Mag-log inXiao Xing, kembali dengan langkah cepat.
“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya, benar-benar memikat siapa saja yang menatapnya. “Tidak ada, Yang Mulia. Hamba hati-hati saat keluar tadi.” “Apakah semua persiapan pesta Raja Wang Ming sudah beres?” “Sudah, Yang Mulia. Para pelayan tadi sudah mengkonfirmasi jika semua sudah sesuai dengan rencana.” “Awasi dapur utama kerajaan mulai hari ini dan besok. Tidak ada kesalahan sama sekali.” “Baik, Yang Mulia. Hamba akan sampaikan pada mereka lagi.” “Aku lelah, antar aku berjalan-jalan di taman untuk menghirup udara sejenak,” ajak Li Jing pada pelayan setianya itu. Di taman yang ada di depan Paviliun Mawar Phoniex tempat Li Jing tinggal, dia melihat ada seorang pelayan yang berlari cepat menyelinap ke jalan sepi di sisi Paviliun. “A Chen, A Xiong!” Dua bayangan hitam berkelebat cepat menemui Li Jing. “Siap, Yang Mulia!” ucap dua laki-laki berseragam pengawal rahasia, berjubah hitam dan memakai topeng yang menutup hidung dan mulut mereka, datang menghadap Li Jing. “Ikuti dia! Laporkan hasilnya padaku secepatnya,” perintah Li Jing pada dua pengawal bayangan yang dulu diberikan oleh Papa Li Jing saat dia masuk ke istana pertama kali. “Baik, Yang Mulia,” jawab cepat keduanya serentak. Sambil berkelebat pergi secepat hembusan angin dan tanpa jejak. Pasukan bayangan milik keluarga Jenderal Lie Hyun—ayah Li Jing memang sudah sangat terlatih. Li Jing berdiri di sebuah pohon plum yang teduh. Memperhatikan dari kejauhan beberapa aktivitas yang dilakukan para pelayan. Mengawasi dengan mata elangnya. “Temukan informasi ke Paviliun Anggrek, aku menunggu di sini!” perintah Li Jing pada Xiao Xing pelayan setianya. Beberapa saat, Xiao Xing datang tergopoh. “Yang Mulia, pagi tadi, Selir Utama Mei Ling kembali mendatangi kediaman Ibu Suri Rong Yue. Di sana, sudah ada Pangeran Wang Dong dan Menteri Keuangan Bong An.” “Dugaan aku selama ini benar. Ada sesuatu yang mereka rahasiakan dan rencanakan.” Gumam lirih Li Jing. “Xing, cepat kau ke jalan rahasia suruh orang mengikuti pergerakan menteri keuangan Bong An dan Pangeran Wang Dong.” perintah Li Jing pada Xiao Xing yang langsung dilakukan oleh pelayan setia itu. Li Jing kembali duduk di bawah pohon plum di taman bunga Paviliun tempat tinggalnya. Dia menunggu sambil menyulam sebuah kantong kecil dengan sulaman indah bergambar Phoniex terbang. Li Jing memasukkan guci kecil berwarna biru pemberian ilusi Tabib Ren Hao saat dia akan regresi lalu. Li Jing menyembunyikan kantung isi guci itu di balik lengan jubahnya. “Aku pastikan semua rencana Mei Ling besok, akan aku gagalkan,” tekad Li Jing dalam hatinya. Sore menjelang saat Xiao Xing kembali ke Li Jing. “Yang Mulia, mereka tidak ada pergerakan apapun. Cuma pelayan Selir Utama Mei Ling saja yang keluar melewati jalan rahasia di ujung istana itu untuk keluar ke sebuah rumah hiburan Nirwana. Dan di sana lama sekali,” jelas Xiao Xing. Wajah Li Jing membeku. Ekspresi dingin menghiasi wajah ayunya itu. Tatapannya setajam belati yang berkilat. Terulas senyum tipis di sudut bibir merahnya yang mungil. Xiao Xing tiba-tiba bergidik. Selama dia melayani Li Jing, baru kali ini dia sangat merasakan adanya perbedaan yang mencolok. Dia seakan tidak mengenal majikannya lagi, sejak majikannya sadar dari pingsannya beberapa saat lalu. “Xing, ada apa? Mengapa kau pandangi aku seperti itu?” Xiao Xing terkesiap dan jadi gelagapan. “Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak berani,” jawab Xiao Xing sudah tersungkur di kaki Li Jing. “Berdirilah. Jangan lagi berpikir hal yang tidak kamu mengerti. Tapi hadapi saja dan lakukan apa yang jadi tugasmu.” “Mulai sekarang, aku berjanji padamu. Tidak akan pernah ada lagi yang berani menindasmu,” ucap tulus Li Jing. Terkenang dalam ingatannya, bayangan Xiao Xing yang akhirnya dilecehkan juga dan mati mengenaskan di depan matanya karena membela Li Jing di kehidupan lalu. “Terima kasih, Yang Mulia. Hamba juga akan mengabdikan diri hamba seumur hidup hamba pada Yang Mulia.” ***** Hari itu, Istana Langit sangat ramai dan sibuk. Terlihat kesibukan para pelayan mendekorasi aula utama dan menyiapkan beberapa meja besar di taman depan aula utama. Di kediaman Ibu Suri Rong Yue, terlihat beliau sedang bersiap memakai jubah kebesaran untuk menghadiri acara pesta ulang tahun Raja Wang Ming yang akan segera dilaksanakan. “Bibi An, apakah kau sudah mengutus orang untuk mengamankan pesta hari ini sesuai dengan rencana Menteri Bong An dan Pangeran Wang Dong?” “Sudah, Yang Mulia Ibu Suri.” “Baiklah, mari kita menemui para tamu undangan di aula utama. Sambil menunggu acara dimulai.” “Mari, Yang Mulia.” Beberapa saat kemudian, terdengar Kasim Liang mengumumkan kedatangan Kaisar. Kaisar datang. Semua yang hadir di aula utama berdiri dan bersujud memberikan penghormatan pada Wang Ming. “Selamat Ulang Tahun, Yang Mulia. Semoga sehat selalu dan bahagia serta panjang umur selamanya,” salam semua tamu undangan serentak di aula utama. “Berdiri. Selamat datang para tamu undangan. Kami sangat bahagia bisa mengundang kalian ke pesta ulang tahunku,” jawab Raja Wang Ming menyapa para tamu undangan. Li Jing yang duduk di depan singgasana Raja Wang Ming. Tak lama seorang pelayan menghampiri meja Li Jing dan menuangkan anggur di cawannya. “Yang Mulia Permaisuri, hamba memberikan salam pada Yang Mulia. Mari kita bersulang untuk merayakan ulang tahun Yang Mulia, Raja Wang Ming.” Mei Ling yang duduk di sebrang Li Jing sudah mengangkat cawan yang sudah penuh anggur. “Terima kasih, Selir Utama Mei Ling. Anda sangat perhatian,” jawab Li Jing cepat sambil mengangkat cawan di mejanya. Mei Ling tersenyum menang.Li Jing di dalam jadi terkejut, ketika tengah malam Selir Yen datang ke kediamannya. "Xiao Xing, ajak masuk Selir Yen kemari.""Selir Yen, silakan masuk." Selir Yen yang masih sembab, jatuh tersungkur di kaki Li Jing. "Ampun Yang Mulia Ratu, Hamba tengah malam menghadap Yang Mulia," salam Selir Yen"Ada apa, kenapa mata kamu sembab begitu?""Ampun Yang Mulia Ratu, Hamba mengaku bersalah dan berbohong pada Ratu selama ini," ucap Selir Yen mantap. "Bohong? Bohong apa?""Hamba sebenarnya disuruh Selir Mei Ling untuk mempermalukan Ratu di acara kegiatan lomba tadi. Hamba disuruh menyabotase bahan milik Hamba sendiri dan Selir Kim, supaya Kerajaan Langit kalah. Nama Ratu akan dihina dan dipermalukan, karena Ratu secara khusus sudah melatih dan memanggilkan Guru Besar Nim secara khusus." Ekspresi Li Ing tidak terkejut sama sekali, bahkan terlihat sangat santai. Seakan dia sudah tahu semuanya. Membuat Selir Yen merasa aneh dan bertanya-tanya dalam hatinya. "Apakah Ratu sudah tahu dari
Waktu terus berjalan hingga dupa itu mulai hampir ke pangkalnya dan habis. "Selesai!" teriak seorang pembawa acara saat itu dengan suara lantang. "Kumpulkan semua hasil yang kalian punya di hadapan para Guru Besar yang telah dipilih secara cermat oleh tim acara.""Aduh, bagaimana ini? Sulaman aku hanya jadi bentuk ikan koi warna merah saja?" gumam Selir Yen yang di dengar oleh Selir Kim. "Selir Yen masih bagus, nah aku, cuma bisa buat sulaman kuda perang yang biasa ditunggangi kakek aku dulu," seru Selir Kim penuh kekecewaan. Li Jing di tempatnya dia duduk memperhatikan kedua Selir Rajanya. Kemudian netranya kembali memperhatikan sikap dan gelagat Mei Ling yang memamerkan hasil sulamannya kepada Raja Wang Ming. Namun, Raja Wang Ming hanya pura-pura tidak melihat saja. Mei Ling yang kembali merasa diabaikan oleh Wang Ming akhir-akhir ini hanya bisa cemberut dan menghentakkan kakinya beberapa kali di tempatnya berdiri. Pangeran Sulung Wang Dong, yang mengambil tempat duduk di dep
"Juara Ketiga adalah sulaman ikan koi merah dari Kerajaan Langit, sulaman dari Selir Yen." Plok! Plok! Plok! "Hebat, dua pemenangnya hari ini dari tuan rumah, padahal bahan mereka ada yang sabotase," bisik-bisik para tamu undangan. Hari itu, Selir Yen dan Selir Kim secara tak langsung telah mempromosikan bagaimana para Selir Kerajaan Langit yang mereka biat taruhan adalah wanita-wanita hebat yang tak mudah dikalahkan dan dipermainkan begitu saja. "Baiklah, kegiatan kita hari ini sampai disini dulu, aku sudah lelah," ucap Wang Ming pada semua tamu undangan. "Baik, Baginda Raja Wang Ming, sehat selalu dan hidup bahagia selamanya," seru semua tamu undangan di tempat itu menghantarkan Wnag Ming yang sudah meninggalkan tempat itu. Li Jing menghampiri Selir Yen dan Selir Kim dengan bangga. "Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini. Pelayan berikan hadiahnya!" "Yang Mulia, kami hanya menjalankan apa yang Yang Mulia ajarkan pada kami. Terima kadihbtelah membela kami tadi," ucap
A Xiong langsung meninggalkan tempat itu. Membiarkan si penguping dan mata-mata itu kembali pada Tuannya. "Chin, kau ikuti bayangan itu! Cari tahu siapa yuan mereka dan siapa dalang yang kurang kerjaan itu, laporkan segera padaku!" perintah A Xiong pada tangan kanannya Chin An. Chin An adalah pengikut setia A Xiong sejak muda. Dulu dia pernah diselamatkan A Xiong saat keluarganya dibunuh oleh para pembunuh bayaran yang hingga saat ini juga belum diketahui siapa mereka. Sehingga Chin An mengikuti A Xiong supaya dia bisa menyelidiki juga kasus kematian orang tuanya dulu. Bayangan itu lari sangat cepat. Tapi Chin An tidak menyerah, dia mengimbangi si bayangan tersebut. Di Kediaman Ratu Li Jing, Xiao Xing menyiapkan makan malam untuk Li Jing. "Lapor, Yang Mulia Ratu," A Xiong sudah tiba dan langsung menghadap Li Jing. "Katakan!" "Guru Besar Nim sudah kami amankan. Kami tempatkan di salah satu rumah milik Yang Mulia, sesuai dengan Yang Mulia perintahkan pada Hamba," jawab A Xiong.
A Xiong langsung menghilang dan secepatnya dia menyusul rombongan Guru Besar Nim. Di tengah perjalanan yang ada di perbatasan ibu kota dan mendekati luar gerbang ibu kota. Rombongan Guru Nim yang mendapatkan kabar bahwa putranya akan di hukum mati karena ketahuan memiliki hutang besar dan tidak dapat membayarnya. Putra Guru Besar Nim bisa diselamatkan jika Guru Besar Nim sendiri yang datang menghadap ke hakim di wilayah asalnya. Inilah yang Li Jing ketahui itu adalah jebakan. Saat pengawal rahasia Li Jing yang dari awal di tempatkan Li Jing di dalam rombongan Guru Besar Nim mengkonfirmasi hal itu ternyata keluarga Guru Besar Nim semua baik-baik saja. Putranya juga sedang belajar bersiap mengikuti ujian negara setelah acara Bunga Jade selesai. Tiba di jalanan yang sudah jauh dari ibu kota, rombongan Guru Besar Nim benar-benar di hadang oleh pasukan khusus yang memakai seragam lengkap pasukan elite. Mereka menghadang dan menangkap Guru Besar Nim serta murid terakhirnya yang dia gad
Ibu Suri menatap Li Jing lekat dengan pandangan menelisik. "Apakah masih sama, dia adalah Li Jing, putri dari Jendral Lie Hyun, yang dulu manis, polos, penurut, suka gugup, mudah dikendalikan dan baik hati? Mengapa sekarang aku merasa dia berbeda dan seperti bukan dirinya?" gumam Ibu Suri dalam hatinya. "Yang Mulia, mari kita lanjutkan untuk berkeliling melihat apa saja yang ada dan jadi kesibukan mereka di waktu seperti ini," bisik Bibi An pada Ibu Suri. Membuat Ibu Suri tersadar dalam lamunannya tadi. "Bi, aku merasa ada yang berbeda pada Li Jing. Coba kau utus beberapa orang untuk mengawasi kegiatan Li Jing di kediamannya. " Baik, Yang Mulia Ibu Suri."Kecurigaan akan perubahan sikap Li Jing tidak sampai di situ saja. Ibu Suri langsung memanggil Pangeran Sulung. "Han'er, apakah kau juga merasa seperti yang Nenek rasakan?""Apakah itu?""Sikap Li Jing wanita genit itu, sekarang seakan memiliki aura yang berbeda, seakan dia bukan orang yang sama?""Hm, ternyata perasaan Nene
"Tuliskan titahku!" "Lapor, Ampun Yang Mulia, Baginda Raja," seru seorang kasim datang melapor, hal yang tidak di duga oleh Li Jing dan Xiao Xing. "Ampun Yang Mulia, Baginda Raja, jangan timpakan kesalahan itu pada Selir utama, sebab telah kami selidiki, ternyata ada yang sengaja menyebarkan be
Hari yang ditunggu tiba juga. Di taman utama Kerajaan Langit, tampak banyak tamu undangan yang datang dan duduk di masing-masing kursi kehormatan mereka, sesuai dengan wilayah masing-masing. Selir Yen, Kim dan Xia, sudah mengambil posisi sesuai yang diatur oleh Li Jing. Namun saat mereka sibuk m
Desahan menuju puncak kenikmatan menjadi melodi malam itu bagi dua insan yang terjerat dalam asmara terlarang di istana barat Kerajaan Langit. Di tempat lain, Li Jing duduk dengan menatap langit yang tiba-tiba gelap tanpa bulan. Gelang Giok Bulan di tangannya kini berubah warna menjadi merah dan
Li Jing yang mendengar kata-kata Mei Ling membuat dia emosi. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Lalu dengan sikap netral kembali dia tersenyum tipis pada Mei Ling. "Selir Mei Ling, tidak usah buru-buru untuk duduk disebelah Raja. Ada tugas yang membuatmu makin dikenal seluruh wilayah yang ad







