Share

Bab 2

Author: Ehsan
"Bukannya selama bertahun-tahun ini selalu begitu? Dia nggak bisa hidup tanpaku."

Deni mengangguk. "Benar juga, mana mungkin Yoga tega meninggalkanmu. Siapa yang nggak tahu kalau dia mencintaimu setengah mati. Entah sudah berapa banyak hal bodoh yang dia lakukan untukmu."

Itu memang benar.

Selama bertahun-tahun ini, aku mencintainya hingga kehilangan harga diri dan membuat emosiku hancur, sampai-sampai aku mengidap penyakit kanker.

Hal ini benar-benar membuktikan bahwa orang yang dicintai akan selalu bertindak semena-mena tanpa takut kehilangan.

Namun, tidak akan ada yang berikutnya lagi.

Aku tersenyum getir pada diri sendiri, lalu mempercepat langkah kaki untuk meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya, Amanda membawa pacar artisnya ke perusahaan untuk berkencan.

Rekan-rekan kerja menatapku dengan cemas.

Sementara aku, layaknya orang yang tidak punya masalah, menyerahkan surat pengunduran diri.

Manajer HRD tampak terkejut.

"Yoga, kamu adalah manajer artis yang hebat. Kenapa tiba-tiba kepikiran untuk mengundurkan diri? Apa karena aktris itu sudah punya pacar baru?"

Aku merapatkan bibirku dengan lemas.

Mereka semua mengira bahwa kemunculan atau kepergianku selalu berputar di sekitar Amanda, bukan demi diriku sendiri.

"Anggap saja begitu."

"Tapi kalau kamu keluar, aktris itu pasti akan ngamuk parah setelah tahu, ‘kan?" Manajer HRD bergumam lirih, tetapi tetap membubuhkan cap persetujuan untukku.

Aku akhirnya bebas.

Saat aku kembali ke ruang kerja, Amanda merangkul pacar barunya, Bobby, lalu berjalan ke sampingku. "Yoga, bagaimana menurutmu pacar baruku ini?"

Aku menatap pemuda di sampingnya. "Cantik."

Amanda mendadak panik, wajahnya berubah masam. "Yoga, kamu sudah berubah."

Aku memang sudah berubah.

Dulu, aku sangat posesif padanya. Jika Amanda terlibat skandal dengan aktor mana pun, aku pasti akan mengusutnya.

Aku mudah cemburu, mudah merasa takut kehilangan, persis seperti orang gila.

Amanda menyuruh pemuda itu keluar, lalu matanya menatapku lekat-lekat untuk menilai situasiku.

"Yoga, ini sudah dua hari, apa kamu belum puas buat keributan?"

"Aku ‘kan cuma nggak muncul sekali dalam satu lamaran saja? Apa perlu kamu semarah ini padaku? Bahkan sampai nggak pulang ke rumah?"

"Sudah kukatakan, kita sudah bersama selama bertahun-tahun, aku pasti akan memberimu jawaban yang pantas. Kenapa kamu nggak mau percaya padaku?"

Kondisi tubuhku sedang tidak sehat, aku sudah makan makanan cair selama beberapa hari ini.

Apa pun yang kumakan pasti akan dimuntahkan kembali.

Mungkin juga karena aku merasa kata-kata yang diucapkannya agak menjijikkan, rasa mual tiba-tiba melanda, dan aku langsung muntah tepat di hadapannya.

Wajah Amanda tampak sangat murka, dia menggertakkan gigi dan bertanya, "Yoga, apa maksudmu? Kamu sebenarnya masih mau nikah denganku nggak?"

Aku mengambil selembar tisu untuk menyeka mulutku.

"Cuma merasa agak menjijikkan."

Amanda tersentak, lalu berbalik pergi dengan penuh amarah.

"Sikapmu benar-benar nggak masuk akal!"

Kali ini, aku tidak merasakan sakit hati sedikit pun.

Aku melakukan serah terima pekerjaan dan terus sibuk hingga petang hari.

Deni datang ke ruang kerjaku, lalu menyodorkan selembar tiket penayangan ulang film Coco.

"Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Amanda, dia memang nggak pintar ngomong dan tindakannya sering nggak tahu batasan. Tapi di dalam hatinya, tetap ada kamu."

"Bukannya dulu kamu selalu bilang mau nonton film ini? Dia langsung membelikan tiket ini untukmu."

"Nanti malam jam 9 di depan bioskop. Yoga, kamu harus datang."

Menatap tiket film itu, aku merenung sesaat.

Aku tahu ini adalah sinyal perdamaian yang dikirimkan Amanda kepadaku, dan aku juga paham bahwa ini adalah bentuk ganti rugi darinya.

Setelah berpikir sejenak, aku tetap menerima tiket film itu. Lagi pula, ini adalah utangnya kepadaku.

Pukul 9 malam, aku muncul di depan bioskop tepat waktu.

Amanda memakai masker dan topi, datang ke sampingku dengan penyamaran yang sangat rapat.

Namun, di belakangnya masih ada seorang pria lain yang juga memakai masker dan topi, yaitu Bobby.

Melihatku menatap pemuda di belakangnya, dia menjelaskan dengan suara yang manja.

"Drama baru kami akan segera tayang. Kamu tahu sendiri, ‘kan, kami butuh ketenaran untuk promosi."

Aku tidak keberatan sedikit pun. Aku melangkah masuk ke dalam ruang bioskop, lalu duduk di kursi milikku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 9

    "Bagaimana bisa? Mana mungkin!"Sorot mata pria yang mabuk itu mendadak berubah menjadi jernih. Dia tidak henti-hentinya bergumam pada diri sendiri, seolah-olah sedang berusaha meyakinkan dirinya. "Kalau dia nggak mau mengurusku, ya sudah ... kenapa harus pakai alasan yang bawa sial begini?"Melihat ekspresinya dan mengingat kembali segala kejadian di masa lalu, Jefri akhirnya menanyakan pertanyaan yang paling ingin dia tanyakan."Paman, jelas-jelas Yoga adalah anak kandungmu. Kenapa? Kenapa Paman memperlakukannya seperti ini?""Paman sangat baik pada anak tiri Paman. Kenapa nggak bisa membagikan sedikit saja rasa sayang Paman untuk anak kandung Paman sendiri?"Ayahku seketika dibuat mati kutu oleh pertanyaan itu. Seluruh tubuhnya gemetar sambil mulutnya terus meracau, "Dia anak kandungku, aku susah payah membesarkannya. Sekarang dia sudah punya adik, keluarga harus saling membantu. Orang lain juga akan mengingat kebaikannya. Sekarang aku sudah tua dan nggak berguna lagi, kalau nanti t

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 8

    "Amanda, bukannya kamu aktris papan atas? Kamu masih ingat nggak, dengan pria yang rela pergi ke jamuan makan demi membantumu minum alkohol dan menegosiasikan bisnis, sampai dia muntah-muntah hebat? Coba kamu pikirkan baik-baik, di usianya yang masih semuda ini, karena siapa dia sampai mengidap penyakit seperti itu?""Amanda, kamu benar-benar keterlaluan! Dulu saat kamu bukan siapa-siapa, dia mendukungmu dan memilih untuk berjuang bersamamu. Tapi selama hampir 10 tahun ini, sudah berapa kali kamu membual dan membohonginya!""Kamu membuat seorang pria dewasa menanggung malu di depan begitu banyak orang, berbuat mesra dengan pria lain di hadapannya dengan alasan gimmick. Apa kamu punya hati nurani?"Amanda mendengarkan dengan pandangan kosong, seluruh jiwanya seolah-olah telah tercabut dari tubuhnya. Selama ini, Amanda mengira Yoga hanya marah sementara kepadanya, dan tidak lama lagi pasti akan memaafkannya seperti dulu, lalu menantikan pernikahan bersamanya. Amanda benar-benar mengira

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 7

    Amanda bahkan mengumumkan hubungan asmara kami secara resmi di Instagram. Dia juga mengakui segala perbuatan buruk yang pernah dilakukannya padaku dulu, berharap aku bisa melihatnya dan memaafkannya.Saat Jefri memberi tahu hal itu, aku tidak menunjukkan reaksi apa pun. Aku bahkan tidak berminat sedikit pun.Aku hanya berkata dengan datar, "Untuk seterusnya, aku nggak mau dengar apa pun tentang Amanda lagi. Dia nggak ada hubungannya denganku, aku juga nggak mau melihatnya lagi ...."Jefri menuruti kemauanku dengan ekspresi seolah berkata 'akhirnya kamu sadar juga'. "Bagus, aku pasti akan menghalanginya dan nggak akan membiarkannya mengganggumu lagi!"Penyakitku semakin parah, aku sering terjaga semalaman karena menahan sakit.Suatu malam, ponselku menerima panggilan dari nomor asing. Begitu mendengar suaranya, aku tahu itu adalah Amanda."Yoga, aku tahu kamu sedang mendengarkanku. Apa kamu belum puas buat keributan?""Semua ini salahku, dulu aku terlalu egois .... Aku selalu mencintai

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 6

    Pesawat segera mendarat di Kota Muera. Aku memulihkan kondisi tubuhku di sebuah rumah kecil peninggalan Ibu. Rasa sakit yang hebat membuatku tidak bisa tidur. Tengah malam, setelah menyuntikkan obat pereda nyeri ke tubuhku sendiri, aku menerima telepon dari Ayah.Tanpa basa-basi, dia langsung memarahiku. "Kamu ganti nomor baru nggak bilang-bilang ke Ayah, ya? Sia-sia Ayah membesarkanmu!""Kamu sudah gila? Bertahun-tahun kamu mengalah demi bersamanya, sekarang sudah mau menikah, kamu malah kabur?""Kamu tahu nggak seberapa kaya Amanda? Sekarang, setengah dari apa yang dia punya, bisa jadi milikmu. Asalkan kamu menikah dengannya, kamu bisa membelikan rumah untuk adikmu ...."Aku menyahut datar, "Ayah sebenarnya sayang padaku, atau sebenarnya mengkhawatirkan uang muka rumah Hendri?"Ayah menggertakkan gigi di ujung telepon. "Ayah sayang uangnya! Ayah nggak rela melihatmu begini!"Aku tersenyum getir. "Ya sudah, kalau nggak ada apa-apa lagi aku tutup.""Kamu benar-benar anak bodoh, nggak

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 5

    Bobby yang mengenakan setelan jas putih bersih sambil memegang cincin berlian lamaran, langsung membeku seketika. Senyum di wajahnya runtuh dalam sekejap. Dengan ekspresi kaku, dia bertanya dengan canggung, "Kak Amanda, ini aku. Apa kamu nggak senang?"Amanda bahkan tidak memedulikan Bobby. Pandangan matanya mengitari sekeliling ruangan, berusaha mencari keberadaanku. Namun, dia sama sekali tidak menemukan apa-apa.Bobby merendahkan suaranya, memohon dengan lirih, "Kak Amanda, sekarang sedang siaran langsung di internet. Tolong jangan buat aku malu, ya?"Amanda tidak salah menyandang gelar aktris terbaik, dia bisa langsung menyesuaikan kembali kondisinya dengan cepat.Melihat wanita di hadapannya kembali menunjukkan raut wajah yang selembut air, Bobby pun berkata dengan wajah berseri-seri, "Yoga akhirnya sadar kalau orang yang nggak dicintailah yang jadi orang ketiga. Dia menyuruhku untuk memperjuangkan kebahagiaanku sendiri.""Kalau dipikir-pikir, kadang-kadang dia tahu diri juga .

  • Tanpa Lamaran Ke-101   Bab 4

    "Baguslah kalau kamu suka. Yoga, tenang saja, aku akan menepati janjiku. Pada lamaranmu yang ke-101 nanti, aku pasti akan datang dengan gaun terbaik. Biar aku sendiri yang menyiapkan tempat dan dekorasinya, kamu cuma perlu berdandan menjadi pengantin pria yang paling ganteng!" "Semuanya akan kuatur dengan baik, jadi seterusnya, kamu nggak boleh ngambek lagi padaku."Aku menatap wajahnya yang bersungguh-sungguh. "Aku nggak akan ikut campur urusanmu lagi."Ucapannya sempat terhenti sejenak, Amanda akhirnya menyadari sikap acuh tak acuh yang sangat jelas dari caraku meresponsnya. Dia berniat menggenggam tanganku, tetapi dering ponsel yang mendesak langsung memotong gerakannya. Baru mengangkat telepon selama beberapa detik, dia menatapku dengan penuh rasa bersalah."Sutradara bilang ada beberapa adegan yang harus diambil ulang, aku harus pergi sekarang."Aku tidak membongkar kebohongannya, karena aku bisa mendengar dengan jelas suara Bobby di seberang telepon."Aku mengerti, kamu kerja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status