Share

SLTC - 065

last update publish date: 2024-01-16 15:00:59

“Ya, Bos!” sahut Beni saat Ia sudah berdiri di belakang Roy yang kini sedang berada di toko mainan.

Roy mengedarkan pandangannya karena khawatir mengganggu pengunjung lain. “Jagain belanjaan Saya!” titah Roy kepada anak buahnya seraya menyerahkan satu keranjang lagi yang berisi mainan, padahal lelaki itu sudah memegangi satu keranjang yang sudah dipenuhi mainan.

Roy mengajak Beni keluar dari toko, masuk ke dalam mobil.

Sedangkan di toko sendiri, pelayan yang sedari tadi memp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   122. Diakah penolong?

    Motor itu terus melaju membelah gelapnya malam.Jalanan yang lengang membuat laju kendaraan itu semakin kencang. Angin dingin menampar wajah Sova hingga matanya terus berair. Jemarinya semakin erat memeluk Rafa yang kembali terlelap setelah lama menangis.Namun ketakutan di dalam dada Sova justru semakin membesar.Pria itu tidak menjawab satu pun pertanyaannya.Bahkan ketika Sova berkali-kali meminta diturunkan, motor itu justru semakin menjauh dari jalan menuju rumah Bu Halimah."Pak... saya mohon..."Tak ada jawaban.Kilatan logam yang sempat dilihat Sova membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.Jangan-jangan...Ia baru saja lolos dari satu bahaya untuk masuk ke bahaya yang lain.Sova menoleh ke kanan dan kiri.Kecepatan motor itu sangat tinggi. Jalan di depan masih lurus, hanya diapit pepohonan dan sawah yang mulai menghilang berganti perkampungan kecil.Kala

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   121. Pelarian 2

    Sova mematung ketika suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan gubuk.Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging."Masuk ke belakang, cepat!" bisik sang nenek sambil menarik pergelangan tangan Sova.Tanpa membantah, Sova segera mengikuti. Ia memeluk Rafa yang masih terlelap, lalu berjongkok di balik tumpukan kayu bakar dan semak pisang di belakang rumah panggung. Dari celah dinding bambu, ia masih bisa melihat bagian depan rumah.Brak!Pintu didorong kasar."Heh, Pak Tua! Dengar baik-baik!"Suara lelaki bertubuh besar menggema.Kakek itu tetap berdiri tenang di ambang pintu."Ada apa malam-malam begini?""Kami sedang mencari perempuan yang kabur sambil bawa bayi.""Tidak ada.""Lihat dulu wajah kami!" bentak lelaki itu. "Kalau bohong, rumah ini kami bakar!"Sova spontan menutup mulutnya sendiri.Tubuhnya gemetar hebat.Nenek tua ya

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   120. Pelarian

    Sova berlari tanpa berani menoleh sedikit pun. Napasnya memburu, dadanya terasa seperti terbakar. Rafa yang terikat erat di dada mulai menangis semakin kencang, membuat kepanikan di dalam hati Sova berlipat ganda."Ke sana! Dia masuk kebun!""Tutup jalan belakang!"Sorot senter mulai menari-nari di antara pepohonan.Sova menggigit bibir. Langkahnya semakin berat karena tanah bekas hujan berubah menjadi lumpur. Berkali-kali ia hampir terpeleset. Goresan kawat berkarat di lengan dan kakinya terus mengucurkan darah, tetapi rasa sakit itu kalah oleh ketakutan."Ya Allah... lindungi kami," doanya lirih.Di depan, semak belukar tumbuh begitu rapat. Sova menerobos tanpa peduli duri-duri yang mencabik pakaian dan kulitnya.Tiba-tiba...Bruk!Kakinya menginjak akar pohon. Tubuhnya terjatuh hingga berguling di tanah."Akh..."Hal pertama yang dilakukannya bukan memeriksa dirinya sendiri, melaink

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   119. Terlamabat Sadar

    Sova refleks mundur selangkah saat pintu perlahan terbuka.Hari berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih dipenuhi memar. Tatapannya tetap datar, seolah tidak pernah terjadi apa-apa."Bu Sova... sudah bangun?"Sova menggenggam Rafa yang masih berada dalam pelukannya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga hampir memekakkan telinga.Namun, semua kepanikan itu dipaksanya menghilang dari wajah. Ia tersenyum tipis."Iya. Maaf ya, tadi aku sampai ketiduran."Hari mengangguk pelan. "Syukurlah."Sova memperhatikan ekspresi pria itu. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada kegugupan.Apa dia memang pengkhianat... atau hanya menjalankan perintah seseorang?"Saya di mana?" tanya Sova hati-hati."Tempat persembunyian sementara.""Oh..." Sova mengangguk seolah percaya. "Mas Roy belum datang?"Hari menggeleng. "Beliau masih sibuk."Jawaban yang sama.Sova menahan diri agar tidak mengepalkan tangan."Kalau begitu..." Ia melangkah mendekati pintu. "Saya boleh keluar? Bosan juga kalau terus di dala

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   118. Diselamatkan?

    Malam terasa begitu panjang bagi Sova.Ia duduk memeluk Rafa yang terus tertidur di dalam gendongannya. Jemarinya tak berhenti mengusap punggung bayi itu, seolah sentuhan kecil itu mampu mengusir rasa takut yang sejak tadi menguasai dadanya.Di sampingnya, Hilda bersandar pada senderan ranjang sambil sesekali melirik layar ponselnya.Belum ada kabar dari Roy. Sunyi memenuhi ruangan hingga suara napas mereka terdengar begitu jelas.Tok... tok... tok...Ketukan di pintu membuat tubuh Sova menegang. Begitu pun Hilda, ia bahkan langsung duduk tegak dengan tangan terkepal erat."Bu Sova, ini saya. Hari."Sova langsung berdiri. Ia berjalan menuju pintu dengan menggendong Rafa, diikuti oleh Hilda."Bu Sova? Anda masih di dalam kan? Saya Hari." Suara itu kembali terdengar memanggilnya."Hari?" suara Sova bergetar, antara senang dan rasa takut ketika mendengar suara pengawal itu."Iya. Keadaan di l

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   117

    Suara yang terdengar dari seberang sambungan telepon itu membuat detak jantung Roy seolah berhenti sejenak. Tangan yang memegang benda pipih itu terasa gemetar, bukan karena takut, melainkan karena campuran rasa bersalah yang menumpuk setinggi gunung dan rasa malu yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia yang biasanya berbicara dengan nada tegas, berwibawa, bahkan kerap membuat orang lain ciut nyalinya hanya dengan satu tatapan tajam, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang kikuk bagaikan anak sekolah yang baru pertama kali diminta maju ke depan kelas untuk membaca puisi. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya melirik sekilas ke arah Sova yang kini duduk di sampingnya dengan ekspresi menahan senyum—tampaknya istrinya itu sangat menikmati pemandangan langka di mana sang suami yang biasanya sok gagah itu kini tampak kacau balau. “Halo… Beni… ini saya, Bos-mu,” sapa Roy dengan suara yang keluar agak serak dan terdengar terbata-bata. Ia menggaruk-garuk bela

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC 92. Amarah

    SLTC - 092Roy menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah ruangan. Ada denyut nyeri saat Sova nampak ingin menolaknya. Tapi, Ia pun tak ingin menyalahkan Sova karena kesalahan itu ada pada dirinya. "Jangan berisik!" Ucap sofa lagi, Kemudian tangannya menunjuk ke arah rancan

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 080

    Sova mendadak tremor saat kakinya melangkah masuk ke dalam ruang NICU. Baginya, ini kali pertama memasuki ruangan steril dengan menggunakan baju rumah sakit dan penutup kepala. Apalagi, ruang steril rumah sakit, yang dikhususkan untuk bayiSofa menyambut hangat disambut hangat oleh Roy yang bersiap u

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 002

    1 Bulan Kemudian... Sova menutup resleting tas barunya dengan riang. Ia begitu senang karena bu Halimah mengatakan bahwa perlombaan debat bahasa Inggris di Kabupaten dilaksanakan hari ini. Ia selalu bermimpi untuk mewujudkan masa depan yang lebih cerah. “Va, ini Ibu bawakan sesuatu untuk kamu,”

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 001

    “Saya datang ke sini, bermaksud untuk melamar putri Bapak Harun, untuk ayah Saya, Pak Roy.” Samar-samar, Sova mendengar suara obrolan yang sepertinya berasal dari ruang tamu. “Melamar?” lirihnya pelan. Sontak Ia pun menghentikan langkahnya untuk mencuri dengar. “Siapa yang dilamar?” tanyanya di da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status