Share

Perawan

Author: Mrs Anggez
last update publish date: 2026-05-10 17:01:12

“Aku mohon… tolong berhenti,” suara Ivy pecah di antara napas yang terengah. Tangannya yang kecil mencoba mendorong dada lelaki itu namun sia-sia.

Tubuh Bravino terlalu besar untuk dia lawan, pria itu benar-benar menutup seluruh ruang geraknya.

Bravino mencium rambut Ivy sambil tersenyum miring, mengamati wajah Ivy dengan tatapan seduktif. Sekaligus menakutkan di waktu yang sama.

Hawa panas dari tubuh Bravino membuat Ivy ikut merasakannya. Suhu tubuh lelaki itu di atas rata-rata. Sesekali Ivy bergidik saat deru nafas Bravino menerpa kulitnya.

Ivy menggeleng ketakutan, namun detik berikutnya wanita itu berteriak keras saat sebuah tarikan kasar merenggut semua pelindung yang ia kenakan.

Ivy merintih ketakutan dengan air mata yang kembali berlinang. “Jangan… aku mohon,” ucap Ivy, suaranya tercekat di tenggorokan. “Aku takut.”

Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri saat tidak ada lagi pelindung yang menutupi tubuhnya. Berusaha menutupi, meski sebenarnya sia-sia.

Bravino mengangkat wajahnya. Dengan senyuman iblis di wajahnya.

“To-tolong. Ki-kita harus bicara dulu. Jangan berbuat seperti ini. Aku ….”

Ivy masih terus memohon agar Bravino mau melepaskannya. Sangat tidak masuk akal bila hanya keterlambatannya mengantar pesanan lelaki itu, tapi ia malah harus berakhir dengan kehilangan mahkotanya.

“Aku cuma terlambat mengantar pesanan,” Ivy mencoba bertahan pada logika yang bahkan ia sendiri tak lagi yakini. “Kita bisa bicara baik-baik. Aku akan melakukan apapun sebagai hukuman, tapi tidak begini ....”

“Bicara?” Bravino tertawa pendek. “Nanti! Setelah kita selesai! Sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kamu lakukan!”

Bentakan dengan mata yang menyalang sangat tajam itu membuat nyali Ivy semakin ciut. Ia hanya bisa tetap mendorong tubuh Bravino sekuat yang ia bisa.

Bravino kemudian berdiri di atas tubuh Ivy, mencoba meraih sesuatu dari laci nakas di samping tempat tidur.

Sebuah benda dengan bungkusan berwarna silver dan berbentuk segi empat.

Meski Ivy kolot, tapi ia tahu bila benda yang tengah Bravino jepit dengan gigi juga jari itu adalah alat kontrasepsi pria.

Ivy meronta dan melawan lebih kuat lagi. Hal yang membuat Bravino melayangkan tangannya ke pipi mulus Ivy.

Telinga Ivy berdenging karena tampar4n kuat itu. Membuatnya sedikit pusing dan ia bisa merasakan adanya rasa asin di sudut bibirnya.

“Aku sudah bilang jangan bergerak dan berhenti melawan! Sekali aku mau, maka kamu akan menjadi milikku sampai aku tidak lagi menginginkanmu.”

Bravino bangkit dan berjalan ke arah sebuah lemari. Harusnya itu bisa jadi kesempatan untuk Ivy melarikan diri tapi setelah ditampar tadi, keberaniannya jadi merosot hingga ke titik nol.

Ternyata Bravino kembali dengan sebuah tali di tangannya. Dengan cepat ia kembali berada di atas tubuh Ivy yang kini kembali berusaha menutupi tubuhnya meski sebenarnya tak menutupi apapun.

“Apa lagi yang mau kamu lakukan?” tanya Ivy takut.

“Kamu terlalu banyak bergerak,” jawab Bravino dingin. “Aku hanya ingin memastikan kamu tidak menyulitkan.”

Ivy pasrah ketika Bravino menggunakan tali itu untuk mengikatnya. Kedua tanganya di diikat ke atas headboard. Ruang gerak yang sedikit membuatnya makin sulit melawan.

Ivy menutup mata dengan air mata yang berlinang semakin banyak membasahi wajahnya saat sentuhan-sentuhan yang terasa asing itu perlahan dia rasakan.

Rasa malu bercampur ngeri membuat tubuhnya kaku, pikirannya terlepas dari raganya sendiri. Dia merasa seperti benda yang dipindahkan sesuka hati, bukan manusia yang memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri.

Bravino melepaskan bibir Ivy. “Balas cium4nku, bod0h!”

“A-aku tidak tahu caranya,” jawab Ivy dengan pelan. Ia benar-benar buta masalah bercinta. Jangankan itu, berpacaran saja tak pernah, saking sibuknya ia bekerja untuk melanjutkan hidup.

Bravino tertawa mencemooh. “Jangan coba bercanda padaku. Tadi kamu meremehkanku lalu sekarang kamu mau membodohi aku?!”

Ivy menggeleng. “Aku tidak berani membodohi kamu. Aku takut.”

Kening Bravino berkerut. Ia sudah biasa berbicara dengan banyak orang. Sayangnya Bravino tak mendapatkan tanda-tanda kebohongan itu sekarang.

‘Sial4n, Jhon! Kali ini ia memberiku barang yang jelek,’ umpatnya dalam hati.

Kepalang tanggung, Bravino memilih tetap melanjutkan. “Lakukan seperti apa yang aku lakukan!” Desis Bravino dengan nada penuh perintah.

Pria itu mulai bergerak dan Ivy menggeliat tidak nyaman, sentuhan yang seharusnya lembut berubah menjadi belenggu.

Namun, di menit demi menit selanjutnya, tubuh Ivy justru bereaksi dengan cara yang tidak seharusnya.

Dan sungguh, dia membenci kenyataan bahwa tubuhnya bisa berkhianat di saat hatinya menjerit menolak.

Sekuat tenaga Ivy menahan desahannya sebab tubuhnya semakin berkhianat dengan mulai menikmati apa yang dilakukan pria asing itu padanya.

“Akh!”

Ivy menjerit ketika ada sesuatu yang keras dan besar seperti berusaha membelah dirinya menjadi dua.

Bravino mengangkat wajah, dan menatap Ivy dengan tajam.

“Aku bukan mau melawan, tapi itu benar-benar sakit. Sakit sekali,” ucap Ivy takut sambil meringis. Ia takut kalau Bravino akan menyakitinya lagi.

Lelaki itu lalu mundur kemudian menunduk untuk memastikan sesuatu di bawah sana.

“Kamu masih perawan?”

“Hah?”

“Jawab aku!”

“I-Iya,” jawab Ivy.

“Shit! Jhon apa yang kamu inginkan dengan memberikan perempuan bod0h seperti ini?!”

Bravino berhenti sesaat, menyadari jika wanita malam ini benar-benar berbeda.

Tipe wanita yang tidak pernah Bravino sentuh sebelumnya.

Seorang perawan.

Namun, fakta itu tidak membuatnya mundur.

“Aku tidak bisa berhenti seperti ini, jadi nikmati saja apa yang akan terjadi,” bisik Bravino tepat di telinga Ivy.

Ivy memekik keras saat rasa sakit itu menghujamnya begitu tajam, mengoyak sesuatu yang selama ini belum pernah terjamah oleh siapa pun.

Jeritannya begitu memilukan, lalu berubah menjadi isak tangis yang menyayat hati.

Bravino berhenti sesaat, sementara Ivy menutup mulutnya dengan lengan, lalu menggigit lengannya untuk meredam rasa sakit yang mengoyaknya.

Tak pernah terbayang sedikit pun oleh Ivy bahwa dirinya akan mengalami penghinaan sedina ini. Padahal ia hanya ingin mencari nafkah untuk adiknya, tapi mengapa ia malah bertemu Lucifer yang mengantarkannya ke jurang neraka menjijikkan.

‘Apa aku masih sanggup hidup setelah ini?’

***

Wajah wanita itu terlihat pucat dengan gurat kelelahannya, air matanya sudah mengering dengan mata yang terasa perih karena terlalu banyak menangis.

Dia membekap bibirnya sambil menatap pada langit-langit kamar yang terasa begitu asing. Tubuhnya masih sama dengan anggota tubuh yang lengkap.

Tapi rasanya hampa, sesuatu yang sangat penting itu telah hilang. Hilang direnggut dengan alasan yang tak ia pahami.

Mengapa dirinya harus mengalami kesialan seperti ini. Dosa apa yang pernah ia lakukan di kehidupan masa lampau hingga di kehidupan ini ia harus banyak menanggung derita.

Tak cukup hanya hidup pas-pasan, bahkan termasuk miskin. Harus banting tulang sedemikian rupa agar bisa bertahan hidup bersama adik semata wayangnya, dan kini ia menjadi mahluk yang kotor. Dinodai dengan sangat hina.

Matanya menoleh ke samping, di sana ada lelaki yang telah merenggut paksa kehormatannya. Kini tengah tidur pulas setelah memporak-porandakan tubuh juga harga dirinya.

'Siapa dia? Kenapa dia sangat kejam? Apa dia tak punya hati?'

Ivy memaki Bravino, tentu saja hanya di dalam hati. Pipinya masih sangat mengingat tamp4ran panas yang tadi lelaki itu berikan.

Belum lagi betapa beringasnya Bravino menghancurkan dirinya tadi, tanpa memperdulikan isakan juga permohonan Ivy sama sekali. Lelaki egois yang hanya menginginkan kenikmatan untuk nafsunya sendiri.

Ivy mencoba bergerak, tapi gumaman Bravino seketika menghentikannya.

"Jangan kemana-mana, aku belum selesai! Jangan sampai aku lemparkan kamu ke anak buahku dan kamu akan lebih hancur lagi!"

"Tapi aku ...."

Bravino bangkit dan membuka mata. Menajamkan tatapan yang seakan ingin menusuk jantung lawan bicaranya.

"Diam, atau akan aku buktikan kata-kataku tadi. Ingat, aku bukan orang yang punya hati nurani!"

Akhirnya Ivy hanya bisa kembali menangis sembari menutupi wajahnya dengan bantal, sementara Bravino kini merubah posisi tidurnya jadi membelakangi Ivy.

Ivy terus menangis, menangisi nasibnya yang malang, sampai jatuh tertidur karena lelah. Lelah akibat perbuatan Bravino juga takdir buruk hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   28 Apa Hubungan Dua Wanita Itu?

    "Sampai di dalam langsung istirahat! Jangan begadang lagi. Beberapa malam ini kamu gak cukup istirahat!"Nada Bossy itu tentu saja keluar dari mulut Bravino. Dan itu membuat Ivy merotasi bola matanya."Gara-gara siapa coba aku gak istirahat dengan cukup?" cebik Ivy dengan suara lirih."Saya masih bisa denger kamu bilang apa."Ivy berbalik lalu tersenyum manis. Sangat menggemaskan dengan kerutan di pangkal hidungnya."Ups sorry," cicit Ivy lagi.Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Bravino mengantar Ivy hingga ke depan rumah. Ternyata urusan di Surabaya memakan waktu cukup lama, sehingga rencana kepulangan sore pun harus tertunda.Tapi bagi Ivy itu tak jadi masalah. Karena jadi ada waktu lebih yang membuat ia bisa jalan-jalan sebentar. Tanpa Bravino tentunya, karena lelaki itu terlalu sibuk.Jadilah Ivy hanya diikuti oleh bayangan lelaki itu. Thomas dan satu lagi temannya mengikuti kemana pun Ivy melangkah.Ivy puas karena ia bisa membelikan oleh-oleh untuk Eriva, Damian jug

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   27 Ganti Rugi

    Ivy membuka matanya dengan berat hati. Ingin rasanya tidur lebih lama tapi itu tak mungkin. Yang ada ia bisa sakit kepala karena kebanyakan tidur.Dari kemarin memang hari Ivy hanya diisi dengan empat hal. Ditiduri, tidur, mandi, makan lalu ditiduri kembali. Siklus hidupnya selama di Singapura hanya berkutat pada empat aspek itu saja.Ivy mengedarkan pandangan, dan lagi-lagi kosong. Ia kembali ditinggal setelah habis-habisan ditiduri. Tapi kali ini ia tersenyum.Ingatannya kembali pada sesi bercintanya dengan Bravino. Lelaki itu selalu saja punya kejutan dalam proses beradu peluh dengannya.Seperti tadi malam. Ivy tak habis pikir bagaimana caranya Bravino memompa dirinya, saat ia berada di dalam gendongan Bravino. Bahkan itu dalam posisi sambil berjalan.Lalu Bravino menyandarkan punggung Ivy di dinding berlapis wallpaper warna coklat krem.Di sana lelaki itu melumat habis bibir Ivy sambil terus memompa. Dan saat klimaks Ivy dapatkan, Bravino malah merunduk, menghisap puncak dadanya d

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   26 Rencana Rere

    Di apartemen, Rere sedang tersenyum menatap dua belas angka di dalam kontak ponselnya. Ia memberi nama Ivy pada kontak tersebut.Rencananya meminta nomor telepon Ivy berjalan lancar. Eriva memberikannya tanpa ada drama sama sekali."Gue yakin pasti gue bisa minta tolong sama Ivy. Setidaknya mungkin gaku bisa tahu informasi tentang kamu, Bi," monolognya penuh harap.Ia melirik bagian pojok kanan atas ponselnya. Sudah pukul sepuluh malam. Harusnya belum terlalu malam untuk menghubungi Ivy.Mendadak tangan Rere bergetar. Niat dan tekad yang tadi sudah kuat menariknya mundur."Tapi gue harus bilang apa? Gue cuma kenal Ivy itupun dari cerita Raisa. Jadi gue harus bilang apa kalau dia nanya. Apa gue minta tolong Raisa dulu ya?"Rere menggeleng kuat. "Gak usah ngekhawatirin hal yang belum terjadi, Re. Cukup telfon dan hal lainnya nanti baru lo pikirin," gumamnya pada diri sendiri.Rere menekan ikon telepon berwarna hijau, dan tak lama nada sambung pun terdengar. Namun, hingga dering ke lima,

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   25 Peluang

    Ivy berdiri di depan stand mirror, memperhatikan pantulan tubuhnya di sana. Kini ia tengah sendiri, sudah mengenakan gaun berwarna hitam one shoulder.Gaun itu adalah gaun yang ia temukan di atas kasur ketika terbangun sore tadi. Dengan tubuh polos yang terbungkus selimut.Hampir dua jam ia habiskan untuk bergelut basah dengan Bravino. Ivy merasa seperti bercinta dengan lelaki yang berbeda dengan yang menyiksanya semalam.Kalau tadi malam Bravino mencium dan melumat bibirnya sampai ada bagian yang berdarah. Siang tadi, lelaki itu hanya melumatnya dengan sangat lembut tapi sangat memabukkan.Tak ada desakan dan paksaan sampai Ivy membuka mulutnya, membiarkan lidah Bravino menjelajahi isi mulutnya. Dan ia pun membalasnya dengan sama hangat juga lembutnya.Begitu juga ketika tangan dan mulut Bravino berpindah ke bagian tubuh Ivy lainnya. Membuat Ivy terlena dan lupa dengan perlakuan kasar yang Bravino berikan semalam.Sebut Ivy sebagai wanita gila yang tak punya harga diri, sebegitu muda

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   24 Penghapus Luka

    Ivy duduk di depan jendela yang menyajikan Singapura yang terlihat sangat teratur. Tak ada carut marut barisan kendaraan yang sedang berlomba ingin mengarungi jalanan. Semuanya terlihat berbaris dengan rapih dan teratur.Pohon-pohon rindang berdaun hijau sangat menyejukkan mata. Menenangkan hati yang sempat sakit seiring dengan sakit di sekujur tubuh Ivy.Dan tak jauh dari Ivy, Bravino sedang duduk bersama Astra. Membicarakan pekerjaan, dimana itu adalah tujuan utamanya ke negara ini. Entahlah sudah berapa lama, sejak Dokter selesai memeriksa kondisi Ivy dan memberinya obat penghilang rasa sakit juga vitamin.Meski begitu, sesekali sudut mata Bravino mencari tahu apa yang Ivy lakukan."Begitu saja. Nanti seperti biasa, kirim salinan dokumennya ke email saya.""Baik, Tuan."Astra kemudian pamit undur diri. Sedangkan Bravino, ia berdiri dan berniat melangkah mendekati Ivy yang masih duduk diam seperti boneka barbie hidup.Sejenak Bravino ragu, apa dirinya yang ingin mendekati Ivy adalah

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   23. Bravino=Rungkad=Ivy

    Cahaya terang dari celah tirai menembus ke dalam kelopak mata Ivy. Rasanya ia tak ingin membuka mata, mungkin lebih baik bila selamanya seperti itu. Ia tak ingin bangun hanya untuk kembali menjalani hidup yang penuh kenestapaan mengerikan ini.Perlahan Ivy membuka matanya yang terasa lengket. Akibat air mata dan sisa kotoran setelah tidur.Badannya sendiri tak terlalu lengket, karena entah di jam berapa, ia merasakan sisi ranjang yang Bravino tiduri bergerak. Ivy tahu lelaki kejam itu meninggalkannya lalu masuk ke kamar mandi.Ivy sempat menangis lagi, sedih akan nasibnya yang begitu naas dan memalukan.Lalu ketika Ivy hampir saja terlena akan letih karena kantuk juga tangisnya, ia merasa ada kain basah yang terasa hangat, menyusuri kulitnya dengan hati-hati dan lembut.Ivy tersentak, masih dengan mata yang terpejam karena terlalu takut menatap Bravino. Ia takut sugar Daddy-nya itu akan melakukan hal mengerikan lagi. Tapi kemudian lelaki itu bersuara."Kamu tidur aja, kamu pasti capek

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   08. Claudia

    Hawa dingin Ivy rasakan sesaat setelah dia menuruti perintah Bravino. Roknya masih terpasang rapi, namun tidak dengan underwear-nya. Ivy berdiri dengan posisi yang membuatnya merasa rapuh. Dia melebarkan kedua pahanya di atas meja dan di depan pria yang menatapnya seperti predator itu. Wanita itu

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   07. Tugas Pertama Ivy di Kantor

    “Kubunuh kalian semua!”Bravino mengeluarkan revolver siap pakai dari laci di sisi ranjangnya. Sekali gerakan membuat pistol itu meledak.DOR DOR DOREntah kepala siapa yang pecah, tapi darah bersimbah dimana-mana. Jantung Ivy serasa keluar dari rongga dadanya. Kembali ia berusaha berdiri, berusaha

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   06. Puncak

    Bravino menyugar rambutnya ke belakang. Harinya cukup berat karena saingan bisnisnya mulai melalui jalan yang ia benci. Benci karena ia pasti harus menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan saingannya itu.Bravino butuh distraksi. Distraksi yang menyenangkan juga menenangkan.Dengan langkah tegap d

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   Polos Lebih Baik

    "Ivy.”Ivy berbalik karena panggilan yang ditangkap Indera pendengaranya. Senyumnya berkembang pada si pemanggil.“Hai, Dam. Kamu mau ke mana?”“Aku mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”Ivy menganggukkan kepala. “Yap. Aku ada kuliah pagi ini.”Damian ikut tersenyum. Bagai mendapat mood booster, seny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status