MasukDi ruang kelas yang ramai.
Felly sudah mengetap kursi di sampingnya, berada di pojok ruangan sementara Gista belum juga datang.
"Katanya dosennya killer, tapi masih saja terlambat." Gumam Felly sembari menatap nanar pada kursi di sampingnya.
Dap dap dap.
Bunyi pantofel mengetuk lorong kampus yang sedikit sepi di pagi itu. Seluruh mahasiswa di dalam kelas menghentikan obrolan mereka, membuat suasana kian hening.
Felly jadi penasaran, se-killer apa dosen satu ini sampai-sampai kelasnya yang dikenal begitu berisik memilih untuk diam tanpa kata sedikitpun.
Pintu terbuka, pandangan Felly tertuju pada pintu itu, membuatnya harus bertatapan dengan mata tajam yang mengerikan.
"D-dia, bukannya laki-laki malam itu?"
Wajah Felly memucat, matanya melotot dan menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Dosen bernama Marvin Lee itu, adalah pria yang sama yang harusnya Felly puaskan malam itu!
Wajah tampan itu begitu sulit lepas dari kepalanya, sampai-sampai dengan mudahnya ia bisa mengenali wajah itu hanya dalam sekali lihat meski kejadian malam itu sudah seminggu berlalu.
Samar, ia bisa melihat senyum miring tercetak tipis di bibir pria itu.
"Awww!" Suara cempreng Gista membuyarkan segala pikiran yang ada di kepala Felly.
Felly menatap Gista yang tersungkur karena menabrak dosen itu tanpa tedeng aling-aling.
"P-pak Marvin, maaf, Pak," ucap Gista sembari menunduk, ia buru-buru berdiri.
Gista si pecinta laki-laki tampan yang tak pernah membiarkan matanya meninggalkan pahatan sempurna dari ketampanan itu, kini menunduk?
Sepertinya dosen muda ini benar-benar killer.
"Sudah terlambat, menabrak dosen pula. Matamu itu benar-benar harus diperiksakan ke dokter mata, Sinta!" tegur Marvin.
Gista akhirnya mendongak dan memberengut menatap Marvin, "Nama saya Gistaaa, Pak. Sudah dua minggu masih saja salah." Gista menggerutu.
Marvin mengusap wajahnya dan mendengus keras. "Sudah sana, duduk di kursimu."
Marvin membiarkan Gista berjalan dengan menunduk, menuju bangku yang sudah disiapkan oleh Felly di ujung belakang. Ia sendiri berjalan menuju bangku dosen, membuka laptopnya dan menyambungkannya pada proyektor.
Felly merasa gelisah selama kelas berlangsung. Dari senyum tipisnya tadi, dosen itu pasti mengenali Felly. Dan Felly, ah, ia akan berpura-pura tidak mengenalnya.
Dua jam pelajaran pun berakhir, Marvin mengakhiri kelas sembari menata laptopnya.
"Yang duduk di pojok ruangan, dua minggu saya mengajar, tapi baru melihat kamu di sana. Ikut saya ke ruangan dosen, saya perlu data kamu."
Alasan!
Felly bisa melihat itu di dalam tatapan yang Marvin layangkan. Namun statusnya sebagai mahasiswa, bisa apa selain mengangguk mengiyakan?
"B-baik, Pak."
Gista menoleh pada Felly dengan tatapan penuh rasa kasihan, “Kamu hanya perlu dengarkan dia, jangan sekalipun membantah kalau tidak mau dibantai,” bisik Gista.
Felly tersenyum kaku, lantas kemudian ia mengikuti langkah lebar Marvin di depannya. Membiarkan langkahnya terseok-seok karena panjang kaki keduanya yang cukup signifikan.
"Selamat pagi," sapa Marvin basa-basi pada para dosen yang kebetulan ada di dalam ruangan. Sapaan itu mendapatkan respon hangat dari semua yang ada di ruangan itu.
"Lho, Pak Marvin kenapa bawa Felly?" tanya Bu Intan.
Felly memang cukup terkenal di kalangan dosen karena kepintarannya, bahkan di beberapa semester lalu, pernah menjadi asisten dosen di beberapa mata kuliah.
Marvin menoleh pada Felly di belakangnya, "Ada urusan. Dia kemarin belum masuk selama dua minggu, saya butuh datanya."
"Bisa minta di bagian akademik, Pak," balas Bu Intan lagi dengan lembut.
Felly mengangguk setuju, ia menoleh pada Marvin yang masih menatapnya. Felly meneguk ludahnya. Seolah dari tatapan matanya, Marvin mengancamnya.
"Ehm, Bu Intan. Sebenarnya saya ada perlu dengan Pak Marvin, ada beberapa materi yang belum saya pahami karena dua minggu kemarin saya belum masuk,” ujar Felly karena risih terus-terusan dilirik tajam oleh Marvin.
Bu Intan lalu mengangguk dan tersenyum.
"Oh, seperti itu. Ya sudah, silahkan dilanjutkan. Felly ini anak yang pintar, Pak Marvin jangan terlalu keras padanya, ya?"
Marvin mengangguk saja tanpa berkata apapun.
Felly membalas senyum Bu Intan dengan manis, lalu mendengus sebal kala menyadari harus ikut bersama Marvin ke dalam ruangan dosen itu.
'Aku harus bagaimana nanti di dalam sana?' batin Felly yang berisik penuh dengan segala kemungkinan buruk.
‘Apakah dia akan menagih jatah yang malam itu tidak jadi ia renggut? Huhuhu, aku pikir sudah bebas dari laki-laki ini,’ batin Felly lagi.
Marvin membuka pintu ruangannya dan masuk terlebih dahulu. Felly hanya bisa terbengong di depan pintu kayu itu tanpa bergerak sedikitpun.
Marvin mendengus, ia mengetukkan buku yang ia bawa ke meja hingga menyadarkan Felly dari lamunannya.
"Tutup pintunya,” titah Marvin.
Hiruk-pikuk syukuran kecil-kecilan di hari itu akhirnya surut. Setelah mengantar kepulangan Bu Dyas, Olivia, Oliver, Kevin, Devan, dan Gista, suasana rumah baru Marvin dan Felly kembali menyepi. Keheningan malam menyelimuti setiap sudut ruangan berdesain modern tersebut, membawa ketenangan yang selama ini selalu mereka damba.Marvin melangkah keluar ke area balkon kamar utama, membawa dua cangkir teh hangat di tangannya. Di sana, Felly sudah berdiri bersandar pada pagar pembatas kaca, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang membentang indah di kejauhan sana.Melihat istrinya termenung, Marvin mendekat, menyampirkan jaket rajut miliknya ke bahu mungil Felly, lalu merangkul pinggang wanita itu dari samping. Felly mendongak, menyunggingkan senyum tipis sebelum menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami."Ramai banget ya tadi," gumam Felly pelan, suaranya terdengar lembut memecah angin malam."Tapi menyenangkan, kan?" balas Marvin sambil mengecup puncak kepala istrinya. "Rumah ini akh
Marvin mengerjap perlahan, merasakan sisi ranjang di sebelah kirinya kosong dan dingin. Tidak ada lagi tubuh mungil Felly yang biasa mendekat dalam tidurnya. Hanya ada aroma samar sabun mandi vanila yang masih tertinggal di bantal, serta cahaya matahari pagi yang menyusup malu-malu dari balik tirai kamar utama mereka yang cozy.Pria itu beranjak dengan langkah tenang menuruni tangga rumah. Suasana pagi di rumah baru mereka terasa begitu sunyi dan privat, mengingat mereka sengaja belum menggunakan jasa ART demi menikmati momen-momen awal menempati rumah baru ini berdua saja.Begitu mendekati area lantai dasar, indra penciumannya langsung disergap oleh aroma harum masakan yang berpadu dengan wangi kopi. Marvin membelokkan langkahnya ke arah open kitchen dengan island marmer putih yang menjadi pusat area dapur.Di sana, Felly berdiri membelakanginya. Istrinya itu tampak sibuk memotong beberapa sayuran segar di atas talenan. Yang membuat napas Marvin seketika tercekat adalah penampilan Fe
Mobil SUV hitam Marvin melambat, lalu berbelok mulus memasuki gerbang sebuah kawasan pemukiman eksklusif yang asri dan tenang. Setelah menepi sejenak di sisi jalan untuk melilitkan dasi sutra hitam menutupi mata Felly, Marvin kembali melajukan kendaraannya pelan-pelan sampai akhirnya mesin mobil itu mati sepenuhnya."Udah sampai?" tanya Felly penasaran, jemarinya meraba kain dasi di wajahnya dengan napas yang sedikit tertahan."Belum dilepas kok udah nanya," bisik Marvin lembut di dekat telinganya. Pria itu sudah keluar lebih dulu dari balik kemudi, memutari mobil, membukakan pintu untuk Felly, dan menuntun tubuh mungil istrinya keluar dengan hati-hati.Langkah Felly tertatih pelan di atas undakan teras, mengandalkan sepenuhnya genggaman tangan besar Marvin yang hangat. Begitu tubuh mereka berhenti, Marvin menangkup kedua bahu Felly dari belakang, sementara tangan kanannya terulur melepas ikatan dasi di kepala istrinya."Buka matanya perlahan, sayang."
Suasana kediaman keluarga pagi itu terasa begitu lengang dan damai. Olivia, Oliver, Kevin, dan Devan sudah pamit pulang sejak tengah malam kemarin karena kelelahan setelah aksi kejar-kejaran spanduk di bandara. Sementara Bu Dyas, seperti biasa, sudah berangkat ke kantor sejak pagi-pagi sekali sebelum Felly dan Marvin membuka mata.Felly terbangun tanpa rasa cemas yang biasa menghantui tidurnya. Tidak ada alarm pukul tiga pagi, tidak ada bayang-bayang revisi bab akhir, dan tidak ada layar ponsel yang harus ia tatap untuk melepas rindu. Ia sepenuhnya berada di sini, dalam dekap hangat Marvin.Selesai membersihkan diri, keduanya memutuskan untuk menghabiskan pagi dengan santai di area taman belakang rumah, tepat di samping kolam ikan hias yang gemercik airnya menenangkan. Sambil mengenakan pakaian santai rumahan, Marvin duduk bersandar di kursi panjang kayu sambil membaca sebuah buku tebal, sementara Felly duduk bersila di sampi
Suasana Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta sore itu begitu padat. Di tengah lautan manusia yang lalu-lalang menarik koper, langkah kaki Felly dan Marvin terhenti seketika begitu mereka keluar dari pintu pemeriksaan bea cukai.Bukannya disambut kesunyian atau supir jemputan yang tenang, mata Felly justru menangkap selembar kain putih berukuran besar yang dibentangkan di atas kepala dua orang pemuda tengil.“SELAMAT DATANG KEMBALI PENGANTIN BARU! SELAMAT TINGGAL LDR, SELAMAT DATANG TUKANG ANGKUT KOPER!”Tulisan mencolok dengan spidol hitam besar itu terpampang nyata, lengkap dengan gambar karikatur wajah Marvin yang dibuat jelek.Seketika itu juga, Marvin yang berdiri di sebelah Felly spontan menepuk jidatnya sendiri. Pria berpostur tinggi 189 cm itu langsung menarik tubuh Felly ya
Langit Maladewa di penghujung sore memancarkan gradasi warna spektakuler—perpaduan antara jingga terang, merah muda keunguan, dan biru gelap yang perlahan merayap naik. Di tepi pantai privat dekat overwater villa mereka, sebuah meja makan kayu telah ditata begitu apik, dikelilingi puluhan lilin aromaterapi dalam tabung kaca yang berpendar lembut menerpa pasir putih.Felly melangkah keluar mengenakan maxi dress satin berpotongan off-shoulder berwarna emerald yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, membuat Marvin yang sudah menunggunya dengan kemeja linen putih spontan terpaku beberapa detik. Sorot mata sang suami memancarkan pemujaan yang begitu telanjang, membuat pipi Felly merona hangat di bawah temaram senja."Cantik," bisik Marvin serak begitu Felly tiba di sisinya, menarik kursi untuk sang istri dengan gestur penuh kelembutan.Makan malam romantis itu berjalan dengan hidangan laut segar khas Samudra Hindia yang lezat, diselingi candaan ringan dan tawa kecil. Namun, momen paling
“Tutup pintunya,” titah Marvin begitu keduanya sampai di ruangan yang cukup luas itu. Felly baru tahu pagi ini setelah mencari tau di internet tentang siapa itu Marvin Lee dan apa hubungannya dengan kampusnya.Marvin Lee adalah pimpinan yayasan dari kampusnya, sebab itulah ia memiliki ruangan khus
Tangan besar laki-laki itu mulai melucuti kancing baju Felly perlahan, melemparkan pakaian gadis itu ke sembarang arah. Sentuhan yang entah sengaja atau tak sengaja dari jemari kasar itu membuat bulu kuduk Felly meremang hebat. Tanpa sadar, tubuh atas Felly sudah terekspos dengan jelasnya. Kemejan
"Kalau mau mati, setidaknya jangan tinggalkan beban padaku, Ayah."Gadis itu bersuara lirih, penuh dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.Felly Armany, seorang gadis cantik yang malang. Sejak usia empat belas sudah ditinggal mati ibunya, kini di usianya yang menginjak dua puluh satu, ayah
Marvin membawa Felly ke club Devan. Di sana sudah lengkap formasi, seolah sengaja datang untuk menyambut Felly.“Hai, Felly!” Olivia tak lagi dingin seperti dulu. Wanita itu lebih ramah pada Felly, bahkan menyambut dengan pelukan hangat seolah bertemu teman lama.Felly awalnya kikuk, bingung bagaim







