MasukMarvin merasa dirinya mungkin akan menyesali ide itu beberapa menit lagi.Dan melihat senyum Felly yang semakin lebar, keyakinan itu perlahan bertambah.“Apa?” tanyanya akhirnya.Felly tidak langsung menjawab.Wanita itu justru menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat sebelum menunjuk ke arah televisi yang berdiri di seberang ruang keluarga.“Mas lihat itu nggak?”Marvin mengikuti arah telunjuknya.“Televisi.”“Iya.”“Saya tahu itu televisi.”“Bagus.”Marvin menatapnya datar.“Terima kasih atas informasinya.”Felly terkikik pelan.Mood-nya yang tadi sempat turun karena bosan kini tampak pulih sepenuhnya.Dan entah mengapa, hal itu justru membuat Marvin semakin waspada.Biasanya semakin bahagia Felly terlihat, semakin besar kemungkinan dirinya akan terseret ke dalam sesuatu.“Lalu
Sarapan mereka berakhir tidak lama kemudian.Felly akhirnya berhasil menghabiskan nasi goreng yang sejak tadi sempat terabaikan karena ulah Marvin. Sementara itu, Marvin sudah berdiri lebih dulu dari kursinya dan mulai mengumpulkan piring-piring kosong di atas meja makan.Felly yang melihatnya langsung ikut berdiri.“Biar aku aja yang beresin.”Tangannya baru saja hendak meraih piring di tangan Marvin ketika pria itu mengangkat piring tersebut sedikit lebih tinggi.“Tidak usah.”“Mas.”“Saya masih punya dua tangan yang berfungsi dengan baik.”Felly mendengus pelan.“Bukan itu maksudku.”“Lalu?”“Aku juga tinggal di rumah ini. Masa semua dikerjakan Mas terus?”Marvin berjalan menuju dapur tanpa terlihat berniat mengalah.“Karena ini cuma dua piring.”“Dua piring juga tetap pekerjaan rumah.”“Kalau begitu nanti saya carikan sepuluh piring lagi supaya jumlahnya lebih meyakinkan.”Felly langsung mendelik.“Mas itu ya.”Sementara Marvin hanya terkekeh pelan.Ia meletakkan piring-piring ter
“Hari ini rencana mau ke mana?” tanya Marvin sembari mengelap sisi mulutnya menggunakan tisu.Nasi goreng di piring telah tandas ia habiskan.Felly yang baru menghabiskan setengah pun menelannya dengan hati-hati sebelum menjawab, “Hmm… nggak tahu.”Marvin mengangguk, lalu jemarinya terulur untuk mengusap nasi yang menempel di sudut bibir Felly, lalu tanpa jijik memakan nasi sebutir itu hingga Felly merona dibuatnya.“Wajah kamu merah, sayang.”Felly mendengus. “Ya habisnyaa… kelakuan Mas itu bikin aku tersipu.”Marvin terkekeh. “Cuma makan nasi yang belepotan aja.”“Ya justru itu!” sahut Felly dengan cepat. “Mas… nggak jijik?”“Jijik kenapa?” tanya Marvin enteng, seolah pertanyaan itu bukan hal berat baginya.“Ya… karena nasi itu nempel di bibir aku? Bukan nasi baru dari piring?”Marvin menatap Felly dalam-dalam. Lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang kokoh. Lantas kemudian ia menjawab tak kalah entengnya,“Kita sudah ciuman, pelukan, tidur seranjang, hidup serumah. Caira
Pagi menjelang siang pun tiba.Felly bangun dengan linglung karena belum terbiasa dengan kamar baru yang ia tempati.Ia menoleh ke samping dan tak mendapati suaminya di sana. Felly melirik sekitar, lantas menghela napas lega saat menyadari di mana kini ia berada.“Oh, rumah Mama Dyas,” gumamnya.Dengan mata masih setengah tertutup, ia berjalan menuju kamar mandi di dalam ruangan itu.Setelah membersihkan diri, Felly yang masih meraba–raba mengenai rumah baru ini pun akhirnya sampai di dapur.Sebuah pemandangan yang biasa, Marvin dengan kaos polosnya dan rambut macam singa masai. Tapi pesonanya berkali lipat lebih menguar.“Tampan sekali suamiku,” gumam Felly di ambang pintu.Marvin yang menyadari ada entitas lain di ruangan itu pun menoleh. Ia kemudian memberikan senyum terbaiknya untuk menyapa istri kecilnya itu.“Morning, sayang?” sapa Marvin.Felly balas senyuman itu dan lantas mendekat. Ia memeluk Marvin yang sudah merentangkan tangan menyambutnya. “Baru bangun?” tanya Marvin sam
Malam semakin larut. Setelah menyantap makan malam, mereka memutuskan untuk sedikit berbenah pakaian dan menatanya ke dalam lemari. Dan kini, Felly tengah mengeringkan rambutnya sementara Marvin sedang mandi.Bunyi dering ponsel terdengar, Felly mengangkat benda persegi panjang itu dan senyum pun mengembang di kedua pipinya.“Haii, Gistaa!” sapanya antusias.Gista di seberang sana mencebikkan bibirnya dan membuat mimik mukaseolah marah pada sahabatnya yang pergi jauh darinya itu.“Kok kayak nggak excited gitu, sih?” tambah Felly sambil terkekeh.“Nggak tau ah. Marah banget tiba-tiba ditinggalin jauh banget,”jawab Gista masih dengan wajah yang marah.Felly terkekeh.“Ya… gimana, ya? Aku juga kan hanya ikut kata suami.”Gista mencebikkan bibirnya, “Ah, menyebalkan sekali.” Lalu perlahan, mimik wajah marah itu berubah menjadi sedihdan kemudian Gista menangis, “Huwaaaa, aku khawatir sekali saat kamu nggak bisadihubungi dua hari itu. Kupikir kenapa-kenapa. Tapi untungnya aku bertemu
Kegiatan mereka terhenti saat bel pintu berbunyi nyaring di rumah yang sepi itu.Felly mundur satu langkah, wajahnya merah dan bibirnya basah. Begitu cantik di mata Marvin.Suaminya itu hanya tersenyum gemas dan mengusap sudut bibir Felly yang basah itu.“Cantik,” gumamnya.Bel kembali berbunyi yang membuat Felly tersadar dari pikirannya sendiri.“I-itu siapa?” tanyanya dengan sedikit tergagap.“Sepertinya petugas pindahan yang saya sewa untuk membawa barang-barang kita dari penginapan,” jawab Marvin sembari berjalan ke arah pintu.Felly mengekor di belakang dengan tatapan penuh rasa penasaran.Benar saja, ketika pintu dibuka, ada lima orang laki-laki tersenyum ke arah Marvin dan menyapa dengan ramah menggunakan bahasa Italia yang kental.Felly kembali kagum pada Marvin atas kecakapannya itu. Meski tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan, tapi sepertinya Marvin tengah memberi instruksi di mana barang-barang itu harus diletakkan.Felly memilih mundur dan duduk di sofa, tak ingin meng
Marvin terkekeh sinis di kursinya. "Kalau itu yang kalian harapkan, maaf harus mengecewakan."Lalu, layar besar di ujung meja menyala. Berisi bukti-bukti penting kejahatan orang-orang yang menyerang Marvin."Pak Hadi, anda sungguh sangat mengecewakan. Penggelapan dana miliaran, padahal jabatan suda
“Ada apa?” tanya Devan meski ia sudah bisa menebak permasalahan apa yang timbul akibat masalah ini.“Harga saham turun hampir sepuluh persen. Para pemegang saham memaksa untuk rapat.”Devan menarik napas panjang, ia berdiri dan menepuk pundak Marvin.“Selesaikanlah. Urusan media biar jadi urusanku
Setelah pembicaraan mereka mengenai Vania malam lalu, hubungan Marvin dan Felly jauh lebih membaik. Felly berusaha keras untuk sembuh. Bukan demi Marvin, tapi demi dirinya sendiri.‘Aku sudah bertahan sejauh ini, kalau tiba-tiba menyerah rasanya sia-sia saja.’ Kalimat itu selalu Felly tanamkan dal
“Mas, mama … mama juga cerita tentang Vania.”Marvin membeku.“Mas?” Felly melambaikan tangan di depan wajah Marvin yang tak memberi respons apa pun.Marvin tersadar saat Felly menyenggol lengannya pelan. “Ah? Y-ya?” ucapnya terbata. “Maaf… Mas melamun.”Felly menghela napas, lalu menyandarkan tubu







