Inicio / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 20 Barang Rongsokan

Compartir

Bab 20 Barang Rongsokan

Autor: Nadira Dewy
last update Fecha de publicación: 2026-07-04 22:25:30

Wulien terkejut melihat itu. Dia berlari cepat menuju jendela kamar, memeriksa bagaimana kondisi jendela itu.

“Tidak ada bekas dicongkel, tidak ada yang rusak sama sekali. ini... ini benar-benar tidak masuk akal,”ucap Wulien dengan tatapan tak percaya.

Suran mencengkram kain yang menutupi tubuhnya, gemetar ngeri membayangkan ada orang yang diam-diam berada di kamarnya, dan mungkin juga menyaksikan saat dia mandi tadi.

“Sial. Sebenarnya siapa orang itu? Apakah orang yang sama dengan yang d
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 62 Tidak Peduli

    Untuk sesaat, Rey terdiam. Ia baru saja menyadari bahwa kain penutup wajahnya telah hilang. “Kau...”Rey langsung menutupi wajahnya dengan punggung tangan, hal itu membuat Suran mengalihkan pandangan. “Kau pasti sudah melihatnya dengan jelas tadi, kan?” tanya Rey, meskipun sebenarnya dia menutupi wajahnya sekarang adalah hal yang percuma, gerakan itu benar-benar reflek. Suran masih tidak ingin menatap Rey, takut kalau pria itu akan berpikir macam-macam. Namun, dia juga tidak mungkin mengatakan tidak atau berbohong yang lain karena pria itu jelas bukan orang yang bisa dibohongi seenaknya. “Iya, aku memang melihat wajahmu dengan jelas. Tapi, meskipun aku melihat wajahmu sekarang sayangnya aku adalah orang yang gampang lupa,” jawab Suran. Itu bukan sebuah kebohongan, ia memang gampang lupa dengan wajah orang lain jika tidak bertemu beberapa kali dalam waktu dekat. Meskipun akan terus bersama dengan Rey, tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas lagi tentu saja hasil akhirnya

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 61 Pertarungan

    Pagi itu, Suran menyampaikan pada Wulien dan Rey kalau dia memiliki satu hal yang harus segera dijalankan. “Wulien, aku akan pergi ke perbatasan wilayah besok pagi. Untuk Kael, besok dia juga akan berangkat, diantar oleh para pengawal Hideria.” Rencana yang mendadak itu membuat Wulien terkejut, sedangkan Rey merasa sangat penasaran apa yang akan dilakukan Suran di sana, namun ia masih memilih untuk tidak bertanya dulu. “Nona, untuk apa datang ke sana? Ada banjir bandang yang sedang terjadi. Anda tahu bahaya sekali, kan?” ujar Wulien yang merasa kurang setuju. Suran tersenyum lesu. “Aku tahu. Tapi aku tidak bisa diam saja karena sekarang banyak hal yang terjadi di sana. Aku tidak tahu apa tujuan mereka ingin mencelakai para penduduk perbatasan dan kakakku. Aku harus membantu Kakaku,” jawabnya. Rey yang sejak tadi diam akhirnya mulai bersuara, “Hei, kau lupa kalau pangeran ke dua sudah mengurus orang ke sana? Ada beberapa pejabat yang kini masuk penyelidikan, beberapa oknu

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 60 Melindungi Dia

    Suran menghela napas lagi, “Ah, apa aku harus menikah dengan pengeran ke enam untuk mengindari semua itu?” “Tidak boleh!!!!!” Suran dan Wulien tersentak kaget mendengar suara itu, suara yang ternyata adalah milik Rey. Entah kapan pria itu datang, bahkan sudah ada di dekat Suran, memotong pembicaraan yang sudah menjelaskan kalau dia memang mendengar cukup banyak barusan. “Kenapa kau tiba-tiba muncul?” protes Suran, tatapan matanya menajam kesal.Rey menghela napas sebelum menjawab, “Aku tertarik dengan pembicaraan kalian barusan.”“Itu bukan urusanmu,” ujar Suran.Rey pun langsung bereaksi dengan semakin mendekati Suran. “Benarkah? Padahal kalau kau tidak suka Pangeran ke 6, aku bisa membantu menyingkirkannya.”Mendengar itu, Suran pun terperanjat kaget, reflek memukul lengan Rey sambil melotot kesal. “Jangan asal bicara. Kalau pihak istana mendengar ucapanmu barusan, sudah pasti kau akan dicap sebagai pemberontak.”Namun, Rey justru tersenyum seolah meremehkan ucapan Suran, mung

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 59 Hadiah Dari Pangeran Ke-6

    Pelayan datang ke ruangan, mengetuk pintu sebelum ia masuk. “Masuk!” sahut Luderin dari dalam ruangan. Pelayan itu masuk ke dalam, memberi hormat dengan sopan. “Selamat pagi, Tuan. Saya datang untuk mengantarkan teh.” Luderin menganggukkan kepalanya. “Taruh saja.” Pelayan itu meletakkan teh tersebut di meja, tidak jauh dari Luderin duduk. Luderin pun menghela napas saat menata teh Rosela kesukaannya. “Terima kasih. Kau satu-satunya pelayan yang tetap tinggal di sini setelah kasus ini terjadi. Nanti kalau aku sudah sukses, aku akan memberikan imbalan yang setimpal untukmu.” Mendengar itu, sang pelayan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Baik, terima kasih, Tuan.” Begitu keluar dari ruangan itu, pelayan pun tersenyum miring. “Dasar pria sampah. Kalau bukan karena belas kasih Nona Suran padaku, kau pikir aku mau melayani mu dengan suka rela? Dari dulu cuma bisa janji akan memberi upah yang setimpal, tapi setiap kali punya uang selalu lupa. Nikmati saja teh nya, ak

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 58 Rencana Selanjutnya

    Luderin tersenyum, meski tahu kalau memang benar apa yang dikatakan Linira, tapi tidak mungkin dia mengakui, apa lagi sekarang sangat membutuhkan Linira untuk bisa mendapatkan harta Hideria. “Linira, bagaimana mungkin aku seperti itu? Kau tahu sendiri keadaannya pada saat itu. Kalau aku tidak sedikit egois, aku pasti akan gagal mendapatkan jabatanku.” Linira enggan mendengar penjelasan itu, merasa kalau pada akhirnya sama saja. “Aku hanya mencoba melakukan segala cara supaya tujuan kita tercapai, kau juga paham akan hal itu. Kau dan Ibumu hanya mengandalkan ku, bagaimana bisa aku tidak egois, Sayang?” Malas bicara, Linira benar-benar memilih untuk diam. Luderin tidak mau menyerah begitu saja, ia kembali membujuk Linira dengan kata-kata manisnya. “Sayang, kalau kau tidak mencintai dan memikirkan masa depan kita, kau pikir kenapa aku masih harus susah payah menemui mu? Aku sangat mencintaimu hingga sering merasa tersiksa karena tidak bisa memberikan perhatian dan rasa ci

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 57 Kehilangan Kata

    “Ada yang belum. Katakan bagian yang itu.” “Apa?” Suran benar-benar bingung kali ini, jelas dia sudah mengatakan semuanya, pembicaraan lain sepertinya tidak ada. Tidak mungkin juga kan Rey ingin pembicaraan secara detail karena mau diingat bagaimanapun jelas dia tidak bisa mengatakan kalimat-kalimat yang sama seperti yang dikatakan kepada Pangeran kedua. “Harusnya masih ada pembicaraan di antara kalian berdua, kau bisa mengatakannya sekarang.” Suran makin tidak mengerti. “Apa sih yang kau bicarakan? Cuma itu saja, tidak ada hal lain yang kami bahas.” Rey menatap Suran dengan tatapan matanya yang dalam dan tegas. “Oh ya? Bukankah Kalian berdua sudah merundingkan tentang posisi selir? Kau mau jadi selir Pangeran kedua?” Suran sudah membuka mulutnya untuk bicara, tapi kalimat yang keluar dari mulut Rey barusan sangat tidak masuk akal sampai-sampai suaranya seperti sedang berkelana entah ke mana. “Kau bilang mau jadi selir Pangeran kedua, bahkan sudah membayangkan keuntungan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status