheningan yang dipenuhi tanya.
"Kita langsung ke kost kamu," kata Tama tanpa basa-basi. Ia langsung tancap gas, namun mengendarai motor lebih pelan dari biasanya—seolah memberikan waktu pada mereka berdua untuk menyiapkan mental.
Sesampainya di kost Aya, udara di kamar terasa pengap. Tama langsung mendudukkan Aya di tepi ranjang. Ia mengeluarkan kotak kecil yang berisi test pack dari dalam tas Aya. Kotak itu terasa dingin dan berat di tangan Tama.
"Oke. Kamu masuk sekarang, Sayang. Jangan takut. Apa pun hasilnya, kita bicarakan baik-baik. Aku di sini," ujar Tama sambil menggenggam tangan Aya, menyalurkan kehangatan yang meyakinkan. "Kamu nggak sendirian."
Aya mengangguk, lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup, meninggalkan Tama dalam keheningan yang menyesakkan. Tama mondar-mandir di kamar sempit itu. Rasa cemas, takut, dan sedikit penyesalan bercampur aduk di dadanya. Namun, ia mencoba meredam semua itu dengan satu hal: tanggung jawab. Ia harus menjadi pria.
Lima menit terasa seperti satu jam.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Aya keluar. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca, dan tangannya memegang erat alat tes kecil itu seolah memegang bom waktu yang siap meledak.
Tama segera menghampirinya. "Bagaimana?" tanyanya, suaranya tercekat.
Aya tidak menjawab. Ia tidak sanggup. Ia hanya menyodorkan alat tes itu tanpa berani menatapnya.
Tama mengambilnya, pandangannya langsung terpaku pada jendela kecil hasil tes.
Dua garis merah. Jelas. Tidak samar. Tidak terbantahkan.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini jauh lebih lama dan lebih berat daripada keheningan di telepon. Keheningan yang dipenuhi realitas yang baru saja menghantam mereka.
Tama menjatuhkan alat tes itu ke ranjang. Ia menarik Aya, memeluknya erat-erat, sangat erat, seolah mencoba menahan gempa emosi di dalam dirinya.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Tama berulang kali di telinga Aya. "Maafkan aku. Maafkan ...."
Aya yang tadinya hanya terdiam, kini mulai terisak di bahu Tama. "Aku takut, Tam. Orang tuaku ... keluargaku ... Mereka pasti marah dan kecewa besar."
Tama melepaskan pelukan. Ia menangkup wajah Aya. "Dengarkan aku, Aya. Ini adalah anakku. Aku bertanggung jawab penuh. Kita akan menikah. Secepatnya." Keputusan itu diucapkan dengan tegas dan tanpa keraguan, memberikan pijakan kuat bagi Aya. "Tapi sebelum menghadap orang tuamu, kita butuh bukti lebih kuat. Besok kita ke klinik. Aku butuh surat keterangan hamil dan hasil USG untuk ditunjukkan pada mereka. Ini akan membuktikan keseriusanku."
Perasaan diratukan yang dirasakan Aya di samping Eros tidak datang dari perhiasan berlian atau perlakuan istimewa di depan umum; itu berasal dari kelembutan, pengakuan, dan rasa hormat yang diberikan Eros secara konsisten dalam detail-detail paling intim dari kehidupan sehari-hari mereka. Bagi Aya, Eros tidak hanya menjadi suami; ia menjadi cermin yang memantulkan kembali citra dirinya yang utuh dan berharga, citra yang telah dihancurkan oleh hubungan masa lalunya yang penuh tuntutan dan kritik.Di mata Eros, Aya Kalyana bukan hanya ibu dari anak-anaknya atau pembuat kue yang berbakat; ia adalah partner yang setara, seorang wanita yang memiliki keberanian dan integritas moral yang ia kagumi. Penghargaan ini terlihat jelas dalam dukungan total Eros terhadap Waktu Rasa, yang kini sedang dalam fase ekspansi besar-besaran.Eros adalah seorang CEO yang menghargai passion dan etos kerja. Ia melihat keringat Aya di dapur produksi sebagai simbol dedikasi, bukan sebagai pekerjaan remeh yang ha
Pagi hari di rumah Aya dan Eros adalah sebuah simfoni yang lembut, jauh dari hiruk pikuk kota. Meskipun mereka tinggal di jantung Jakarta, rumah itu terasa seperti oase pribadi, sebuah benteng kedamaian yang dibangun atas dasar cinta dan integritas. Itu adalah jam-jam yang sakral, dipenuhi aroma kopi, wangi roti panggang, dan yang paling utama, suara tawa riang Alif dan Arif yang kini berusia hampir empat tahun dan sudah mulai memasuki program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Bagi Aya, rutinitas pagi ini adalah kristalisasi dari semua mimpi yang ia kira tidak akan pernah ia raih—sebuah pagi yang diisi oleh kedamaian mutlak dan kepastian yang tak tergoyahkan.Aya terbangun bukan karena alarm panik atau rasa cemas yang menusuk, tetapi karena sentuhan lembut di punggungnya dan aroma khas kopi hitam yang diseduh oleh Eros. Ia membuka mata dan menemukan suaminya sudah mengenakan setelan kantor yang rapi, namun masih berlutut di samping ranjang, menatapnya dengan mata hangat dan penuh perh
Kegelisahan yang ditanamkan oleh kabar pernikahan Eros Parameswara—figur CEO sempurna yang menjadi obsesi dan standar kegagalan bagi Tama—tidak segera mereda, malah tumbuh subur di tengah tekanan kerja yang semakin brutal. Tama berusaha keras untuk mengabaikan pikiran tentang Eros, memfokuskan seluruh energinya yang tersisa untuk menyenangkan Maharani dan mengendalikan kekacauan operasional di Gema Nusantara Logistik. Ia menghabiskan hari-harinya di antara tumpukan invoice yang tak terbayar dan kemarahan supplier, berharap kelelahan fisik akan menenggelamkan rasa cemburu dan penyesalannya yang tak berujung. Ia berpegangan pada ilusi bahwa ia telah membuat keputusan yang benar dengan meninggalkan Vantara Group dan segala idealismenya.Namun, takdir memiliki cara yang sinis dan kejam untuk menyeretnya kembali ke masa lalu yang ia coba kubur dalam-dalam, memastikan bahwa setiap pilihan buruknya akan dibayar tunai.Suatu sore yang pengap, setelah rapat panjang yang diwarnai teriakan dari
Kelelahan fisik yang menggerogoti Tama setelah jam kerja yang tak manusiawi di Gema Nusantara Logistik tidak sebanding dengan kelelahan mental yang ia alami. Setiap serat otaknya terasa ditarik tegang. Pikiran Tama selalu dipenuhi oleh bayang-bayang Vantara Group dan figur Eros, sebuah obsesi yang semakin diperparah oleh pertengkaran finansialnya yang konstan dengan Maharani. Tama telah kehilangan pijakan moral dan profesionalnya, dan kini, setiap berita dari masa lalunya terasa seperti pukulan keras yang mengarah langsung ke harga dirinya yang rapuh. Ia berjalan di atas tali tipis antara ambisi yang berlebihan dan kenyataan yang menyedihkan, merasakan setiap langkahnya semakin dekat dengan jurang kegilaan.Peristiwa yang mengubah gelisah menjadi amarah dan kecemburuan yang mendidih terjadi saat makan siang yang cepat dan sepi. Tama mencoba menikmati makanannya yang sederhana—sebuah kontras pahit dari restoran mewah tempat ia dulu sering bertemu klien Vantara, di mana ia makan sup sot
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan