LOGINDemi membiayai perawatan neneknya, Ruenna terpaksa berpura-pura menjadi Fiorella, menantu palsu di keluarga konglomerat Oleander. Namun, sebuah kecerobohan saat live streaming mengubah hidup Ruenna. Siaran langsungnya sebagai vlogger masak pemula mendadak viral karena tak sengaja memunculkan Jerry Deluca, aktor papan atas. Insiden itu pun menjebak Ruenna dalam kontrak kencan satu bulan bersama Jerry. Kini di bawah satu atap, sang suami palsu mendadak berpura-pura baik demi rencana tersembunyi, menuntut Ruenna melahirkan ahli waris Oleander. Sementara Jerry, mulai menginginkan Ruenna setelah permainan panas yang mereka lalui bersama. Di antara pernikahan palsu yang manipulatif dan dapur yang menyimpan gairah rahasia, siapakah yang akhirnya akan menjinakkan Ruenna?
View More“Ini makanan sisa untukmu, cepat habiskan!”
Marcel melirik piring-piring yang berisi ceceran nasi yang tidak utuh, tulang-belulang ayam yang masih melekat dagingnya sedikit, dan juga sayur sop yang tinggal kuahnya saja.“Makan di lantai, seperti biasa.”Marcel menunduk dan menatap istrinya, Shirley.“Kamu tega suruh aku menghabiskan makanan sisa dari saudara-saudaramu?” tanya Marcel dengan nada protes, sementara wajahnya mengernyit enggan ke arah piring-piring itu.“Memangnya kenapa?” balas Shirley dengan alis terangkat sebelah. “Kemarin-kemarin juga begitu kan? Makan saja, daripada kamu mati—itu akan lebih merepotkan dibandingkan ayah ibu kamu yang lari tanpa tanggung jawab.”Marcel mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia melawan, tapi tidak bisa. Karena orang tuanya yang gagal dalam penelitian, Marcel terjebak dalam ikatan pernikahan dengan Shirley harus menebus seluruh kerugian yang diderita keluarga Delvino dengan mengabdikan seluruh hidupnya.“Aku tidak mau makan hidangan sisa kakak-kakakmu,” kata Marcel datar, lebih baik dia mati kelaparan daripada mati keracunan karena menyantap makanan sisa itu lagi.“Ini masih enak, dan ini makanan baru!” hardik Shirley sambil membanting salah satu piring di atas meja, membuat bunyi gebrakan yang menyakitkan telinga.Juga sekaligus menggores harga diri Marcel sebagai seorang suami.“Sisa makanan baru maksud kamu?” tanya Marcel memperjelas. “Tetap saja aku tidak akan makan.”Shirley melotot dengan mata terarah kepada Marcel.“Sejak kapan kamu boleh bantah aku?” balas Shirley. “Kamu di sini itu untuk menebus kerugian yang sudah ditimbulkan kedua orang tua kamu! Kalau bukan karena mereka, ayah ibu aku tidak akan kehilangan banyak uang gara-gara penelitian bodoh kalian!”Marcel hanya bisa diam karena memang dia sudah dijadikan penebus kesalahan yang dilakukan orang tuanya. Dia ia dilarang melawan apa pun yang menjadi kehendak keluarga Delvino, termasuk anak-anak mereka yang kelakuannya tidak memiliki adab.“Kamu harus makan karena aku tidak mau kamu sakit,” tegas Shirley lagi. “Kalau kamu sakit apalagi mati, maka kami akan menderita kerugian lebih besar lagi.”Belum sempat Marcel menanggapi, beberapa orang laki-laki memasuki dapur dengan langkah-langkah cepat.“Apa ini?”“Kenapa meja makan masih berantakan?”Shirley menoleh ke arah keempat kakak laki-lakinya.“Oh, ternyata si bodoh itu belum makan juga dari tadi ....”“Tunggu dulu, Kak!” cegah Shirley ketika salah satu kakaknya, Ronnie, akan melempar Marcel dengan segayung kuah sop yang penuh lemak. “Aku sedang berusaha membujuknya!”Marcel berdiri membeku ketika Ronnie dan adik-adiknya yang lain maju mendekati titik di mana dirinya berada bersama Shirley.“Makan ini!” perintah Ronnie tegas tanpa bisa dibantah.“Aku tidak mau,” geleng Marcel lirih.“Berani kamu menolak?” tanya Ronnie dengan seringai bengis. “Kami tidak mau kalau kamu sampai sakit! Jadi cepat makan, setelah itu kerja!”Marcel tetap berdiri bergeming.“Kamu itu sudah miskin, ditinggal orang tua, masih bisa-bisanya sombong dan tidak tahu diri!” sembur kakak Shirley yang lain, Ciko. “Ingat kalau kamu harus membayar semua kerugian yang ditimbulkan ayah ibu kamu!”Marcel merasakan telinganya memanas, tapi dia tidak memiliki daya untuk melawan sikap semena-mena saudara iparnya.“Sudah, pegangi saja dia!” suruh Ronnie sambil menoleh ke arah adik-adiknya.“Kak, jangan dikeroyok!” cegah Shirley dengan wajah tegang.“Kamu ngapain bela suami kamu ini? Mulai jatuh hati sama dia, ya?” ejek Ciko yang lebih dulu maju untuk membelenggu Marcel.“Mau apa kalian?” tanya Marcel saat keempat kakak laki-laki Shirley mendekat padanya.“Kan sudah aku bilang tadi, kamu makan saja!” sergah Shirley. Bukan dia mengkhawatirkan kondisi suaminya kalau sampai dikeroyok, tapi lebih kepada risiko yang akan didapatkan mereka semua kalau Marcel sampai kenapa-napa.“Kalian keterlaluan ...!” Marcel belum selesai berucap, tapi Ronnie sudah keburu menempeleng kepalanya dengan keras. “Ciko, ambil sisa nasi di piring itu! Yang lain pegangi dia!” perintah Ronnie.Suasana di dapur milik keluarga Delvino seketika berubah riuh, apalagi ketika Marcel yang berontak dan sukses diredam oleh cengkeraman kakak-kakak iparnya.Ronnie yang merupakan anak tertua segera menyodorkan sesendok nasi ke dekat bibir Marcel yang terkatup rapat.“Makan!” gertak Ronnie dengan nada perintah yang mengintimidasi.“Aku tidak mau, aku tidak lapar!” sahut Marcel menolak.“Ini makanan banyak yang sisa lho, kamu jangan menyia-nyiakan rejeki!” cemooh Ciko sambil mencengkeram rahang Marvel dan memaksanya untuk membuka mulut.“Kak, hentikan itu!” cegah Shirley berulang-ulang. “Aku masih bisa memaksanya dengan caraku sendiri seperti biasanya! Kalau dia lapar, dia pasti akan makan mau tidak mau!”“Ck, berisi kamu!” Ronnie berdecak kepada adik bungsunya. “Kasih dia duduk di kursi.”Ciko dan dua orang lainnya segera menyeret Marcel dan mendudukkannya dengan paksa di salah satu kursi yang ada.Ronnie langsung membanting piring hingga beberapa nasinya terpercik ke permukaan meja. Kali ini tanpa menggunakan sendok, dia berniat memaksa Marvel untuk memakan habis semua sisa hidangan yang tadi disantap keluarganya.“Makan!” Ronnie dengan tega meraup sekepal nasi menggunakan tangannya dan menjejalkan nasi itu ke mulut Marcel yang dipaksa untuk terbuka.“Telan!” suruh Ciko sambil mencengkeram rahang Marcel semakin erat.“Kak, sudah! Nanti dia bisa mati tersedak!” cicit Shirley yang tidak sampai hati melihat suaminya dikerjai kakak-kakaknya sedemikian rupa.“Jangan ikut campur kamu!” gertak Ronnie. “Dia harus dikasih makan, biar ada tenaga untuk kerja!”“Tapi ... ayah sama ibu juga tidak akan setuju dengan perbuatan kalian!” seru Shirley gusar.Marcel harus susah payah menahan napas sementara rongga dadanya mulai terasa sesak.Kalaupun harus mati, dia rela mati sekarang daripada harus menebus utang-utang yang ditinggalkan orang tuanya dengan cara seperti ini.Setelah memastikan Marcel tak berdaya, Ronnie menyodorkan tulang belulang ayam yang masih menempel sedikit dagingnya dan meraupkannya ke mulut adik ipar.“Kak, sudah!” seru Shirley sambil mengentakkan kakinya, sementara Ronnie dan yang lain tertawa menyaksikan Marcel kesulitan menelan semua makanan sisa itu.Di tengah kekacauan itu, Shirley hanya bisa berdiri pasrah karena tidak mampu menghentikan kegilaan kakak-kakaknya.Setelah puas menyiksa Marcel, Ronnie segera meminta adik-adiknya yang lain untuk meninggalkan dapur.“Lain kali suruh suami kamu jangan bertingkah lagi,” kata Ronnie dengan wajah puas.“Minta dia untuk tahu diri sedikit, makan tidur masih numpang saja banyak gaya!” Ciko menimpali.Shirley memajukan bibirnya tapi tidak berkata apa-apa ketika satu per satu kakaknya pergi meninggalkan dapur.“Apa aku bilang?” cecar Shirley ketika Marcel merangkak terbungkuk-bungkuk sambil menahan perasaan ingin muntah. “Makanya kalau disuruh makan itu makan, bandel amat kalau dikasih tahu!”Tanpa belas kasihan dan rasa hormat sedikitpun terhadap suaminya, Shirley memercikkan sisa air teh ke punggung Marcel. Setelah itu dia pergi meninggalkan dapur yang kondisinya sudah tidak keruan.Marcel merasakan perutnya bergolak, piring-piring yang berserakan di atas meja menjadi saksi bisu saat dia muntah di tempat sampah yang terbuka.Bersambung—Suasana ballroom hotel berbintang itu heboh oleh gelak tawa dan tepuk tangan meriah dari ratusan kru serta para pemeran. Di layar LED raksasa yang membentang di panggung, pemutaran rekaman bloopers selama berbulan-bulan masa syuting tengah berlangsung. Momen-momen kekonyolan di balik layar, adegan salah ucap, hingga aksi jahil antar kru mencairkan seluruh kelelahan setelah tahap pengambilan gambar utama resmi dinyatakan usai. Beberapa saat sebelumnya, sesi pidato ucapan terima kasih dari sutradara dan produser eksekutif telah ditutup dengan pembagian cenderamata eksklusif edisi terbatas untuk mengapresiasi kerja keras seluruh tim. Denting gelas, garpu piring porselen, dan aroma hidangan mewah melengkapi riuhnya pesta penutupan siang itu. Saat perhatian semua orang masih teralih pada tayangan video kekonyolan di layar besar, Jerry sebagai pemaran utama, secara perlahan berbalik dan melangkah keluar tanpa menunggu seluruh rangkaian acara usai. Pria itu menyandarkan punggungnya
Di restoran yang sama, ruangan yang sama, Ariana melangkah masuk bersama kedua buah hatinya. Bee dan Boo yang melihat sosok sang ayah langsung membelalakkan mata berbinar. "Papa!" seru keduanya serempak. Kedua balita cerdas itu berlari kecil menghampiri Nicholas dan saling berebut demi menjadi yang pertama diangkat ke dalam dekapan. Nicholas dengan mudah merengkuh tubuh Bee dan Boo sekaligus. Ariana yang menyaksikan pemandangan itu menghela napas panjang. "Tidak hanya menyabotase CCTV rumahku," ucap Ariana tanpa basa-basi, "kau juga menyabotase pengasuh anakku?" "Aku melakukannya demi menjaga hubungan baik denganmu," jawab Nicholas santai, sesantai ia mengayun-ayunkan kedua balitanya. Membuat Bee dan Boo berseru senang dalam ayunan lengan ayahnya. "Hubungan baik apa?!" protes Ariana. "Aku tidak mengganggumu, kan?" balas Nicholas datar. "Justru itu!" Ariana berusaha menahan volume suaranya. "Harusnya kau mengatakannya padaku baik-baik kalau kau ingin bertemu mereka." N
Bee sudah tertidur lelap di pangkuan Ariana, napas kecilnya berhembus teratur. Di sisi lain meja, Boo pun tidur nyaman di pangkuan Nicholas yang menopangnya dengan sebelah lengan. Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar mengenai masalah ENKA, Nicholas menatap Ariana lekat. "Kau yakin aku pasti akan menuruti permintaanmu?" tanya Nicholas pelan agar tak membangunkan anak-anak. "Tidak," jawab Ariana singkat. Nicholas diam sejenak, menatap Ariana yang tak memohon padanya. Ia lalu melirik jam tangannya. "Sudah larut, kedua anakku harus tidur dengan nyaman di kamarnya," ucap Nicholas. Pria itu berdiri merengkuh Boo ke dekapannya tanpa membuat balita itu terbangun, lalu melangkah ke luar. Ariana bergegas membopong Bee dan mengekor di belakangnya. Di luar, asisten pribadi Nicholas sudah siap menunggu. Nicholas menoleh sedikit ke arah Ariana. "Berikan kunci mobilmu padanya. Aku akan mengantar kalian." Ariana mengernyit, "Tidak perlu repot-repot. Bee dan Boo bisa la
Ruenna mengerjapkan matanya berkali-kali. Di sekelilingnya tertutup tirai. Aku di IGD rumah sakit? Tatapan Ruenna bergeser hingga menemukan Ariana berdiri bersedekap dengan wajah meneliti."Kamu sudah sadar?" tanya wanita itu. Ruenna memegangi belakang lehernya yang masih terasa berdenyut nyeri. "Berhentilah mengganggu saya," lanjut Ariana. "Sudah saya bilang, kamu salah orang."Ruenna mencoba bangkit duduk, "Kalau saya salah orang, tidak mungkin ada pengawal yang mendadak muncul dan membuat saya terdampar di IGD seperti ini. Maaf... saya pasti sudah membuat keributan besar di kampus Anda."Ariana memutar bolamata. "Sangat heboh, Nona.""Maafkan saya," Ruenna meringis pelan. "Saya memang tidak punya rencana. Saya cuma punya keyakinan kalau Anda pasti mau membantu saya."Ariana mengurut pangkal hidungnya, benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis di hadapannya ini. 'Generasi muda zaman sekarang benar-benar ajaib,' batinnya heran. Minta bantuan mantan istri untuk mendap
"Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol
Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda
Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A
Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore