LOGINNamun, begitu kotak itu terbuka, sepasang matanya melotot kaget. “Apa-apaan ini?!” Semua orang menatap kaget, penasaran dengan isi kotak itu sampai bisa membuat Ibunya Luderin menjadi sangat terkejut. “Kenapa...? Kenapa isinya cuma teh?” tanya Ibunya Luderin. Suran pun tersenyum, tapi di dalam hatinya bisa melihat bagaimana tidak tahu malunya manusia itu, bahkan seluruh keluarganya juga sama. “Nyonya, itu teh herbal terbaik, butuh satu bulan untuk memesannya. Teh itu dari negara sebelah, berasal dari pegunungan tinggi, diracik dengan hati-hati, prosesnya juga dipastikan sangat bersih. Harga teh itu sangat mahal,” ucap Wulien yang tidak bisa tahan untuk tidak menjelaskan saat ada yang mencela hadiah dari Suran. Linira tersenyum, merasa senang karena hadiah dari Suran tidak lebih baik darinya. Ibunya Luderin justru semakin nampak tak senang, alisnya berkerut, dan sesekali melirik pada Luderin agar segera menangani masalah ini. Tidak buang waktu, Luderin langsung mendekati
Wulien terkejut melihat itu. Dia berlari cepat menuju jendela kamar, memeriksa bagaimana kondisi jendela itu. “Tidak ada bekas dicongkel, tidak ada yang rusak sama sekali. ini... ini benar-benar tidak masuk akal,”ucap Wulien dengan tatapan tak percaya. Suran mencengkram kain yang menutupi tubuhnya, gemetar ngeri membayangkan ada orang yang diam-diam berada di kamarnya, dan mungkin juga menyaksikan saat dia mandi tadi. “Sial. Sebenarnya siapa orang itu? Apakah orang yang sama dengan yang diam-diam membantuku?” gumam Suran. Wulien segera menutup jendela kamar itu, memastikan semua sisi tertutup rapat dan tidak akan ada orang yang bisa masuk lagi. “Nona, apa perlu saya temani anda malam ini?” tanya Wulien. Suran menghela napasnya. “Tidak perlu. Meskipun jelas ada penyusup ke kamarku, tapi aku merasa dia tidak berniat untuk menyakiti ku. Kau kembalilah saja ke kamarmu.” Wulien menganggukkan kepalanya. Ia kembali ke kamar meski masih merasa khawatir pada Suran, namun tidak adan
Luderin kembali tersenyum. “Sayang, Ibuku ulang tahun besok, kau pasti datang, kan? Ibuku bilang menginginkan set perhiasan dari pengrajin Linion, kau bisa bawakan juga supaya hubungan kita semakin lancar.” Mendengar itu, Wulien benar-benar sangat emosi. Sayangnya Suran menyentuh bahunya, jelas instruksi agar Wulien tidak perlu terbawa suasana. Suran tersenyum dan berkata, “Baik. Kau cuma minta aku bawakan set perhiasan dari pengrajin Linion, kan? Tapi, apa tidak masalah dengan harganya? Aku dengar, set perhiasan dari pengrajin Linion itu harganya mencapai 2 ribu keping emas.” Luderin mengerutkan keningnya, bingung karena baru kali ini Suran membahas soal harga. Tapi dia pikir lebih baik diiyakan saja, lagi pula Suran yang akan bawa. “Tidak masalah. Bukannya yang paling penting itu hubungan kita?” ujar Luderin. Suran kembali tersenyum. “Baiklah, semua akan diurus untukmu, bersiap saja menerima barangnya besok.” Luderin tersenyum lebar, “Wanita cantik tapi bodoh ini... aku ben
Setelah percakapan dengan Kael selesai, Suran mengajak Wulien untuk datang ke balai keadilan. “Wulien,” panggil Suran, kali ini suaranya berat seolah ada banyak hal yang mengganggu. “Kirim orang untuk melindungi Kael. Biarkan dia menjalani kehidupan seperti biasanya, hanya jaga saja dari kejauhan agar dia tetap aman.” Sejenak terdiam, Wulien berpikir keras apa yang sebenarnya dipikirkan Suran saat ini. “Nona, apa ada sesuatu?” Suran membuang napasnya yang terasa berat. “Aku... aku curiga kalau kael itu anak kandung Ayahku.” Wulien menghentikan langkahnya, matanya melotot kaget. “Nona, anda... anda tidak salah bicara, kan? Tuan Hideria tidak mungkin seperti itu, dia sangat mencintai Ibu anda, tidak mungkin. Bahkan dia juga menolak pengambilan istri lagi di saat semua para pria kaya melakukannya.” Suran tersenyum, tapi senyum itu nampak begitu dalam hingga Wulien sendiri bingung mengartikannya. “Di kehidupan ku yang sebelumnya, aku sempat mendengar Ailin berkata, sudah memberesk
“Apa? Mau membelanya?” Wensen tersenyum kesal sambil menarik tangannya dengan kasar, tapi bersiap memukul Suran. “Kalau begitu, gantikan dia terima pukulan!”Suran terkejut, dia tidak memiliki ilmu bela diri. Tidak bisa mengelak, sadar tenaganya juga tidak sebanding Wensen, ia hanya bisa memejamkan mata, menerima saja pukulan itu. Namun, tiba-tiba saja ada sesuatu yang terjadi. Bukkk!“Akh!” pekik Wensen. Suran pun membuka mata, ia mendengar ada sesuatu yang jatuh ke lantai, itu adalah batu yang ukurannya hampir sebesar kepalan. Melihat Wensen yang kesakitan di tangannya, Suran sadar ada yang telah membantunya. Ia menoleh ke beberapa arah, tapi tidak bisa melihat orang yang diam-diam membantunya. “Siapa yang melempar batu itu?” batin Suran. “Sial!” ucap Wensen kesal. “Siapa yang melempar batu ini?” Suran mundur, suara Wensen terlalu kuat, telinganya benar-benar sakit dan berdengung. Wensen mengarahkan tatapannya pada Suran. Tajam, pria itu seolah menuduh Suran yang melakukanny
Seluruh tubuh Ailin bergetar, guncangan di hatinya saat ini benar-benar terlalu kuat. Dia sedang pusing memikirkan bagaimana mengembalikan semua harta yang dia bawa masuk lagi ke gudang harta Hideria, sekarang namanya benar-benar buruk. Gret... Linira mengepalkan tangannya. “Kenapa bisa begini? Padahal aku sudah minta semua pelayanan dan semua orang yang tahu kejadian itu untuk tutup mulut, kenapa bisa begini?” gumamnya. Ailin menggigit bibir bawahnya, kuat sekali hingga luka dan berdarah. “Bu!” kaget Linira. “Bibir Ibu berdarah, berhenti mengigit!” Ailin tidak mempedulikan rasa perih itu, sekarang dia benar-benar merasa tamat riwayatnya. “Linira, bagaimana Ibu akan keluar dari kediaman Hideria setelah ini?” bisiknya dalam keputusasaan. Tidak juga bisa berpikir sekarang, Linira hanya bisa menggelengkan kepalanya. Diam-diam Suran tersenyum. “Nikmatilah. Ini belum seberapa, aku masih akan membuat kalian lebih banyak menderita di masa depan nanti. Simpan energi dana kesedihan







