LOGIN"Apa dia berpikir hidupnya begitu damai?" gumam Stev pelan sembari mendudukkan diri di samping wanita yang kini sedang tertidur pulas itu. Pakaian Bella sudah diganti dengan piyama berwarna biru tua. Dan Stev tidak lagi mencium bau alkohol yang menguar dari tubuh wanita tersebut. "Tidak ... Tidak."Pria tampan yang ada di dalam kamar tersebut mengernyitkan dahinya kala telinganya mendengar suara Bella yang bergumam lirih. Ia pikir wanita itu sudah membuka matanya. Namun ternyata tidak, Bella masih saja tertidur di atas ranjang besar miliknya. Dan Stev langsung bisa menebak jika wanita itu mungkin sedang bermimpi buruk."Ada apa dengannya?" Ia dapat melihat jika dahi wanita itu banyak mengeluarkan keringat. Seperti baru saja mengikuti lomba lari. Keringat Bella semakin lama semakin deras dengan mulut yang terus mengeluarkan gumaman yang tidak Stev mengerti. Tidak begitu jelas terdengar sehingga Stev hanya bisa menaikkan salah satu alisnya ke atas. "Bella."Stev memanggil nama wan
"Jangan berikan," ucap Stev dengan tajam. Dan bartender itu mengangguk sembari meletakkan botol yang sebelumnya ingin ia tuangkan pada gelas Bella. "Hey! Kenapa kau tidak memberiku minum?!" Bella sedikit meninggikan nada suaranya. "Minuman kami telah habis, Nona." Bella mendecih pelan mendengar perkataan bartender itu."Bohong! Lantas botol yang berjejer-jejer itu apa?!"Stev memutar kedua bola matanya dengan bosan saat melihat kesadaran Bella sudah berada di ambang batas."Kita pulang," ucap Stev. Pria itu segera berdiri dari tempat duduknya setelah membayar semua total minuman.Pria itu lantas mendekat pada Bella dan berniat untuk membawa wanita itu pulang. Namun tangannya yang terulur seketika ditepis dengan kasar oleh tangan Bella yang mungil. Sontak saja penolakan yang wanita itu berikan membuat Stev mendengus sebal. "Aku tidak ingin pulang! Kau pulang saja sana sendiri!" ucap Bella setengah berteriak. Membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh pada mereka berdua. "Ck
Stev terdiam beberapa saat setelah Bella berucap. Perkataan wanita itu tepat sekali menusuk dalam hati pria itu. "Apa kau bilang? Kecewa?" ulang Stev sekali lagi. Dan Bella hanya bisa mengangguk sebagai balasan. Wanita itu terus menatap wajah Stev yang berada di dekatnya. "Aku tidak tahu. Tapi, bukankah hal itu bisa saja terjadi?" tanya Bella. Wanita itu terus mengeluarkan perkataan yang membuat Stev tidak dapat berkata apa-apa. Meski Stev adalah orang yang dingin dan terkesan cuek dengan keadaan sekitar. Namun pria itu tidak bisa untuk tidak memikirkan apa yang baru saja Bella katakan. Ucapan wanita itu ada benarnya juga. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika suatu hari nanti ia bertemu dengan Liana dan dia tahu jika dirinya adalah seorang mafia. Apakah wanita itu tetap masih mau untuk menerimanya? Stev tidak dapat membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Ia tidak akan pernah bisa jika wanita yang sudah sekian lama ia nanti-nantikan pada akhirnya akan pergi meni
"Aku pernah memiliki seorang teman di sana juga. Seorang kekasih masa kecil lebih tepatnya," ucap Stev. Mata pria itu masih saja fokus menatap jalanan yang ada di depannya. Namun tatapannya terlihat kosong. "Benarkah? Siapa namanya?" tanya Bella. Wanita itu mematikan ponsel yang ada di tangannya dan mengarahkan pandangannya hanya pada Stev."Liana," balas Stev dengan singkat. "Liana?" ulang Bella sekali lagi. Dan Stev hanya mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban."Ya. Kau mengenalnya?" tanya Stev. Pria itu terdengar seperti sangat berharap saat ia bertanya pada Bella. Namun yang dikatakan wanita di sebelahnya itu seketika memupus harapan besar Stev. "Tidak. Aku tidak mengenal nama itu," balas Bella. Wanita itu kembali mengarahkan pandangannya pada jalanan yang dilalui mobil Stev."Sudah kuduga kau tidak akan tahu siapa dia," ucap Stev sembari mendengus pelan. "Apa dia begitu penting bagimu?" tanya Bella, dan Stev mendecih pelan setelahnya. "Dia begitu penting bagiku. Aku sang
"Kau bisa menggunakan pedang?" "Tidak," balas Bella dengan senyum lebarnya. Membuat Stev yang melihat wanita itu hanya mendengus pelan. "Kupikir kau bisa menggunakannya," ucap Stev lagi. Pria itu kembali memasukkan semua pistolnya pada loker dan mengunci tempat tersebut. Bella terkekeh pelan. "Aku suka sekali saat melihat film yang orang-orangnya menggunakan pedang. Jadi, kupikir aku akan terlihat keren jika bisa menggunakan pedang," balas Bella sembari membayangkan dirinya dapat melayangkan pedang pada orang-orang jahat yang mengganggunya seperti film-film yang bertemakan kerjaan. Sementara Stev hanya mendecih pelan saat mendengarnya."Simpan kata kerenmu itu. Kau tidak begitu cocok menggunakan pedang. Mengangkat pedang saja entah kuat entah tidak." Bella memutar kedua bola matanya bosan saat ia mendengar ucapan bernada ejekan dari Stev. Pria itu suka sekali meremehkannya. "Jangan mengejekku!" balas Bella dengan sebal. Wanita itu membuang mukanya dari Stev dan berjalan keluar
Pekerjaannya saat itu hanyalah seorang pelukis jalanan. Dia tidak kaya, dan Jack mengakuinya. Dirinya hidup dengan mengandalkan uang dari hasil menjadi pelukis jalanan dan kerja sampingan di sebuah toko kecil. Jennie tidak merasa risih dengan keadaannya. Wanita itu malah mengajak dirinya untuk mengobrol dan mengajukan diri untuk di lukis oleh dirinya. Sepanjang waktu wanita itu habiskan untuk terus berbicara dengan Jack. Dan tidak ada yang bisa Jack lakukan saat itu selain hanya tertawa sembari membalas ucapan Jennie dengan kalimat seadanya.Setelah Jack selesai melukis wanita itu. Jennie benar-benar kagum dengan hasil yang dibuat pria itu. Satu kata dari Jennie untuk hasil lukisan Jack.Mengagumkan. Wanita itu benar-benar kagum dengan lukisan Jack. Ia pun mengusulkan Jack agar pria itu membangun sebuah galeri untuk menampung semua hasil lukisannya. Namun yang dilakukan Jack saat itu hanyalah menggeleng pelan sembari tersenyum tipis. Ia tidak akan bisa membangun galeri seperti
Sebuah suara yang terdengar membuat mereka berdua mengalihkan pandangan pada pintu. Dan melihat seorang wanita berperawakan tinggi berjalan masuk dengan pakaian sama dengan mereka. "Apa aku terlambat?" tanya wanita itu sembari melepas topi yang ia pakai. Matanya menerawang masuk pada kedua pria it
Bella menguap sebentar. Merasa setengah jiwanya masih tertinggal dalam mimpi. Gadis itu menggerutu pada sosok Stevano yang hilang di balik pintu. Pria itu mengganggu sekali, padahal Bella masih ingin bergelung membagi kehangatan dengan kasur. Tidak ada yang dapat Bella lakukan selain menuruti san
Bella tidak mengerti kemana dia akan dibawa pergi. Stevano hanya diam saat melajukan mobil, tidak bersuara barang sedikit saja untuk memecah keheningan yang melanda. Dan Bella tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya pada pria itu."Kita akan ke mana?" tanya Bella. Matanya melirik sekilas pa
Bella melebarkan mata saat pria itu menempelkan bibirnya dengan tiba-tiba. Menciumnya cepat sebelum melirik pada Austin yang juga kaget melihat kejadian di depan matanya.Oh, tidak! Bella akan mendapat masalah yang besar jika masih berada di sini.Ketika sadar dengan apa yang baru saja terjadi, B







