MasukMotor itu terus melaju membelah gelapnya malam.Jalanan yang lengang membuat laju kendaraan itu semakin kencang. Angin dingin menampar wajah Sova hingga matanya terus berair. Jemarinya semakin erat memeluk Rafa yang kembali terlelap setelah lama menangis.Namun ketakutan di dalam dada Sova justru semakin membesar.Pria itu tidak menjawab satu pun pertanyaannya.Bahkan ketika Sova berkali-kali meminta diturunkan, motor itu justru semakin menjauh dari jalan menuju rumah Bu Halimah."Pak... saya mohon..."Tak ada jawaban.Kilatan logam yang sempat dilihat Sova membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.Jangan-jangan...Ia baru saja lolos dari satu bahaya untuk masuk ke bahaya yang lain.Sova menoleh ke kanan dan kiri.Kecepatan motor itu sangat tinggi. Jalan di depan masih lurus, hanya diapit pepohonan dan sawah yang mulai menghilang berganti perkampungan kecil.Kala
Sova mematung ketika suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan gubuk.Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging."Masuk ke belakang, cepat!" bisik sang nenek sambil menarik pergelangan tangan Sova.Tanpa membantah, Sova segera mengikuti. Ia memeluk Rafa yang masih terlelap, lalu berjongkok di balik tumpukan kayu bakar dan semak pisang di belakang rumah panggung. Dari celah dinding bambu, ia masih bisa melihat bagian depan rumah.Brak!Pintu didorong kasar."Heh, Pak Tua! Dengar baik-baik!"Suara lelaki bertubuh besar menggema.Kakek itu tetap berdiri tenang di ambang pintu."Ada apa malam-malam begini?""Kami sedang mencari perempuan yang kabur sambil bawa bayi.""Tidak ada.""Lihat dulu wajah kami!" bentak lelaki itu. "Kalau bohong, rumah ini kami bakar!"Sova spontan menutup mulutnya sendiri.Tubuhnya gemetar hebat.Nenek tua ya
Sova berlari tanpa berani menoleh sedikit pun. Napasnya memburu, dadanya terasa seperti terbakar. Rafa yang terikat erat di dada mulai menangis semakin kencang, membuat kepanikan di dalam hati Sova berlipat ganda."Ke sana! Dia masuk kebun!""Tutup jalan belakang!"Sorot senter mulai menari-nari di antara pepohonan.Sova menggigit bibir. Langkahnya semakin berat karena tanah bekas hujan berubah menjadi lumpur. Berkali-kali ia hampir terpeleset. Goresan kawat berkarat di lengan dan kakinya terus mengucurkan darah, tetapi rasa sakit itu kalah oleh ketakutan."Ya Allah... lindungi kami," doanya lirih.Di depan, semak belukar tumbuh begitu rapat. Sova menerobos tanpa peduli duri-duri yang mencabik pakaian dan kulitnya.Tiba-tiba...Bruk!Kakinya menginjak akar pohon. Tubuhnya terjatuh hingga berguling di tanah."Akh..."Hal pertama yang dilakukannya bukan memeriksa dirinya sendiri, melaink
Sova refleks mundur selangkah saat pintu perlahan terbuka.Hari berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih dipenuhi memar. Tatapannya tetap datar, seolah tidak pernah terjadi apa-apa."Bu Sova... sudah bangun?"Sova menggenggam Rafa yang masih berada dalam pelukannya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga hampir memekakkan telinga.Namun, semua kepanikan itu dipaksanya menghilang dari wajah. Ia tersenyum tipis."Iya. Maaf ya, tadi aku sampai ketiduran."Hari mengangguk pelan. "Syukurlah."Sova memperhatikan ekspresi pria itu. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada kegugupan.Apa dia memang pengkhianat... atau hanya menjalankan perintah seseorang?"Saya di mana?" tanya Sova hati-hati."Tempat persembunyian sementara.""Oh..." Sova mengangguk seolah percaya. "Mas Roy belum datang?"Hari menggeleng. "Beliau masih sibuk."Jawaban yang sama.Sova menahan diri agar tidak mengepalkan tangan."Kalau begitu..." Ia melangkah mendekati pintu. "Saya boleh keluar? Bosan juga kalau terus di dala
Malam terasa begitu panjang bagi Sova.Ia duduk memeluk Rafa yang terus tertidur di dalam gendongannya. Jemarinya tak berhenti mengusap punggung bayi itu, seolah sentuhan kecil itu mampu mengusir rasa takut yang sejak tadi menguasai dadanya.Di sampingnya, Hilda bersandar pada senderan ranjang sambil sesekali melirik layar ponselnya.Belum ada kabar dari Roy. Sunyi memenuhi ruangan hingga suara napas mereka terdengar begitu jelas.Tok... tok... tok...Ketukan di pintu membuat tubuh Sova menegang. Begitu pun Hilda, ia bahkan langsung duduk tegak dengan tangan terkepal erat."Bu Sova, ini saya. Hari."Sova langsung berdiri. Ia berjalan menuju pintu dengan menggendong Rafa, diikuti oleh Hilda."Bu Sova? Anda masih di dalam kan? Saya Hari." Suara itu kembali terdengar memanggilnya."Hari?" suara Sova bergetar, antara senang dan rasa takut ketika mendengar suara pengawal itu."Iya. Keadaan di l
Suara yang terdengar dari seberang sambungan telepon itu membuat detak jantung Roy seolah berhenti sejenak. Tangan yang memegang benda pipih itu terasa gemetar, bukan karena takut, melainkan karena campuran rasa bersalah yang menumpuk setinggi gunung dan rasa malu yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia yang biasanya berbicara dengan nada tegas, berwibawa, bahkan kerap membuat orang lain ciut nyalinya hanya dengan satu tatapan tajam, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang kikuk bagaikan anak sekolah yang baru pertama kali diminta maju ke depan kelas untuk membaca puisi. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya melirik sekilas ke arah Sova yang kini duduk di sampingnya dengan ekspresi menahan senyum—tampaknya istrinya itu sangat menikmati pemandangan langka di mana sang suami yang biasanya sok gagah itu kini tampak kacau balau. “Halo… Beni… ini saya, Bos-mu,” sapa Roy dengan suara yang keluar agak serak dan terdengar terbata-bata. Ia menggaruk-garuk bela
“Apa ini?” tanya Hani yang nampak enggan mengambil kertas tersebut. “Tolong Mbak! Kalau tidak ada persetujuan tentang hal ini, maka Saya tidak bersedia menikah,” tekan Sova dengan mata tajam. Ditatap seperti itu oleh sang calon istri bos nya, membuat nyali Hani menciut. Ia pun segera
Bu Devi terdiam sesaat setelah mendengar tawaran Sova. Hatinya bertolak belakang dengan kalimat yang diucapkan oleh Sova. Di satu sisi, wanita paruh baya itu memang menginginkan uang lima juta yang ditawarkan oleh Beni, lelaki yang melamarkan Sova untuk ayahnya, Roy. Tapi di sisi lain, Ia sudah b
“Akhirnya, kamu pulang juga hah?” teriak bu Devi seraya berkacak pinggang di samping rumah, di sisi pintu dapur. Baru saja Ia melihat Sova dari kejauhan, Ia langsung menghujani gadis itu dengan tatapan membunuh. Sova yang biasanya selalu memasang wajah senyum dalam keadaan apapun, kini nampak leb
“Sova...!!!” Karena anak tirinya tak juga menghampiri, bu Devi kesal bukan kepalang. Ia pun segera berjalan sambil mengetuk kakinya keras-keras di setiap langkah, bermaksud menghampiri anak tirinya yang tadi masih terdengar menangis di kamarnya. “Iya Ma!” sahut Sova yang tiba-tiba muncul di had







