Short
Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai

Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai

Oleh:  DevanoTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Bab
1.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Aku sudah menjadi penyiar radio larut malam selama sepuluh tahun. Telepon terakhir sebelum program itu dihentikan adalah dengan seorang mahasiswi. "Halo, Bu Eirene, aku merasa sangat tersiksa. Aku jatuh cinta pada dosen universitasku sendiri. Meskipun dia sudah nikah, dia memperlakukanku dengan sangat spesial." "Waktu aku sakit, dia masak untukku. Waktu aku sedih, dia temani aku ngobrol sampai larut malam, ngajak aku jalan-jalan untuk tenangin pikiran ...." Setelah mendengarkannya dengan sabar, aku perlahan membuka mulut untuk menenangkan, "Memiliki perasaan kagum pada lawan jenis yang luar biasa itu sangat normal, tapi yang paling penting sekarang adalah menyelesaikan kuliahmu." "Sebenarnya, waktu SMA aku juga pernah diam-diam menyukai guru magang. Sampai akhirnya bertemu suamiku, barulah aku tahu seperti apa cinta yang dewasa itu. Semoga di masa depan kamu juga bisa bertemu orang yang benar-benar tepat untukmu." Gadis itu tertawa pelan dengan nada yang sulit dimengerti. "Aku iri sekali padamu, istri dosenku."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Aku sudah menjadi penyiar radio larut malam selama sepuluh tahun. Telepon terakhir sebelum program itu dihentikan adalah dengan seorang mahasiswi.

"Halo, Bu Eirene, aku merasa sangat tersiksa. Aku jatuh cinta pada dosen universitasku sendiri. Meskipun dia sudah nikah, dia memperlakukanku dengan sangat spesial."

"Waktu aku sakit, dia masak untukku. Waktu aku sedih, dia temani aku ngobrol sampai larut malam, ngajak aku jalan-jalan untuk tenangin pikiran ...."

Setelah mendengarkannya dengan sabar, aku perlahan membuka mulut untuk menenangkan, "Memiliki perasaan kagum pada lawan jenis yang luar biasa itu sangat normal, tapi yang paling penting sekarang adalah menyelesaikan kuliahmu."

"Sebenarnya, waktu SMA aku juga pernah diam-diam menyukai guru magang. Sampai akhirnya bertemu suamiku, barulah aku tahu seperti apa cinta yang dewasa itu. Semoga di masa depan kamu juga bisa bertemu orang yang benar-benar tepat untukmu."

Gadis itu tertawa pelan dengan nada yang sulit dimengerti. "Aku iri sekali padamu, istri dosenku."

....

Kepalaku langsung berdengung. Aku sontak mendongak ke arah Stevin yang sedang menungguku pulang kerja di luar studio.

Pantas saja suara gadis itu terdengar familier. Rupanya aku pernah mendengarnya di ponsel Stevin.

Produser sampai buru-buru berdiri dan mendesakku lewat headset agar terus berbicara.

Tatapan Stevin tampak suram. Sambil memegang ponsel, dia berbalik dan pergi. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyuman.

Setelah susah payah menjaga ketenangan, aku menyelesaikan naskah penutup tepat dalam lima menit, menutup program larut malam yang sudah kubawakan selama sepuluh tahun.

Lagu mulai diputar, seluruh sarafku seketika merasa rileks. Tubuhku sampai basah oleh keringat dingin.

Aku tersenyum mengejek diri sendiri dengan lemah. Rasanya benar-benar seperti pertama kali siaran. Tatapan rekan-rekan kerja padaku terasa sangat aneh. Mereka tampak kaget, penasaran, sekaligus iba.

"Bu Eirene ...."

Aku menerima ponsel itu. Nama program dan namaku sudah muncul di trending search.

[ Astaga! Gila banget! Nggak nyangka programnya dihentikan malah meledak skandal besar. ]

[ Singkatnya, ada mahasiswi bilang dia suka sama dosennya sendiri. Setelah penyiar selesai menasihati, si mahasiswi tiba-tiba manggil penyiar "istri dosenku", lalu siarannya langsung dipotong. ]

[ Suami penyiar itu namanya Stevin, profesor Fakultas Hukum Universitas Antara. ]

[ Ironis banget. Baru saja dia bilang hubungannya sama suaminya harmonis dan bahagia, detik berikutnya malah jadi badut dan digosipi. ]

....

Mungkin ini menjadi momen dengan rating tertinggi sepanjang program itu. Begitu keluar dari kantor, sakit di lambungku semakin parah. Aku memaksakan diri berjalan ke parkiran.

Stevin ada di dalam mobil. Di kursi belakang ada bunga dan hadiah yang dia belikan untukku.

"Gadis kecil itu cuma keras kepala dan belum ngerti apa-apa. Aku gantikan dia minta maaf." Nada bicaranya ringan, seolah-olah ini hanya masalah sepele.

"Lagi pula, program kalian juga nggak banyak pendengarnya, nggak akan ada pengaruh apa-apa."

Hanya dua kalimat itu. Setelahnya, dia langsung ingin memasangkan sabuk pengamanku dan bersiap menyetir.

Aku tertawa sambil menggertakkan gigi. "Soal kalian berdua, kamu nggak merasa perlu kasih aku penjelasan?"

Dia mengerutkan kening, suaranya terdengar dingin. "Penjelasan apa yang kamu mau? Aku selingkuh, jatuh cinta pada mahasiswiku sendiri. Aku bilang lembur di kampus, padahal habisin waktu bersama dia. Selama setengah tahun ini aku jarang menyentuhmu karena dia keberatan."

"Kalau kamu mau cerai, aku nggak keberatan."

Jantungku seperti diremas sampai hancur oleh sepasang tangan besar. Suaraku gemetar. "Kenapa ...."

"Memangnya ada alasan apa lagi untuk perselingkuhan? Perasaan memudar, bosan, lelah, cari sensasi baru." Dia terdiam beberapa saat, memutar cincin nikahnya, lalu perlahan melepaskannya.

"Aku tahu apa yang kulakukan nggak bermoral, tapi aku sudah terlanjur jatuh hati. Aku nggak bisa apa-apa. Dia memberiku perasaan hidup yang sangat kuat. Maaf, Eirene. Aku benar-benar nggak ingin menyakitimu."

Mataku dipenuhi air mata sampai wajahnya terlihat kabur dan terdistorsi.

"Eirene, selama ada aku, nggak akan ada yang bisa menyakitimu." Itu yang dia katakan saat melamarku di rumah sakit.

....

Malam tahun baru itu, aku pulang menemani ibuku merayakan tahun baru. Tak kusangka, dia kembali bersama ayahku yang suka berjudi dan melakukan KDRT, bahkan setuju menyerahkanku kepada bos besar untuk melunasi utang.

Aku dipaksa sampai tak punya jalan keluar, jadi aku melompat dari jendela lantai dua.

Begitu Stevin tahu, dia langsung datang. Dia mengancam sekaligus membujuk orang tuaku hingga mereka menandatangani surat pemutusan hubungan orang tua dan anak.

Aku melihat surat perjanjian itu sambil menangis dan tertawa bersamaan, lalu dia mengeluarkan sebuah cincin.

"Waktu terima teleponmu, aku lagi beresin barang peninggalan ibuku. Karena panik, aku asal memasukkannya ke saku dan baru sadar setelah turun dari pesawat."

"Eirene, menikahlah denganku. Biarkan aku menjadi keluargamu."

Aku terus mengangguk, ingin mengatakan "bersedia", tetapi tenggorokanku tersumbat hingga tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun.

Setelah cedera tulangku sembuh, kami langsung mendaftarkan pernikahan.

....

Dari cinta menjadi tidak cinta, ternyata hanya butuh sepuluh tahun. Janji seumur hidup yang dulu begitu teguh kini seperti plastik rapuh. Terlihat masih utuh, tetapi sekali diremas langsung hancur.

Nada dering ponsel menarikku kembali ke kenyataan. Stevin melirikku. Mungkin dia merasa sudah tak perlu menghindariku lagi, jadi dia langsung mengangkat telepon di dalam mobil.

Di seberang sana, gadis itu terdengar seperti sedang terisak. Stevin menenangkannya dengan lembut, "Nggak apa-apa. Kamu tenang saja di rumah, aku akan bawa dia ke sana."

Mobil segera melaju. Aku meraih lengannya dan bertanya dia mau pergi ke mana.

"Alice ingin minta maaf padamu."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
8 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status