LOGINAlvino terus saja ditempeli oleh Queenna sejak beberapa saat yang lalu. Sejujurnya dia merasa risih dilihat oleh beberapa orang yang berkunjung ke restorannya, terlebih kepada para karyawannya yang berlalu-lalang di sana. Bukan karena Alvino sudah tidak menyukai Queenna lagi, tapi dia hanya sedikit takut diantara karyawannya nanti ada yang mengadukan kelakukannya kepada orang tuanya."Queen, bisa lepas sebentar, nggak? Aku agak kurang enak sama orang-orang," bisik Alvino membuat Queenna menyorot tajam ke arahnya.Tatapan Queenna bak tatapan orang yang tengah mengintrogasi maling yang keciduk. Alvino tidak bisa bertahan lama menatap Queenna jika tatapannya seperti ini.Dengan rasa kesal, Queenna menghempaskan tangan Alvino dengan keras membuat sang empu melenguh kesakitan, karena tangannya terkena ujung bangku yang sedang didudukinya. "Kenapa kamu peduli banget sih sama orang? Apa itu artinya kamu sudah nggak mencintaiky lagi, Vino? Ah ... aku kesal padamu!" rungut Queenna. Bahkan dia
Alesha mengikuti Binta di belakangnya, persis seperti seorang adik yang patuh kepada kakaknya. Alesha tidak berkedip sedikit pun menatap punggung Binta di depannya. Entahlah, dia hanya merasa hatinya selalu menghangat setiap kali melihat Binta. "Alesha, lo bisa nyetir mobil, nggak?" tanya Binta yang tentu saja masih berada di depan Alesha. Binta sejenak menatap ke belakang, kemudian meraih lengan Alesha untuk mensejajarkan langkah mereka. "Ngapain coba di belakang, gue? Kita harusnya berjalan berdampingan, bukan saling mengikuti seperti tadi. Risih gue, rasanya kayak sedang diuntit gitu. Haha, ada-ada aja emang pikiran gue."Alesha hanya menjawab dengan kekehan saja. Dia masih belum merasa terbiasa dengan Binta meski pun dia sendiri tahu kalau Binta mencoba untuk dekat dengannya. "Hehe ... maafin aku, Mbak.""Ish, formal banget sih. Lagian minta maaf buat apa? Coba deh bersikao unformak kalau lagi sama gue. Bawa santai aja, toh gue aja bisa unformal sama lo, masa lo nggak?""Kurang b
Kinan dan Binta dengan setia mendengar Alesha. Ada rasa bangga di hati mereka karena Alesha selalu melibatkan Tuhan di setiap ucapannya. Tapi Kinan masih merasa ada sesuatu mengganjal di hatinya. Kinan merasa sedikit tidak percaya atas ucapan Alesha."Kalau disuruh memilih, kamu lebih memilih abangmu atau lebih memilih orang tuamu?" tanya Binta yang berhasil mengalihkan pandangan Alesha ke arahnya.Senyum simpul terptri di wajah bulatnya. "Tentu saja aku akan memilih abangku.""Kenapa? Bukankah orang tua adalah yang paling berjasa di dunia ini? Lantas, kenapa malah memilih abangmu?""Mungkin, kalau orang lain ditanya seperti itu, sudah dipastikan pilihannya adalah orang tua mereka. Tapi aku berbeda, aku bukan seperti kebanyakan orang di dunia ini. Seperti yang aku katakan sebelumnya, abang adalah seseorang paling-paling berjasa di kehidupanku. Iya, aku tahu kalau bunda sudah melahirkanku, tapi ... entahlah," balas Alesha dengan senyum getirnya mengingat bagaimana perlakuan orang tuany
Alesha dan Kinan duduk seraya berbincang-bincang, mulai dari yang berfaedah sampai yang unfaedah pun mereka bicarakan. Alhasil mereka sampai tidak ingat waktu."Ma---" Seorang gadis membuka pintu ruangan Kinan dan siap memanggil Kinan, namun diurungkan karena melihat Kinan tengah ada tamunya."Lho, Sayang, sini-sini," ujar Kinan mempersilakan Binta, puterinya, masuk."I-iya, Ma," balas Binta Pretty Sheeran---Puteri Kinan Shaqia Sheeran---gugup. Binta sendiri heran mengapa dirinya harus gugup hanya karena bertemu dengan Alesha. Padahal ini bukan kali pertamanya dia bertemu dengan tamu mamanya, tapi kenapa kali ini dia merasa sangat berbeda. 'What the hell! Kenapa gue malah gugup gini sih? Kenapa wajahnya juga mirip banget sama gue, ya? Argh, perasaan gue aja mungkin!' teriak Binta membatin.Binta dan Alesha saling beradu tatap. Bukan hanya Binta, namun Alesha sendiri juga terkejut melihat kehadiran Binta di sana, bukan karena ada masalah, namun karena dia merasa wajahnya sangat mirip
Hening menyelimuti dua orang yang sedang menikmati sarapannya masing-masing. Kalau biasanya Alesha akan banyak bicara ketika makan, tapi kali ini, tidak. Alesha hanya diam menikmati makanannya dengan khidmat, menatap dalam makanannya tanpa teralihkan sedikit pun."Ale, hari ini aku akan mulai kembali kerja," ucap Alvino memecah keheningan. "Hmm ...." Alesha membalas dengan deheman saja. Tatapannya benar-benar tidak dialihkan ke arah Alvino."Apa kamu berani di rumah sendirian?" Alesha menghela napas dalam kemudian menyoroti Alvino dengan malas, "Pergi ya pergi saja, tidak usah sok peduli seperti itu. Kemarin saja Om tidak peduli ketika aku mengatakan tidak berani di rumah sendiri, dan dengan santainya Om meninggalkanku sendirian. Sekarang aku sudah terbiasa sendiri, ah ... sebenarnya bukan sekarang saja, tapi aku memang sudah terbiasa sendiri sedari dulu, jadi kalau mau pergi, silakan pergi saja." "Al---""Ssst! Habiskan makananmu, dan bersiaplah untuk berangkat kerja." Alesha lebi
"Jika aku sudah mencintaimu. Bagaimana, Om?" Pertanyaan itu tanpa sadar lolos dari mulut Alesha dengan lancarnya. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alesha berlari meninggalkan Alvino ke kamarnya. Sedangkan Alvino masih mematung di tempatnya, dia masih mencoba mencerna kalimat yang beberapa saat yang lalu di dengarnya. Tidak mungkin 'kan Alvino salah dengar, dan tidak mungkin 'kan Alesha salah omong? Alvino butuh penjelasan dari Alesha sekarang juga!"Gila, Alesha benar-benar sudah gila!"Sesampainya di dalam kamar, Alesha mengunci pintu dari dalam. Kakinya sudah tidak bisa lagi menahan beban tubuhnya, dia jatuh teduduk di lantai bersandarkan pintu. Dia merutuki mulut sialnya itu karena sudah berkata seperti itu kepada Alvino. Cukup lama Alesha termenung dengan tatapan kosongnya, otaknya tiba-tiba mengajaknya mengingat kejadian beberapa waktu lalu di ruang tamu. Air mata Alesha kembali merembes keluar dengan derasnya, dadanya tiba-tiba bergemuruh, jantungnya terasa sesak, bahkan
Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang
Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara
"Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi
Ayah, Bunda, Alesha nggak mau nikah diusia Alesha yang masih sangat muda ini, terlebih dengan seseorang yang nggak pernah Alesha temui sama sekali!" tolak Alesha dengan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya disertai deraian air mata yang terus mengaliri pipi berisinya tanpa henti. Kedua orang t







