Share

Sang Predator

last update publish date: 2026-06-25 20:06:09

"Berhenti," kata Oliver pendek sambil menjatuhkan pakaian kering itu di atas meja kopi.

Pria itu langsung menjatuhkan diri, berlutut tepat di hadapan Avery. Posisi itu adalah posisi tunduk, namun mereka berdua sama-sama tahu siapa yang memegang kendali penuh di dalam ruangan itu. Oliver meraih kaki Avery ke dalam genggamannya. Sepatu bot gadis itu sudah dipenuhi oleh kerak lumpur tebal yang mulai mengering karena hawa perapian.

"Aku bisa sendiri," bisik Avery lirih, tetapi dia sama sekali tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Kebohongan yang Melindungi

    Tanganku mengepal kuat hingga urat-urat di punggung tangan menonjol tegang.Tidak mungkin kubiarkan bajingan-bajingan kota itu mengacaukan ketenangan di atas sini. Tidak akan pernah. kata Oliver dalam hatiDia meraba saku mantel tebal, mengeluarkan radio panggil taktis. Ia menekan tombol komunikator."Logan," katanya langsung.Desis statis sesaat, lalu suara berat sepupunya menyahut. "Masuk, Prez.""Dua orang pengintai baru saja terdeteksi di punggung bukit bawah. Orang luar. Mereka memetakan rute pelarian yang memotong properti Nolan."Saluran hening sejenak. Ancaman kekerasan tak kasat mata menggantung di udara."Apakah kamu sudah menangani mereka?""Mereka sudah pergi. Satu pergelangan tangan patah, satu tablet hancur total.""Bagus." Nada Logan menjadi muram. "Bajingan-bajingan itu semakin berani.""Mereka mengira gadis itu sasaran rentan tanpa pembelaan." Mengucapkan kalimat itu membuat dada Oliver sesak.Ia melirik ke arah kabinnya di atas bukit. Asap tipis mengepul dari cerobon

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Benteng yang Terancam

    Keheningan pagi membangunkan Oliver.Bukan suara yang membangunkannya.Justru karena tidak ada suara sama sekali.Badai besar selalu meninggalkan kesunyian semacam ini. Tebal. Menekan. Seolah seluruh gunung menahan napas.Di sampingnya, Avery bergeser pelan.Tubuh mungil itu masih meringkuk di bawah selimut, rambut hitamnya berantakan di atas bantal. Salah satu tangannya terjulur ke sisi kasur yang kosong, mencari kehangatan tanpa benar-benar terbangun.Untuk sesaat Oliver hanya memandanginya.Lalu perasaan itu datang lagi.Salah.Tidak tepat.Terlalu tenang.Ia melepaskan lengan dari pinggang Avery secara hati-hati.Gadis itu mengeluarkan suara protes pelan dan menarik selimut lebih tinggi.Oliver berdiri.Lantai kayu dingin menggigit telapak kakinya.Ia mengenakan jins dan kemeja flanel tanpa suara, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap lereng gunung.Cahaya pagi baru mulai muncul.Salju menutupi dunia.Putih sejauh mata memandang.Pohon-pohon pinus berdiri diam seperti

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Keheningan Sebelum Badai Baru

    Keheningan membangunkan Oliver bahkan sebelum cahaya pertama menyentuh langit. Sentuhan kulit Avery yang halus di sisinya langsung membumikannya kembali ke dunia yang kini terkubur es.Keheningan berat dan terisolasi ini selalu menyertai badai besar. Angin liar di luar akhirnya mereda, meninggalkan udara pagi yang tajam seperti bilah pisau.Di sampingnya, Avery bergeser pelan. Beban tubuh hangat dan lembutnya menempel nyaman di tulang rusuk Oliver. Lengannya masih melingkari pinggang ramping gadis itu, menahan tubuh mungil itu agar tetap melekat erat. Ia tidak bergerak. Tidak ingin merusak momen ini.Kenangan semalam masih tercetak jelas—kehangatan tubuh Avery yang membakar kulitnya, betapa sempitnya gadis itu menjepitnya, cara Avery menjerit tertahan saat ia menembus pertahanan terakhirnya. Gadis itu adalah miliknya sekarang. Milik gunung ini. Miliknya seutuhnya.Kedamaian yang tidak biasa ini justru membuat bulu kuduknya meremang.Oliver menatap balok kayu kasar di langit-langit. Na

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Nikmatilah dan Lihat Aku!

    "Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya," bisik Avery, ujung jarinya menelusuri bekas luka bergerigi di dada Oliver. Pengakuannya menggantung di udara, berat dan rapuh. Tubuhnya adalah satu-satunya hal yang benar-benar miliknya setelah bertahun-tahun sistem pengasuhan. Dan sekarang ia ingin menyerahkannya sepenuhnya pada pria ini.Geraman primal bergemuruh dari dada Oliver. Cengkeramannya di pinggul Avery mengencang hingga hampir menyakitkan. "Sekarang aku tidak akan pernah melepaskanmu," desahnya di telinga gadis itu, matanya menggelap dengan posesif yang mutlak. "Jika aku mengambilmu, tidak ada jalan kembali. Kau milikku sampai gunung ini runtuh."Ia memposisikan kepala kejantanannya yang tebal dan lebar di lubang Avery, lalu mengangkat tubuh mungil gadis itu sedikit. Avery bisa merasakan tekanan kepala besar itu mulai meregangkan bibirnya yang basah. Sensasinya mustahil—penuh, panas, dan tak terhindarkan."Lihat aku, Avery."Wajah Oliver tegang menahan diri, keringat menetes di

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Basalah Untukku

    Oliver terdiam kaku. Udara di antara mereka menebal, dipenuhi listrik yang sama seperti sebelumnya. Ia melangkah maju hingga pahanya menyentuh lutut Avery. Ia menjulang di atasnya, dinding panas dari otot dan kekuatan murni."Hati-hati, Avery." Suaranya turun satu oktaf, berubah menjadi geraman rendah. "Aku sedang berada di ujung tanduk. Jika kau mendorongku, aku akan hancur.""Bagus," bisik Avery, menatapnya tanpa gentar. "Hancur."Rahang Oliver mengencang. Ia meraih ke bawah, tangan besar yang penuh kapalan menangkup wajah Avery. Ibu jarinya menelusuri tulang pipi, kulit kasar kontras dengan kelembutan gadis itu. Ia memiringkan kepala Avery ke belakang, memaksanya menatap langsung ke mata hijau lumut yang menggelap."Kau tidak tahu apa yang kau minta. Aku bukan anak kota yang akan bersikap lembut karena kau terlihat manis. Aku telah hidup sendirian di gunung ini terlalu lama. Aku mengambil apa yang menjadi milikku.""Aku tahu." Tangan Avery meraih pergelangan tangan Oliver. Denyut n

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Birahi yang Terbakar Lagi

    Kedua kaki Avery masih bergetar hebat, sisa ketegangan yang membakar setiap saraf di tubuhnya belum mereda. Ia berdiri mematung di dekat jendela dapur, menekankan dahi yang panas ke kaca berembun. Hawa dingin merembes masuk melalui celah-celah kayu, tapi dingin itu tidak sebanding dengan api yang masih menyala di dalam perutnya.Oliver telah pergi. Pintu belakang kabin terbanting keras, membawa serta hembusan angin salju yang menusuk. Langkah berat sepatu botnya menghilang ke arah gudang belakang, meninggalkan Avery sendirian dengan gema kata-kata yang masih bergaung di kepalanya.Kau milikku.Bukan pertanyaan. Bukan godaan. Hanya fakta mutlak yang diucapkan dengan suara rendah yang membuat lututnya lemas.Avery menarik napas dalam, tapi udara terasa terlalu tipis. Celana dalamnya masih basah, menempel ketat di kulit, pengingat nyata betapa mudahnya Oliver Gunnar menghancurkan seluruh pertahanannya. Bertahun-tahun kencan hambar dan malam-malam kesepian di kota sama sekali tidak mempers

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status