MasukMobil SUV hitam Marvin melambat, lalu berbelok mulus memasuki gerbang sebuah kawasan pemukiman eksklusif yang asri dan tenang. Setelah menepi sejenak di sisi jalan untuk melilitkan dasi sutra hitam menutupi mata Felly, Marvin kembali melajukan kendaraannya pelan-pelan sampai akhirnya mesin mobil itu mati sepenuhnya."Udah sampai?" tanya Felly penasaran, jemarinya meraba kain dasi di wajahnya dengan napas yang sedikit tertahan."Belum dilepas kok udah nanya," bisik Marvin lembut di dekat telinganya. Pria itu sudah keluar lebih dulu dari balik kemudi, memutari mobil, membukakan pintu untuk Felly, dan menuntun tubuh mungil istrinya keluar dengan hati-hati.Langkah Felly tertatih pelan di atas undakan teras, mengandalkan sepenuhnya genggaman tangan besar Marvin yang hangat. Begitu tubuh mereka berhenti, Marvin menangkup kedua bahu Felly dari belakang, sementara tangan kanannya terulur melepas ikatan dasi di kepala istrinya."Buka matanya perlahan, sayang."
Suasana kediaman keluarga pagi itu terasa begitu lengang dan damai. Olivia, Oliver, Kevin, dan Devan sudah pamit pulang sejak tengah malam kemarin karena kelelahan setelah aksi kejar-kejaran spanduk di bandara. Sementara Bu Dyas, seperti biasa, sudah berangkat ke kantor sejak pagi-pagi sekali sebelum Felly dan Marvin membuka mata.Felly terbangun tanpa rasa cemas yang biasa menghantui tidurnya. Tidak ada alarm pukul tiga pagi, tidak ada bayang-bayang revisi bab akhir, dan tidak ada layar ponsel yang harus ia tatap untuk melepas rindu. Ia sepenuhnya berada di sini, dalam dekap hangat Marvin.Selesai membersihkan diri, keduanya memutuskan untuk menghabiskan pagi dengan santai di area taman belakang rumah, tepat di samping kolam ikan hias yang gemercik airnya menenangkan. Sambil mengenakan pakaian santai rumahan, Marvin duduk bersandar di kursi panjang kayu sambil membaca sebuah buku tebal, sementara Felly duduk bersila di sampi
Suasana Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta sore itu begitu padat. Di tengah lautan manusia yang lalu-lalang menarik koper, langkah kaki Felly dan Marvin terhenti seketika begitu mereka keluar dari pintu pemeriksaan bea cukai.Bukannya disambut kesunyian atau supir jemputan yang tenang, mata Felly justru menangkap selembar kain putih berukuran besar yang dibentangkan di atas kepala dua orang pemuda tengil.“SELAMAT DATANG KEMBALI PENGANTIN BARU! SELAMAT TINGGAL LDR, SELAMAT DATANG TUKANG ANGKUT KOPER!”Tulisan mencolok dengan spidol hitam besar itu terpampang nyata, lengkap dengan gambar karikatur wajah Marvin yang dibuat jelek.Seketika itu juga, Marvin yang berdiri di sebelah Felly spontan menepuk jidatnya sendiri. Pria berpostur tinggi 189 cm itu langsung menarik tubuh Felly ya
Langit Maladewa di penghujung sore memancarkan gradasi warna spektakuler—perpaduan antara jingga terang, merah muda keunguan, dan biru gelap yang perlahan merayap naik. Di tepi pantai privat dekat overwater villa mereka, sebuah meja makan kayu telah ditata begitu apik, dikelilingi puluhan lilin aromaterapi dalam tabung kaca yang berpendar lembut menerpa pasir putih.Felly melangkah keluar mengenakan maxi dress satin berpotongan off-shoulder berwarna emerald yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, membuat Marvin yang sudah menunggunya dengan kemeja linen putih spontan terpaku beberapa detik. Sorot mata sang suami memancarkan pemujaan yang begitu telanjang, membuat pipi Felly merona hangat di bawah temaram senja."Cantik," bisik Marvin serak begitu Felly tiba di sisinya, menarik kursi untuk sang istri dengan gestur penuh kelembutan.Makan malam romantis itu berjalan dengan hidangan laut segar khas Samudra Hindia yang lezat, diselingi candaan ringan dan tawa kecil. Namun, momen paling
Suara deburan ombak kecil yang menabrak tiang-tiang penyangga villa menjadi suara pertama yang menyambut indra Felly saat kesadarannya perlahan pulih.Tidak ada dering alarm ponsel yang bising atau jadwal kuliah pagi yang mengejar. Yang ada hanyalah dekapan erat lengan kokoh di pinggangnya serta kehangatan tubuh Marvin yang menempel sempurna di punggungnya. Namun, bukan itu yang membuat Felly mengerjap sepenuhnya.Seketika, geli terasa di kulitnya saat sebuah kecupan basah dan lembut mendarat tepat di lekuk lehernya. Felly mendesah tertahan, merasakan bibir Marvin bergerak turun naik, menghujani kulit sensitif di leher dan pipinya dengan ciuman-ciuman ringan yang penuhujaan."Mas..." gerutu Felly pelan dengan suara serak khas bangun tidur, sengaja memiringkan kepalanya untuk memberi ruang lebih sekaligus menggeliat kecil karena kegelian. "Ini masih pagi banget, loh..."Marvin tidak berhenti. Pria itu justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, melingkarkan lengan
Kopi hangat di tangan Felly sama sekali tidak mampu melenyapkan sisa rasa kantuk akibat perjalanan panjang pagi itu. Kereta cepat dari Florence baru saja mengantar mereka tiba di Bandara Internasional Fiumicino, Roma, beberapa jam lalu. Dari sana, mereka melanjutkan penerbangan singkat menuju Dubai untuk transit.Selama perjalanan dari Florence hingga mendarat di bandara transit ini, Felly benar-benar tidak ambil pusing memikirkan rute. Ia tipe yang pasrah mengekor, menyerahkan seluruh urusan tiket dan jadwal penerbangan kepada suaminya tanpa sedikit pun repot memperhatikan boarding pass atau papan pengumuman. Pikirannya hanya satu: cepat sampai di Jakarta dan langsung tidur seharian.Felly berjalan gontai di samping Marvin menyusuri koridor bandara, menyeruput kopinya dengan mata setengah terpejam. Namun, langkah Marvin tiba-tiba terhenti tepat di depan pintu kaca sebuah private aviation lounge."Mas, kok kita belok ke sini? Gate pesawat kita ke Jakarta bukan lewat sini deh kayaknya,
“Mas, mama … mama juga cerita tentang Vania.”Marvin membeku.“Mas?” Felly melambaikan tangan di depan wajah Marvin yang tak memberi respons apa pun.Marvin tersadar saat Felly menyenggol lengannya pelan. “Ah? Y-ya?” ucapnya terbata. “Maaf… Mas melamun.”Felly menghela napas, lalu menyandarkan tubu
Di ruang kelas yang ramai.Felly sudah mengetap kursi di sampingnya, berada di pojok ruangan sementara Gista belum juga datang."Katanya dosennya killer, tapi masih saja terlambat." Gumam Felly sembari menatap nanar pada kursi di sampingnya.Dap dap dap.Bunyi pantofel mengetuk lorong kampus yang s
Tangan besar laki-laki itu mulai melucuti kancing baju Felly perlahan, melemparkan pakaian gadis itu ke sembarang arah. Sentuhan yang entah sengaja atau tak sengaja dari jemari kasar itu membuat bulu kuduk Felly meremang hebat. Tanpa sadar, tubuh atas Felly sudah terekspos dengan jelasnya. Kemejan
"Kalau mau mati, setidaknya jangan tinggalkan beban padaku, Ayah."Gadis itu bersuara lirih, penuh dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.Felly Armany, seorang gadis cantik yang malang. Sejak usia empat belas sudah ditinggal mati ibunya, kini di usianya yang menginjak dua puluh satu, ayah







