Home / Romansa / Tergoda! Mantanku Om-Om / Bab 58. Mood Istri

Share

Bab 58. Mood Istri

Author: Moonlight
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-08 21:11:35

“Apa?” Abimana menelengkan kepalanya.

Raniya menautkan jemarinya ke depan pada pangkuannya sambil duduk di depan suaminya itu yang baru saja pulang.

“Aku pulang aja ya, Mas Abi? Di sini cuman repotin kamu aja,” kata Raniya merasa bersalah, dua agenda suaminya agak berantakan karena dia mendadak mual dan muntah lagi.

Pria itu diam, pun mengalihkan pandangannya dari Raniya.

“Mas Abi marah? Kok diem aja?” Berdebar sekali Raniya di sana, bibirnya sampai terlipat menyadari hanya menjadi beban.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 84. Kesukaan Zayn

    Bila di kamar itu tengah berisik dengan suara-suara desahan dan rintihan sepasang pengantin yang tengah dimabuk asmara. Berbeda dengan suasana di luar dengan adanya Zayn yang tengah memperhatikan dalam diam seorang gadis dengan sisi indah kesukaannya. Gadis itu masih sama, selalu menjadi yang indah, mau itu dulu atau sekarang. Bertahun-tahun lamanya terus memperhatikan dari jauh, mendengarkan kabar tanpa bisa berbuat, jatuh bangun kisah cinta yang berulang kali kandas. Lalu, sekarang gadis itu sedang menikmati masa sendirinya, memperbaiki dan menyembuhkan diri dari luka yang tak bisa dengan mudah dipahami orang lain. “Ziya,” ucap Zayn dengan netra sibuk sekali memperhatikan yang tengah duduk sendiri di depan sana. Dan seperti angin membawa suaranya sampai ke telinga gadis itu, Ziya mengerjapkan mata, mencari ke sana kemari sumber suara sebelum meraba tengkuknya yang terbuka, dia merinding. “Apa iya di sini ada hantu?” tanyanya bergumam. Ziya bangkit dari duduknya, menurunkan

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 83. Pertama Sah

    Kedua mempelai diantarkan naik ke panggung pelaminan, setelah menandatangani buku nikah dan sempat berdoa juga berfoto di sana. Dengan didampingi para orang tua, mereka mengikuti setiap arahan yang diberikan sampai semua prosesi selesai, lalu menuntaskan acara resepsinya. “Mantan Mas ada yang diundang?” Ghana reflek mengerutkan keningnya. “Harus diundang?” balasnya terdengar polos. Kia tertawa, artinya tidak ada yang diundang dan berlain kabar dengan masa lalu. Dia cukup lega dengan candaannya itu. “Dek, selama tiga tahun itu saya nggak ada menghubungi siapapun, mantan sekaligus semuanya sudah terputus. Saya suka membuat batas kalau sudah berlalu. Jangan memikirkan aneh-aneh ya, saya memilih dan mencintai kamu! Hati kamu itu tanggung jawab saya,” tuturnya. “Iya, hehehe.” “Saya serius.” “Kia juga serius!” balas Kia kemudian menggandeng lengan pria yang kini sah menjadi suaminya. Ghana membalas dengan mengusap jemari Kia yang telah sah menjadi istri dan mulai hari itu, malam na

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 82. Menikah

    Kia merinding membayangkan sekali lagi wajah calon suaminya ketika berbisik tadi, bibirnya akan dibuat bengkak yang entah sebesar apa. “Semungil ini bisa bengkak, diapakan?” gumam Kia mematut dirinya sendiri di depan meja rias. Begitu ponselnya berdering, Kia reflek bangkit dan mengambil benda yang tergeletak di ranjang itu. Panggilan masuk yang tidak perlu ditanya siapa, sekali saja diwaktu senggang tak menghubungi dirinya mungkin dunia kacau balau. “Ya, Mas Ghana?” sahutnya sembari menyandarkan benda pipih itu ke sudut meja sehingga yang di sana bisa melihat bagaimana dia tengah sibuk merawat diri di malam hari. “Apa?” [Harus ada alasan ya kalau menghubungimu?] “Astaga,” ucap Kia melorotkan kedua bahunya kemudian tertawa. “Aku bertanya kan supaya ada obrolan, memangnya Mas mau diam saja?” Pria di sana mengangguk, sepertinya memang berniat diam sambil memperhatikan apa saja yang Kia lakukan, si calon istri yang sebentar lagi akan tidur di kamar yang sama dengannya, di rumah yan

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 81. Balada Rindu

    Biasanya, dia ugal-ugalan pada seorang wanita yang menjadi pasangannya. Bertingkah dominan tanpa perlu memikirkan perasaan selain dirinya dan mengatur penuh, suka tidak suka, wanita itu harus suka karena bagi Ghana dulu dia melakukan semua itu semata-mata untuk kebaikan si wanita. Namun, bersama Kia berbeda, tidak ada paksaan sama sekali, melainkan berkomunikasi dua arah, mencari titik temu yang tak merugikan salah satu pihak. Selain itu, Ghana tidak seenaknya menyentuh sana-sini, bahkan dia hanya sebatas merangkul lengan dan menggandeng Kia, mengecup pipi menggemaskan itu saja belum, lain dari yang dulu-dulu. “Tahan lah nafsunya, Bro! Keliatan banget pengen war!” kata Ares menggoda, pasalnya dia kenal sekali bagaimana temannya itu. “Apanya?” “Pake nanya lagi ini orang?! Yakin deh habis nikah nanti Kia tepar!” Ghana menipiskan bibirnya, ternyata terbaca juga dirinya yang sudah sangat bergairah itu pada si perempuan. Lagipula, bagaimana tidak dengan Kia yang memang sangat indah di

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 80. Lamaran

    “Mas diceramahin panjang sama Zayn?” Kia menggoda Ghana yang baru saja lama sekali bertemu dan mengobrol bersama sang adik selepas drama sebutan tadi. “Pada bahas apa?” Ghana tersenyum, diam-diam tangannya ke belakang dan mencubit gemas pinggang Kia yang menertawakannya. Dia yang menjadi paling tua di sana bisa-bisanya harus mendengarkan petuah panjang dari calon adik ipar. Beruntung perempuannya se istimewa Kia. “Tapi, saya dapat izin dari dia buat melamar kamu,” akunya berdiri lebih dekat dengan Kia, lengan Kia nyaris menyentuh dada kanannya. Kia mengerjap. “Melamar?” Ghana mengangguk. “Melamar kamu untuk menjadi istri sekaligus teman hidup saya, Kia. Kamu menolaknya?” “Mas!” Kia mendengus. “Harusnya tanya gitu ke aku bawa ke taman sama bunga dong! Ini di ujung teras banget?” Astaga, pecah tawa mereka malam itu. *** Rencana acara lamaran yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat oleh keluarga Ghana sudah disusun matang, semua anggota keluarga terlibat, termasuk kakaknya yang

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 79. Jodoh

    Kalau sudah jodoh, apa memang akan se mudah ini jalannya? Ghana mengemudikan sendiri mobil miliknya itu dengan seorang perempuan yang duduk di sisi kiri tanpa henti membuat dia berkeringat saking gugupnya. “Apa? Mas mengumpat?” Kia menyingkirkan rambut yang menutupi area telinganya. Reflek Ghana menoleh gelagapan. “Iya? Mengumpat? Siapa?” “Oo, bukan Mas yang mengumpat ya? Aku denger tadi, masa iya dari luar mobil, ada pintu yang nggak ketutup rapat apa ya?” Kia memeta sekitar, pun ke pintu di bangku belakangnya. Semakin dicari semakin gusar Ghana di sana, dia benar-benar seperti anak remaja yang baru mengenal apa itu cinta, seperti terlupa yang sudah terlewati sebelum masa tiga tahun sendiri itu. Dia menjulurkan tangannya setengah ke belakang di mana Kia sedikit berputar untuk mencari-cari, merengkuh pundak Kia yang kemudian dia ajak kembali menghadap ke depan. Namun, alih-alih keberanian itu menyudahi kegilaannya, tangan yang bersentuhan tak sengaja dengan pipi Kia justru

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 2. Aku Bayar Kamu

    Abimana menendang pintu apartemen miliknya, kedua tangannya menggendong Raniya yang tak bisa berjalan dengan benar, bahkan tadi nyaris saja masuk ke kamar orang lain. “Huh! Berat juga dia!” kata Abimana membawa Raniya ke kamarnya, merebahkan wanita itu di ranjang miliknya. “Raniya! Hei, Raniya, ba

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 1. Batal Nikah

    “Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya. Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum ka

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 27. Simpan Rahasia Ini!

    Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepa

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 7. Diam-Diam

    “Bodoh!” Raniya memukul kepalanya. Malam itu juga, Raniya pergi seorang diri untuk menemui Abimana di apartemennya. Raniya memakai setelan piyama pendek berbahan kaos dan rambutnya diikat tinggi sehingga leher putihnya terlihat menggoda, ditambah lagi perempuan itu tak sadar piyamanya cukup ketat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status