LOGINDi dunia yang serba cepat, pria sempurna sering kali hanya menjadi tokoh fiksi. Namun, Elvano berbeda. Ia nyata—terlalu nyata hingga membuat hidup para wanita seperti terjebak dalam novel romansa yang tak ada habisnya. Wajah rupawan, otak cemerlang, dompet tebal, dan hati selembut kapas. Elvano bukan hanya pria idaman, ia definisi dari kata “sempurna”. Sejak lulus kuliah, hidupnya seperti disorot lampu sorot yang tak pernah redup. Karier cemerlang, bisnis lancar, dan tentu saja... jadi rebutan para wanita dari segala penjuru. Namun hidup, seperti biasa, suka bercanda. Elvano tak menikahi wanita pujaan banyak orang. Ia justru menikahi Aya—perempuan penuh amarah, meledak-ledak, dan sama sekali tidak tertarik padanya. Aya tidak peduli apakah Elvano pria impian sejuta umat. Baginya, Elvano hanyalah suami yang terlalu banyak senyum, terlalu baik, dan terlalu sempurna... hingga menyebalkan.
View MorePagi itu, Desa Suka Maju kembali sibuk seperti biasa. Di warung Bu Mimin, aroma kopi hitam bercampur bau gorengan hangat membuat beberapa bapak-bapak betah duduk berlama-lama.Elvano sedang duduk di teras rumah, mengenakan sarung dan kaos lusuh, mencoba menyiram bunga sambil sesekali menguap. Aya sedang di dapur, bergulat dengan minyak panas dan suara Rafi yang nyanyi lagu TikTok.Damai. Sederhana. Nyaman.Sampai terdengar suara motor berhenti tepat di depan pagar.Brmm. Cekik. Berhenti mendadak.Aya melongok dari balik jendela. Elvano ikut menoleh ke arah suara itu.Tampak seorang perempuan dengan blazer krem, celana panjang, dan sepatu heels turun dari motor… bukan motor biasa, tapi matic elegan berwarna merah marun. Di boncengannya, ada anak perempuan kecil berambut sebahu, sekitar 5 tahunan, mengenakan dress kuning dan topi lebar.Elvano membeku. Matanya berkedip dua kali.Aya keluar, masih dengan celemek bertuliskan “Chef Is Bar-Bar”, melipat tangan di dada.“Siapa?” tanya Aya ce
Hari Senin pagi, gang Cempaka mendadak heboh. Bukan karena ribut tetangga atau bocor got, tapi karena kabar mengejutkan: Aya mencalonkan diri jadi Ketua PKK!Elvano yang sedang sarapan roti isi sarden langsung tersedak begitu mendengar pengumuman dari pengeras suara masjid.> “Diberitahukan kepada seluruh warga… bahwa calon Ketua PKK terbaru, Ibu Aya—istri dari Ketua RW kita—akan menyampaikan visi dan misinya sore ini di pos ronda.”Elvano menoleh cepat. “Ay… kamu serius nyalon?”Aya sedang memotong cabai di dapur. Tanpa menoleh, dia menjawab santai, “Lah, kenapa enggak? Masa ketua RW-nya kamu, Ketua PKK-nya Bu Tati terus. Gak balance.”“Tapi Ay… kamu kan… galak,” ucap Elvano hati-hati.Aya menoleh tajam, pisau di tangan kanan, cabai di tangan kiri.“Justru karena aku galak. PKK butuh yang galak. Biar ibu-ibu itu gak saling rebutan mic pas arisan. Gak saling intip panci tetangga. Gak saling sok tahu soal bumbu rendang.”
Pagi pertama sebagai Ketua RW, Elvano bangun lebih awal. Ia menyeduh kopi, mencatat daftar rencana kerja di buku kulit coklat, dan sesekali melirik ke arah Aya yang masih tertidur, mulut sedikit menganga, rambut acak-acakan, dan selimut setengah lepas.Elvano tersenyum.“Ini pemilik hatiku dan sekaligus ketua tim orasi paling barbar sedunia.”Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Dari arah dapur terdengar…“PRUKK!!”Aya tergagap bangun. “ADA BOM?!”Ternyata ember bocor yang biasa dipakai menampung air di dapur, jatuh karena penuh dan licin. Air membasahi hampir seluruh lantai.“ELVANO! INI GIMANA?! LANTAI KAYAK KOLAM RENANG MINI!”Elvano segera menghampiri sambil membawa pel. “Maaf, tadi malam aku lupa mindahin air hujan.”Aya melipat tangan di dada. “Ketua RW kok gak bisa ngurus ember bocor? Nanti warga tahu, bisa jadi headline: ‘RW Baru Gagal Atasi Banjir Skala Ember.’”---Tapi
“Van, kamu tahu gak... aku mulai curiga sama cara pandang Ibu RT ke kamu belakangan ini,” ucap Aya sambil menyuapi Raka, anak tetangga yang sedang titip sementara karena ibunya ikut lomba senam.Elvano yang baru pulang kerja membuka jasnya, menaruh tas di sofa, dan menjawab tenang, “Lho? Kenapa emangnya?”Aya menyipitkan mata. “Tiap kamu lewat, dia senyum-senyum sambil nyari alasan nyiram tanaman. Padahal tanamannya itu... kaktus. Nyiram tiap sore bisa jadi tenggelam tuh tanaman.”Elvano tertawa kecil. “Mungkin dia cuma ramah aja.”Aya meletakkan sendok dan menatap Elvano lurus. “Ramah itu beda tipis sama modus.”Elvano mengangkat tangan menyerah. “Oke, oke. Tapi serius nih, kamu tahu gak? Ada kabar, katanya Ketua RW sekarang mau pensiun, dan ibu-ibu RT malah mau... nyalonin aku jadi Ketua RW.”Aya refleks bangkit. “APA?! Jadi Ketua RW? Van! Kamu belum siap mental buat dunia gelap itu!”Elvano bingung. “Gelap?”
Hari itu masih pagi, tapi di rumah kecil mereka yang mungil dan kini penuh tawa tangis bayi, udara terasa berbeda. Mertua sudah pulang satu jam lalu, setelah menyetorkan sepuluh macam kue dan dua kantong nasihat spiritual yang tak diminta.Elvano duduk di lantai, bersandar di kaki tempat
Pagi itu dimulai seperti biasa.Elvano sedang duduk di ruang tengah sambil menyuapi Rayandra bubur yang lebih banyak tumpah ke pipi dan baju daripada masuk ke mulut. Aya, yang baru selesai mandi, keluar dari kamar sambil mengikat rambut.“Eh, Van. Di meja ada surat, tadi kurir t
Hari itu datang tanpa aba-aba.Pagi masih sepi. Hujan rintik-rintik turun seperti ingin mengiringi sesuatu yang besar. Aya bangun lebih pagi dari biasanya, dengan rasa yang aneh di perutnya. Bukan mual, bukan mulas biasa.Tapi ada sesuatu yang... berbeda.“El...” panggi
Dua minggu setelah Rayandra lahir, Elvano yakin satu hal:Menjadi ayah bukan sekadar punya bayi. Tapi juga... menghadapi zombie mode 24 jam non-stop.Pagi itu, mata Elvano sembab, rambut awut-awutan, dan kaosnya sudah bertahan tiga hari tanpa ganti.“Sayang...” panggiln


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews