INICIAR SESIÓNApa pun alasannya, perselingkuhan tidak bisa dibenarkan. Namun, setelah Freya mengetahui Juan berkhianat, situasi tak terduga mendorongnya untuk membalas perbuatan sang kekasih dengan cara serupa. Freya tidak mau bermain api dengan sembarang pria. Incarannya adalah Aryan, CEO Harsa Group sekaligus tunangan Lucy, perempuan yang selama ini menjadi selingkuhan Juan. “Mau jadi selingkuhanku?” Malam itu, tekad Freya sudah bulat. Menjalin hubungan terlarang dengan Aryan diyakini sebagai langkah terbaik untuk membikin Juan menyesal seumur hidup. Hanya saja, tanpa Freya sadari, Aryan diam-diam memiliki rencananya sendiri. Bagi Aryan, menjadi selingkuhan Freya merupakan dosa termanis yang harus dinikmati dengan sepenuh hati.
Ver más“Tunangan Pak Aryan pasti sudah gila karena mau-maunya jadi selingkuhan pacar saya.”
Freya berbicara dengan nada tenang. Suaranya tidak bergetar sama sekali. Ekspresinya pun cukup berhasil membikin lawan bicaranya terkesan. Tak ada binar kesedihan atau amarah, hanya senyuman manis yang membingkai bibir tipisnya.
Duduk di depan pria yang disegani banyak orang, Freya tak ingin terlihat rentan. Meski hatinya sudah hancur lebur, dia tidak mau tampak putus asa sedikit pun.
“Pacarmu juga jelas tidak waras. Berani-beraninya dia selingkuh dengan tunangan saya.”
Freya refleks menahan napas. Nyali perempuan itu menciut sesaat mendengar balasan sinis pria yang sejak tadi terus memandangnya dengan tatapan intimidatif. Namun, sekarang bukan waktunya takut dan ragu. Freya harus fokus pada misi utamanya malam ini.
“Sialnya, itu benar,” ujar Freya percaya diri. “Memang cuma orang sinting yang berani main-main dengan Aryandika Hutama, CEO Harsa Group.”
Nyatanya, pria yang Freya temui memang bukan orang sembarangan. Freya sendiri sejujurnya tak pernah menyangka bahwa orang biasa sepertinya bisa mendapat kesempatan untuk bicara empat mata dengan sang pebisnis ternama.
Aryan berdecak pelan, lalu tersenyum miring. Pria bertubuh tegap itu kelihatan kesal, tetapi entah kenapa Freya merasa penyebabnya bukan soal pengkhianatan yang dilakoni pasangan mereka.
“Sejujurnya saya tidak peduli dengan hal-hal seperti ini, tapi …”
Aryan seolah sengaja menggantungkan kalimatnya. Atensinya lantas kembali tertuju pada tablet yang disodorkan Freya padanya ketika membuka obrolan beberapa menit lalu. Layar gawai tersebut memperlihatkan potret Lucy, tunangan Aryan, asyik berciuman dengan Juan, kekasih Freya.
“Kamu kelihatan sangat sakit hati,” ucap Aryan seraya lanjut melihat-lihat foto lainnya.
Mengangguk-angguk kecil tanpa mengalihkan perhatian dari perangkat elektronik milik Freya, Aryan lalu berkata, “Itu lumayan efektif bikin saya merasa setidaknya harus mencoba peduli juga.”
Freya menatap Aryan dengan kening mengernyit. Sikap acuh tak acuh pria itu sungguh membuatnya terheran-heran. Beda sekali dengan Freya yang syok bukan main saat pertama kali mengetahui dirinya dikhianati.
Tubuh Freya kala itu seketika membeku. Dadanya sesak luar biasa. Air mata yang susah payah dibendung pun akhirnya meluap begitu dirinya menemukan tempat bersembunyi.
Melihat bagaimana Aryan yang saat ini tampak tidak terusik sedikit pun, Freya diam-diam iri. Dia juga mau masa bodoh dengan perselingkuhan Juan, tetapi sialnya tidak bisa.
“Jadi, kenapa kamu mau ketemu saya malam ini?”
Freya sebenarnya tak butuh berpikir dua kali untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, baru saja hendak mengatakan apa yang dia inginkan, Aryan malah memintanya diam dengan isyarat tangan.
“Sebelum jawab pertanyaan itu, kasih tahu dulu kenapa kita harus bersikap seolah tidak pernah berhubungan dekat begini.”
Keduanya lantas hanya diam dan saling adu pandang. Cuma sejenak dan Freya duluan yang memutus tatapan mereka dengan tersenyum sambil menundukkan kepala.
“Ini karena sekarang Pak Aryan dan saya bukan lagi dua orang yang setara,” tutur Freya dengan senyuman yang tak memudar.
“Walau begitu, jika Pak Aryan bersedia menerima tawaran saya, bakal ada banyak hal yang berubah. Salah satunya tentu cara saya bicara dengan Pak Aryan.”
Freya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe berkonsep industrial di pinggiran kota tersebut. Dia merasa perlu memastikan tidak ada seorang pun yang mengenali mereka, kecuali sekretaris Aryan yang duduk di meja berbeda.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari saya?” tanya Aryan seraya memerhatikan gerak-gerik Freya.
Freya menarik napas dalam-dalam sebelum mengungkapkan keinginannya. Matanya lurus menatap Aryan, sekali lagi membiarkan keheningan menggelayut sejenak di antara mereka.
“Pak Aryan mau jadi selingkuhan saya?”
Permintaan Freya sukses membikin Aryan tertegun. Tubuh pria itu membatu, sepenuhnya tak menyangka perempuan yang dulunya begitu lugu kini berani memintanya jadi orang ketiga.
Di sisi lain, Freya harap-harap cemas menunggu jawaban. Diamnya Aryan tak dipungkiri menghadirkan firasat buruk. Namun, Freya tidak punya pilihan selain buru-buru menepis segala prasangka negatif yang merayap di benaknya.
“Freya, bukan begini caranya—”
Aryan tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia mendengus geli, masih tak habis pikir dengan Freya yang barusan mengajaknya berselingkuh.
“Bukan begini caranya memanfaatkan mantan pacar setelah belasan tahun nggak ketemu,” lanjutnya sambil terkekeh pelan.
Aryan tertawa melihat Freya yang langsung buang muka. Gemas mendapati semburat merah muda mendadak muncul di pipi gadis yang nyatanya memang pernah berpacaran dengannya itu.
“Reno.” Aryan memanggil sekretarisnya tanpa mengalihkan pandangan.
Sang sekretaris pun segera beranjak dari duduknya. “Iya, Pak,” kata Reno yang dalam hitungan detik sudah berdiri siaga di samping Aryan.
“Siapkan mobilnya. Saya mau pulang sekarang,” perintah Aryan.
Salah besar jika Freya mengira Aryan bakal meninggalkannya begitu saja. Sebab, alih-alih mengucap salam perpisahan, pria tampan itu justru semringah mengulurkan tangan padanya.
“Ayo, ikut! Mantan pacarmu ini penasaran rasanya menghabiskan malam bersama perempuan yang ingin menjadikannya selingkuhan.”
Freya semakin tidak tenang setelah mengetahui bahwa Lucy ingin menghancurkan hidupnya. Menurutnya, tak ada yang lebih menakutkan dibanding tekad seorang perempuan patah hati.Sebagaimana Freya yang ingin melihat Juan menyesal seumur karena telah mengkhianatinya, Lucy pasti juga tak main-main dengan ancamannya itu. Lucy sangat mungkin menempuh segala cara untuk membuat Freya menderita.Namun, berbeda dengan Reno yang setidaknya meminta Freya lebih hati-hati mulai hari ini, Aryan tampak tidak tertarik menjadikannya masalah serius.“Memangnya cuma dia yang bisa ngelakuin apa pun? Aku juga bisa, Freya. Aku bisa ngelakuin apa pun untuk melindungi kamu,” ujar Aryan seraya tersenyum genit.Freya mencebik, lalu menggigit rotinya lagi. “Nggak usah repot-repot. Aku bisa melindungi diriku sendiri,” gumamnya sambil mengunyah.“Iya, aku tahu kamu bisa melindungi dirimu sendiri, tapi nggak apa-apa, kan, kalau selingkuhanmu ini ikut campur?” sahut Aryan yang kemudian mengedipkan sebelah mata padanya
Mulanya terasa bagaikan adegan romantis. Aryan turut berlutut, seakan akhirnya menyerah pada sikap keras kepala Lucy.Aryan meraih bahu tunangannya dan mereka pun saling adu pandang untuk beberapa saat.Tidak ada senyuman maupun tatapan hangat yang terpancar dari mata yang kini memandangnya lekat. Meski begitu, Lucy terbuai perlahan ketika ibu jari Aryan mulai mengelus lembut bahunya. “Berdiri, Lucy Amara.”Aryan berbicara pelan, tapi tegas. Nadanya pun masih saja dingin, terlebih dengan cara dia menyebut nama si perempuan.Walau demikian, mengabaikan ekspresi Aryan yang terkesan membingungkan itu, Lucy merasa dirinya bisa sedikit berharap. Pikir Lucy, setidaknya Aryan sudah mau ikut bersimpuh demi membujuknya. Bukankah itu pertanda baik?Harapan Lucy membesar kala Aryan kembali mendekatkan wajahnya. Pria itu memangkas jarak sebanyak mungkin hingga hangat napasnya menyapa titik sensitif di telinga Lucy.Namun, apa yang selanjutnya dibisikkan Aryan, seketika meruntuhkan harap. Air mat
Jika hanya kehilangan calon suami, Lucy barangkali tidak akan bertindak sejauh ini. Sayangnya, apa yang bakal terjadi padanya mungkin tidak cuma itu.Posisinya sebagai direktur komersial juga sangat mungkin terancam. Lucy bisa saja berakhir dipaksa merelakan jabatan strategis yang sempat terasa mustahil menjadi miliknya itu.Faktanya, mau sehebat apa pun dirinya, Lucy tidak pernah benar-benar dilirik kakeknya. Sebagai satu-satunya cucu perempuan, entah sudah berapa kali Lucy diingatkan agar tidak terlalu ambisius. Kemampuannya lebih baik digunakan untuk mendukung saudara laki-lakinya saja.Katanya, perusahaan besar harus dipimpin laki-laki. Oleh karena itu, Lucy cukup bekerja dengan baik saja, tak usah ikut-ikutan berkompetisi memperebutkan kursi tertinggi juga.Namun, kedekatannya dengan Aryan ternyata berbuah peluang tak terduga. Tahun lalu, begitu melihat langsung betapa akrabnya Lucy dan Aryan saat jamuan makan malam pada perayaan hari jadi perusahaan, si kakek jadi tertarik menjo
“Aku ganggu, ya? Maaf.”Mendengar suara lirih Freya, wajah kesal Aryan langsung hilang. Perubahannya benar-benar secepat kilat, bikin Reno yang menyaksikannya melongo tak percaya.“Nggak, kok. Sama sekali nggak ganggu,” ucap Aryan dengan binar cerahnya.Reno sekilas menatap Aryan dan Freya bergantian. Demi Tuhan! Cuma bosnya yang tampak berseri-seri, sementara Freya biasa saja.Freya memang kelihatan agak canggung. Namun, Reno menganggap Freya bersikap sewajarnya orang yang bisa menjadi tak enak hati karena tiba-tiba menyela kesibukan orang lain saja, tak seperti Aryan yang kentara sekali senangnya.Reno menghela pendek. Menurutnya, Aryan yang terkenal skeptis terhadap hubungan emosional ini suda
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelep
Chika tersenyum melihat rombongan pelanggan yang baru saja datang. Ada lebih dari 10 orang yang kehadirannya seketika menyedot perhatian karena berisik minta ampun.Dua orang tampak berbicara dengan seorang pramusaji, bertanya soal ketersediaan meja. Lainnya asyik mengobrol sendiri, sebagian sambil
Freya tersenyum menatap Juan yang berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk. Situasinya terasa familiar, seperti sudah pernah terjadi sebelumnya, tetapi Freya lupa-lupa ingat.“Kenapa aku nggak boleh ketemu Sara?”Juan bertanya dengan nada curiga. Melipat kedua tangan di depan dada, pria yang ber
Freya tampak serius membaca artikel yang ditulis Wina secara keseluruhan. Kilat saja, tak sampai lima menit, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat si reporter gugup setengah mati.“Kamu nulisnya berapa lama, Na? Mulai dari bikin transkrip sampai jadi artikel yang cuma 300 kata lebih dikit ini.”












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Calificaciones
reseñasMás