LOGINSetelah kecelakaan tragis, Celestine Montclair terbangun dalam tubuh Lavinia Whitmore. Seorang villainess yang ditakdirkan mati di tangan Duke Alaric Montague. Dengan bantuan sistem misterius, ia harus menyelesaikan berbagai misi. Namun, kutukan keluarga yang membangkitkan gairah tak terkendali serta intrik Clarissa Beaumont yang manipulatif membuat segalanya semakin rumit. Ketika alur cerita mulai berubah dan para tokoh berbalik arah, mampukah Lavinia menulis ulang takdirnya sebelum pelukan terakhir benar-benar menjadi akhir? Area 21+ dan HAREM yang belum cukup umur enggak usah baca dan jangan dilaporkan. Kalo mau author sering update vote! dan komen juga! DILARANG PLAGIAT, KALO MAU BACA TINGGAL BACA KALO ENGGAK SUKA ENGGAK USAH MENINGGALKAN JEJAK LANGSUNG ENGGAK USAH BACA AJA.
View MoreDunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair.
Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena mencoba menyelamatkan seekor kucing kampung yang bahkan tidak menoleh saat aku meregang nyawa sungguh ironis. Namun, kegelapan abadi yang kubayangkan ternyata tidak kunjung datang. Alih-alih cahaya putih atau gerbang neraka, sebuah suara mekanik yang dingin dan statis justru bergema di dalam kepalaku, terdengar seperti asisten digital dari masa depan. [Sinkronisasi Jiwa: 100%] [Selamat Datang, Host Celestine. Memulai Integrasi ke dalam Dunia Novel: "The Duke’s Obsession".] [Peran: Lavinia Whitmore — Status: Villainess Utama.] "Apa...?" Aku mencoba bersuara, tapi tenggorokanku terasa kering. Tiba-tiba, gelombang ingatan yang bukan milikku menghantam. Ingatan tentang seorang wanita bernama Lavinia Whitmore — seorang bangsawan sombong, pemarah, dan terobsesi secara gila pada seorang pria yang tidak pernah mencintainya. Di akhir cerita novel ini, kepala Lavinia akan dipenggal oleh pedang pria yang ia puja di depan rakyat banyak. Saat aku membuka mata, aku tidak lagi berada di jalanan beton yang berlumuran darah. Aku berada di depan sebuah cermin rias raksasa yang terbuat dari emas murni. Di sana, seorang wanita menatapku balik. Rambut merah muda yang membara, kulit seputih porselen, dan mata merah yang tajam namun penuh gairah. Gaun hitam-merah dengan potongan rendah yang mengekspos bahu itu melekat sempurna di tubuh yang sangat seksi. "Wah... ini gila," bisikku sambil menyentuh pipiku. Suaraku tidak lagi berat karena lelah bekerja, melainkan lembut, merdu, dan ada nada centil yang secara alami keluar dari bibir merah ini. "Aku jadi secantik ini? Truk itu ternyata melakukan operasi plastik paling sukses dalam sejarah!" Aku mulai berpose di depan cermin, mengagumi tubuh baruku. Lupakan sejenak tentang eksekusi mati. Jika aku punya wajah selevel dewi ini, hidup sebagai villainess sepertinya tidak buruk juga. Aku bisa menjadi pusat perhatian ke mana pun aku pergi. BRAKK! Pintu kamar terbanting terbuka dengan keras hingga menghantam dinding. Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan parfum kristal di atas meja. Di ambang pintu, berdirilah seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap. Ia mengenakan seragam militer hitam dengan lencana emas yang berkilau. Duke Alaric Montague. Pria yang di dalam novel aslinya sangat membenci Lavinia. Wajahnya luar biasa tampan, tapi ekspresinya seolah-olah ia baru saja melihat kotoran di sepatu botnya. "Lavinia!" geramnya, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Berhenti menggunakan trik murahanmu untuk menarik perhatianku. Meskipun kamu pura-pura pingsan atau bahkan mencoba mati sekalipun, aku tidak akan pernah sudi melihatmu. Hatiku hanya milik Clarissa!" Jika ini adalah Lavinia yang asli, dia pasti sudah menjerit histeris, menangis, atau melempar barang-barang mewahnya sambil memaki nama Clarissa Beaumont. Tapi aku? Celestine yang sekarang mendiami tubuh ini, merasa Duke ini Sedikit... berlebihan. Lucu sekali melihat pria setampan ini marah-marah seperti anak kecil yang direbut mainannya. Aku tidak menangis. Sebaliknya, aku berjalan mendekat dengan langkah pelan yang sengaja kubuat sedikit goyah, memberiku kesan manja. Aku berhenti tepat di depan dadanya yang bidang, mendongak, dan memberikan senyuman paling manis sedikit nakal yang pernah ada. "Aduh, Duke sayang..." aku mengelus kerah bajunya dengan ujung jariku yang lentik. "Baru bangun tidur sudah teriak-teriak begitu. Apa kamu sebegitu rindunya padaku sampai harus mendobrak pintu?" Alaric mematung. Matanya yang dingin membelalak karena terkejut. Dia mengharapkan amarah, bukan godaan. "Apa yang kau..." "Ssst," aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya, membuat napasnya tertahan. "Kalau mau perhatian, bilang saja. Tidak perlu bawa-bawa nama Clarissa yang membosankan itu. Lihat aku, Alaric. Apa menurutmu Clarissa punya senyum semanis ini?" Aku mengedipkan sebelah mataku dengan gaya yang sangat centil. Wajah Alaric yang tadinya pucat karena marah kini sedikit memerah karena bingung dan mungkin sedikit malu. Ia menyentakkan tanganku dan mundur satu langkah, seolah-olah aku adalah api yang baru saja membakarnya. "Kau... kau benar-benar sudah gila, Lavinia!" desisnya sebelum berbalik dan pergi dengan langkah seribu, meninggalkan kamarku secepat mungkin. Aku tertawa kecil melihat punggungnya yang menjauh. Menghadapi pria kaku seperti dia ternyata cukup menghibur. Namun, tawaku terhenti saat sebuah panel transparan kembali muncul di depan mataku. [Peringatan Sistem: Misi Utama - Bertahan Hidup.] [Kondisi Tubuh: Kutukan Darah Whitmore Terdeteksi.] [Status: Aktif dalam 30 hari (Tepat di Ulang Tahun ke-18) [Efek: Nafsu gairah yang tak tertahankan dan kehilangan kesadaran diri tanpa sentuhan lawan jenis.] Senyumku langsung luntur. "Tunggu... kutukan apa?" Ingatan tambahan muncul. Keluarga Whitmore memiliki kutukan rahasia. Itulah alasan kenapa banyak keturunan wanita mereka dicap sebagai 'piala bergilir' karena sifat mereka yang mendadak berubah menjadi penggoda gila saat menginjak usia dewasa. Padahal, itu adalah cara tubuh mereka bertahan hidup dari rasa sakit kutukan tersebut. "Jadi, kalau aku tidak menemukan pria untuk... 'membantu' meredakan kutukan ini dalam 30 hari, aku akan kehilangan akal sehat?" Aku menelan ludah, menatap kembali pantulan diriku di cermin. Visual yang kulihat sekarang bukan lagi sekadar keberuntungan reinkarnasi, melainkan kutukan yang mematikan. Aku harus mengubah takdir ini. Duke Alaric yang dingin, Putra Mahkota Adrian yang kekanakan, atau Vincent yang misterius itu. Salah satu dari mereka harus bertekuk lutut padaku sebelum hari ulang tahunku tiba. "Baiklah, Celestine," aku memperbaiki tatanan rambut merah mudaku dan tersenyum licik. "Waktunya menjadi villainess yang paling menggemaskan dan paling berbahaya di kerajaan ini. Clarissa, siapkan dirimu, karena pesona 'polosmu' itu akan segera tenggelam oleh gairah mawar ini." Lavinia Whitmore tidak akan mati di tangan Duke kali ini. Sebaliknya, Duke-lah yang akan memohon untuk berada di pelukannya. *** Halo semuanya! ❤️ Kalau kalian datang dari novelku sebelumnya, terima kasih sudah kembali menemani perjalanan yang baru ini 🥹✨ Dan untuk pembaca baru, selamat datang! Semoga kalian bisa menikmati cerita ini sebagaimana aku menikmati proses menulisnya. Jangan ragu meninggalkan like, komentar, atau teori kalian setelah membaca. Dukungan sekecil apa pun selalu berarti untukku. Selamat membaca dan semoga betah di sini 💖 — DinwaGema fluks komunikasi sihir di dalam kepalaku perlahan menyurut, meninggalkan keheningan yang janggal di dalam ruangan kerja basal hitam Paviliun Kekaisaran. Di luar jendela, kabut kelabu dari utara masih tertahan oleh barikade cahaya suci Alaric, namun atmosfer di dalam ruangan ini sama sekali tidak mendingin. Sentuhan posesif Adrian di pinggangku terasa kian menuntut. Sapuan napasnya yang sepanas bara api menerpa ceruk leherku, membakar sisa-sisa aroma mawar hitam yang menguar dari kulit porselenku. "Lavinia..." Adrian berbisik parau, bibirnya yang basah mulai mengecup bahuku yang dihiasi segel emas berdenyut redup. Tangannya yang besar merayap turun, meremas pinggulku dengan ketat hingga aku memekik pelan. "Karantina wilayah utara sudah berjalan sesuai maumu. Sekarang, biarkan aku membantumu mengunci sisa elemen api ini ke dalam inti energimu. Tubuhmu masih terlalu dingin, Countess." "
Melalui fluks komunikasi di kepala Alaric, aku membisikkan perintahku dengan nada suara yang sengaja kubuat manja, berpadu kontras dengan instruksiku yang dingin. "Alaric, sayang... kau melakukan pekerjaan yang hebat dan terlihat sangat tampan di sana. Tapi jangan membuang energimu untuk memurnikan boneka-boneka rusak itu satu per satu, ya? Fokus saja pada pembendungan wilayah. Anggap mereka sebagai bad debts (kerugian macet) yang tidak perlu diselamatkan harganya. Pertahankan saja dinding itu sampai fajar tiba, mengerti?" Alaric yang mendengar suaraku langsung menegang di tengah medan pertempuran. Matanya yang jernih berkilat gila oleh rasa pengabdian yang fanatik karena diberi perhatian di tengah kepungan mayat hidup. Sambil menahan hantaman sihir hitam dari luar, ia berbisik ke udara kosong, "Apapun untukmu, Countess-ku... jiwaku, cahayaku, dan setiap tetes darahku adalah modal yang bi
Layar proyeksi sistem yang menampilkan visualisasi pengawal perbatasan tanpa lidah itu akhirnya lenyap, berganti dengan kilatan matriks data yang terus memperbarui angka kerugian logistik di wilayah utara. Kamar kerja utama Paviliun Kekaisaran kini terasa seperti sebuah ruang kendali krisis di tengah malam yang buta. Udara yang semula pengap oleh aroma sisa keintiman magis antara aku dan Adrian, kini bertransformasi menjadi dingin dan kaku. Kehadiran Adrian di sisiku tidak lagi membawa kehangatan yang menenangkan, melainkan sebuah tekanan hawa panas yang menuntut pertumpahan darah. Pria raksasa itu berdiri bersedekap di samping meja basal hitam, matanya yang merah menyala menatap lurus ke peta proyeksi wilayah Whitmore. Urat-urat di lengan besarnya berdenyut kemerahan, melepaskan gelombang fluks elemen api yang berkali-kali menciptakan desis uap tipis saat berbenturan dengan h
Aroma belerang dan sisa-sisa gairah yang membara di atas sofa kulit hitam Paviliun Kekaisaran tersapu bersih dalam sekejap, digantikan oleh hawa sedingin es yang merayap masuk dari celah jendela. Malam belum sepenuhnya larut, namun kegelapan yang menggantung di langit ibu kota terasa jauh lebih pekat dan berbobot daripada beberapa jam lalu. Di sudut pandangku, layar antarmuka sistem masih terus berkedip merah konstan, memantulkan cahaya neon digital yang kontras pada permukaan marmer ruangan yang gelap gulita. [PERINGATAN KRITIS: Jaringan Mana Distrik Utara Terkontaminasi.] [Laju Kerugian Logistik: Berjalan pada kecepatan 1,8% per menit.] [Rekomendasi: Isolasi total atau sistem akan mengalami defisit mana massal.] "Sialan," aku mengumpat pelan di dalam hati, buru-buru memungut gaun tidur sutra hitamku yang teronggok di lantai
Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut ba
Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya."Kamu benar-be
Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar n
Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.