Home / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 5. Netra Merah Menyala

Share

5. Netra Merah Menyala

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-04-17 23:54:27

Lorong-lorong barak yang dingin itu sepi. Namun, tidak sepenuhnya kosong. Dua prajurit penjaga yang berdiri di gerbang belakang tersentak kaget saat melihat Alpha mereka berjalan keluar dengan langkah tegap kendatipun wajahnya masih sedikit pucat. Padahal pangeran bungsu itu seharusnya masih dalam pemulihan setelah pekan lalu mengalami penyerangan. 

“Yang Mulia! Anda seharusnya tidak—” Salah satu prajurit berusaha mengingatkan. Sekilas, matanya melirik penuh tanya pada Runala yang tertunduk di samping Solvatar.

“Buka gerbangnya,” potong Solvatar. Suaranya sarat akan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.

Para prajurit itu saling pandang. Mereka bertanya-tanya dalam diam. Namun, kilatan kemarahan di mata keemasan Solvatar membuat mereka segera menarik rantai gerbang tanpa suara.

Solvatar tidak memberi penjelasan. Baginya, martabat tidak perlu dibela di depan bawahan, kendati dia tahu besok pagi desas-desus tentang malam ini akan menyebar seperti wabah.

Solvatar mendampingi Runala menembus kabut hutan yang merayap di sela pepohonan berbatang raksasa. Dia tetap menjaga jarak beberapa langkah di belakang Runala. Tangannya selalu berada di dekat gagang pedang, matanya terus memperhatikan kegelapan kalau-kalau ada patroli suruhan Ragnavar yang masih berkeliaran.

Tiba-tiba, Runala jatuh berlutut di tengah semak belukar yang berduri. Tanpa suara, dia mencakar tanah, mencabut sejenis rumput liar berakar hitam, dan dengan santai memasukkan kelopak bunga Mawar-Kelabu yang pahit ke dalam mulutnya.

Dalam sekejap mata, ujung pedang perak Solvatar langsung menempel di bawah dagu Runala, membuat gadis itu mendongak secara paksa. Solvatar menatapnya dengan pandangan tajam, matanya berkilat keemasan di bawah bayang-bayang dedaunan.

“Apa yang kau lakukan, Rabbit?” desis Solvatar dengan suara berisi ancaman nyata. “Kau ingin meracuni dirimu sendiri di depanku? Atau kau sedang merapal kutukan untukku?”

Runala menatap ujung pedang yang dingin itu tanpa berkedip. Mulutnya yang bernoda sari bunga ungu tampak sedikit terbuka. alih-alih terlihat takut, gadis itu justru tampak tenang. Seolah-olah pedang itu hanyalah ranting kering. Dengan santai, dia memetik satu kelopak lagi dan menawarkannya pada Solvatar dengan jarinya yang ramping. 

“Ini rasanya manis dan sejuk. Tidak pahit seperti yang dikatakan orang-orang,” tutur Runala datar. “Mungkin Anda butuh ini agar kepala tidak terlalu panas dan jadi mudah marah.” 

Solvatar memilih untuk tidak menanggapi sindiran halus itu. Dia hanya bergeming dan membiarkan Runala melahap kelopak bunga itu dan kembali melanjutkan langkah. Sementara Solvatar hanya bisa mengikuti. Dia makin heran tatkala melihat gadis itu memetik tanaman yang biasanya dihindari binatang hutan dan menjinjit untuk meraih pucuk daun yang tinggi seolah-olah sedang mengumpulkan bahan untuk ramuan sihir.

Sesampainya di tepi danau, pemandangan bagi Solvatar menjadi makin tidak masuk akal.

Dia mengira Runala akan membasuh diri di air danau yang jernih, tetapi gadis itu justru melompat ke bagian paling becek dan berlumpur. Lelaki itu hanya berdiri diam sebagai pengawas yang menghakimi, memperhatikan dengan glabela berkerut tatkala Runala mengaduk lumpur hitam kental dengan campuran tanaman yang tadi dipetik dalam perjalanan.

Runala mulai membalurkan lumpur itu ke kulitnya dengan gerakan lembut. Ke leher, lengan, hingga belakang telinganya. Sementara Solvatar terpaku dalam diam. Tatapannya tidak kuasa berpaling tatkala jemari lincah Runala membelai kulitnya sendiri dengan lumpur hitam, mengubah kotoran rawa itu menjadi lapisan yang tampak sehalus sutra di bawah jemarinya.

Sebuah pemandangan yang seharusnya menjijikkan, tetapi entah mengapa justru terlihat seperti ritual pemujaan keindahan di mata sang Alpha. 

***

Hutan ini begitu gulita. Terutama di malam bulan mati. Kendatipun  tidak memiliki sepasang netra yang bisa melihat dalam gelap seperti para manusia serigala, Runala menghafal hutan ini seperti telapak tangannya sendiri. Dia menghitung setiap langkah, menghafalkan arah, serta memanfaatkan indra penciuman dan sentuhannya. Kemampuan yang dimiliki semua manusia. 

Runala tidak peduli pada dinginnya angin malam atau bau rawa yang menyengat. Dia justru merasa beruntung bisa mandi tepat waktu sebelum keberadaannya tercium oleh makhluk asli penghuni dataran ini. Cara ini diajarkan oleh ibunya sejak dia masih kecil. Bahkan mungkin sudah dilakukan sejak Runala masih bayi. 

Dengan gerakan terampil, Runala meraup pasta hitam kental itu, membalurkannya ke lengan dan leher dengan keanggunan seseeorang yang sangat mengenal tubuhnya sendiri. Setiap usapan adalah lapisan perlindungan. Setiap sentuhan adalah cara untuk bersembunyi.

Akan tetapi, tatkala Runala hendak meraih bagian di antara belikat, tangannya tertahan. Biasanya, dia akan menggunakan sendok khusus yang terbuat dari akar pohon Yue. Jenis kayu yang kokoh dengan bagian gagang panjang. Dia tidak memiliki itu sekarang di tangannya. 

Runala baru saja akan memaksakan jangkauannya, tatkala tiba-tiba dia merasakan kehadiran yang besar dan panas di belakangnya.

Tanpa suara, Solvatar mendekat. Runala membeku saat merasakan jemari sang Alpha menyentuh kulit punggungnya yang terbuka. Tidak ada kekerasan di sana, hanya gerakan yang mengambil segumpal lumpur dari telapak tangan Runala, lalu meratakannya di sepanjang lekukan tulang belakang gadis itu.

Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik. Runala terdiam, merasakan usapan lumpur dari tangan Solvatar di punggungnya.

“Ibuku dulu selalu bilang,” bisik Runala memecah keheningan yang canggung. Suaranya hampir hilang ditelan desir angin. “Tanah adalah satu-satunya tempat yang tidak akan pernah mengkhianatimu. Jika kau berada di dalamnya, kau akan aman dari apa pun yang memburumu di atas sana.”

“Tentu saja,” gumam Solvatar. Suaranya terdengar seperti gesekan batu di bawah tanah. “Serigala seperti kita memang penguasa tanah. Kita lahir dari rahimnya dan akan kembali membusuk di dalamnya, tetapi ingat, Rabbit, tanah juga bisa menjadi kuburan yang paling sunyi jika tidak tahu cara bersembunyi dengan benar.”

Ujung jemari Solvatar masih menyentuh punggung Runala tatkala lelaki itu tiba-tiba menegang. Kepalanya tersentak ke arah kegelapan hutan di belakang mereka. Gerakan lembutnya berubah menjadi cengkeraman protektif yang kasar. Solvatar menarik Runala ke dalam dekapan dadanya, menyeret gadis itu ke arah pohon raksasa yang bagian dalamnya sudah mengering.

Runala ingin bertanya, tetapi urung setelah melihat mata keemasan Solvatar berkilat dengan intensitas predator. Di tengah keheningan malam yang gulita, sebuah suara yang jauh lebih menakutkan terdengar. Derap langkah empat kaki yang berat dan endusan rakus yang mendekat dengan cepat.

Tepat di balik kabut, sepasang netra merah menyala menatap ke arah tempat mereka bersembunyi.

Lubna Karkata

halune, Lubnatic. terima kasih sudah membaca kisah Runala dan Solvatar~ salune, Lubna Karkata

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   111. Pagi yang Menunggu

    Manusia serigala seharusnya menikah di bawah bulan purnama.Karena itu, tatkala matahari musim semi bersinar tepat di atas aula, semua orang tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.Beberapa bulan lalu, aula yang sama dipenuhi darah, pengkhianatan, dan raungan perang.Hari ini, aula itu dipenuhi bunga.Tidak ada malam yang dingin. Tidak ada ritual saling menandai lekukan leher dengan gigitan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.Hari itu, untuk kali pertama dalam sejarah kerajaan Wolfaern, seorang Alpha menikah di bawah matahari.Tentu, tidak seorang pun berani memprotesnya.Mereka sengaja memilih hari pertama pergantian musim. Tepat tatkala cahaya matahari pagi musim semi yang hangat bersinggungan dengan hawa panas yang mulai memeluk dataran Wolfaern. Runala menyukai musim semi yang menumbuhkan kehidupan, sementara Solvatar mencintai musim panas yang membakar semangat. Solvatar berdiri di hadapan Runala dengan jubah hitam kebesarannya. Cahaya

  • Taring Emas Sang Alpha   110. Aula yang Porak-poranda

    Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.

  • Taring Emas Sang Alpha   109. Gema Pertempuran

    Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel

  • Taring Emas Sang Alpha   108. Napas Panjang

    Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s

  • Taring Emas Sang Alpha   107. Ambang Pintu Kaca

    Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna

  • Taring Emas Sang Alpha   106. Seorang Putra Mahkota

    Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa

  • Taring Emas Sang Alpha   66. Amarah yang Hampir Meledak

    Pintu kayu kamar perawatan bergeser terbuka dengan bunyi derit halus. Nachtmar melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh seorang pria berjubah khas tabib istana. jKedatangan mereka benar-benar tepat waktu. Nachtmar telah berhasil menjalankan taktiknya dengan sangat matang. Dia sengaja berjalan

  • Taring Emas Sang Alpha   65. Mundur Menuju Pintu

    Runala mengerjap. Sesaat merasa linglung dan bingung dengan situasi yang terjadi. Gadis itu tidak menyangka Solvatar justru akan menegurnya kala baru saja membuka mata.Tatkala mengikuti arah tangan Solvatar terulur, Runala baru menyadari bahwa pergelangan tangan Nachtmar dicekal dengan sangat kuat

  • Taring Emas Sang Alpha   63. Gelas Berisi Air

    Matahari telah terbit kembali di Demura, menyinari udara yang membeku di luar jendela kamar perawatan. Cahaya pagi yang pucat menyoroti butiran debu yang beterbangan di atas ranjang, seolah-olah mencemooh Runala yang tetap terjaga semalaman.Dua puluh tujuh jam telah berlalu sejak Runala terbangun

  • Taring Emas Sang Alpha   61. Itu Bukan Langkah Seorang Pelayan

    Runala tidak ingin terlelap.Suhu di dalam ruangan itu turun drastis menjelang fajar, membuat uap napas keluar tipis dari sela bibir Runala yang pucat. Kini, yang tersisa hanyalah keheningan pekat yang sesekali dipecah oleh derit ranjang setiap kali tubuh Solvatar bergerak sedikit dalam tidurnya.D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status