/ Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 7. Embusan Angin Dingin

공유

7. Embusan Angin Dingin

작가: Lubna Karkata
last update 게시일: 2026-04-25 20:55:44

Udara hutan yang lembap menerpa wajah Runala tatkala Solvatar menggendongnya keluar dari rongga pohon. Napasnya masih tersengal seperti habis berlari jauh. Gadis itu seperti tidak bisa merasakan kakinya, selain getaran di lutut yang seolah-olah hendak menumbangkannya.

Tadi, Runala sempat mencoba berdiri tegak. Namun, seluruh sendinya seolah-olah meloloskan diri. Bayangan serigala bermata merah yang sangat mirip dengan monster yang merenggut nyawa ibunya, masih menari-nari di belakang kelopak mata.

Runala terisak. Bukan karena luka, melainkan karena teror masa lalu yang kembali mencekik. 

“Kubilang, berhenti menangis, Rabbit,” geram Solvatar. Suaranya rendah, tetapi tidak ada kemarahan di sana.

Runala membenankan wajah di lekukan leher Solvatar yang berlumuran lumpur. Dari jarak sedekat ini, dia bisa merasakan detak jantung lelaki itu yang cepat di bawah kulit yang panas.

Solvatar berjalan dengan langkah lebar, mengabaikan rembesan darah yang mulai membasahi kembali kain perban di bahunya. Tungkai lelaki itu berayun mengarah ke gerbang utama markas yang obornya mulai terlihat di kejauhan.

“Tunggu,” bisik Runala parau Jemarinya mencengkeram jubah Solvatar yang kotor. “Kita ke sana dulu, Yang Mulia. Ke arah dinding tua yang tertutup akar itu.”

Solvatar menghentikan langkah. Sepasang netranya menyipit tajam. “Gerbang utama ada di depan, Runala. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main di semak.”

“Iron-Lily.” Runala menunjuk ke arah sekumpulan bunga berbentuk lonceng yang bersinar dengan pendar warna merah tembaga redup di sela-sela akar raksasa. “Bunga itu ... baunya seperti logam yang manis. Mereka hanya tumbuh di tanah yang mengandung besi. Saya butuh itu untuk ramuan penambah darah. Untuk Anda dan ... saya juga. Jika tidak, kita berdua tidak akan sampai ke kamar tanpa pingsan.”

Solvatar terdiam sejenak. Harga dirinya sedang bergejolak karena harus menuruti perintah seorang tabib tawanan. Namun, detik berikutnya, lelaki itu mendengkus lantas memutar arah langkahnya menuju dinding batu kuno yang seharusnya merupakan jalan buntu.

Perlahan dan hati-hati, Runala turun dari dekapan Solvatar hingga berpijak kembali di tanah. Namun, lengan lelaki itu tetap melingkar di pinggangnya, menyangga berat tubuh Runala. Gadis itu berjinjit demi menjangkau kelopak merah tembaga itu. Baunya menyengat seperti karat yang pekat tetapi menenangkan.

“Aneh,” gumam Runala tatakala jemarinya menyentuh dasar batang bunga itu. “Tanaman ini tidak tumbuh di atas tanah.”

Glabela Solvatar berkerut, ikut mendekatkan wajah. “Apa maksudmu?”

“Akarnya ... tidak tertanam ke tanah. Mereka melilit sesuatu di balik dedaunan ini.” Runala menyibakkan juntaian daun-daun tebal, berharap menemukan bongkahan bijih besi.

Akan tetapi, bukan batu yang Runala temukan. Jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin, keras, dan bergerigi. Sebuah gagang besi kuno yang sudah berkarat hebat, mencuat di antara retakan dinding batu yang berbentuk persegi sempurna.

Solvatar membeku. Dia meletakkan telapak tangan di atas punggung tangan Runala, merasakan dinginnya logam tersembunyi itu. Kala lelaki itu menekan, embusan angin dingin yang berbau debu ribuan tahun keluar dari celah yang terbuka. Sebuah pintu rahasia yang bahkan tidak tercatat dalam peta kerajaan.

“Rabbit,” bisik Solvatar. Suaranya kini penuh dengan kewaspadaan yang mencekam. “Tanamanmu baru saja membongkar rahasia yang terkubur terlalu dalam.”

Kelopak mata Solvatar menyempit. Dia mengamati setiap jengkal dinding batu yang dikepung akar bunga Iron-Lily. Sebagai seorang Alpha, instingnya mengatakan bahwa susunan batu di bagian ini tampak tidak alami. Lelaki itu meneliti setiap celah, meraba permukaan yang kasar dan lembap, berharap menemukan tuas tersembunyi.

Hingga akhirnya, tangan Solvatar mendapati sebuah gerendel besi tua yang mencuat samar dari balik lumut. Dia menyentaknya dengan tenaga yang sanggup mematahkan tulang, tetapi logam itu bergeming. Seolah-olah telah menyatu dengan bebatuan.

Tatkala Solvatar hampir menganggap itu sebagai kegagalan arsitektur masa lalu, Runala bergerak. Gadis itu mengamati bunga yang baru dia petik tadi.  Jemarinya yang ramping memilah dedaunan hingga menemukan satu tangkai bunga Iron-Lily yang tampak berbeda. Kelopaknya jauh lebih lebar dengan warna merah gelap menyerupai darah yang membeku. Tanpa bicara, Runala mematahkan tangkai itu.

Runala mendekat, lalu dengan hati-hati meneteskan getah bunga yang kental dan berwarna jingga pekat ke celah-celah gerendel yang berkarat. Desis halus langsung terdengar, diiringi bau karat yang tajam dan manis memenuhi udara.

Dengan langkah ringan, Runala melangkah mundur dan menoleh pada Solvatar. Itu isyarat supaya lelaki itu mencoba kembali. 

Benar saja. Kali ini, gerendel itu bergeser semulus sutra.

Pintu batu itu berderit pelan, membuka sebuah celah gelap. Solvatar melangkah masuk terlebih dahulu, menghirup udara di dalamnya dalam-dalam. Indra penciumannya dipenuhi bau tanah tua, debu kering, dan besi. Sementara Runala berdiri ragu di ambang pintu, menatap kegelapan pekat di hadapannya.

“Yang Mulia, apa ini aman?” bisik Runala parau, tetapi ikut melangkah masuk. “Rasa penasaran kadang bisa menjadi undangan bagi bahaya yang tidak sanggup kita hadapi.”

Solvatar tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menatap turun pada Runala dengan satu alis terangkat. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa gadis itu baru saja salah bicara. 

Tidak ada bahaya yang tidak bisa dihadapi seorang Solvatar. 

Kemudian Solvatar berbalik, memastikan gerbang batu itu tertutup rapat kembali hingga lilitan akar dan tanaman liar di luar kembali menyamarkannya dengan sempurna. Tidak akan ada mata yang tahu bahwa dinding ini adalah sebuah pintu, bahkan pasukan suruhan Ragnavar sekalipun.

Mereka mulai maju, berjalan dengan langkah sangat pendek. Kegelapan di dalam lorong itu terasa menyesakkan. Tidak ada bulan di langit karena ini fase bulan mati, sehingga tidak ada seberkas cahaya yang menembus celah-celah bangunan.

Itu bukan masalah bagi Solvatar yang merupakan manusia serigala. Mereka memiliki mata yang bisa melihat dalam gelap. Berbeda dengan manusia seperti Runala. Namun, itu adalah rahasia yang harus gadis itu simpan. 

Dalam sunyi yang mencekam, Runala merasakan bekas luka di pahanya mulai berdenyut samar, dipicu oleh trauma dan kelelahan. Gadis itu memperat  genggamannya pada tangkai bunga Iron-Lily yang dia bawa.

Jalur yang sempit dan berkelok, memaksa tubuh Solvatar yang tegap untuk terus membungkuk. Kendati bahunya terasa tidak nyaman, insting arahnya sebagai seorang Alpha tidak pernah meleset. 

Sesekali, Runala menyentuh lengan Solvatar. Seolah-olah hendak memastikan dirinya tidak kehilangan arah di tengah kegelapan total ini. Maka, Solvatar berinisiatif menggengam tangan gadis itu. 

Hingga akhirnya, Solvatar merasakan sirkulasi udara yang berbeda kala mereka mencapai ujung lorong yang buntu oleh panel kayu berlapis pelat baja.

Solvatar meletakkan telapak tangannya pada panel tersebut, menekannya perlahan hingga engsel rahasianya berputar tanpa suara. Tatkala pintu itu terbuka, cahaya remang dari dalam ruangan mulai menyapu wajah mereka yang kotor oleh lumpur.

Keduanya melangkah keluar dan seketika tertegun. Mata Solvatar membelalak, sementara napas Runala tertahan.

“Tidak mungkin …,” desah Runala. 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Deana Asta
Ditunggu kelanjutannya segera, ya, thor. Penasaran dengan yg di balik pintu ...
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Taring Emas Sang Alpha   111. Pagi yang Menunggu

    Manusia serigala seharusnya menikah di bawah bulan purnama.Karena itu, tatkala matahari musim semi bersinar tepat di atas aula, semua orang tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.Beberapa bulan lalu, aula yang sama dipenuhi darah, pengkhianatan, dan raungan perang.Hari ini, aula itu dipenuhi bunga.Tidak ada malam yang dingin. Tidak ada ritual saling menandai lekukan leher dengan gigitan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.Hari itu, untuk kali pertama dalam sejarah kerajaan Wolfaern, seorang Alpha menikah di bawah matahari.Tentu, tidak seorang pun berani memprotesnya.Mereka sengaja memilih hari pertama pergantian musim. Tepat tatkala cahaya matahari pagi musim semi yang hangat bersinggungan dengan hawa panas yang mulai memeluk dataran Wolfaern. Runala menyukai musim semi yang menumbuhkan kehidupan, sementara Solvatar mencintai musim panas yang membakar semangat. Solvatar berdiri di hadapan Runala dengan jubah hitam kebesarannya. Cahaya

  • Taring Emas Sang Alpha   110. Aula yang Porak-poranda

    Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.

  • Taring Emas Sang Alpha   109. Gema Pertempuran

    Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel

  • Taring Emas Sang Alpha   108. Napas Panjang

    Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s

  • Taring Emas Sang Alpha   107. Ambang Pintu Kaca

    Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna

  • Taring Emas Sang Alpha   106. Seorang Putra Mahkota

    Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa

  • Taring Emas Sang Alpha   94. Hampa dari Energi Serigala

    Pertanyaan Solvatar laksana petir yang menyambar di tengah kesunyian malam, membuat Runala terlonjak bangun dari ranjang. Napas memburu dan jantungnya berdegup liar. Seluruh kesadarannya tersentak paksa ke permukaan.

  • Taring Emas Sang Alpha   93. Pangeran yang Bijaksana

    Kegelapan malam ini terasa begitu pekat, seolah-olah menelan seluruh sudut kamar tanpa menyisakan ruang untuk bernapas. Dua malam telah berlalu sejak pesta api unggun itu, dan malam ini langit benar-benar gulita. Tidak ada pendar bulan. Hanya ada kerlip bintang di

  • Taring Emas Sang Alpha   92. Lantai yang Dingin

    Binar kagum di mata Runala seketika redup dan padam karena panik yang menyumbat tenggorokan. Dia merasakan seluruh darah menghilang dari wajah, menyisakan rasa dingin yang membekukan hingga ke ujung jari.

  • Taring Emas Sang Alpha   88. Angin Laut yang Asin

    Sejak insiden di koridor bersama Ragnavar, Solvatar mengurung Runala. Secara harfiah.Selama lebih dari dua puluh empat jam, Solvatar benar-benar tidak mengizinkan Runala keluar dari kamar. Tentu den

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status