LOGINFelly Armany, mahasiswi miskin yang terjebak hutang menumpuk, mempunyai rencana nekat: memanfaatkan dosen tampan mereka, Marvin Lee, untuk mendapatkan uang yang ia butuhkan. Dimulai dari tawaran Marvin untuk menjadi kekasih gelapnya, Felly akhirnya siap melakukan apapun demi melunasi hutang. Tapi siapa sangka, permainan ini justru membakar hasrat yang tak bisa ia kendalikan. Apakah ini rencana cerdas atau awal dari kehancuran hati dan moralnya sendiri? Atau justru sebagai titik balik kehidupan yang lebih baik untuknya?
View More"Kalau mau mati, setidaknya jangan tinggalkan beban padaku, Ayah."
Gadis itu bersuara lirih, penuh dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Felly Armany, seorang gadis cantik yang malang. Sejak usia empat belas sudah ditinggal mati ibunya, kini di usianya yang menginjak dua puluh satu, ayahnya menyusul sang ibu dan meninggalkan hutang sebesar dua ratus juta pada seorang lintah darat.
Dua ratus juta!
Bayangkan!
Mau dapat pundi-pundi dari mana jika dirinya hanyalah mahasiswi semester lima yang hanya bekerja sambilan di minimarket depan gang rumah?
Felly menghela napas panjang, menatap kakinya yang terdapat luka-luka sebab pelariannya dari para penagih hutang. Dengan meringis ngilu, Felly menuju saung yang ada di sekitar makam.
"Malam ini tidur di makam dulu. Aku bisa mati jika pulang ke rumah dan ditemukan oleh para debt collector sialan itu."
Memasuki musim hujan, udara jadi panas, namun di malam hari akan sangat dingin. Felly menepuk-nepuk bangku panjang itu dan mulai merebahkan diri. Langit mulai menggelap, gelenyar jingga mulai tampak.
Namun, belum lima menit memejamkan mata, samar terdengar suara seseorang mendekat, membuat mata Felly terbuka lebar.
“Akhirnya ketemu juga kucing kecil yang kelaparan ini,” ujar salah satu debt collector dengan dandanan premannya itu.
Felly meneguk ludahnya kasar, tubuhnya sudah lemas, kabur pun sudah tidak mungkin dengan kondisi kakinya. Alih-alih, Felly mendongak dan memohon ampun.
“T-tolong sekali ini saja, ampuni say—”
Preman itu hanya tersenyum miring, tak peduli. Tangan Felly sudah diikat dan sedang diarak menuju kamar di sebuah klub yang bising. Dentuman musiknya membuat jantung Felly berdegup kencang.
"Ingat! Layani orang di dalam kamar itu dengan baik. Kamu hanya butuh melayani tiga puluh orang, dan hutang ayahmu akan lunas. Ah, kalau kamu bisa memuaskan orang di dalam sana, maka kamu tidak perlu melayani tiga puluh orang karena orang di dalam sana sangat spesial."
Bisikan salah seorang preman di telinganya membuat bulu kuduk Felly merinding. Jantungnya berdegup kencang membayangkan orang di dalam sana yang akan menikmati tubuh perawannya.
'Aku sudah menjaga diriku sendiri selama ini, namun harus merelakan tubuhku pada pria bangkotan?' batin Felly meringis sedih.
"Di dalam sana nanti, kau hanya harus mendesah saja. Jangan berkata apapun. Ah, orang itu masih muda, baru berumur empat puluh tahun. Jangan khawatir," ujar preman lainnya dengan nada yang mengejek.
Gila. Empat puluh tahun? Setengah dari umur Felly saat ini. Menjadi ayahnya pun bisa. Felly benar-benar ingin menangis, tapi air mata benar-benar tak bisa keluar lagi dari matanya karena sudah terlalu banyak menangis belakangan ini.
Hingga langkah mereka sampai pada sebuah pintu berwarna merah maroon di pojok ruangan. Ada tulisan VVIP di sana, membuat Felly meneguk ludahnya kasar.
Pantas saja dirinya diumpankan, laki-laki VIP memang sukanya daun muda yang masih segar.
"Kalau kamu bisa memuaskan orang di dalam sana, hutangmu bisa dikurangi setengahnya. Pintar-pintarlah bertindak, selama ini tidak ada yang bisa memuaskannya. Benefitnya, kami tidak akan mengganggumu selama enam bulan penuh. Dan dalam kurun waktu itu, kamu bisa mencari uang untuk membayar sisa hutangnya."
Setelah mengatakan itu, preman-preman itu mendorong Felly masuk ke dalam kamar, dan menguncinya dari luar.
Bruk!
Felly terjatuh di lantai marmer yang keras. Lututnya sedikit ngilu.
"Sshh, sakit," desisnya.
Tap tap tap.
Mata Felly menatap bayangan sepatu pantofel yang berkilat di antara remangnya ruangan. Ia meneguk ludahnya kasar, perlahan mendongak. Ada sebuah siluet manusia yang tak bisa ia lihat jelas wajahnya.
"Berdiri!" titah laki-laki itu.
Suaranya berat, sarat akan intimidasi yang membuat Felly sekali lagi meneguk ludahnya. Ini ... terlalu menakutkan.
Dengan kesulitan, Felly berdiri. Ia berhadapan dengan lelaki itu. Rahang yang tegas, membuat siluet lelaki itu tampak sempurna.
"Kamu gadis untukku malam ini?" tanya lelaki itu tanpa basa-basi.
Meski enggan, Felly tetap mengangguk. Dari suaranya, entah kenapa ia merasa familiar. Tapi ia tak pusingkan itu, ia hanya ingin semuanya cepat selesai dan ia akan pergi dari kegilaan ini.
Tangan kasar pria itu membuka simpul tali di tangan Felly hingga terlepas.
Felly sontak mundur satu langkah, namun pinggangnya ditahan oleh tangan besar itu dengan mudahnya.
"Mau ke mana?" lelaki itu bertanya dengan nada yang sangat dingin. "Puaskan aku."
Lalu tubuh Felly diangkat dengan satu tangan seolah tiada beban. Felly memekik tertahan saat tubuhnya dilemparkan ke atas ranjang yang empuk.
Pagi itu, suasana meja makan kembali diwarnai denting halus cangkir porselen dan aroma kopi yang menyeruak. Namun, berbeda dari dugaan Felly yang mengira ibu mertuanya akan terburu-buru mengejar penerbangan pagi, Bu Dyas justru duduk dengan santai sembari membolak-balik layar ponselnya."Perasaan kemarin Mama bilang penerbangannya jam sepuluh pagi?" celetuk Felly hati-hati, memecah keheningan di antara mereka.Bu Dyas mengalihkan pandangan dari ponselnya, lalu menyunggingkan senyum anggun. "Mama sengaja memilih penerbangan sore yang berangkat dari Bandara Fiumicino. Kita bisa naik mobil dari sini, hitung-hitung road trip singkat."Mendengar itu, Felly langsung meneguk ludahnya sendiri. Otaknya bekerja cepat menyambungkan benang merahnya. Kalau jadwal terbang Bu Dyas sore nanti di Roma, artinya... mertuanya benar-benar serius dengan ucapannya semalam!"Jadi... Mama tetap mau ikut ke kampusku pagi ini?" tanya Felly lagi, memastikan dengan nada bergetar."Tentu saja," jawab Bu Dyas cepat
Suasana meja makan pagi itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Bi Ningrum tampak bolak-balik dari dapur dengan wajah berseri-seri, menyajikan sepiring besar frittata hangat, roti panggang, dan potongan buah segar. Aroma kopi espresso yang kuat beradu dengan wangi mentega, menciptakan atmosfer pagi yang begitu nyaman di ruang makan berlantai marmer tersebut.Namun, kenyamanan itu agak terganggu bagi Marvin. Sejak mereka duduk di kursi masing-masing, Bu Dyas tidak henti-hentinya melayangkan ledekan tajam yang dibungkus dengan senyuman elegan khas sosialita kelas atas."Marvin, coba itu jenggot tipismu dicukur dulu. Mama lihat-lihat, Bi Ningrum saja sangat jauh lebih rapi dari kamu pagi ini," cibir Bu Dyas sambil mengoles selai ke rotinya dengan anggun. "Datang-datang ke Italia bukannya terlihat segar, malah mirip pria paruh baya yang tertekan karena cicilan rumah."Felly yang sedang mengunyah buah langsung menunduk dalam, menahan tawa mati-matian sampai bahunya bergetar.Marvin sama
Felly terbangun saat semburat cahaya pagiFlorence mulai menyelinap di sela-sela gorden kamar. Hal pertama yang ia rasakan adalah embusan napas teratur yang hangat di puncak kepalanya, disusul sepasang lengan kekar yang masih mengunci pinggangnya dengan posesif.Ia mendongak pelan, mendapati Marvin masih tertidur sangat pulas. Sisa-sisa guratan lelah di wajah suaminya perlahan memudar, digantikan raut damai yang jarang sekali terlihat. Felly tersenyum tipis, merasa lega karena sang suami akhirnya bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah nekat terbang belasan jam.Dengan gerakan sehalus mungkin, Felly menyisip keluar dari dekapan Marvin agar tidak mengusik tidurnya. Tenggorokannya terasa kering, membuatnya memutuskan untuk turun ke lantai bawah demi mengambil segelas air hangat.Langkah kaki telanjang Felly menapaki anak tangga marmer yang sepi. Namun, begitu kakinya menyentuh lantai dapur, langkahnya
Marvin benar-benar ambruk dalam hitungan detik. Lengan kekarnya yang semula mendekap Felly erat, kini melemas dan jatuh pasrah di atas kasur, seiring dengan helaan napasnya yang berubah menjadi deru teratur yang lambat. Pria itu telah mencapai batas kemampuan fisiknya setelah puluhan jam terjaga tanpa jeda.Felly masih bergeming di posisinya, setengah berbaring di sisi Marvin. Air mata sisa kepanikannya masih mengalir pelan, membasahi pipi dan mantel wolnya. Namun, saat ia mendongak dan menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dalam jarak sedekat ini, rasa bersalah yang mencekik dadanya mendadak berubah menjadi rasa iba yang teramat dalam.Ia baru benar-benar memperhatikan penampilan Marvin pagi ini. Wajah tampan yang biasanya selalu tampak tegas dan rapi itu kini terlihat begitu lesu. Kedua matanya tampak cekung dengan bayangan gelap yang kentara di bawah kelopak mata yang terpejam. Di sekitar rahang tegasnya, samar-samar mulai tumbuh jenggot tipis yang tidak terurus, dan bibirnya
Marvin membawa Felly ke club Devan. Di sana sudah lengkap formasi, seolah sengaja datang untuk menyambut Felly.“Hai, Felly!” Olivia tak lagi dingin seperti dulu. Wanita itu lebih ramah pada Felly, bahkan menyambut dengan pelukan hangat seolah bertemu teman lama.Felly awalnya kikuk, bingung bagaim
“Mas, mama … mama juga cerita tentang Vania.”Marvin membeku.“Mas?” Felly melambaikan tangan di depan wajah Marvin yang tak memberi respons apa pun.Marvin tersadar saat Felly menyenggol lengannya pelan. “Ah? Y-ya?” ucapnya terbata. “Maaf… Mas melamun.”Felly menghela napas, lalu menyandarkan tubu
Perkuliahan selesai lebih cepat dari biasanya, Felly dengan cepat merapikan mejanya dan bergegas pergi setelah berpamitan pada Gista. Sahabatnya itu tidak curiga apapun, mengira dirinya akan bekerja di minimarket seperti biasanya.Padahal di sinilah Felly berada. Di depan sebuah gedung apartemen me
Seakan seluruh udara di dadanya tersedot habis.Felly merangsek maju, suara gemetar keluar dari mulutnya. “Pak, ini maksudnya apa? Kenapa rumah saya ditempeli ini?”Salah satu pria menoleh. Formal, rapi, ekspresinya datar, bahkan terlalu datar untuk berita yang bisa meruntuhkan hidup seseorang.“Se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore